
Bau harum masakan menguar dari penjuru dapur. Suara dentingan alat penggorengan pun terdengar merdu seiring tangan gemulai yang bergerak dengan lincah meliuk-liukkan spatula pada wajan teflon. Hari ini Tiara memasak sendiri sarapan untuk mereka berdua. Alisa sedang tidak bisa membantunya karena ada berbagai hal menyangkut urusan pribadinya yang tidak bisa ia tinggal. Jadilah Tiara hari ini bangun pagi dan melakukan segala sesuatunya seorang diri.
Dengan gembira, wanita itu sengaja mengendap-endap untuk turun dari ranjang dan bergerak dengan minimasi suara, agar suaminya itu tidak terbangun. Seolah baru saja terbebas dari segala rupa jeratan yang mengekang waktunya, Tiara nampak ceria meski harus melakukannya tanpa bantuan. Inilah yang ditunggunya, bisa melakukan segala aktivitas di rumah dengan bebas. Walau Alisa sudah seperti seorang kakak untuknya, tapi wanita paruh baya itu benar-benar bersekongkol dengan Alfa untuk melarangnya membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Untuk makan malam pun, Alisa sudah meninggalkan makanan yang siap dalam sekejap dengan hanya dipanaskan.
Aroma kelezatan itu sepertinya menyebar dengan kuat karena hirup napas Alfa dengan angan-angannya masih dalam alam mimpi itu, kini turut membaui bau makanan tersebut hingga ia pun tergugah dari tidurnya. Lelaki itu mengerjapkan mata seakan ada magnet tak kasatmata yang menarik paksa kelopak matanya untuk terbuka.
Sisi sebelah kanannya terasa dingin dan kosong. Alfa pun membuka mata lebarnya dengan segera dan memandang ke semua arah, memastikan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Di mana istrinya?
Pintu kamar yang tertutup dengan lampu di luar kamar yang berhasil menyorot ventilasi udara di atas pintu menjadi jawaban. Tiara tengah terbangun. Sepagi ini?
Lelaki itu lantas membuka selimut yang masih menempel pada tubuhnya dan bergerak turun dari ranjang. Langkahnya ia seret menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan menyegarkan badan.
Sekali lagi, aroma lezat yang menguar dari luar kamar membuatnya tak sabar ingin segera beranjak. Apakah ini karena istrinya yang memasak sehingga ia bersemangat? Biasanya ia tak seantusias ini ketika mencium aroma makanan dari hasil Alisa memasak. Ya, cinta memang ajaib. Tak akan pernah ada kepastian kepada siapa hati akan berlabuh, pun tak akan ada alasan mengapa ia terasa istimewa.
Alfa keluar dari kamar dan segera melangkah menuju dapur dengan menyiapkan senyum terbaiknya, untuk menyambut pagi istrinya yang tengah menyibukkan diri tersebut.
Nihil.
Spontan, Alfa menengokkan kepalanya dan berjalan menuju area ruang tengah dan ruang tamu, tetapi, lelaki itu tak melihatnya. Dengan kesal, Ia kemudian bergegas menuju bagian belakang dan akhirnya menemukan Tiara tengah duduk dengan santai di kursi teras dengan sepiring makanan yang sedang ia santap dengan lahap.
Lelaki itu tersenyum dan turut mendudukkan dirinya pada kursi sebelah istrinya. Senang melihat istrinya itu makan dengan porsi banyak. Sesungguhnya Tiara memang nampak kurus beberapa waktu terakhir ini dan Alfa sangat puas karena tanpa ia minta, istrinya itu telah kembali memiliki nafsu makan yang baik.
“Maaf, aku mendahuluimu untuk sarapan. Aku lapar.” Tiara berucap dengan wajah bersemu merah karena malu sambil mengelus perutnya sebagai bukti bahwa ia memang merasa lapar.
