The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 31 - Mati Bersamamu



Hari menjelang malam ketika Tiara tengah mendorong kursi roda Berta di lorong rumah sakit. Atas segala pertimbangan dokter, lima hari ini sudahlah cukup baik sebagai masa pemulihan wanita itu, saat sebelumnya ia mengalami kembali sesak napas akut akibat bronkitis yang dideritanya. Dengan setengah merajuk, Tiara akhirnya dibiarkan begitu saja untuk mengantar kepulangan Mamanya. Sampai pada area parkir rumah sakit. Ya. Berta menyetujui untuk diantar putri satu-satunya itu, namun dengan bijak ia putuskan hanya sampai ia tiba di area parkir dan memasuki mobil pribadinya. Masih ada Alfa yang membutuhkan perhatiannya sehingga ia tak mungkin tega membiarkan Tiara berlelah-lelah untuk mondar-mandir mengantarnya hingga tiba di rumah.


Widya dan sopir tengah menanti kedatangan mereka dengan berdiri di samping pintu mobil yang tertutup ketika kursi roda itu muncul dari balik lift dan berjalan mendekati mobil. Dengan telaten, Widya dan Tiara memapah Berta hingga bisa terduduk dengan nyaman di dalam mobil sedan dengan interior cokelat pekat itu.


Tiara turut duduk di sebelah Mamanya itu ketika semua barang pribadi seperti tas pakaian telah masuk ke dalam kabin bagian belakang. Berta duduk miring menghadap Tiara dengan alis terangkat ketika dengan santainya, istri Alfa itu turut duduk di sebelahnya setelah sebelum ini, mereka memutuskan untuk berpisah di area parkir. Wanita tua itu terdiam sejenak membaca situasi.


“Ma .…” Tiara mengembuskan napas panjang lalu menyandarkan tubuh serta kepala pada jok mobil. Menerawangkan pandangannya acak, lalu melirik sebentar ke arah Berta.


“Ada yang ingin kau sampaikan? Bicaralah.” Berta menatap dengan penuh kasih, ketika Tiara tak juga menatap ke arahnya.


Tiara masih mengunci mulutnya, mengerucutkan bibirnya seperti tengah menimbang-nimbang untuk berbicara.


“Ah, tidak ada. Maafkan aku yang tak bisa meluangkan waktu banyak untuk menjenguk Mama, kuharap setelah ini, Mama semakin sehat.” Perempuan itu kembali meniupkan udara dengan kasar. Memutuskan untuk tak mengatakan segala gundah gulana yang tengah mengganjal di hatinya. Berta baru saja pulih dan tentu ia tak setega itu untuk membuat fisiknya kembali drop karena mendengar keluh kesahnya. Padahal, ingin rasanya Tiara meluapkan segala beban yang menggayuti hidupnya saat ini dan menangis di pelukan Mamanya yang selalu bisa menenangkan.


Mungkin suatu saat nanti. Ya. Mungkin di lain hari. Di waktu yang lebih tepat.


“Ada yang mengganjal di hatimu?” Berta bertanya seolah bisa membaca pikiran putrinya itu melalui raut wajahnya yang tengah lesu.


“Tidak ada. Aku hanya senang akhirnya Mama bisa pulang.” Tiara tersenyum penuh paksaan.


“Apa Alfa menyakitimu?” Berta mengejar pertanyaan. Tak puas karena terlihat Tiara tampak menutup-nutupi kegelisahannya dengan berpura-pura tegar di hadapannya.


“Ma … dia sangat mencintaiku. Kau tahu? Ia sama sekali tak mau merepotkanku ketika aku menungguinya. Ia lelaki yang sungguh baik. Sangat menyayangiku sampai-sampai aku tak tahu bagaimana aku harus membalas cintanya yang begitu besar.” Sekuat tenaga Tiara menahan gemuruh rasa yang memeras hatinya. Memelintir sudut hatinya hingga ia hampir meneteskan air mata kalau-kalau ia tak dengan pandai memakaikan topeng senyumnya begitu saja. Tiara bahkan tak menyangka, kata-katanya sendiri yang menyebutkan bahwa Alfa sangat mencintainya itu menghantam pertahanannya sampai robek. Ia menjadi kuat karena cinta, namun ia pun merasai cinta itu membuatnya semakin lemah karena terus membelenggunya pada ikatan yang tak mau ia lepaskan.


“Boleh aku memeluk Mama?” Tiara memiringkan tubuh.


Berta membuka lebar kedua lengannya dengan senyum penuh hangat dan Tiara pun menghambur ke pelukannya kemudian. Belaian lembut di rambut cokelatnya terasa menyejukkan. Untuk sejenak, Tiara merasakan kedamaian yang menguar dari dalam jiwanya setelah sekian lama tak memeluk Mamanya ini.


