The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode Penutup - Mencintaimu



Pagi itu semua keluarga berkumpul di vila, setelah satu hari sebelumnya, Tiara diperbolehkan meninggalkan rumah sakit setelah keadaannya cukup kuat dan sehat untuk kembali melakukan aktivitas. Yunus, Helmia, Berta, bahkan Widya turut menginap di sana. Mereka begitu antusias merawat Keylan, membantu Tiara untuk memandikan, mengganti pakaian, popok, serta bergantian menggendong bayi itu dalam pelukan. Sungguhlah, Keylan nampak seperti piala bergilir yang terus berpindah tangan dari Kakek, Nenek, bahkan pelayan-pelayannya yang juga turut bersuka cita atas lahirnya putra tuannya itu.


Kini, ketika mentari tengah melepaskan sinar hangatnya, Keylan sedang ditidurkan di atas trolley bayi, berada di dekat pohon tabebuya hingga sorot matahari itu sedikit terhalang dan tidak membuatnya kepanasan. Berta tak henti-henti mengajaknya berbicara. Menowel pipinya dengan gemas. Reaksi bayi itu hanya bergerak-gerak dengan matanya yang sesekali melihat ke arahnya dan memandangi secara acak pada apapun yang bisa dilihat olehnya. Menyesuaikan kedua mata dari cahaya yang terlalu terang di luar ruangan itu. Ia sudah bersih kali ini dengan aroma khas minyak serta bedak bayi yang menempel pada tubuhnya. Membuatnya begitu wangi, menggoda pada siapapun untuk datang mendekat, menghidu aroma, serta menciumnya.


Alfa sedang membantu istrinya membersihkan diri, berganti pakaian serta mengeringkan rambutnya yang basah setelah mandi. Tiara belum bisa bergerak leluasa sepenuhnya dan masih harus berhati-hati karena luka bekas operasi itu masih menyisakan rasa tidak nyaman yang membuatnya harus dibantu orang lain ketika akan melakukan aktivitas pribadi. Tiara melihat pantulan dirinya di cermin. Melihat dengan cermat bagaimana suaminya menyisir rambutnya. Lelaki itu tersenyum mendapati Tiara yang sedang terang-terangan memperhatikannya. Ia kemudian meletakkan sisir ke meja seiring wanita itu yang berdiri dari kursinya.


Lelaki itu memeluknya dari belakang dan menopangkan dagu pada pundak Tiara, mencium pipi perempuan itu sekilas sebelum berucap, “Terima kasih Tiara.”


Wanita itu menoleh dan menyunggingkan senyum. “Kau sudah berkali-kali mengucapkan terima kasih padaku,” tuturnya lalu menyandarkan kepala pada Alfa. Menatap kedua manik mata suaminya. “Aku pun terima kasih padamu, karena telah mau bersabar padaku dan bertahan sampai waktu ini. Merelakan waktu berhargamu yang sebenarnya bisa saja kau habiskan pada wanita lain yang lebih sempurna. Tak kusangka kau memilih menetap dengan wanita malang sepertiku,” ujarnya.


Ada perasaan kesal di hati Alfa ketika Tiara mengatakan hal itu lagi. Lelaki itu melepaskan pelukan dan membalikkan tubuh istrinya, menghadapkan padanya. Menatap dengan pandangan tidak suka, sembari mengatupkan kedua tangan di pipi Tiara. “Apa kau sedang menilaiku sebagai seorang laki-laki yang hanya senang menuruti keinginannya dengan tidak menghiraukan orang lain? Kalau seperti itu, tentu aku sudah lama meninggalkan ini semua, tetapi nyatanya, aku tetap di sini bukan? Karena aku sadar, semua yang ada di dunia ini memiliki alasan dengan kita yang terkadang tidak bisa memilih dan mendapat penjelasan. Kita hanya perlu melakukan yang terbaik dengan penuh kerelaan.” Alfa memeluk dengan ringan, masih merasa takut untuk bersikap lebih karena area perut istrinya yang belum pulih benar. “Aku mencintaimu Tiara, aku mencintaimu tanpa batas alasan apa dan mengapa. Aku tulus menyerahkan hidupku untuk menjagamu dan anak kita. Dan aku mensyukuri semuanya,” sambungnya lagi.


Tiara menenggelamkan wajahnya ke dada bidang itu. Meresapi rasa damai yang menumbuhkan kenyamanan di jiwanya. Menengadahkan kepala seiring Alfa yang menundukkan pandangannya. “Aku pun mencintaimu Gheo Alfa, cinta yang tak bisa kuejawantahkan dalam bentuk kata-kata karena aku terlalu rela untuk sekedar mengartikannya dalam bentuk perjuanganku memberimu keturunan. Aku menyukai segala hal tentangmu dan itu tak akan berhenti.” Tiara berjinjit dan mengecup pipi suaminya perlahan dengan senyum cerahnya. Alfa tersenyum simpul. “Ayo kita turun, Mama pasti sudah menunggu,” ajaknya lalu menyeret tangan suaminya begitu saja keluar dari kamar.


******


“Minum susumu.” Helmia berkata dengan menyodorkan gelas highball berisi susu berwarna cokelat ketika ia melihat menantunya itu telah selesai membersihkan diri. Wanita itu mencegat langkah Tiara dan menuntun tangannya agar ia terduduk di kursi meja makan. Sementara Alfa, melanjutkan langkah menghampiri bayinya yang kini tengah berdua dengan Berta.


Sudah ada banyak sekali makanan yang terhidang di sana dan di tengah kebingungan atas banyaknya menu makanan pagi itu, mertuanya masih menyodorinya segelas susu. Apakah ibu menyusui memang harus makan sebanyak itu? Tanpa menyuarakan pertanyaannya, Tiara meminum satu tegukan besar susu tersebut.


