
Alfa tengah berdua, bermanja mesra dengan kuas dan kanvas di sore hari menjelang malam. Lekuk tubuhnya yang sedang duduk di atas kursi kayu mengenakan kaos putih diterpa cahaya senja yang berkilauan nampak indah dalam lensa mata Tiara. Iseng wanita itu mengambil kamera DSLR milik Alfa yang diletakannya begitu saja di atas meja. Memfokuskan mata kamera ke arah yang tepat kemudian menekan tombol shutter hingga beberapa kali. Menatap ke arah viewer dan Alfa secara bergantian, kemudian berpindah tempat untuk mencari kembali spot view yang menurutnya pas. Sudut bibirnya tertarik penuh ke atas setelah menilai sendiri hasil fotonya yang menurutnya tak terlalu buruk.
Alfa menyilangkan kedua tangan di depan dada melihat tingkah istrinya yang kini telah berada di samping kanvas dan telah siap membidiknya dengan kamera. Tiara yang melihat suaminya tengah menatapnya dalam bingkai lensa itu spontan menggenggam kembali kameranya. Mengurungkan niat untuk kembali mengambil foto.
“Kau sedang apa?” Alfa menatap wajah istrinya dengan kedua alis terangkat.
Muka Tiara merona karena terlalu asyik dengan aktivitasnya sehingga tanpa menyadari bahwa ia sekarang sedang tidak mencuri foto Alfa lagi, tetapi mengambil dengan sengaja karena dirinya sudah berada di depan suaminya. “Memfotomu?" ucapnya dengan nada bertanya.
“Bisa?”
Tiara mendecak. “Sepertinya yang aku tak bisa hanya membuatmu membenciku. Tuhan sudah menunjukkan semua kerak dalam diriku, tetapi, kau tetap seperti itu Alfa.” Tiara memicingkan sebelah mata lalu menekan tombol shutter untuk ke sekian kali dengan Alfa yang masih bersedekap lalu tersenyum.
Alfa hampir kehilangan senyumnya setelah mendengar pukulan tak kasat mata yang mendadak ditinjukan oleh Tiara langsung ke lubuk hatinya. Mood-nya untuk melukis menguap sudah. Ingatannya langsung membuka pada hari-hari yang lalu ketika ia beradu mulut dengan mamanya di rumah sakit. Sungguh jika ada alat untuk menghapus memory dan harganya mahal sekalipun, Alfa berniat membelinya, agar segala peristiwa tak diinginkan bisa langsung hilang begitu saja.
Lelaki itu lalu berdiri dan meletakkan peralatan melukisnya. Melangkahkan kaki, duduk di kursi rotan yang menggantung di ujung ruangan.
“Kemari.” Alfa menata posisi duduknya dan mengisyaratkan dengan kedua tangannya yang terbuka ke agar Tiara mau mendekat.
Dengan langkah malu-malu, wanita itu pun menyurungkan tubuhnya untuk duduk hampir berada di atas pangkuan suaminya karena ruang tempat duduk yang sempit. Setelah berhasil terduduk dengan nyamam, Tiara lalu menyandarkan tubuhnya pada dada bidang lelaki itu.
“Sepertinya kau baru merasakan apa yang aku rasakan.” Alfa memainkan jemarinya pada tombol-tombol kamera dan melihat sekilas hasil jepretan Tiara atas dirinya tadi.
Tiara mendongak dengan alis terangkat meminta penjelasan. Alfa meliriknya sekilas lalu tersenyum miring.
“Kau merasa bahagia bukan bisa mengambil foto dari kamera ini?”
Tiara tersenyum ketika mengetahui dengan jelas kemana arah pembicaraan lelaki itu.
“Ya. Mungkin bisa dikatakan seperti itu. Apa hasilnya bagus menurutmu?” Wanita itu mendongak lagi.
“Aku tak pernah jelek ketika di foto, kau tahu?” Alfa mengangkat sebelah alis dengan ekspresi menggoda.
Tiara mendecak sebal atas kepongahan fotografer sok tampan ini kepadanya. Sebentar. Tiara mengoreksi kembali kata-kata dalam hatinya. Alfa memanglah mutlak tampan. Lelaki dengan multi talenta ini sangat tampan. Sayangnya, Alfa bertemu dengan dirinya yang sama sekali tak sempurna itu untuk melengkapi hidup Alfa yang sempurna. Hei, apakah itu pantas? Apa ia tak seperti benalu yang hidupnya terus menempel pada Alfa dan justru membuatnya tampak jelek?
Alfa memperhatikan Tiara yang hanya terdiam dengan raut muka berkerut. Lelaki itu memaksa wanitanya agar menghadap ke arahnya dengan menyeret dagu setelah ia meletakkan kamera ke atas meja.
“Apalagi yang kau pikirkan di dalam kepala kecilmu itu?”
Tiara membulatkan mata menatap ekspresi Alfa yang telah berubah menjadi muram.
“Jangan kau terus menerus merendahkan dirimu Tiara, karena kau sangat tinggi nilainya untukku. Apapun yang terjadi, tetaplah bersamaku seperti ini. Aku tak akan meninggalkanmu. Camkan dalam hatimu itu. Aku tak akan meninggalkanmu. Kecuali aku mati.” Alfa nampak begitu emosional atas apa yang diucapkannya, karena ia memeluk perempuan itu dengan erat. Meluapkan segala keresahan yang begitu nyata dengan suara serak parau.
Tiara terenyuh atas sikap dan kata-kata penuh emosi jiwa yang terlontar dari bibir Alfa yang bergetar hingga bulir-bulir bening itu hampir lolos dari pelupuk matanya.
“Aku takut membuatmu kecewa. Aku takut … Mama … Aku takut Mama akan kecewa padaku.” Tiara terbata-bata dalam kalimatnya.
Alfa memejamkan mata dengan rasa frustrasi yang semakin menggerogotinya. Bukan ketakutan lagi seandainya Tiara tahu, sebab hatinya sudah patah, karena Mamanya benar-benar sudah memutuskan untuk kecewa dalam waktu secepat ini.
“Aku tak peduli apapun yang sedang dan akan terjadi. Kau seolah ingin aku mati saja jika terus berbicara seperti itu.” Alfa mulai gusar dan dengan segera ia menegakkan punggung, membuat Tiara bangkit dari duduknya.
“Aku akan menyelesaikan lukisanku.” Alfa tersenyum masam dan berjalan kembali mengambil kuas serta palet warna yang ia letakkan di depan kanvas. Mendorong dirinya kuat-kuat untuk segera menorehkan warna-warna itu kembali. Bukan karena ide cemerlang, ia hanya membutuhkan pelampiasan. Dan dalam kondisi mood yang payah seperti ini, ia harus segera menjauhi Tiara agar hasrat untuk menyentuhnya tak semakin menjadi-jadi, sebab, sudah dapat dipastikan bahwa ia akan bermain kasar nantinya terhadap istrinya itu.
Tiara masih terpaku di tempatnya. Memandangi setiap gerakan yang lelaki itu lakukan. Ada sesuatu yang menyisip ke hatinya dan membuat dirinya nyaman. Ya. Selalu seperti itu. Alfa mungkin memang dirancang dan diciptakan untuk membuat hatinya senang.
******
“Wow." Tiara tak berhenti terperangah menatap lukisan berukuran satu meter persegi yang sedang dipasang oleh Alfa di dinding kamarnya. Lukisan wajah abstrak dengan 2 siluet wajah, pria dan wanita dewasa bersama banyak sosok mungil dengan wajah sama. Wanita itu tahu benar makna tersurat yang terpampang di sana.
Tiara ingin sekali bisa seperti suaminya. Mengungkapkan apapun ke dalam kanvas dan menggambar indah di sana. Memindah gambaran-gambaran abstrak di kepalanya dan menuangkan secara utuh dalam gambaran nyata.
Selesai.
Alfa berjalan mundur sambil menimbang-nimbang posisi lukisan dengan jari tangan memegang dagu. Senyum merekah di bibirnya. Lelaki itu lalu membanting tubuhnya di tepian kasur, tepat di samping istrinya, lalu menatap Tiara yang masih memfokuskan pandangan ke arah lukisan.
“Bagus.” Tiara tersenyum.
“Boleh aku berharap?” Alfa tak melepas sedetik saja arah pandangnya. Tiara menoleh, menantikan kelanjutan kalimat yang hendak diucapkan suaminya. Namun, ia malah menjadi salah tingkah karena lelaki itu hanya terpaku memandangnya dan berharap wanita itu memberikan jawaban.
“Tentu … boleh.” Tiara berujar perlahan lalu berdiri. “Ayo.” Tiara mengulurkan tangannya seperti yang biasa dilakukan oleh Alfa padanya. Lelaki itu tekejut, melipat bibirnya dan mengangkat alis. Tiara mengedikkan kepalanya menunjuk ke luar ruangan. Dengan mantap, Alfa berdiri dan menyambut uluran tangan istrinya lalu bergandengan tangan hingga mereka sampai di halaman belakang rumah.
Langit gelap nampak cerah di atas sana. Bintang-bintang menyambut mereka ketika keduanya sampai di bawah naungan langit dan mendongak bersamaan. Alfa memeluk Tiara dari belakang. Menikmati suguhan keindahan malam dengan cahaya bulan sebagai penerangnya.
“Orang-orang berkata bahwa harapan yang kita cita-citakan akan mudah tercapai saat kita berbicara langsung pada langit.” Tiara masih mendongak dengan senyum tersungging di sana. Alfa menempelkan kepalanya diantara kepala dan bahu istrinya. Menghirup dalam-dalam aroma bebungaan yang semerbak dari rambut Tiara.
“Begitukah?”
“Hm.” Wanita itu menjawab dengan gumaman.
“Baiklah." Lelaki itu mulai berkata. “Langit ... kuterbangkan segenap harapan-harapanku bersama bintang-bintang indahmu di sana. Bahwa aku akan berusaha keras untuk mewujudkan harapanku. Jika seandainya saja harapanku tak bisa terwujud ….” Alfa mencium rambut Tiara. “Maka harapanku harus terwujud.”
Tiara melebarkan mata demi mendengar kata-kata yang diucapkan Alfa. Menoleh sejenak ke wajah lelaki itu, menatap dengan terpesona kedua mata cokelat suaminya yang cerah berbinar dengan pantulan cahaya terang lampu taman, bersinar bak bintang gemintang di kejauhan sana.