
Helmia berjalan mondar-mandir dengan wajah berkerut. Sebelah tangannya menempelkan ponsel di telinga. Sedang berharap-harap cemas pada seseorang di seberang sana, ingin agar teleponnya itu segera diangkat. Satu bulan lagi cucu pertamanya akan lahir dan wanita itu benar-benar setiap hari melakukan panggilan telepon pada Alfa, tak ingin tertinggal kabar barang sekecil apapun atas keadaan menantu dan calon bayinya itu.
Yunus yang sedang bekerja di depan komputernya itu pun melepas kacamata dan menghentikan aktivitasnya sejenak. Mengembuskan napas kasar begitu melihat istrinya nampak resah dengan gerak tubuh yang menunjukkan sikap kesal.
“Alfa?” Tanya laki-laki itu dengan menyedekapkan kedua tangan di depan dada.
Helmia mendecak. “Iya, siapa lagi?” ujarnya lalu melempar ponsel ke kursi sofa. Benar-benar kesal karena panggilannya itu tak terjawab.
“Alfa sudah berkonsultasi dengan dokter terbaik di Kota Bunga. Sudah, sikapmu yang terus menerus mengkhawatirkan itu justru akan membuat mereka tidak nyaman. Kita berdoa saja yang terbaik. Semoga tidak ada apa-apa sampai waktunya kelahiran nanti,” tukas lelaki itu menenangkan.
“Berbulan-bulan aku tidak bertemu dengan mereka. Apakah tidak apa-apa jika aku datang menjenguk?” ucap wanita itu dengan raut muka sendu.
Yunus mengulas senyum tipis. Mengerti akan segala kegundahan yang dirasakan oleh istrinya itu. Sudah hampir setahun lalu Helmia bertatap muka dengan Tiara ketika menantunya itu dalam keadaan depresi berat. Dan saat ini, menjelang waktu kelahiran ini, sungguh wanita itu belum bisa tenang jika belum memastikan sendiri bahwa saat ini Tiara sudah sembuh benar dan telah kembali menerima keadaannya. Alangkah rindu wanita itu pada menantu dan anaknya. Rindu yang telah lama ia pendam dan akhir-akhir ini sulit untuk ia tepis.
“Cobalah untuk membicarakannya dengan Alfa terlebih dahulu. Yah, mekipun aku yakin Tiara pasti akan menerima kedatangan kita dengan senang hati,” hiburnya.
Helmia menarik napas panjang dan mengangguk tipis.
“Nyonya?” Julius yang sudah tiba di depan pintu sedari tadi itu akhirnya berhasil mengudarakan suaranya yang ragu-ragu untuk ia ucapkan. Pintu ruangan itu tidak tertutup, tetapi, sepertinya, tuannya itu tengah berbincang tentang sesuatu yang amat penting, sehingga ia menunggu dan malahan seperti pencuri dengar yang berhasil menangkap semua pembicaraan Yunus dan Helmia.
“Julius. Bagaimana? Apakah sudah kau selesaikan tugasmu?” Helmia mengulurkan tangan ke depan, mempersilakan asistennya itu untuk memasuki ruangan dan duduk di seberang sofanya.
“Sudah Nyonya. Tinggal menunggu instruksi dari Anda, kapan waktu pengirimannya akan dilaksanakan,” jawabnya dengan pasti.
“Bagus. Aku harus menunggu kabar dari Alfa dulu.”
“Pengiriman? Kau hendak mengirim apa?” Yunus yang tak henti menatap percakapan dua orang di depannya itu akhirnya bertanya, karena seperti biasa, wanita itu selalu mengambil keputusan cepat tanpa memberitahunya terlebih dulu.
“Aku telah membeli perlengkapan dan segala macam jenis baju bayi termasuk gurita, bedong, serta perlengkapan ibu menyusui. Aku sudah berpesan pada Berta dan Alfa bahwa aku yang akan membeli semuanya. Kau tahu bukan? Tiara masih begitu awam terhadap hal-hal seperti itu, jadi aku sudah memilihkan dengan kualitas dan bahan terbaik, sehingga nyaman dipakai,” paparnya.