“Terkadang, memang ada hal yang tak pantas untuk diungkapkan. Namun, ada kalanya kau harus memberi waktu hatimu untuk bertemu dengan kelegaan. Hati yang merasa senang, menumbuhkan fisik yang kuat Tiara. Jangan sampai hatimu mengendalikan fisikmu, sehingga kau lemah. Bicaralah, kalau kau tak bisa bicara padaku, tundukkan kepalamu dan menghadaplah pada Tuhan, kau bebas mengungkapkan apa saja keluh kesahmu, sehingga hatimu terus ternutrisi dengan hal-hal yang membuatnya senang dan fisikmu pun sehat.” Berta terus membelai rambut itu dengan gerakan konstan. Tiara terbuai. Ia merasa tengah ditimang-timang dengan penuh kasih dan terhipnotis oleh ucapan Berta yang syarat akan nasihat itu. Wanita itu memejamkan mata. Pastilah Berta tahu, bahwa dirinya tengah menyembunyikan sesuatu. Ikatan kuat antara ibu dan anak itu benar-benar dapat menyalurkan segala bentuk energi dari emosi yang sedang terpancar dari hati.


“Terima kasih.” Tiara melepas pelukannya dan mengangguk. “Aku akan selalu mengingat nasihatmu. Terima kasih untuk segalanya yang sangat berarti untukku.” Tiara melangkah keluar dari kabin mobil dan mempersilakan Widya untuk masuk setelah menunggu beberapa waktu.


******


Wanita itu telah membuka mata. Perban yang mengikat di kepala, luka gores yang masih membiru, sinar wajah pucat serta bibir yang lesi sungguh membuat siapa saja yang melihat tak bisa mengenalinya dengan baik. Raut wajah cantik yang biasanya terpoles oleh make up tebal itu kini bahkan tak mengenakan satu lapis saja bedak karena lukanya harus terawat dengan obat.


“Kau gila!” Davian memaki dengan nada suara tinggi. Seolah tak peduli bagaimana hancurnya hati perempuan di depannya ini yang bahkan saat ini fisiknya pun turut tercabik seolah menjadi ilustrasi bagaimana sakit perasaannya.


“Aku memang gila. Kau benar. Dan kau membuatku semakin gila." Perempuan itu berbicara dengan memalingkan wajah.


“Nelly! Perhatikan aku!” Davian mengusap rambutnya dengan kasar. Marah. Ia merasa sangat marah.


Nelly terluka. Menjadi penyebab cedera Alfa. Ya. Nelly lah yang merencanakan kecelakaan itu terjadi. Ia yang meminta salah seorang supir truk yang bisa diajaknya bekerja sama untuk melakukan serangan aksi tabrak pada mobil yang dikendarai Alfa. Obsesinya sudah membuatnya buta. Sikap dingin Alfa setelah hubungan mereka kandas membuatnya tak bisa bertahan. Ia tak tahu lagi bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan perhatian lelaki itu kembali. Dukungan dari Helmia yang membuatnya memiliki tameng tekuat ternyata tidak mempan sama sekali.


Alfa tak semudah itu untuk goyah dan tergoda. Entah bagaimana Ia dan Tiara bisa saling menguatkan satu sama lain setelah vonis putri semata wayang Nicholas itu mengikatnya. Tiara sulit untuk memberinya keturunan. Ancaman Berta kepadanya pun seperti angin lalu saja sehingga sampai dengan saat ini, mereka masih bersama. Dan Davian. Ah, lelaki itu, justru terjebak dalam drama melankolis yang diciptakannya sendiri sehingga urung untuk mendekati Tiara dan malah bersimpati kepada wanita itu.


“Kau hampir membuat dirimu mati. Tak kusangka, ternyata angan-anganmu sedangkal ini. Aku beri kau nilai sempurna untuk usahamu kali ini. Tapi aku sama sekali tak akan memberimu penghargaan.”


"Terserah kau! Aku tak peduli. Jika aku tak bisa lagi untuk hidup bersama Alfa, maka aku akan mati bersamanya. Jika aku tak bisa lagi memilikinya, maka Tiara pun tidak." Nelly memasang tatapan elang pada Davian. Namun lelaki itu justru tersenyum lebar memperlihatkan gigi-gigi putihnya. Tertawa. Davian tertawa.


"Tapi, Alfa belum mati. Ia sehat dan bugar saat ini. Lukanya bahkan hanya sebatas cedera dan keretakan tulang tak berarti." Davian tertawa namun dengan mimik wajah yang tak bisa didefinisikan. " Mereka bahkan terlihat semakin mesra dan cinta mereka semakin kuat."


Nelly melebarkan mata. Tertawa dalam tangis, menyaksikan lelaki itu telah mengejek dan mengoyak seluruh harga dirinya. Buliran bening mulai turun dari tahta kelopak matanya.


"Selamat menikmati sakit hatimu Nelly." Davian berbalik dan melambaikan tangannya sebagai isyarat kata selamat tinggal. Tak henti-henti mencelanya.


Nelly menjawabnya dengan isak tangis. Wajahnya semakin terlihat merah dengan kerutan dalam yang menyesakkan. Wanita itu menangis dalam teriakan. Meremas-remas sprei dan memukul-mukulkan tangannya pada kasur tempat tidurnya. Berteriak sekuat hati. Memuaskan tangis hingga menggema dalam ruangan itu.


Nelly ingin mati, ia ingin mati saja.