
Alfa tengah membuka foto dalam layar tablet yang digenggamnya dan terus melakukan sliding dengan banyak pilihan gambar yang terpampang di sana. Ekspresinya berubah-ubah.
“Kau yang membuatnya?” Alfa menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu menatap Leon yang duduk di kursi agak jauh dari ranjangnya. "Ternyata aku tak salah merekrutmu.” Lelaki itu tersenyum miring, pandangannya beralih kembali pada layar tablet. Anak laki-laki muda berkacamata ini ternyata pandai membuat design. Perpaduan yang klop dengan dirinya sang fotografer dan pelukis. Ia menunjuk Leon sebagai koordinator dalam opening mendatang. Ia salut karena anak itu telah mendedikasikan banyak hal termasuk waktu dan tenaganya untuk membantunya menyelesaikan berbagai item yang harus dilakukan.
“Iya. Aku cukup lama bergelut di bidang multimedia, aku masih ingat sedikit hal yang bisa kulakukan untuk membuat design sederhana.” Leon menggaruk tengkuknya karena merasa canggung telah dipuji oleh bosnya.
“Wow. Ini bukan design sederhana. Kau bisa membuatnya dengan detail. Aku suka ini. Sampai-sampai aku merasa bingung harus memilih yang mana." Berujar Alfa dengan jari lentiknya yang menari di atas tablet. Melakukan Zoom in dan zoom out di beberapa titik gambar.
Alfa hanya memintanya membuatkan rancangan sederhana untuk banner dan x-banner ketika mereka akan melakukan pembukaan pameran untuk karyanya. Tak disangka, Leon memberinya banyak contoh design yang bisa dipilih.
“Aku akan pertimbangkan nanti saja masalah banner ini. Dan, Leon, sepertinya kita harus menunda pembukaan pamerannya.” Mata Alfa mengarah ke kakinya yang masih tertutup kain perban.
“Itu sama sekali tak masalah, karena kita juga belum memastikan tanggal. Kami akan menunggu sampai kau pulih benar dan kau siap.” Leon berkata dengan penuh semangat.
“Tapi, akan membutuhkan waktu beberapa lama sampai kakiku pulih dan lancar untuk berjalan. Maafkan aku telah membuat banyak hal menjadi repot.” Alfa tersenyum getir.
“Sudahlah. Tak ada yang perlu dimaafkan. Kejadian kecelakaan itu tak terhindarkan. Mungkin saja kau memang harus beristirahat karena terlalu sibuk beraktifitas. Jeda sejenak bisa mengembalikan energimu dan berangkat dengan lebih banyak ide dan inspirasi.” Berkatalah Leon sambil membenarkan posisi kacamata di hidungnya. “Tapi, sepertinya inspirasi terus datang kepadamu ya. Kau seorang fotografer dengan jam terbang yang tinggi. Pergi ke tempat-tempat menarik untuk dijadikan spot foto ketika bekerja sekaligus bisa menambah idemu untuk melukis. Kau hebat.” Mengacungkan dua ibu jari ke depan dada.
Alfa menggumam. “Kau berlebihan.” Lalu tersenyum. “Bagaimana Davian? Apakah Ia telah menyelesaikan bagianku? Kuharap ia tak terlalu terburu-buru dulu dalam waktu dekat. Aku belum sempat berbicara dengannya.” Alfa meletakkan tablet ke atas meja, lalu kembali menatap Leon.
“Ah, Davian?” Leon tertegun sejenak mendengar Alfa menanyakan temannya itu. Lelaki itu menelan ludahnya sebelum kembali menyuarakan pikirannya. “Davian itu, apa Ia sahabatmu sejak lama?” Dengan gugup ia menatap sejenak Alfa dengan alis terangkat, lalu melipat bibirnya karena telah bertanya dengan kalimat aneh seperti itu. Beberapa kali dalam beberapa kesempatan, Leon sempat melihat Davian datang ke rumah Tiara ketika Alfa tak di rumah. Mungkin itu hanya sekedar keakraban seorang teman, tapi entah mengapa hal itu membuat Leon curiga. Ia selalu urung untuk mengatakannya pada Alfa. Namun, pikirannya selalu tergelitik untuk menguak lebih dalam. Di sisi lain, ia pun tak mau menjadi penyebab rusaknya hubungan pertemanan mereka, tetapi rasa-rasanya hal itu haruslah terungkap, agar tidak ada kesalahpahaman yang berkelanjutan hingga jauh di masa mendatang.
Alfa mengangguk tipis dan mulutnya tengah bersiap untuk mengeluarkan kata-kata, tetapi tertahan dengan hanya meninggalkan mulutnya yang terbuka karena terinterupsi oleh suara pintu yang berderit.
Tiara muncul membuat kedua orang yang tengah berbincang tersebut menatap ke arahnya. Senyumnya mengembang melihat Leon yang menyambutnya dengan wajah semringah.
Wanita itu lalu berjalan mendekat.
“Leon? Lama tak berjumpa denganmu," ucapnya setelah menyeberangi ruangan dan berdiri di dekat ranjang suaminya.
“Ya Tiara. Aku datang untuk menjenguk.” Menatap Alfa sekilas.
Pintu terbuka kembali. Perhatian ketiganya teralih pada … -setelah sekian detik, barulah ada- sesosok lelaki yang memunculkan setengah badannya, memandang ke dalam ruangan, seolah meyakinkan diri bahwa Ia telah berada pada ruang jenguk yang diinginkan. Tiara yang merasa asing pun tetap dalam kening berkerutnya, menduga-duga siapakah tamu yang sedang berusaha untuk masuk itu.
“Brian?” Alfa memiringkan kepala setelah bertemu tatap dengannya.
“Ah ya. Alfa.” Lelaki itu kembali menatap ke luar pintu, hanya tangannya yang masih nampak memegang handle, kemudian membuka pintu lebar-lebar dan berjalan diikuti dua sosok lain yang memasuki ruangan.
Tiara dibuat terperangah atas kedatangan para lelaki bertubuh tegap itu ke dalam ruang rawat inap suaminya, membuatnya memundurkan langkah lalu berjalan memutar menuju sisi ranjang yang berlawanan dengan ketiga orang tersebut. Dua orang diantaranya justru langsung mengalihkan pandangannya pada Tiara di seberang ranjang. Sementara Leon, tetap duduk tenang dalam kursinya.
“Hei. Kalian seperti tiga orang staf inteligen yang merangsek masuk hendak melakukan pembantaian. Kau membuatnya takut. Duduklah.” Alfa mengedikkan kepalanya ke arah sofa, menatap sejenak Tiara yang bersemu merah lalu turut mendudukkan dirinya di kursi.
Oh, sungguh Alfa membuatnya malu setengah mati. Ia sudah merasa terpojok berada diantara banyak lelaki di ruangan itu, malah ditambah dengan ucapan Alfa yang seakan sengaja menggodanya dan juga ingin segera menjauhkan para lelaki itu dari dekat hadapannya menggunakan Tiara langsung sebagai alasan.
Alfa, Tiara gemas sendiri, ia berjanji akan mencubit pipi lelaki itu nanti.
“Maaf kami datang terlambat. Ada pekerjaan yang harus ditangani.” Dony membuka pembicaraan dengan senyum ramahnya yang biasa.
“Aku tak pernah memberi tenggat waktu. Terima kasih telah menjenguk.” Alfa tersenyum tipis.
“Apakah kau sudah merasa lebih baik? Aku turut prihatin atas kecelakaan yang menimpamu ini.” Brian mengimbuhkan. “Apa kecelakaan ini ada hubungannya dengan model Nelly Frashila yang juga mengalami kecelakaan di tempat yang sama?” Pertanyaan yang lebih mengarah ke interogasi itu membuat Alfa menaikkan sebelah alis. Ia melirik ke arah Tiara yang duduk dengan tegang di sana. Berada pada keterkejutan yang sama dengan Alfa ketika mendengar kalimat Brian.
“Aku baru tahu beberapa jam lalu, sepertinya media dibuat bungkam agar isu ini tak menyebar, tetapi, ketidakhadirannya di dalam beberapa event penting akhir-akhir ini menjawab rumor yang beredar. Bahwa, ya benar. Dugaan Nelly mengalami kecelakaan dan sekarang dalam masa perawatan adalah benar adanya.” Alex menambahkan.
Dony hanya bersedekap memandangi lantai mendengar dua orang temannya yang tak ia duga langsung memberitahukan informasi itu kepada Alfa.
Alfa sendiri tampak termenung dan berpikir keras, menelaah kalimat yang menurutnya rumit untuk dicerna. Ia tak pernah menyalahkan siapa-siapa atas kecelakaan yang menimpanya, karena seingatnya, bukan hanya dirinya saja yang terluka atas kecelakaan itu, melainkan juga supir truk dan pengendara yang menyetir mobil sedan di depannya. Polisi sudah menanganinya dengan baik dan ia tak peduli siapa-siapa identitas orang lain yang juga terlibat dalam kecelakaan itu. Ia tak pernah berusaha untuk mengorek informasi sepenting itu, karena menganggap orang-orang di sekitarnya pun diam, tak memberi informasi apapun untuknya, yang berarti, mereka bukanlah orang-orang penting yang berhak Alfa tahu.
Tetapi ini?
Pikirannya langsung sampai pada kesimpulan, jika benar yang menabrak mobilnya adalah Nelly, apakah Mamanya yang selama ini absen menjenguknya adalah karena sedang merawat Nelly entah dimana?
Alfa menghembuskan napas panjang.
“Apakah pihak kepolisian sudah mengetahuinya?” Suami Tiara itu turut bersedekap dan menerawang.
“Tentu saja mereka tahu. Tapi, seperti biasanya, kekuasaanlah yang menang.” Brian menjawab dengan ekspresi mengejek.
Dony berdehem. “Sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membahas hal ini. Kita bisa membicarakannya lain waktu dan memberi waktu Alfa untuk beristirahat. Kau tentu membutuhkan waktu untuk rileks. Bukan begitu?” Brian dan Alex akhirnya menunduk dan memberikan anggukan tipis dengan gumaman.
Alfa menoleh. Mengulas senyum. Dony pantaslah menjadi ketua tim. Sikapnya yang bijak dan selalu bisa menjadi penengah membuatnya tak diragukan lagi untuk memegang posisi ini.
“Aku tak apa-apa. Terima kasih telah memberitahuku. Tapi itu sungguh tak berarti bagiku.” Alfa mengangguk tipis.
Mengapa jalinan keterikatannya dengan Nelly menjadi semakin dekat? Lelaki itu sudah cukup lupa dengan ketidakhadiran Nelly selama dua tahun ke belakang, tetapi, sepertinya wanita itu menantangnya. Bahkan telah menyerahkan hatinya kembali. Kali ini ia tak akan tinggal diam. Alfa akan membuatnya menyesal lebih dalam dari pada perpisahan mereka sebelumnya.
Namun, dibalik ini semua, ia sungguh tak ingin memperpanjang urusan ini dan tak ingin lagi berurusan dengan wanita itu. Ada Tiara yang harus ia jaga. Apa jangan-jangan, Nelly ingin mencelakai Tiara? Menganggap mereka pergi bersama waktu itu?
“Tiara. Bagaimana kabarmu?” Brian menyambung kalimat dengan mengalihkan pembicaraan. Membuat Alfa terbangun dari kemelut lamunan singkatnya.
“Hm? Aku? Mm … Aku baik-baik saja.” Tiara menjawab dengan tergagap.
“Aku hampir-hampir tak mengenalimu karena kau ternyata lebih cantik daripada ketika kau mengenakan kostummu ketika resepsi pernikahan.” Alex menatap Tiara dengan tersenyum simpul.
“Jangan menggodanya, Bos galak bisa menghajarmu nanti.” Brian menepuk kasar lengan Brian yang sedang bertopang dagu.
“Oh. Aku tak akan menghajarnya. Aku akan langsung melindasnya sampai remuk.” Tangan Alfa memperagakan apa yang diucapkannya.
Mereka semua tertawa tak terkecuali Leon yang hanya diam menyimak. Tiara hanya menunduk dengan semburat merah yang semakin menyala terang.
“Baik. Sudah cukup kalian. Memalukan sekali.” Dony berkata sembari menengok jam tangan di pergelangan tangan kirinya. “Kami harus segera pergi Al, setengah jam lagi kami harus terbang.” Dony berdiri dari sofa diikuti kedua rekannya. “Segera membaik ya. Kami menantimu kembali ke studio.” Lelaki itu mengucap dengan mantap sembari mendekat dan mengayunkan tangan untuk salam persahabatan seperti biasa. Alfa tertawa kecil mengantar kepulangan ketiga sahabatnya dan memperhatikan mereka hingga keluar ruangan.
“Aku juga harus pergi.” Leon turut berdiri dan berpamitan.
“Ya. Kedatanganmu sangat membantuku. Terima kasih design-mu. Aku sangat menghargainya.” Alfa menunjuk ke arah tablet di atas meja.
“Aku senang bisa membantu.” Leon menganggukkan kepala dan menatap Alfa serta Tiara bergantian, lalu melangkahkan kaki meninggalkan mereka berdua dengan kembali menutup pintu.
Alfa terkekeh geli kemudian, melihat raut wajah Tiara yang merah padam dengan pipi menggembung seakan merasa lega setelah kepulangan teman-temannya.