The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 28 - Melepas Rindu



Davian mengendarai mobilnya dengan gusar. Berkali-kali ia menengok ke samping di mana Tiara duduk di sana. Wanita itu hanya terdiam dan mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Wajahnya pias dan tubuhnya lemas. Davian bahkan harus memegangi pundaknya ketika wanita itu akan memasuki mobilnya karena Tiara hampir terjatuh pingsan. Ia melihat Tiara mengusap wajahnya. Wanita itu sedang menangis. Oh, sungguh Davian ingin sekali memeluk perempuan itu saat itu juga. Tapi, ini bukanlah waktunya untuk memikirkan perasaannya yang semakin tak tentu arah.


Lelaki bermata biru itu sempat berpikir untuk mengajak Tiara ke tempat lain saja untuk menenangkan diri terlebih dahulu, karena di rumah sakit yang mereka tuju ini, ada dua orang yang sangat Tiara cintai dan mereka terbaring lemah bersamaan, di ruangan yang jauh berbeda. Ya. Berta dan Alfa berada pada rumah sakit yang sama.


“Tiara?” Davian melepaskan tangannya dari kemudi dan menunduk. Menunggu reaksi dari perempuan yang ada di sampingnya. Saat ini mereka tengah berhenti di tepi jalan beberapa kilometer sebelum lokasi tujuan. Tiara masih terdiam seribu Bahasa. “Aku sungguh tak sanggup melihatmu seperti ini.” Daviab semakin menunduk.


Tiara benar-benar seperti sedang tak bisa berpikir dengan benar. Benak dan hatinya tengah bergelut dengan aneka emosi yang membuat jiwanya goyah. Air matanya terus menetes. Ia sudah berusaha untuk menahan sekuat hati. Namun, tubuhnya ternyata memberi reaksi yang lebih daripadanya. Seolah tubuhnya benar-benar membutuhkan Alfa saat ini juga sehingga ia merasa tak berdaya. Jauh dalam angan-angannya ia tak benar-benar siap harus melihat kondisi Alfa yang penuh dengan luka. Namun, otaknya terus saja memikirkan suaminya itu dan harus segera memastikan bahwa lelaki itu baik-baik saja.


“Tak apa Davian. Aku siap.” Tiara mengembuskan napas panjang dan membetulkan posisi duduknya sehingga ia sekarang duduk tegap dengan pandangan menerawang. Lelaki itu masih menunduk lalu dengan berat dan perlahan ia menoleh dan mendapati Tiara tengah menatapnya dengan sendu. “Aku perlu menggantikanmu menyetir? Kau tampak lelah.” Tiara mengerutkan kening melihat Davian tak menjawab pertanyaannya.


Davian tersenyum miring penuh kegetiran dalam ekspresinya. “Apa? Apa yang kau pikirkan? Aku tentu tak akan membiarkanmu menyetir. Duduklah dengan tenang. Kita akan segera sampai.” Lelaki itu mengusap rambutnya sejenak sebelum kemudian menarik tuas rem, menginjak pedal gas dan kembali memasuki jalanan dengan kecepatan konstan.


******


Begitu tiba di lobi rumah sakit, Davian langsung menghela Tiara untuk mengikuti langkahnya. Mereka berdua berjalan beriringan dengan derap langkah yang cepat. Sungguh dada Tiara bergemuruh saat ini. Ia harus bersiap diri atas apapun yang akan ia lihat nanti. Davian berkata bahwa Alfa masih dalam kondisi koma, jadi bisa dipastikan Tiara hanya akan melihat suaminya itu terbaring lemah di ranjangnya tanpa bisa berkomunikasi.


Membayangkan hal itu saja, rasa sesak sudah bergelayut manja dalam dada dan memintanya untuk berhenti saja.


Di luar dugaan, langkah mereka benar-benar terjeda. Baik Tiara maupun Davian sama-sama memandang ke depan dengan terkejut. Namun, mereka terkejut dengan dua hal yang berbeda. Tiara menatap lurus seperti Helmia yang sedang menatapnya pula dengan tatapan yang seolah tepat mengenai pupil matanya. Mengintimidasi seakan menancapkan anak panahnya begitu saja dan langsung terasa sakitnya. Hatinya merasa tak enak ditatap oleh Helmia demikian.


