
Berta memiringkan kepala ke arah pintu, seolah menunggu kepada siapa saja yang hendak datang ke kamar perawatannya. Dan seketika pintu ruangan terbuka, tubuhnya yang menegang terkejut itu langsung bertemu tatap dengan Alfa yang baru setengah tubuh memasuki kamar. Menatapnya dengan pandangan sendu yang membuat wanita itu ingin segera merengkuh pundaknya. Memeluk anak laki-laki satu-satunya itu yang kini datang menjenguknya. Senyumnya melebar manakala ia menemukan Alfa tak seorang diri ketika memasuki kamar. Harapannya begitu besar menantikan anak perempuan yang sangat dirindukannya itu. Namun, senyumnya rontok begitu saja menjadi serpihan kecewa ketika wanita di belakang Alfa adalah Widya. Sampai pintu ruangan tertutup pun, tidak ada rasa yang memuncak memenuhi rindunya. Tiara tidak ikut serta? Di mana anak perempuannya itu?
Beberapa detik setelahnya, Alfa mendorong kursi hingga dekat dengan ranjang mamanya. Duduk di sana dan menggenggam sebelah tangan Berta erat dan mengangkatnya, lantas mencium punggung mama mertuanya itu dengan khidmat dan kedua mata terkatup. Mencurahkan kerinduan yang membuat hatinya bahagia dan terharu, akhirnya ia bisa bersua kembali dengan kehangatan tangan wanita bijaksana itu.
Lelaki itu membuka mata dan mengembuskan napas panjang. Diletakkannya kembali tangan wanita itu dengan perlahan di atas ranjang, tetapi masih dengan menggenggamnya. Berta mengernyitkan kening mendapati sikap Alfa demikian. Ada rasa terenyuh yang menyeruak di palung jiwanya ketika hatinya mengatakan bahwa lelaki itu sedang tidak baik-baik saja dan sedang mengharapkan sentuhan yang mendamaikan dirinya, terlepas dari kekhawatiran akan kondisinya.
“Tiara tengah beristirahat di kamar perawatan di sebelah ruangan ini. Ia sedikit kelelahan karena … Mama tahu? ….” Alfa berucap dengan tergugu dan terhenti tatkala Berta melepaskan tangan yang sedang lelaki itu genggam dan malahan menepuk-nepuk pundaknya.
“Tiara hamil Ma,” lanjutnya. Lelaki itu tersenyum tipis, tetapi menampakkan kemuraman yang berusaha ia tutupi. Seandainya saja ia dan Helmia bisa sedekat ini. Oh, sungguh Alfa sangat menginginkan kedekatan kembali dengan Mamanya itu segera tiba. Semoga saja rencananya itu berakhir indah sesuai dengan yang ia harapkan. Saat ini, ingin rasanya lelaki itu mendusel manja pada Berta saat ini.
Mama ….
Hati Alfa merintih. Memanggil Berta dalam teriakan-teriakan putus asa yang meraung-raung.
Mama … aku ingin memelukmu.
Kalimat itu berhasil ia ucapkan, tetapi, hanya berupa ucapan dalam hati saja yang tak bisa didengar oleh siapa-siapa.
“Benarkah?” Berta tersenyum lebar dengan ekspresi terkesiap. Masker oksigen yang terpasang pada separuh wajahnya itu telah dilepas sehingga ia bisa lancar berbicara tanpa penghalang. “Tiara hanya sekedar beristirahat? Ataukah ia turut dirawat? Bagaimana keadaannya?” serentetan kalimat tanya itu menambah kerutan di wajah tuanya yang kini tampak sedikit tirus.
“Dokter hanya menginfusnya dengan vitamin untuk memulihkan keadaannya. Esok hari pasti akan membaik, tetapi … aku sungguh tak tega melihat keadaannya yang selalu mual dan muntah ketika bangun dari tidur,” resahnya.
“Bersabarlah.” Kembali Berta menepuk-nepuk pundak lelaki itu. “Penantian itu memang pahit, tetapi, kau akan menerima upah dari kesabaranmu dengan sesuatu yang berharga,” ucapnya.
