
Suasana jalanan padat merayap pagi itu, ditopang oleh banyaknya kendaraan yang mengantre masuk untuk mendapat jatah parkirnya. Rumah bercat putih yang berada di seberang tempat tinggal Alfa telah memulai kesibukannya dengan penerimaan kehadiran tamu yang tiada habis. Mereka semua begitu antusias untuk menyambut waktu pembukaan pameran tiba. Sang tuan rumah pun telah bersiap dengan pakaiannya yang serba rapi dan menarik mata. Alfa mengenakan kaos polos berwarna abu terang yang dibalut dengan jas berwarna navy serta celana pensil berwarna hitam. Nampak sangat kasual untuk tubuh tegap nan tampannya itu.
Saat ini, ia masih berdiri di teras rumah dengan Tiara yang masih mematung di tempatnya, duduk di kursi roda. Wanita itu mengenakan shirt dress berwarna biru tua, senada dengan jas yang dikenakan suaminya. Rambutnya yang panjang bergelombang pada ujungnya itu dibiarkan tergerai menutup bahu. Ia terlihat cantik dan segar di awal hari itu dengan riasan yang terpulas sederhana, tetapi menempel sempurna, menutup wajahnya yang sebenarnya terlihat lelah dengan kantung yang menggantung di bawah matanya.
“Bagaimana jika aku tetap di sini saja? Aku pasti akan terlihat memalukan jika menemanimu dalam keadaan seperti ini,” resah Tiara yang masih terus menatap kegiatan lalu lalang yang tengah beradu dengan meriahnya banner dan tamu-tamu berpakaian rapi yang sesekali memperlihatkan kemesraan mereka yang tengah bergandengan tangan dengan pasangan. Ia masih merasa tak percaya diri karena satu hal yang akan sangat ia khawatirkan adalah ketika bertemu dengan Helmia. Ya. Mama mertuanya itu pastilah datang pada acara penting ini. Wanita itu tak bisa membayangkan bagaimana reaksi mama Alfa itu ketika mendapatinya tengah duduk di kursi roda, berbanding terbalik dengan Karina yang terlihat cantik sempurna yang juga turut datang sebagai tamu undangan.
Alfa berjongkok di depan kursi roda Tiara, memegangi kedua tangannya. “Kau ini istriku, apapun yang ada padamu aku tak akan membiarkan orang lain sampai membuatmu tak nyaman,” ucap lelaki itu dengan dahi berkerut. “Tiara kau sedang mengandung anakku, percayalah, tak ada yang lebih membahagiakan untukku daripada ini. Aku bangga memilikimu, aku tak peduli apa kata orang lain,” tegasnya, lalu mencium perut istrinya. “Kau seperti ini karena tengah berjuang sekuat tenaga untuk anak kita bukan? Aku bangga padamu, bagaimana mungkin aku akan tega membiarkanmu terkurung di dalam rumah sementara banyak orang di luar sana yang tengah menantikan dengan rasa rindunya untuk menyapamu? Ayolah, Alisa akan turut menemanimu dan menjagamu jika saja kau membutuhkan sesuatu nantinya,” ujarnya dengan senyum.
“Dan mereka akan melihatku pertama kali dengan keadaanku yang seperti ini? Apa kesan yang akan mereka tangkap? Istri seorang Gheo Alfa yang sakit-sakitan?” tampiknya. Tiara belum siap. Tak ada pilihan menyenangkan di hidupnya yang bisa menenangkan hatinya saat ini. Di satu sisi ia tenang karena telah memeriksakan kandungannya sebelum acara pembukaan pameran ini dimulai. Namun, di lain sisi, ia menyesal karena tak bisa mendampingi Alfa dengan sebaik-baik penampilannya, bahkan ketika lelaki itu akan membuka lebar awak media yang tentu berdatangan untuk meliput acaranya. Membiarkan siapapun tahu dan mengorek lebih jauh tentang kehidupan Alfa dan siapa istri dari putra mahkota perusahaan adidaya di bidang bisnis itu.
