
Pantai …
Tiara langsung terkesiap begitu melihat pemandangan di depannya. Mobil yang mereka naiki ini sengaja Alfa parkirkan di bawah sebuah pohon yang teduh dengan tanpa penghalang apapun di depan mobil mereka. Hamparan pasir hitam yang membentang dari jauh sebelah kanan hingga kiri yang tak terkira, ditambah dengan gulungan ombak yang menyapu mesra daratan pantai itu memanjakan mata Tiara. Alfa tersenyum masam begitu perhatian istrinya yang semula tak berkedip kepadanya itu kini beralih penuh begitu saja pada panorama yang tergambar di depan matanya hingga tak memperhatikan lagi bahwa lelaki itu kini telah turun dari mobil dan membukakan pintu untuknya.
Tiara yang mengetahui bahwa pintu sebelahnya telah terbuka, segera melihat ke arah Alfa dan tersenyum, kemudian turun dari sana dengan penuh semangat. Alfa menggandeng tangan istrinya agar perempuan itu mengikuti ke mana kaki lelaki itu akan menuju.
Pandangan Tiara masih tak lepas dari pantai yang terhampar di sampingnya hingga beberapa langkah ke depan. Namun, bukannya mendekat ke arah pantai, Alfa malah membawanya semakin menjauh dari hamparan pasir hitam itu hingga membuat Tiara bertanya-tanya.
“Kita akan kemana?” Perempuan itu sedikit menggoyangkan tangannya agar laki-laki yang telah mendahului langkah namun tetap menggandeng tangannya itu mengalihkan perhatian kepadanya.
Lelaki itu hanya menoleh ke belakang dengan tersenyum. “Bekerja,” jawabnya dengan senyum jailnya sambil terus berjalan.
Pertanyaan berkelanjutan yang sudah siap-siap keluar dari dalam mulutnya itu, Tiara urungkan, membuatnya mengembuskan napas panjang. Pada akhirnya, seberondong pertanyaan yang bergumul dalam pikirannya itu hanya ia jawab dengan kemungkinan-kemungkinan yang muncul dari dalam hatinya. Alfa yang penuh dengan kejutan itu tak mungkin mau menjawabnya. Ia tak mau terkejut lagi dengan ide-ide anehnya yang selalu muncul begitu saja. Bekerja? Ya. mungkin saja Alfa ada temu janji dengan kliennya untuk mengadakan pemotretan di tempat ini.
Tiara yang masih melamunkan segenap tanya akan aktivitas mereka itu mendadak menabrak lengan suaminya yang telah berhenti berjalan. Wanita itu tergugu kemudian, mendapati dirinya telah terpergok melamun untuk kedua kalinya. Alfa terkekeh lalu menghadapkan tubuhnya pada istrinya yang terlihat mungil itu di dalam cengkeraman kedua tangannya di pundaknya.
“Kau kuangkat menjadi asistenku sekarang. Aku tak akan pernah lagi meninggalkanmu seorang diri Tiara, kau akan ikut serta bersamaku kemana pun aku pergi, dan akupun akan menemani kemana saja kau akan beranjak,” ucap Alfa penuh dengan kesungguhan, lalu gerakan tangannya itu merambat naik hingga menangkup pipi Tiara dengan lembut. “Dan ini…” Lelaki itu mengecup bibir istrinya dengan satu kecupan kecil, “Adalah sebagai pengesahnya.” Alfa tersenyum kembali. “Dan tempat ini…” Alfa menolehkan kepala sejenak ke sebelah kanan seolah menunjukkan kepada Tiara di mana mereka sedang berada, lalu kembali mengunci tatapannya, “Adalah sebagai saksinya,” imbuhnya yang membuat wanitanya itu melebarkan mata. Hal pertama yang ia kejutkan adalah karena tiba-tiba saja suaminya itu menciumnya di tempat terbuka, dan hal kedua yang sekali lagi berhasil menghipnotis Tiara adalah ternyata mereka berdua sedang berada di tengah-tengah jalan aspal yang membentang luas dan memanjang sepanjang 500 meter tersebut, berdua saja.
Tiara ingat betul tempat ini setelah ingatan beberapa tahun silam membawanya kembali. Ingatan tentang kepergiannya ke tempat ini sebagai awal pertemuannya dengan Alfa. Wanita itu sejenak terpaku pada apa yang dipikirkannya dengan turut menolehkan kepala, lalu turut mengunci pandangan ke bola mata Alfa yang terlihat teduh menatapnya, “Asisten?” Tiara mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi aneh. “Aku istrimu Alfa. Kau bisa memintaku untuk melakukan apa saja dan menemanimu kemana saja.” Wanita itu turut menangkup dua tangan suaminya yang menempel pada pipinya.