Namun, Alfa yang memperhatikan dengan teliti justru terfokus pada gerakan tangan Tiara yang tengah mengelus perutnya. Sebelah bibirnya terangkat. Hatinya berdesir oleh secercah harapan yang berkali-kali ia langitkan. Di sisi lain, ia merasa dirinya akhir-akhir ini aneh karena begitu senang memperhatikan perut istrinya yang rata itu. Segala hal yang dilakukan istrinya itu selalu ia kaitkan dengan perutnya, termasuk ketika Tiara memakan sesuatu. Ia tak sabar menantikan bagaimana repotnya ia nanti menghadapi sikap Tiara yang manja ketika istrinya itu benar-benar mengandung.
"Tak apa. Makanlah dulu. Aku akan mempersiapkan segala sesuatunya agar tak ada yang tertinggal." Alfa tersenyum dan menopangkan tangan pada kursi hendak beranjak dari sana.
Dengan cepat, Tiara menyodorkan satu potong banana pancake dengan garpu ke depan mulut suaminya. Alfa menatap istrinya yang tampak mengangkat dagu, memerintah dengan gerak wajah sambil tersenyum. Dengan semangat, Alfa pun membuka mulutnya, dan melahap potongan pancake buatan istrinya itu. Keningnya berkerut sebentar demi merasakan rasa hambar dan asin yang berasal dari keju, yang dituangkan secara berlebihan itu.
Tiara yang tak sempat memperhatikan perubahan mimik wajah suaminya itu kembali memotong pancake yang masih tersisa dalam piringnya dan memakannya dengan lahap.
Alfa menengok sebentar ke atas meja teras kecil di mana ada secangkir besar teh hangat yang wangi aromanya menusuk indra penciumannya. Tanpa pikir panjang lagi, lelaki itu mengambil cangkir tersebut untuk meneguknya satu sesapan. Mengusir rasa aneh yang baru saja diterima oleh lidahnya. Tetapi, bukan rasa lega yang didapatnya, malahan wajah Alfa semakin berkerut ketika menerima rasa kecut yang begitu kental dari dalam seduhan teh itu.
Lemon tea?
Sejak kapan selera Tiara menjadi berubah drastis seperti ini? Hari kemarin saja, ia masih melihat Tiara memakan makanannya yang biasa tanpa ada permintaan perubahan rasa pada Alisa. Tidak mungkin bukan, hanya dalam waktu singkat, karena kedatangan Alisa yang terus memasak untuk mereka Tiara menjadi lupa cara memasak? Pikiran konyol itu sempat muncul dalam pikiran Alfa dan ekspresinya berubah pasrah.
Tiara melihat ke arah suaminya sejenak. Ada ekspresi geli yang ditampakkan wanita itu ketika mengamati mimik wajah Alfa yang berkerut karena turut mencicipi lemon tea buatannya.
“Lidahku mendadak ingin sekali memakan sesuatu yang masam. Aku tak menemukannya di dalam kulkas. Jadi, kutambahkan buah lemon agak banyak ketika menyeduh teh,” ucapnya dengan riang.
Alfa melebarkan mata, terkejut. “Apakah perutmu tidak sakit? Minuman ini terlalu masam dan bisa saja membuat asam lambungmu naik. Apalagi ini pagi hari,” jelasnya dengan sekali lagi melihat sejenak ke arah perut istrinya.
“Tapi aku ingin sekali meminumnya. Kau juga mau lagi?” tawarnya dengan mengacungkan cangkir yang kini ada di dalam genggamannya. Piringnya telah kosong, dan rasa penuh telah mengisi perutnya saat ini.
“Kau mengidam?” Alfa bertanya spontan dengan wajah ternganga.
Teh yang baru saja masuk ke dalam tenggorokan Tiara itu mendadak sedikit masuk ke dalam saluran pernapasan sehingga membuat wanita itu terbatuk-batuk sampai membuat wajahnya memerah. Alfa mengelus punggungnya dengan lembut. Perkataan suaminya itu membuatnya terkejut hingga dalam satu waktu ia berusaha untuk menelan dan menghirup udara ke dalam paru-parunya secara bersamaan.