Alfa selalu menganggap dirinya bukan siapa-siapa. Menanggapi dengan santai pertanyaan-pertanyaan yang membicarakan tentang hidupnya dan tak mau memikirkan hal-hal tak penting tentang omongan orang di belakang punggungnya. Padahal, hal itulah yang menjadi pesona lelaki itu. Ia terlihat sebagai pria rendah hati dengan segala pesona kebaikannya, nampak sederhana, tetapi elegan.
Lelaki itu mengembuskan napas panjangnya. “Menurutmu? Aku tentu akan berkata dengan bangga, mengatakan bahwa kau sedang dalam kondisi baik-baik saja dan aku yang tak akan membiarkan istriku terluka dan lelah sedikit saja karena tengah mengandung anakku,” ujarnya dengan penuh kesabaran. Begitu sulit membujuk Tiara akhir-akhir ini. Ia terlihat sangat keras kepala dan penuh dengan drama perasaan yang membuatnya begitu mudah tersentuh.
Ingin rasanya wanita itu bangkit dari kursi rodanya sekarang juga, akan tetapi, rasa nyeri di sekitar perut bagian bawahnya benar-benar tak bisa ditoleransi, sehingga ia harus tetap pada posisi duduknya dan menyamankan diri sampai rasa nyeri itu tak timbul lagi. Dan apa? Alfa bersikeras untuk mengajaknya ke sana? Tiara ingin sekali menemani suaminya tentu saja dan ia tak ingin mengecewakan Alfa. Entah mengapa ia begitu mudah menangis hari-hari ini. Dan ia tak mau mendapati lelaki itu semakin kecewa karena tingkahnya yang merepotkan. Akhirnya, dengan berat hati, wanita itu memutuskan. “Baik. Aku akan ikut ke sana.” Tiara menggenggam erat tangan Alfa yang masih berada di pangkuannya. Meyakinkan lelaki itu bahwa ia akan berusaha menghadapi apa saja yang akan terjadi hari ini.
Alisa yang sudah bersiap berdiri di depan pintu pun segera menutup pintu depan rumah itu begitu Alfa menganggukkan kepala ke arahnya, memintanya untuk mendorong kursi roda istrinya, menuju rumah besar yang lebih mirip dengan gedung pertemuan itu.
******
Kerumunan awak pers berdatangan begitu Alfa memasuki pelataran rumah pameran itu. Mereka berdesakan dengan mengacungkan mikrofon ke depan dan riuh dengan pertanyaan yang saling bersahutan tanpa bisa lelaki itu mengerti lagi maksudnya. Namun, para penjaga yang diisi oleh orang-orang yang telah dibebankan tugas sebagai bodyguard telah memasang diri di sana. Memberi jalan kepada tiga orang yang tengah melewati ruang depan itu untuk masuk terlebih dahulu dan mengabaikan secara keseluruhan wawancara jalan yang dilakukan oleh para punggawa media tersebut.
Tiara tak memperhatikan sekeliling, kedua bola matanya terus saja mengarah ke depan di mana suaminya itu tengah berjalan. Suasana sejuk di dalam ruangan dari embusan Air Conditioner itu mendominasi indra penciuman, dan sedetik berlalu, wanita itu terkesiap oleh wewangian yang sangat ia kenal dan begitu nyaman di hidungnya. Lemon.
Selangkah demi selangkah dan akhirnya putaran roda pada kursinya itu membawanya sejenak berkeliling melewati dinding yang memanjang dengan pajangan-pajangan lukisan yang nampak artistik itu. Ia tak menyangka, ternyata, Alfa telah mengumpulkan sekian banyak hasil tarian tangannya di atas kanvas. Lelaki yang terlihat maskulin dengan wajah oval dan bertubuh tegap itu berbanding terbalik dengan penampilannya. Orang-orang yang pertama melihat Alfa pastilah akan menganggap bahwa lelaki itu adalah tipe pria dingin gila kerja yang sangat tertutup, akan tetapi, mereka pasti akan langsung terperangah begitu bercakap dengannya. Alfa sesungguhnya adalah pribadi lembut berhati hangat dan sangat mudah mengulas senyum kepada siapa saja dan begitu mencintai kebebasan. Melepaskan segala hal yang ada dalam angan-angannya dan merealisasiakannya ke dalam bentuk bidikan mata kamera maupun warna-warna indah yang lahir dari imajinasinya di atas real blank space itu.