“Aku tidak sedang bercanda sayang, Mama merencanakan sesuatu yang buruk dan aku tak mau Mama sampai mengetahui kita terpisah. Aku sangat takut sesuatu yang tak diinginkan terjadi,” terangnya dengan suara dalam, mengusap pipi istrinya pelan dengan ibu jarinya.
Tiara mengernyitkan dahi dan ekspresinya berubah masam. Ada rasa ngilu yang bergelenyar begitu saja di dalam hatinya melihat Alfa berkata-kata dengan penuh kecemasan. Ada sesuatu yang mengancam mereka? Wanita itu tanpa sadar sedikit mengangkat bahu, menunjukkan rasa takutnya pada kemungkinan tindakan kriminal yang akan menimpa dirinya begitu ia mendengar kata ‘sesuatu yang buruk’.
Baru saja Alfa akan menarik perempuannya dalam pelukan, suara teriakan panggilan dari arah yang cukup jauh namun masih terdengar itu mengurungkan niatnya.
“Alfa!” Brian melambaikan tangannya.
Alfa pun dengan berat hati melepaskan kedua tangannya yang masih menempel pada pipi istrinya, lalu turut melambaikan sebelah tangannya dengan senyum lebar yang kembali terulas di bibirnya.
******
Tiara berteduh di bawah pohon yang tak jauh dari aktivitas para fotografer yang tengah asyik memainkan kameranya. Alfa memintanya untuk beristirahat saja di dalam mobil, tapi dengan tegas Tiara menolak. Ia ingin menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana suaminya itu bekerja. Wanita itu meminum sedikit air putih yang tadi sempat dibawanya sebagai bekal, kemudian meletakannya kembali di bangku kayu yang sekarang ini digunakannya untuk duduk.
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore ketika sepasang calon pengantin itu mengucap kalimat terima kasih dan berpamitan. Mereka terlihat bahagia dengan kembali bergandengan tangan dan sesekali bercanda dengan saling tertawa setelah sesi foto prewedding di tempat itu selesai sambil lalu mereka berjalan meninggalkan para fotografer yang masih tinggal di tempat, membereskan properti yang mereka gunakan sebagai pelengkap foto.
Pandangan Alfa kembali pada Tiara yang tengah terduduk santai di seberang jauh tempatnya berdiri. Lelaki itu kemudian berjalan menghampiri dan membanting tubuhnya pada bangku di mana Tiara duduk.
“Minumlah.” Tiara memberikan satu botol air mineral kepada Alfa yang nampak lelah dan berkeringat. Dengan senang hati, Alfa menerimanya lalu meminum dengan satu tegukan besar untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
“Kau lelah? Maaf telah membuatmu bosan,” sesal Alfa dengan ekspresi wajah berkerut.
Tiara mengembuskan napas kasar. “Kau lelah karena telah bekerja keras selama beberapa jam tadi dan malahan menanyaiku apakah aku lelah?” Tiara memandang acak ke depan, kemudian kembali lagi menatap suaminya, “Aku tidak lelah Tuan Alfa. Aku hanya duduk-duduk saja di tempat ini menyaksikan bagaimana lincahnya kau mengambil foto.” Tiara memajukan tubuhnya dan bertopang pada kedua telapak tangannya, “Sebagai asisten yang tidak tahu diri, sebenarnya apa yang harus kulakukan untuk atasanku ini saat kau bekerja?” tanyanya dengan nada bercanda.
“Aku hanya mau kau terus saja bersamaku seperti ini. Jangan sampai kau merasa lelah sedikitpun, karena aku akan merasa bersalah jika sampai kondisimu tak baik-baik saja.” Alfa berucap dengan ekspresi penuh kasih.
Tiara menatap suaminya dengan intensitas yang sama hingga senyum melebar di sudut bibirnya. “Aku akan baik-baik saja. Terima kasih telah memperhatikanku,” ujarnya.
Warna langit di ufuk selatan menjadi latar yang indah untuk mereka saat ini. Dengan riang, Alfa menggandeng tangan Tiara lalu mereka pun berjalan beriringan mendekati bibir pantai, bergelung dengan air laut yang menyapu-nyapu kaki dengan tarian ombaknya.
Pantai memiliki bahasa kehidupannya sendiri. Ia seperti ruang yang menyiratkan segala hal tentang keindahan bagi penikmatnya. Sorot jingganya memaku siapa saja yang datang untuk bersua dengannya, seolah menitahkan pesan agar tak pernah bosan datang kembali menjumpainya. Menikmati siluet kehidupan yang terlihat sakral dengan gemerlap lautnya yang bersorak sorai menyambut panggung drama keelokan panoramanya.
Sejenak, Tiara membungkukkan badan, menyentuhkan ujung jarinya pada air laut yang terasa hangat tersebut, lalu menyapukannya perlahan-lahan. Seringaian muncul dari bibirnya ketika terlintas dalam benaknya untuk sekedar bermain-main air dengan Alfa. Lelaki itu pastilah lelah dan guyuran air laut ini bisa saja menyejukkannya. Tak sabar akan reaksi lelaki itu, dengan segera, ia cipratkan air yang ada dalam sapuan tangannya tadi, tepat mengenai baju dan setengah wajahnya.
Alfa yang tengah bersantai menikmati embusan angin dan pasokan udara segar yang membanjir dalam rongga pernapasannya itu terkesiap. Matanya terbuka lebar ketika dalam sekilas pandangnya, Tiara telah beberapa langkah lebih jauh darinya dengan ekpresi mengejek, sukses mengerjai lelaki itu dengan candaannya. Senyum Alfa melebar. Ia pun segera berjalan cepat menyusul istrinya yang tengah berkacak pinggang di depannya. Telapak tangannya yang lebar dan kokoh itu turut mencipratkan air ke tubuh Tiara hingga mengenai setengah gaunnya. Dan, jadilah mereka berdua basah kuyup oleh air laut yang saling dilemparkan satu sama lain. Tak lupa, bunyi desis kamera terdengar berulang-ulang. Alfa tak segan-segan mengambil foto Tiara dengan berbagai gaya yang terlihat apik dengan berlatar belakang panorama laut itu. Sesekali, Tiara pun mengambil alih kamera dan menjentikkan jari jemarinya pada tombol shutter untuk mengabadikan siluet Alfa yang terlihat mempesona dalam bingkai langit sore di sana.Tripod kamera pun tak lupa menjadi teman yang setia berdiri sebagai fotografer bagi mereka berdua.
Sebentar lagi senja tiba. Air laut yang mulai pasang membuat Alfa dan Tiara berhenti agak jauh dari bibir pantai, kemudian duduk begitu saja di atas pasir. Alfa merangkulkan tangannya dan memeluk erat dengan sebelah lengannya.
“Tak akan ada yang bisa memisahkan pantai, tak akan mungkin disebut pantai jika tak ada air laut yang bertemu dengan buliran pasirnya. Mereka tak bisa bersatu Tiara, tetapi, bisa menghasilkan simfoni yang indah dengan perpaduannya. Aku ingin kita seperti itu. Aku tak ingin berpisah denganmu, dan kuharap kau pun mengerti betapa aku sangat membutuhkan keberadaanmu di sampingku, kau pun begitu bukan?” ujarnya dengan kalimat yang sukses membuat Tiara tertegun.
Wanita itu sekali lagi merasakan bagaimana posesifnya suaminya itu kepadanya yang membuat hatinya tersentuh. “Iya Alfa, aku pun tak mau berpisah denganmu, apapun alasannya.” Tiara mengusap dada lelaki itu perlahan sebagai pujian atas segala kenyamanan yang telah suaminya itu berikan.
Alfa mendongakkan wajah Tiara hingga pandangan keduanya bertemu. Lelaki itu menempelkan bibirnya ke pelipis istrinya. Terpejam di sana. Menikmati rasa tenang dan bahagia yang membuncah dalam relung kalbunya. Meresapi kedekatan mereka yang tak terbayang indahnya dengan sapuan semilir angin yang memeluk tubuh mereka. Perempuan itu pun mengatupkan kedua matanya, merasakan hal yang sama, cinta dan ketulusan.
Tiara berharap, hubungan mereka berdua pun seperti senja yang ada di hadapannya ini. Bercinta dan berakhir hingga masa di mana mereka tak mampu lagi menemukan akhir, karena senja selalu mengajarkan tentang bagaimana menyambut malam yang gelap dengan bahagia dan menyambut esok dengan gembira.
Ia ingin bersama Alfa hingga usia senja menjemputnya ….