Alfa hanya tersenyum dan mengangguk tipis. “Mama bagaimana? Apakah sudah merasa lebih baik?” Laki-laki itu menyandarkan tubuh.
“Iya Alfa, aku sudah merasakan tubuhku sedikit ringan. Maafkan aku karena menambah beban dan menyita waktumu. Aku sebenarnya sudah cukup bahagia mengetahui kau dan Tiara dalam keadaan baik. Tak perlulah hingga meluangkan waktu seperti ini jika memang kau sibuk dengan pekerjaan.” Wanita itu menghela napas panjang. “Bagaimana Mamamu?” tanyanya cepat bahkan sebelum mendapat tanggapan dari anak lelakinya atas ucapannya tadi.
Alfa terkesiap mendengar pertanyaan itu, keningnya berkerut dalam ketika tak tahu harus menjawab dengan kalimat seperti apa yang sekiranya tak membuat Berta terkejut mengingat kondisi Berta yang masih dalam keadaan sakit.
“Aku meminta maaf kepadamu karena Tiara tak sempurna. Ia tak bisa menjadi sosok anak perempuan seperti yang engkau dan orang tuamu harapkan.” Wanita itu mengalihkan pandang dan menerawang, mengatur napasnya dengan baik agar tak terdegar gusar. Mengingat dengan jelas bagaimana riwayat anak perempuannya itu ketika mendapat vonis lemah kandungan dan dua kali mengalami keguguran. Sungguh ia tak berharap apapun atas pernikahan anaknya selain kebahagiaan yang tiada habis.
“Aku mencintai Tiara seutuhnya Ma. Tak pernah kusebutkan syarat ini dan itu sebagai pengikatnya. Aku sungguh … sungguh … ingin semuanya baik-baik saja. Aku berjanji. Aku akan mempertahankan Tiara bagaimanapun caranya. Aku tak peduli pada Mama,” ujarnya tegas dengan geraham yang mengetat, menahan segala kemarahan dan kegundahan yang masih belum berujung.
Tak ragu lagi. Keraguan yang menerpa Berta selama beberapa waktu itu musnah entah bagaimana mendengar kalimat penuh emosional yang terlontar dari lelaki itu. Ia yakin. Alfa mampu membahagiakan Tiara dan tak akan meninggalkannya. Ia pun tak sabar menunggu kabar baik itu tiba. Sebelum … sebelum datang waktu penghabisan menjemputnya.
******
“Apa kau sedang bercanda?” Helmia berkacak pinggang ketika melihat dengan penuh amarah, Yunus yang tengah mengemasi barang-barang pribadinya ke dalam koper besar.
Ekspresi Helmia melunak dengan dengusan napasnya terdengar berat. “Lalu bagaimana dengan perusahaan pusat? Apakah kau yakin akan mempercayakan tugas pengawasan kepada orang lain?” mimik wajah resah nampak dalam pandangannya.
“Kau ini. Sampai kapan kau akan sedemikian sulitnya percaya pada orang-orang di perusahaanku? Atau, bagaimana jika aku menyerahkannya padamu saja? Pada orang-orang kepercayaanmu? Kau mungkin akan lebih tenang mengawasinya karena berada langsung di bawah kuasamu.” Yunus mengawasi dengan ketat ekspresi Helmia yang masih belum berubah. Ketika tak ada sahutan, lelaki itu melanjutkan kembali perkataannya. “Yang pasti, aku sudah mengalihtugaskan sementara jabatanku pada wakilku untuk mengontrol semua aktivitas perusahaan,” ketusnya.
Wanita itu masih dalam kependiamannya. Menimbang-nimbang keputusan terbaik mana yang bisa dengan cepat ia ambil, mengingat Yunus akan segera bertolak ke luar pulau pagi itu juga. “Baik. Sepertinya aku harus mengikuti perkataanmu kali ini, tetapi, aku tak akan lepas tangan begitu saja. Aku tetap dengan orang-orangku yang juga akan mengawasi perusahaan dengan benar. Kau … pergilah,” usir Helmia, lalu ia pun membalikkan tubuh dari ambang pintu tempatnya berdiri dan berlalu meninggalkan Yunus yang masih terpaku di tempatnya, menyaksikan kegalauan yang sedang melanda istrinya itu yang membuat seringaiannya melebar.
