
Pagi yang dingin menjumpai Tiara pertama kali ketika ia kembali ke alam sadarnya. Ia langsung sadar sepenuhnya dan hatinya bergejolak saat mengingat kembali urutan peristiwa hingga dirinya bisa terbaring di rumah sakit ini. Yang pertama dilakukannya adalah memegangi perutnya. Walau belum ada perubahan meski dirinya tengah hamil, dan Tiara tidak pula mengalami morning sickness selama ini, namun pertanyaan tentang bagaimana bayinya di dalam sana membuat tubuhnya panas. Dengan susah payah ia berusaha untuk duduk. Tak tahu apa yang akan dilakukannya.
Sebentar kemudian matanya langsung menatap kaku ke arah sofa di mana Alfa tertidur di sana. Lelaki itu tampak kelelahan. Ia bahkan belum mengganti pakaiannya sejak kemarin sore dengan celana dan kaos yang sedikit terlihat kusut. Kekosongan terasa menggaung di hatinya mengingat kemungkinan ia telah mengalami keguguran dengan pendarahan yang begitu banyak. Oh, dia seperti baru saja mendapat kebahagiaan dengan perasaannya yang terbang membumbung ke angkasa, tetapi langsung terhempas begitu saja ke tanah karena ia lupa tak membawa parasut agar dapat menginjakkan kaki di tanah tanpa rasa sakit. Ia tak sempat menyiapkan hatinya atas kemungkinan ini, sehingga rasa kelu amat menusuk rongga dadanya.
Hatinya sakit. Meresap dengan sempurna seperti obat yang mulai terasa pahitnya ketika menjalar ke seluruh bagian tubuh dan mengeluarkan racunnya dalam bentuk air mata. Ia tak bisa menahan buliran bening dari matanya itu untuk tidak keluar. Namun, tak ingin membangunkan Alfa, ia menahan sekuat yang ia bisa sehingga tangisannya hanya mengeluarkan isakan-isakan kecil menyesakkan yang justru akan lebih terasa menyedihkan ketika didengar. Menangis dalam diam.
Tiara terus sesenggukan selama beberapa lama lalu kembali membanting tubuhnya ke tempat tidur. Tepat sebelum terdengar suara gerakan dari arah Sofa dan Alfa terduduk di sana. Sudah lebih ringan hati wanita itu sekarang, walau air mata masih meninggalkan jejaknya di sana. Tiara kembali terbaring dengan tenang, tetapi dengan wajah yang tertoleh ke arah berlawanan dari tempat Alfa berada.
Lelaki itu berusaha mengumpulkan segenap kekuatannya agar bisa duduk lalu berdiri dengan benar. Ia belum menyadari bahwa ternyata istrinya tengah terbangun.
Ditatapnya sejenak Tiara yang masih tenang di atas ranjang. Seolah tak ingin mengusiknya, Alfa akhirnya memutuskan untuk sedikit menyegarkan badannya dengan melangkah ke kamar mandi yang tersedia di sana lalu membasuh muka.
Terdengar suara pintu kamar terbuka dan ia membekukan aktivitasnya sejenak. Ada beberapa derap langkah yang saling menyusul memasuki ruangan. Terdengar suara pria tengah berbicara dengan Tiara. Alfa segera keluar dari kamar mandi dan mengungkap rasa ingin tahunya akan siapa yang telah datang mengunjungi istrinya pagi buta seperti ini.
Papa dan Mama.
“Baik Pa.” Terdengar Tiara menjawab lemah di sana. Alfa mendesah kecewa karena bukan dirinya yang pertama kali menjadi hal yang dilihat oleh wanita itu ketika ia terbangun. Padahal tanpa lelaki itu tahu, Tiara telah terbangun terlebih dulu dan menghabiskan waktu sendirinya tadi dengan menangis.
“Alfa." Helmia menyapa terlebih dahulu ketika melihat anak laki-lakinya baru keluar dari kamar mandi. Kesemua mata melihat ke arahnya kecuali istrinya, ia masih menghadap ke arah yang tak bisa dilihat olehnya.
“Maafkan Papa datang mengejutkan pagi-pagi sekali. Papa tidak akan bisa datang bekunjung jika menunggu waktu luang," jelas Yunus dengan yang Tiara hanya mengangguk.
“Apa yang terjadi?” Helmia seakan-akan sudah tak mampu menahan pertanyaan yang hendak dilontarkannya sedari tadi.
Belum sempat terjawab, pintu kamar kembali terbuka dan kali ini Dokter Jeni lah yang juga turut terkejut karena mendapati ada banyak orang di ruangan itu. Dengan canggung, ia memindaikan senyumnya ke semua orang yang telah melihat kedatangannya diikuti satu orang perawat.
“Helmia." Jeni lantas memajukan dirinya dan cipika-cipiki singkat dengan teman lamanya itu lalu beralih menatap Tiara yang sudah terbangun.
“Aku akan memeriksanya sebentar," ujarnya kemudian lalu mendekati Tiara yang juga tengah memandangnya.
“Bagaimana keadaanmu?” Dokter Jeni mengeluarkan alat cek dari sakunya, memeriksa detak jantung serta mata dan mulutnya, lalu memeriksa kantung infus yang tergantung di sisi ranjang dan memeriksa tekanan darahnya.
“Baik Dokter.” Tiara tersenyum singkat.
“Kau pasti sibuk Yunus, hingga rela datang menjenguk di pagi yang dingin ini.” Dokter Jeni menyapa lelaki itu yang sedang duduk di kursi sofa dengan Helmia di sampingnya.
Sementara Alfa berada di sisi ranjang, berdiri di sana.
“Ya. Aku hanya ingin mengetahui kondisi anak perempuanku.”
“Tiara baik-baik saja. Dia hanya harus memulihkan kondisinya selama beberapa waktu.” Wanita tua itu berkata ringan.
"Memulihkan kondisinya?" Helmia bertanya dengan kening berkerut.
"Iya. Tiara mengalami keguguran." Dokter Jeni memandang penuh ironi ke wajah Tiara yang kini tengah pucat memandang ke arahnya.
Helmia ternganga demi mendengar berita yang begitu mengejutkan untuknya itu.
Alfa mengembuskan napas panjang dan mendongakkan kepala untuk mengusir rasa gelisah yang kembali mendatanginya. Alisnya bertaut menatap Tiara yang hanya terdiam. Lelaki itu tahu, istrinya sedang berusaha untuk tidak meledakkan emosinya saat itu juga, mendapati kedatangan orang-orang itu yang tentu saja mengintimidasinya.
"Kenapa?" Helmia bertanya lagi, tidak puas dengan jawaban singkat Jeni tadi.
"Baiklah. Kurasa aku harus mengatakannya sekarang. Kau tak apa-apa Tiara?" Dokter Jeni meminta persetujuan Tiara atas apa yang akan dikatakannya.
Sungguh jika Dokter Jeni bertanya pada Alfa, ia akan mengatakan tidak. Membuka rahasia Tiara di depan mamanya sama dengan memasukkan Tiara ke dalam kandang singa. Siap dimakan habis. Sayangnya, anggukan tipis Tiara tak mengalihkan juga perhatian dokter itu ke arahnya. Ia sungguh gelisah sekarang.
Tiara yang masih tak banyak bicara sepertinya hanya pasrah akan putusan dokter itu. Meski, sama seperti Alfa, ia merasa tak begitu nyaman membicarakan hal-hal paling pribadi kepada mertuanya.
"Aku semula berharap, Tiara adalah salah satu dari 99 kemungkinan baik setelah mengetahui dia hamil. Sungguh aku sama sekali tak mengkhawatirkan anemia yang dideritanya, tetapi, Tiara ternyata satu dari 100 orang yang kurang beruntung. Dan, hasil pemeriksaan lanjutan yang kulakukan menunjukkan bahwa Tiara memiliki kondisi lemah kandungan. Pada kondisi kehamilan sehat, pintu rahim seharusnya tertutup rapat untuk menyangga kantung kandungan yang akan terbentuk. Tetapi pada kandungan yang lemah, pintu rahim tidak mampu menutup sehingga terjadilah pendarahan dan keguguran." Dokter Jeni berusaha menjelaskan dengan bahasa lugas yang mudah dimengerti. Namun, kata-katanya yang dianggap ringan itu justru memiliki efek yang luar biasa berat bagi orang-orang yang mendengar penjelasannya, termasuk Tiara yang menjadi subjek pembicaraan tersebut.
Tiara memejamkan matanya. Sungguh ia sangat berharap, ia sekarang tertidur lelap dan tidak mendengar lagi kata-kata Dokter Jeni.
"Bisa. Tentu saja bisa. Namun, kita harus bersabar dan aku akan mengupayakan penanganan khusus jika Tiara nanti kembali hamil."
Tak ada kelegaan atas ucapan optimis Jeni yang dilontarkannya baru saja. Seisi ruang tetap nampak tegang. Alfa bahkan kini nampak lesu dengan mendudukkan setengah tubuhnya ke nakas meja.
Ingin rasanya lelaki itu berteriak saat ini.
"Tidakkah kalian ingin memberi ruang kepada Tiara untuk beristirahat?" Dada Alfa bergemuruh dan gerahamnya mengatup ketat ketika ia menahan asa untuk tidak marah saat itu juga. Mengucapkan nada pengusiran atas siapa saja yang berada di tempat itu. Tak peduli walau mereka adalah orang tuanya.
Ketiganya saling melempar pandang. Lalu, dengan bijaksana, Yunus akhirnya memimpin kata untuk berpamitan.