Di dinding lain, Alfa juga memamerkan beragam hasil fotonya yang dibingkai indah dengan ukiran pigura kayu, memperlihatkan aneka jenis fotografi pilihan.
Langkah laki-laki itu terhenti ketika kaki jenjangnya tiba pada undakan tangga. Sejenak, Alfa menoleh ke belakang, ke arah istrinya yang masih didorong perlahan sembari melihat-lihat ke kiri dan kanan, turut menikmati gambar-gambar indah yang sangat memanjakan mata. Seulas senyum tak bisa bersembunyi dari bibirnya. Lelaki itu dengan wajah sumringah menunggu kedatangan istrinya yang turut menyunggingkan senyum pula, seakan mengatakan bahwa, ia baik-baik saja dan menikmati tempat itu.
“Aku ke atas sebentar. Ada hal yang harus ku lihat dan ku cek. Berkelilinglah sesuka hatimu dan jadilah mata pertama yang memandangi hasil karyaku.” Alfa berucap sambil membungkukkan badan, mengelus pucuk kepala Tiara dengan penuh sayang.
“Baiklah. Lanjutkan saja apapun yang perlu kau lakukan. Aku akan berkeliling ruangan.” Lelaki itu menyetujui dengan mencium kening istrinya, mengabaikan Alisa yang memandangi mereka dengan rasa iri dan haru, mengetahui kehidupan tuannya yang bergelimangan kasih cinta yang seakan selalu saja mempunyai cara yang berbeda untuk bisa menyenangkan kekasihnya. Alfa lalu melangkah mantap menaiki tangga.
“Alisa apa kau lelah?” Tiara menengadahkan kepala ke belakang, menatap Alisa dengan kening berkerut.
“Tentu tidak. Aku akan mengantar ke manapun Ibu mau, karena aku juga sangat ingin melihat-lihat lukisan serta foto hasil karya Bapak,” sanggahnya dengan senyum.
“Baiklah.” Wanita itu menengok ke jam tangan yang terpasang pada pergelangan tangan kirinya. Acara potong pita akan dilaksanakan 20 menit lagi. Ia masih memiliki banyak waktu untuk sekedar melihat-lihat kembali seisi ruangan yang belum ia kunjungi. “Kita ke sana dulu,” ucapnya menunjuk dengan jari telunjuk tangan kanannya, meminta Alisa mengantarnya.
“Apakah Pak Alfa telah lama menekuni dunia seni ini?” Tanya wanita itu ketika mereka sampai di depan sebuah lukisan perempuan dengan gaun hijaunya yang terlihat begitu anggun. “Apakah itu Anda?” tanyanya kembali, menghentikan sorongan kursi rodanya karena ternganga akan lukisan indah yang tengah diamatinya.
Tiara tertawa. “Mungkin saja iya. Alfa sering melukisku dan memanfaatkan apa saja tentangku sebagai inspirasi,” ujarnya lalu turut terkejut dengan lukisan yang tak begitu jauh dari tempat mereka berhenti saat itu. Dengan tidak sabar, Tiara memajukan sendiri roda pada tempat duduknya untuk melihat dengan jelas apa yang tengah dilihatnya. Sebuah lukisan wanita dengan perutnya yang membuncit. Tiara mengernyitkan dahi dengan ekspresi terharu. Tak terasa ia mengelus sendiri perutnya, membayangkan dalam imajinasinya ketika suatu saat nanti, bayinya akan berkembang dan kulit perutnya mengalami strechmark karena membesar.
“Kau sedang apa?” Suara wanita yang tak asing di telinga itu mengejutkannya. Menggugah lamunannya dengan perasaan was-was yang langsung menelusup masuk ke dalam hatinya yang tengah membuncah bahagia. Perempuan dengan rambut bersanggul itu berdiri tak jauh dari Tiara berada, memandang dengan tatapan elang seolah siap mencabik-cabik dirinya. Istri Alfa itu dengan panik justru menengok ke segala arah untuk menemukan Alisa yang ternyata sudah tak ada lagi di tempatnya.
Dada Tiara semakin bergemuruh ketika langkah wanita itu menuju ke arahnya dan semakin mendekat. Oh, ingin rasanya ia berteriak saat itu juga.