******
Helmia berdiri di balik pagar balkonnya dengan resah. Berkali-kali ia memondar-mandirkan tubuhnya dengan kepeningan yang nampak jelas dari raut wajahnya. Yunus akan pergi meninggalkan perusahaan dalam jangka waktu yang belum bisa ditentukan dan ia ditinggalkan seorang diri dalam keadaan luar biasa kesal karena sampai dengan saat ini, dalam kondisinya yang seperti ini, Alfa belum ada di sampingnya. Belum bisa diandalkan sebagai orang terpercaya yang bisa memegang perusahaan. Ah, bagaimana hubungan lelaki itu dengan Karina? Apakah pendekatan mereka berbuah manis? Tak sabar rasanya melihat keduanya segera bersatu dalam ikatan pernikahan.
“Julius ….” Berta mengembuskan napas panjang.
Lelaki yang tersebut namanya itu menengadah dan memandang dengan kerutan di kening. Mempelajari ekspresi yang Helmia tunjukkan padanya. Julius terduduk di kursi teras yang ada di balkon itu. Memandang dengan gugup wanita yang tengah berada dalam kondisi marah yang tertahan. Bersiap jika akan mendapat omelan dari Helmia yang temperamen itu.
“Bagaimana kedekatan Karina dengan Alfa? Apakah ada perkembangan?” Wanita itu mengalihkan pandangan. Kembali menatap ke depan, memindai dengan tanpa arti, dedaunan yang menghijau terhampar di depannya.
“Minggu depan, Alfa akan mengadakan pembukaan pameran lukisan dan fotografinya Nyonya. Anda dipersilakan untuk turut serta menjadi undangan VIP dalam acara tersebut. Karina pun akan turut hadir sebagai tamu undangan. Anda bisa melihatnya sendiri,” jelasnya.
Helmia mengangkat alis. Terkejut senang atas berita menarik yang dibawa Julius kepadanya. Alfa mengundang Karina dalam acara pentingnya? Mungkinkah mereka telah mulai menunjukkan kedekatan?
“Bagus. Aku akan datang. Kau jangan lupa untuk memberi tahu orang-orangmu untuk mengawasi orang-orang di perusahaan,” perintahnya.
“Baik Nyonya," jawabnya tegas sebelum kemudian tampak berpikir dengan bersungguh-sungguh untuk berucap. "Mengapa Anda tidak mempercayakan saja pada Bapak? Bukankah orang-orang kepercayaan Bapak adalah orang-orang kepercayaan Anda juga? Mengapa Anda terlihat tidak tenang?” Dengan berani, Julius mempertanyakan hal yang selama ini mengganjal dalam benaknya. Dua orang itu, Helmia dan Yunus adalah atasannya dan sepasang suami istri. Seolah ada sekat tak kasatmata yang selalu nampak jelas di antara keduanya. Perbedaan pendapat pun tak pernah luput dari mereka.
“Aku percaya pada suamiku, tetapi aku masih belum yakin pada orang-orangnya. Aku takut sekali akan ada orang yang mengambil keuntungan dari perusahaan dan berkhianat pada Yunus,” resahnya.
“Perusahaan sudah berjalan dalam waktu lama bukan? Berhati-hati memanglah perlu, tetapi, terlalu khawatir hanya akan menyiksa diri Nyonya. Percayalah pada Bapak,” pintanya.
“Apa kau sedang meminta untuk dipecat?” sindirnya. “Aku hanya mau kau menjalankan perintahku. Sejak kapan kau berani untuk memerintahku?” ucapnya keras.
Julius kembali menunuduk. Degup jantungnya semakin cepat berdetak mendengar kalimat terakhir Helmia.
“Ya Nyonya. Maafkan saya,” lirihnya.
Helmia memejamkan mata sejenak. Menetralkan emosi yang sempat tersulut berkat ucapan Julius yang sungguh membuatnya kesal.
Satu persatu urusan akan segera terselesaikan. Alfa dan karina semakin dekat. Ia tak sabar untuk segera melihat kedekatan mereka yang akan segera membentangakan jalan berkarpet merah untuknya.