"Ya. Kurasa kedatanganku pagi-pagi begini saja sudah mengganggu. Kami tentu tak tega berada terus di sini mengintimidasi. Kami akan pulang." Yunus bangkit dari duduknya namun tanpa permisi, Helmia terlebih dahulu keluar ruangan tanpa kata. Lelaki itu hanya mengembuskan napas melihat polah tingkah istrinya yang menampakkan rasa tidak suka dengan jelas.
"Papa pulang dulu. Tiara, semoga kau lekas membaik," ucapnya sambil tersenyum dan keluar meninggalkan ruangan menyisakan Jeni yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Aku akan kembali nanti siang. Maafkan aku." katanya, yang hanya ditanggapi dengan Alfa yang menipiskan bibirnya lalu mengangguk singkat.
"Jangan lupa nanti obatnya kau berikan untuk Tiara." Dokter itu keluar ruangan begitu saja setelah mengucapkan kalimat terakhirnya dan menganggukkan kepala tanda berpamitan tanpa mengatakan sepatah kata lagi. Menutup kembali ruang perawatan.
Alfa memutari ranjang, berada tepat di depan wajah Tiara yang sedari tadi menoleh. Lelaki itu mengelus dahi istrinya. Oh, hatinya terasa teriris melihat wajah sembab dan ekspresi mendung wanita itu.
Tiara bertumpu pada kedua tangannya dan berusaha untuk duduk, Alfa menyangga punggungnya untuk membantu. Namun, belum sampai ia duduk dengan tegak, Tiara langsung menghamburkan pelukannya dan membenamkan wajahnya ke dada suaminya hingga tangisannya yang pecah, hanya terdengar lirih karena ia mencengkeram kaos Alfa erat-erat sebagai peredam suara.
Melihat sikap Tiara yang demikian, Alfa pun mengeratkan pelukannya, berharap kesakitan yang mendera istrinya itu berganti pada dirinya saja sepenuhnya. Tiara tak seharusnya berpura-pura kuat sekarang, hingga ia tak mau terlihat tengah menangis di depan Alfa. Meskipun, tanpa berpura-pura pun, Tiara sudah menjadi wanita paling kuat untuknya.
Setelah embusan napas panjang mengakhiri tetes air matanya, Tiara akhirnya menjauhkan tubuhnya dan duduk dengan tegak. Alfa turut duduk di sampingnya dengan kaki menggantung ke bawah.
Tiara tersenyum cerah sambil mengusap dengan kasar air mata yang masih turun tanpa permisi.
"Mandilah. Kau bau." Tiara mengibaskan tangannya ke arah Alfa dengan nada mengejek.
Alfa tersenyum kecil mendengar nada bercanda yang tiba-tiba terucap istrinya. Sekali lagi ia merasa terenyuh. Tiara sedang berusaha menghibur dirinya sendiri. Lelaki itu berjanji untuk akan mengupayakan apapun agar Tiara bahagia.
"Kau meledekku." Alfa mencolek pinggang istrinya dan Tiara pun tertawa.
"Aku ingin pulang secepatnya." Mimik wajah Tiara berubah serius.
Alfa memperhatikan dengan saksama kedua bola mata istrinya.
"Tentu saja. Kau selalu bisa sembuh dengan cepat. Aku akan segera membawamu pulang." Lelaki itu mengangguk dengan penuh semangat lalu menautkan jemarinya ke tangan Tiara.
******
"Tak seharusnya kau bersikap seperti itu di depan anakmu yang sedang sakit." Yunus berkata tenang sambil terus memfokuskan pandangannya ke depan, mengendarai mobilnya dengan kecepatan konstan.
Helmia menunjukkan wajah sinisnya. "Lalu aku harus bagaimana? Aku tak bisa berpura-pura. Sejujurnya aku belum bisa menerima dengan sepenuh hati kehadiran Tiara."
"Walaupun Tiara anak temanmu?"
"Sama sekali tak memberi pengaruh."
"Jadi, kau sedang berpura-pura baik pada Tiara di depan ibunya?"
"Apa yang kupikirkan benar bukan? Alfa mengecewakanku dengan memutuskan hubungannya sepihak dengan Nelly dan sekarang malah menikahi wanita yang sakit-sakitan, bagaimana aku bisa menerima?"
"Kau terus saja menyesali masa lalu." Yunus mengembuskan napas panjang menahan emosi. Sungguh Helmia hanya akan menambah keruh keadaan jika terus menerus menjadi antagonis di tengah hubungan anak mereka. Mungkin saat ini belum, ia masih bisa berbaik hati saling bertatap muka dengan Tiara. Entah nanti jika ia sudah kehabisan kesabarannya. Tetapi, semoga itu tidak terjadi.
"Aku tak akan tinggal diam. Aku tak bisa melihat anakku harus terlunta-lunta dan menghabiskan waktu yang tak pasti untuk membersamai wanita seperti itu."
Helmia keluar dari dalam mobil Yunus dan membanting keras pintunya sebelum melangkah dengan cepat memasuki rumah.