“Makanlah, selesaikan dulu kebutuhanmu, Keylan masih sabar menunggumu untuk menyusu. Kau harus banyak-banyak memakan makanan bergizi serta sayuran hijau agar asimu lancar dan tubuhmu cepat pulih,” perintahnya.


“Iya Ma, terima kasih,” ucapnya. Helmia menjawab singkat dan dengan penuh pengertian, ia meninggalkan Tiara seorang diri, membiarkan perempuan itu menikmati sarapan.


Helmia benar, sekarang dalam keadaan santai, barulah Tiara menyadari bahwa perutnya sangat lapar. Lambungnya terasa seperti terpelintir, seolah telah lama tidak ia isi makanan, padahal tadi malam di tengah petang, wanita itu sempat menghampiri dapur untuk memakan roti panggang karena lagi-lagi perutnya itu meronta meminta makan. Keylan menyusu dengan kuat, mungkin karena itulah Tiara mudah sekali merasakan perih di perutnya.


Di luar dugaan, makanan yang tadinya terlihat begitu banyak itu pada akhirnya hanya tersisa sedikit, masuk seluruhnya ke dalam perut Tiara yang memakannya dengan lahap. Ah, ia merasa malu sendiri karena tadi sempat mencela hidangan di depannya yang ujungnya ia habiskan juga.


Perempuan itu lalu mengelap mulutnya dengan tisu dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda menuju teras belakang. Menengok kembali bayinya yang tadi ia tinggalkan dengan mamanya yang bersikeras ingin memandikan putranya itu.


Tiara melebarkan senyum begitu melihat Alfa tengah membopong Keylan dengan kedua tangannya. Lelaki itu asyik menciumi dan menggerakkan tubuhnya secara konstan agar anaknya tetap tertidur. Oh, sungguh manis. Keylan tampak begitu mungil di dalam dekapan ayahnya yang bertubuh tegap dan tinggi. Wanita itu berjalan perlahan mendekati suaminya. Melongokkan kepala untuk melihat wajah bayinya yang sekarang tengah terlelap dengan tubuh sedikit miring menghadap Alfa. Keduanya lalu duduk di bangku panjang dekat dengan pohon tabebuya di sisi lain taman belakang rumah.


“Oh, tentu saja. Keylan pasti akan tumbuh menjadi pria tampan dan memesona seperti ayahnya,” ujarnya dengan pongah. “Dan akan cerdas seperti ibunya,” pujinya kemudian yang membuat ekspresi Tiara yang hendak mencela itu berubah menjadi mimik wajah merona.


Tiara dengan wajahnya yang masih memerah itu lalu mengusap pipi Keylan lembut. “Semoga dia tumbuh menjadi anak yang bahagia. Segala kesulitan yang kita alami cukup sampai di sini saja, jangan sampai Keylan mewarisi sedikit saja kepayahan yang kita rasakan,” harapnya.


Alfa menatap Tiara dengan lembut. “Ya Tiara. Aku akan berjuang sekuat tenaga seumur hidupku, agar hidupnya bahagia dan penuh dengan kesentosaan.” Perempuan itu menyandarkan kepala di pundak suaminya, masih dengan menempelkan tangannya di pipi Keylan.


Ini bukan mimpi. Tiara masih saja tidak percaya jika ia bisa mengandung dan melahirkan dengan tanpa halangan yang berarti. Meski perjuangan kelahiran itu menyisakan kenangan yang membuatnya terenyuh, terutama Alfa yang menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana suasana penuh ketegangan yang terjadi di ruang operasi.


Tiara bahagia telah menjadi wanita sempurna dengan melahirkan anak Alfa. Wanita itu tersenyum sendiri membayangkan betapa nanti rumahnya itu akan ramai oleh suara ocehan Keylan yang lucu ketika belajar berbicara dengan kaki kecilnya yang tertatih untuk mulai belajar berpijak menyesuaikan keseimbangan tubuhnya. Tiara seolah tidak sabar menantikan itu.


Suasana tenteram penuh romansa yang menguar pekat mendadak pecah ketika Keylan menggeliat dan menyuarakan tangisnya yang begitu kencang. Alfa dan Tiara sempat terkaget, sebelum akhirnya Alfa meraih bantal kecil yang ada di trolley dan memasangnya di perut Tiara, kemudian menyerahkan Keylan untuk disusui. Alfa merangkul pundak istrinya dan menyaksikan dengan penuh rasa cinta bagaimana anaknya itu membuka mata lebar-lebar dan menikmati air susunya dengan khidmat.


Siluet tubuh keduanya yang tengah menikmati waktu-waktu kebersamaan itu membuat seisi rumah diam-diam menatapnya dengan haru. Menyuarakan kebahagiaan tertahan dengan mata berkaca-kaca, menyaksikan dua sejoli itu pada akhirnya bersuka cita, penantian Alfa dan Tiara tidak sia-sia.


TAMAT


******


Halo Pembaca Budiman, Novel Penantian telah tamat. Terima kasih banyak kepada semuanya yang telah mendukung novel ini hingga sampai pada ujung cerita. Terima kasih pula atas apresiasinya berupa like, comment, vote, rate, dan favorit.


I LOVE YOU 💜💜💜💐💐💐😘😘😘


Follow IG @bintang.timuur yuk, info novel selanjutnya mungkin akan di-publish di sana.


Matursuwun, terima kasih, thank you, arigatou….


Sampai jumpa di karya Bintang selanjutnya ya,


Bye… 👋👋👋