“Semoga sayang. Kita harus memastikannya segera.” Alfa mengusap kepala Tiara perlahan lalu menyibakkan rambutnya ke belakang telinga. Tiara menggenggamkan tangannya di sana dan tersenyum penuh keharuan.
******
“Kita akan kemana?” Tiara bertanya ketika keduanya telah berada di dalam mobil dan Alfa sudah mengemudikan kendaraannya di tengah jalan. Ia memandang sekilas suaminya yang sedang berkonsentrasi dalam mengemudi, lalu melihat-lihat ke arah luar jendela di mana jalanan tengah ramai dengan kendaraan dan juga para pedestrian di sisi-sisi jalan.
“Ke suatu tempat,” jawabnya dengan tersenyum jahil sembari melirik sekilas ke wajah istrinya yang sedang menatap lurus ke depan. “Kau tak apa-apa? Aku sebenarnya ingin sekali mengajakmu pergi bersamaku kali ini, tapi, selera makanmu tadi pagi membuatku khawatir, kalau-kalau kau akan mabuk dalam perjalanan. Aku bisa saja mengantarmu pulang kembali,” ujarnya dengan bersungguh-sungguh, menampakkan keresahan di sana.
Tiara tersenyum mendengar perkataan Alfa yang berlebihan itu. “Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin memakan sesuatu yang segar karena aku merasa gerah setelah menjalankan aktivitasku memasak dan membersihkan rumah. Itu saja. Meskipun ….” wanita itu memandang suaminya. “Meskipun aku pun ingin sekali mengetahui bahwa keinginanku yang menurutmu tak biasa itu karena kami berdua yang menginginkannya.” Tiara mengeluskan tangannya pada perutnya yang tertutup oleh kain satin velvet berwarna khaki itu. Matanya turut serta memandang penuh harap dengan bola mata membulat sempurna.
Alfa menghembuskan napas lega dengan senyum cerah di wajahnya. Sebelah tangannya memencet tombol pada dashboard hingga ruang kabin depan mobil itu nampak terang. Langit bersemu mendung pagi ini, sehingga sunroof yang terbuka tidak terlalu menyorotkan sinar yang menyilaukan mata, meskipun ruangan mobil itu terang benderang. Namun tetap saja, warna hitam mengkilap yang menjadi pelapis kaca mobil itu tak mampu tertembus dari arah luar, membuat pengendaranya merasa nyaman.
Lelaki itu menyandarkan tubuhnya pada kursi joknya. Lampu lalu lintas menyala merah dengan angka counting down yang cukup lama membuatnya bisa merilekskan tubuh sejenak. “Aku selalu ingat ucapanmu waktu itu bahwa doa-doa kita akan cepat terkabul jika kita mengucapkannya langsung di bawah langit bukan?” Alfa sedikit menengadahkan pandangannya ke atas. Memperhatikan semburat langit yang tampak muram pagi itu.
Tiara yang mengerti maksud dari perkataan suaminya itu kemudian memiringkan tubuhnya. Jadi, inilah alasan lelaki itu membeli mobil dengan sunroof seperti ini? Pun dengan ia membuka area kolam renang privat di dalam rumahnya? Oh, Tiara merasa tersentuh. Alfa adalah lelaki sempurna yang dikirimkan Tuhan untuknya, tetapi, mengapa Tuhan mempertemukan lelaki itu dengan wanita tak sempurna sepertinya? Tiara menggigit bibir ketika sekali lagi, pertanyaan menyakitkan itu muncul dari dalam hatinya sendiri. Mungkin, inilah yang disebut kesempurnaan cinta. Ketika masing-masing memiliki pandangan tentang kesempurnaan pasangan, padahal diri sendiri merasa tidak sempurna, tetapi, merasa lengkap atas cinta dari orang yang mencintai.