Lelaki itu mengangkat kedua alis dengan keterkejutannya yang nyata. Ia memahami dengan benar karakter istrinya yang perfeksionis itu. Jika sudah menginginkan sesuatu, maka hal itu harus dilaksanakannya dengan sempurna tanpa cela. Dan, hatinya begitu tersentuh kali ini. Ternyata, seperti rumus alaminya, kebencian yang teramat mendalam justru mendatangkan cinta, dan sekarang Helmia sedang menerima hukumannya, mencintai menantunya dengan ekspresi kasih sayang yang tak mampu dibendung lagi.
Yunus tersenyum hangat, menganggukkan kepala dengan perasaan bahagia yang meletup memenuhi hati.
******
Tiara tertidur miring dengan kedua tangan memeluk lengan suaminya. Wanita itu memejamkan mata dengan mimik wajah penuh ketakutan dan pipinya yang masih basah oleh air mata. Alfa mencoba menenangkan dengan menggenggam jemari istrinya dan memerhatikan dokter Prita yang tengah menulis sesuatu di atas kertas yang dibawanya.
“Jangan cemas. Pendarahan seperti ini wajar saja terjadi karena memang kandungan Ibu Tiara mengalami plasenta previa total seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya ketika Ibu mengalami pertama kali pendarahan,” jelasnya.
Alfa mengembuskan napas panjang. Sungguh akhir-akhir ini keadaan bersinambung memberikan ujian kesabaran untuknya. Kehamilan Tiara terus saja memberikan kejutan yang membuatnya lemas tak berdaya karena terpacu kecemasan yang membuat jantungnya berdebar cepat. Beruntunglah, semuanya baik-baik saja, istrinya sehat dan calon bayinya itu tumbuh sempurna sesuai perkembangan usianya, meskipun lagi dan lagi, ada saja ketimpangan yang membuatnya harus mengelus dada.
“Ya Dokter. Kami hanya takut terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Dokter tahu sendiri bukan? Hal-hal seperti ini bukan pertama kali terjadi.” Alfa tersenyum masam.
“Kami mengerti, sesuai perkiraan hari kelahiran, maka bulan depan adalah bulan terakhir kita melakukan pemeriksaan. Dan mengingat kondisi kehamilan istri Anda yang demikian, maka, kita harus menunggu pendarahan itu datang kembali sebelum melakukan bedah cesar.” Prita berkata dengan penuh kehati-hatian dalam kalimatnya.
“Menunggu pendarahan?” Alfa tak henti-hentinya mengernyitkan kening, mendengar perkataan dokter yang sama sekali tak menghiburnya itu.
Tiara membuka mata dengan menggigit bibir. Tak membayangkan bagaimana ia harus menanti darah merah pekat itu datang lagi di kemudian hari. Namun meski demikian, tetaplah ada sebersit rasa senang yang menyelipkan kelegaan di sana. Bahwa sebentar lagi ia akan menjadi seorang wanita yang sempurna dengan melahirkan anaknya, ia akan melahirkan buah cintanya dengan Alfa.
“Ya. Baik, terima kasih,” tukas lelaki itu sembari berdiri dari tempatnya, mengantar kepergian sang dokter sampai ke depan pintu kamar.
“Bapak, ada telepon dari nyonya.” Salah seorang pelayan berkata dengan menunduk, tak enak hati melihat tuannya itu sedang dalam keadaan kalut.
“Ambilkan ponselku di ruang kerja dan minta mama menghubungiku melalui ponsel,” perintahnya lalu kembali masuk ke dalam kamar.
Lelaki itu tersenyum simpul melihat Tiara yang tengah terduduk di tepi ranjang sembari mengelus perutnya, seolah sedang berbincang dengan putra mereka dan saling berjanji bahwa mereka berdua akan saling bersabar serta baik-baik saja atas apapun yang menimpa.
Alfa lantas berjongkok di depan istrinya. Mengecup pucuk perut istrinya sekilas dan menggenggam jemari Tiara. “Sepertinya Tuhan senang sekali menguji kita, karena tahu bahwa kita akan kuat,” ujarnya lalu menatap lurus ke mata Tiara. Menyalurkan segenap cinta yang ia punya untuk wanita itu. “Kau tetaplah wanitaku yang paling kuat Tiara, kau super kuat, dan kita pasti akan mampu melewati segala rupa kepayahan ini.” Alfa mencium punggung tangan istrinya dengan mengatupkan mata.
“Dan karena bersandar padamu aku kuat Alfa.” Tiara menyunggingkan senyum penuh cinta pada suaminya. “Kaulah yang terus mendorongku agar terus bertahan,” pujinya.
Alfa melipat bibirnya, menahan haru yang selalu berhasil mengoyak jiwanya. Entah mengapa di kehamilan Tiara kali ini, lelaki itu seperti turut mengalami gejolak perubahan emosi yang belum pernah ia alami sebelumnya. Alfa mudah sekali tersentuh.
Ketukan di pintu kamar mengalihkan perhatian keduanya sejenak. Lelaki itu menjangkahkan kaki menghampiri pintu dan menerima ponsel yang dibawakan oleh pelayan. Alfa lalu berjalan mendekati Tiara lagi dan tersenyum. “Kau ingin bicara sesuatu dengan mama? Dia pasti sangat merindukanmu karena sudah lama sekali kalian tidak bercakap.”
Tiara tampak menimbang-nimbang sebelum akhirnya berkata, “Tentu saja.”
Lelaki itu lantas memberikan ponselnya dan diterima oleh perempuan itu dengan menghela napas panjang. Beberapa detik berlalu, hanya keheningan yang sampai di telinga Tiara hingga ia memutuskan untuk menyapa terlebih dahulu. “Mama.”
Terdengar suara dehaman di ujung telepon. “Tiara? Eh … Bagaimana keadaanmu?” Helmia berkata dengan terbata.
“Baik. Mama kapan datang kemari?” Tanyanya yang seketika membuat mertuanya itu terkesima.
“Oh, kau baik sekali Tiara. Tahu saja jika mama sudah rindu berat dengan kalian,” pujinya. “Mama akan segera berkunjung ke rumahmu dan membawakan banyak sekali perlengkapan yang kau butuhkan. Kau tak perlu membeli apa-apa lagi. Semuanya sudah kubeli,” ujarnya dengan pongah, yang berganti membuat Tiara ternganga.
“Apa? Mama sudah membeli perlengkapan bayi?” Tanya Tiara dengan nada tidak percaya. Perempuan itu melihat ke arah Alfa yang ternyata tengah memerhatikannya sedari tadi. Lelaki itu mengangguk, mengerti dengan pembicaraan istri dan mamanya.
“Iya. Kau dan Alfa tinggal mengatur ruang, akan di mana kamar bayi kalian ditempatkan.”
“Terima kasih banyak Ma, aku dan Alfa akan menunggu kedatangan Mama,” ucap Tiara yang ditanggapi dengan jawaban singkat dan senyum senang Helmia di seberang sana.
“Kau sengaja?” Tiara menatap Alfa dengan memberengut.
“Sengaja apa?” lelaki itu mengangkat bahu dan menahan senyum. Ya, ia memang sengaja menunda untuk mengajak Tiara membeli perlengkapan bayi karena mamanya itu yang terus memaksa. Dan ia pikir, apa salahnya berbagi kebahagiaan dengan mamanya?
“Terus menunda untuk mengajakku pergi ke toko bayi karena mama sudah membeli?”
Alfa tersenyum dengan sebelah bibir dan duduk di samping Tiara. “Mama sangat antusias sekali untuk membelikanmu perlengkapan ibu menyusui dan berbagai perlengkapan untuk bayi kita. Mana mungkin aku akan setega itu untuk menolak. Bukankah itu pertanda bahwa mama sangat peduli padamu?”
Tiara memandangi keseluruhan wajah suaminya. “Ya. Terima kasih. Aku sangat bersyukur bisa ada di antara kalian yang begitu menyayagiku."
Lelaki itu mengangguk lalu menyelipkan rambut istrinya ke belakang telinga. “Jadi, akan di mana kita menempatkan ruang bayi?”