Sementara Davian langsung berlari mendekat ke arah Helmia, bersamaan dengan seorang dokter yang tengah berdiri di depan pintu ruangan yang terbuka dengan ranjang Alfa yang telah dibawa keluar.


“Aku akan memindahkannya ke ruang VIP.” Helmia menjawab cepat pertanyaan yang belum sempat dilontarkan oleh Davian ketika lelaki itu tergagap. Pandangannya beralih menatap Tiara yang tengah berjalan perlahan dan menunduk ke arah mereka.


Sungguh Tiara merasa bersalah karena ia harus datang setelah Mama mertuanya ada di tempat itu. Dokter yang masih berdiri itupun mengangguk kemudian berjalan mengikuti ranjang yang telah didorong menjauh darinya. Helmia berbicara dengan isyarat kepada Davian kemudian lelaki itu turut melangkah dengan berlari-lari kecil menghampiri sang dokter yang terlebih dahulu berjalan di depannya.


Tiara mendongak. Helmia menatapnya dengan sinis kemudian melangkah dan duduk di kursi tunggu yang terdapat di depan ruangan. Mata Tiara sempat mengekor ke mana langkah wanita itu pergi sebelum ia tetap bergeming di tempatnya berdiri.


“Duduklah.”


Tiara tersenyum masam lalu mengambil tempat duduk di sebelah Helmia. Menautkan jari jemarinya dengan resah. Selalu seperti itu saat bersama Mama mertuanya.


“Kemana kau saat Alfa ada dalam masa kritis?”


Dengan cepat Tiara menoleh. Mencerna kalimat tanya yang terlontar menjadi pembuka pembicaraan itu.


Ia di mana? Dirinya masih ada di rumah tentu saja. Mendesah kesal karena Alfa tak juga memberinya kabar dan masih sempat memaki-makinya ketika rasa sabarnya hampir pupus. Tak ada seorang pun yang memberinya kabar. Helmia sendiri tak memberitahunya? Bagaimana bisa wanita itu bertanya seperti itu, sementara langkahnya terbuka lebar untuk sekedar menjemput dan membawanya pergi ke tempat di mana Alfa dirawat.


Helmia mendecak, kemudian mengeluarkan lagi kata-kata suntikannya. “Sebaiknya kau menyiapkan hatimu.” Wanita itu berkata dengan tenang dan pandangannya menerawang ke depan.


“Menyiapkan … hati …?” Tiara bertanya dengan bodohnya. Memiringkan tubuh, berusaha menatap ke mana arah pembicaraan yang sudah membuat jantungnya berdebaran sejak tadi itu.


“Ini masih awal dan bagus karena belum terlampau jauh untuk kau siapkan hatimu untuk meninggalkan Alfa.” Helmia menoleh. “Alfa berhak bahagia lebih dari ini. Bersyukurlah karena kau sempat hidup bersamanya. Itu sudah cukup.”


Tiara kehilangan kata-kata. Ucapan Helmia tuntas membuat hatinya kandas dan jiwanya kosong.


Dengan kesal, ia sempat menolehkan kepala ke belakang ke tempat di mana Tiara masih terduduk di sana. Lalu beranjak pergi setelah menutup pintu kaca.


Tiara tidak menangis. Ia merasakan seluruh tubuh, hati, dan pikirannya merasa amat sangat pedih, sehingga ia bahkan tak bisa mengeluarkan tangis saat itu juga. Apakah sekarang ini ia sedang bermimpi?


Alfa. Alfa. Alfa. Hatinya berdzikir Alfa. Senyum dan tawa ceria lelaki itu mendadak ber-sliding dalam memory-nya. Seolah mengucapkan selamat tinggal untuknya?


Alfa akan meninggalkannya? Ia bahkan belum sempat melihat dan mengetahui bagaimana kondisi lelaki itu.


Matanya mulai berair. Tiara bahkan baru menyadari jikalau ia sangat rindu. Sangat sangat rindu dan ingin memeluk. Wanita itu melipat kedua tangannya dan mengelus sendiri kedua lengannya. Memeluk diri sendiri, merasakan kesendiriannya saat ini hingga tumpahlah air matanya. Tiara terisak-isak. Dadanya sakit atas luka menganga yang mendadak terbuka dalam lubuk hatinya.


Tanpa ia sadari, ada sepasang mata yang tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Mendengar semuanya hingga melihat Tiara yang tengah melamun di sana. Davian. Lelaki itu bersembunyi di balik tembok cekung yang membuat dirinya bisa bersembunyi di sana dengan ekspresi murka dan tangan terkepal. Sungguh ia berusaha untuk bahagia saat ini, karena mendapat peluang besar untuk lebih dekat dengan Tiara. Tapi mengapa ia justru merasa sakit? Seakan-akan hatinya turut merasakan bagaimana gamangnya Tiara saat ini. Davian bersyukur, rasa manusiawinya sudah kembali. Apa jadinya jika ia masih tak punya hati dan terus melakukan rencananya seperti semula?


Akan tetapi dirinya menjadi bimbang. Mengapa saat-saat sulit seperti ini harus datang ketika ia telah menyerah? Tiara membutuhkan teman untuk bersandar. Haruskah ia menjadi sosok teman yang wanita itu butuhkan? Bagaimana jika ia kembali jatuh dalam pesona wanita itu?


Perlahan namun pasti, Davian pun melangkahkan kaki mendekati Tiara yang masih menangis, lalu mengulurkan sebelah tangannya di depan muka Tiara.


Menyadari ada seseorang yang ada di depannya, wanita itu mendongak lalu dalam sekejap mengusap-usap dengan kasar pipinya yang basah. Oh, ia sungguh malu. Davian memergokinya tengah menangis sendirian seperti orang yang sedang berputus asa.


“Ayo. Kuantar kau ke ruang rawat Alfa.”


Tiara memandangnya, kemudian melihat tangan kanan Davian yang masih menggantung di sana lalu menunduk.


“Ya. Baiklah.” Wanita itu mendongak kembali kemudian berdiri. Davian menarik tangannya begitu saja lalu berbalik dan melangkah kembali menuju ruangan Alfa diikuti Tiara di belakangnya.


******


Ruangan itu sunyi, hening, tak ada suara. Tiara mendudukkan tubuhnya di kursi dekat ranjang suaminya dengan lelaki itu yang masih memejamkan mata. Wanita itu menyapukan pandangannya ke seluruh tubuh Alfa mulai dari kepala hingga ujung kaki. Ada beberapa luka memar yang nampak di wajah serta tangannya. Bebatan perban pun terlihat menutup luka di tangan kirinya. Entah bagaimana dengan kondisi badan dan kakinya yang tertutup selimut.


Tangan Tiara tergerak untuk menyentuh tangan Alfa, mengusapnya perlahan, kemudian menggenggamnya. Luka di hatinya kembali terbuka. Oh, tangan yang biasanya mencengkeramnya erat itu kini lemah tak berdaya. Bibir manis dengan ucapan-ucapan cinta dan kelucuannya itu tertutup rapat.


Hatinya kembali tersayat-sayat mengingat ucapan Helmia beberapa menit yang lalu. Seolah Alfa telah menjawab semua. Tak bisa ia bayangkan jika diamnya Alfa saat ini adalah karena membencinya. Tak terbersit setitik saja dalam angan-angannya ia akan berpisah secepat ini dengan lelaki itu.


Air mata kembali terurai dari pelupuknya. Tiara menangis sejadi-jadinya. Terisak-isak hingga meraung-raung seperti binatang buruan yang telah tertancap panah dan berteriak meminta tolong. Namun, tak ada yang beriba.


Alfa mendengar. Jauh dalam kegelapan matanya ia mendengar.


Tiara? Itukah dirimu? Mengapa engkau menangis?


Alfa seolah tersadar dalam angan-angannya. Tangannya seperti meraba dan mencari, tetapi tak ditemukannya selain gelap yang begitu pekat. Namun, hatinya menghangat. Rindunya sudah bertemu dengan muaranya.


Tiara … berhentilah menangis.