“Kau selalu mengingat perkataanku, padahal aku sendiri tak pernah mengingat tentang suntikan semangat yang selalu kau berikan.” Tiara mendesah.
Alfa tersenyum miring. “Cukup katakan saja bahwa kau ingin sekali kupeluk dari belakang dan kubisikkan kata-kata itu di dekat telingamu terus menerus sambil berbaring di atas ranjang,” kelakarnya dengan menampakkan gigi-gigi putihnya yang terlihat rapi.
Sontak Tiara memukulkan tangan kanannya ke lengan Alfa yang sudah bersiap menangkis dengan menghadapkan telapak tangannya. Suara tawanya bertambah semakin keras ketika istrinya itu mencubit pinggangnya.
“Turunkan aku di sini. Aku mau pulang saja,” rajuknya sambil menyedekapkan kedua tangannya dengan wajah penuh menoleh ke samping.
Alfa tersenyum lebar. “Baik. Aku juga akan turun,” kekehnya lalu mengusap kepala istrinya itu dengan gemas.
“Jadi, kita akan kemana?” tanyanya lagi dengan ketus, berharap bisa mendapat jawaban dari lelaki paling jahil di dunia itu.
“Piknik,” jawabnya singkat. “Piknik sambil bekerja,” sambungnya dengan tawa yang masih melekat dalam ekspresinya.
Tiara mendesah pasrah. Satu keinginan terbesarnya saat ini adalah ia bisa merasakan kantuk, sehingga ia bisa tertidur saja agar terhindar dari pembicaraan yang membuatnya kesal. Namun, pemandangan di luar jendela yang mendadak berubah dengan warna hijau di sepanjang sisinya itu membuai matanya untuk terus terbuka. Mana bisa ia melewatkan pemandangan seindah ini? Hijau adalah warna dirinya. Ia merasakan kedamaian dalam hatinya tatkala disuguhi oleh warna gabungan biru dengan kuning tersebut. Perjalanan ini terasa menyenangkan. Alfa seolah mengerti akan kesukaannya dengan diam dan membiarkan Tiara menikmati pemandangan di sepanjang sisa perjalanan panjang ini.
******
Mobil melaju pelan dan kemudian berbelok ke arah kiri. Tiara yang tengah dalam keadaan setengah tertidur itu pun mulai merasakan ketika mobil yang ditumpanginya mulai berhenti melaju. Alfa yang telah melepaskan sabuk pengamannya itu bergerak maju dan mencium pelipis istrinya. “Ayo kita turun,” ajaknya.
Tiara yang masih menyandarkan kepala pada tempat duduknya kemudian menoleh dan mendapati Alfa yang wajahnya begitu dekat dengannya. Wanita itu lantas merangkulkan tangan kanannya ke tengkuk lelaki itu. Memajukan tubuhnya sehingga kedua bibir itu bersatu dengan tepatnya. Alfa yang terkesiap atas sikap istrinya yang tiba-tiba itu melebarkan matanya lalu turut mencengkeram dengan sensual kepala istrinya sebelum mengusap rambut cokelat Tiara yang ada pada tengkuknya agar semakin mendekat kepadanya.
Sesuatu yang memabukkan pun terjadi selama beberapa waktu sampai napas keduanya sama-sama memburu dan Tiara melepaskan cengkeramannya, menatap dengan saling memindai keseluruhan wajah masing-masing.
“I love you … Alfa ...." seraknya.
“I love you more Tiara ...." jawabnya dengan penuh seringaian bahagia, menatap lekat istrinya yang mendadak agresif tersebut dalam sikapnya. Lelaki itu kemudian mengedikkan dagunya ke arah luar jendela.
Tiara yang menatap lekat suaminya itu, begitu melihat polat mata Alfa yang berubah, kemudian turut mengekorkan pandangan ke arah yang sama.
Dan, terkejutlah ia melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya…