
Yunus tengah duduk santai di kursi teras belakang sebuah vila dengan satu cangkir teh hangat di atas lepek. Waktu masih menunjukkan pukul lima sore ketika pelayan membawakannya satu piring kecil kudapan ke meja yang berada di sampingnya. Selalu seperti itu, padahal, Yunus sama sekali tak pernah mau memakan makanan kecil seperti halnya kue maupun makanan ringan yang disediakan untuknya.
Hari itu, ia menghabiskan waktu seharian untuk mengunjungi rekan-rekan bisnisnya yang berada di kota yang sedang ia tinggali ini. Permasalahan perusahaan cabang? Ah, itu hanya akal bulusnya saja agar lelaki itu bisa sedikit menjaga jarak dengan Helmia. Semua sudah diaturnya secara rapi dan terperinci, sehingga terlihat seolah benarlah terjadi dan nyata, persoalan buatan yang tengah dirancangnya dan dilaksanakannya sekarang ini. Ia telah menghubungi pihak-pihak yang cukup krusial di perusahaannya untuk turut serta bekerja sama dengannya jika suatu saat nanti istrinya itu mendatangi kantornya dan menanyakan perihal permasalahan yang tengah dihadapi perusahaan. Dan benarlah, dari informasi yang ia dapatkan dari sekretarisnya, Helmia bahkan berada di kantornya sejak hari menjelang siang hingga lewat tengah hari untuk meneliti semua berkas laporan, termasuk laporan keuangan.
Diam-diam, Yunus telah memasang jammer pada vilanya itu sehingga istrinya tidak bisa menghubunginya dalam bentuk komunikasi melalui aplikasi apapun. Helmia pasti sedang beranggapan bahwa suaminya itu tengah berada di area luar jangkauan sinyal telekomunikasi sehingga tak dapat dihubungi. Lelaki itu menggunakan ponselnya yang lain untuk berkomunikasi dengan para direktur dan karyawannya untuk melakukan crosscheck serta pengawasan jalannya perusahaan dan tentu saja hal itu harus ia lakukan di luar vila mengingat adanya jammer di tempat tinggalnya. Yunus terpaksa menyelesaikan seluruh pekerjaannya dengan fasilitas daring agar tetap dapat menjalankan rencana terselubungnya ini dengan baik. Sebenarnya ia ingin sekali menghadiri acara pembukaan pameran Alfa yang akan diadakan beberapa hari lagi, tetapi, waktunya sudah semakin mendesak karena ia pun harus segera menyelesaikan berbagai macam urusan perusahaan yang harus ia pungkaskan.
Lelaki itu menyeruput sesapan teh terakhirnya lalu meletakkan kembali cangkir yang sedari tadi dipangkunya ke meja dan berdiri meninggalkan teras yang luas itu dengan hamparan kolam renang yang membiru di depannya. Riak air kolam itu sudah turut memancarkan cahaya jingga ketika Yunus memutuskan untuk kembali memasuki rumah.
“Bapak, ada telepon untuk Bapak,” ucap seorang pelayan ketika tuannya itu hendak melangkahkan kaki menuju tangga ke lantai dua.
“Oh ya. Terima kasih.” Yunus membalikkan badan kembali lantas melangkah menuju meja telepon rumah yang berada tak jauh dari tangga.
“Halo?” sapa lelaki itu mengawali pembicaraan.
“Papa?” suara Alfa terdengar jelas di seberang sana. Nada suaranya terdengar cemas.
“Alfa? Ada apa? Kau tahu papa sedang berada di vila?” tanyanya dengan kening berkerut ketika mengetahui secepat itu anaknya bisa menebak ke mana papanya itu pergi.
“Tentu saja. Sedang apa papa di sana? Astaga. Mengapa papa dan mama seperti anak muda saja yang tengah bertengkar lalu saling merajuk satu sama lain? Lagi pula apa persoalan di antara kalian sehingga papa menghindar seperti ini?” cerocosnya.
Yunus terbahak. Sudah lama ia tak mendengar Alfa yang sedemikian panjangnya ketika berbicara padanya. Rupanya, Helmia mengadu pada Alfa? “Papa tidak sedang merajuk, hanya sedang menjalankan misi terselubung untuk menyelamatkan hubunganmu dengan mamamu,” jawabnya dengan kalimat yang tentu saja tak dimengerti oleh anak laki-lakinya itu.
“Misi terselubung?” Alfa mengangkat sebelah alis dalam ekspresinya, mencoba untuk menerka-nerka.
“Ya. papa sedang memberi pelajaran pada mamamu. Tidak ada persoalan apa-apa, papa hanya berpura-pura sedang menyelesaikan pekerjaan berat yang harus diselesaikan selama berhari-hari dan tidak menghubunginya sama sekali untuk membuatnya rindu,” kekehnya.
Alfa membelalakkan mata, terkejut ketika menerima jawaban papanya yang seolah memang sedang bermain-main itu. Ia tak menyangka, di usia mereka sekarang ini, Yunus masih bisa menggoda Helmia dengan candaan demikian. Lalu, apa hubungan misi terselubungnya itu dengannya?
“Kau akan mengerti nanti,” ucap Yunus dengan kalimat penuh teka-teki lagi. Anak laki-lakinya itu tak menjawab, hanya menanggapi dengan embusan napas panjang.
“Ya. Apapun itu, jika membuat keadaan lebih baik, aku pasti mendukung,” ucapnya. “Baiklah. Aku hanya ingin memastikan bahwa papa sedang baik-baik saja di sana. Selamat malam,” tutupnya lalu memutus sambungan telepon.
Yunus hanya menanggapinya dengan anggukan kepala dan tersenyum lebar. Sepertinya, rencananya kali ini berjalan mulus tanpa hambatan. Ia akan terus mengintai, sejauh mana Helmia akan bisa bertahan.
******
"Mama yakin? Jangan memaksakan diri, tetaplah di sini dahulu sampai mama sehat," bujuk Tiara pada mamanya yang bersikeras ingin segera pulang dari rumah sakit pagi itu juga. Berta mengatakan bahwa ia ingin mendapatkan perawatan saja di rumahnya. Bosan berada dalam kamar terus menerus dan ingin merasakan sejuknya udara segar di luar sana, tetapi, anak perempuannya itu terus saja mendebat dengan alasan kemudahan untuk mendapat akses penanganan darurat ketika mamanya berada di rumah sakit, mengingat Berta sering mengalami down secara tiba-tiba. Tiara hanya mengkhawatirkan itu.
"Mama sudah merasa lebih segar sekarang. Ada Widya dan satu orang perawat nantinya yang akan terus memantau kondisi mama. Kau jangan khawatir yang berlebihan," rayunya.
"Benar begitu?" Tanya wanita itu sekali lagi dengan ragu.
"Iya. Mama akan baik-baik saja," jawabnya dengan menyunggingkan senyum dan menepuk-nepuk punggung tangan Tiara yang sedari tadi menggenggam sebelah tangannya.
"Apa maksudmu? Kau akan mengemudi seorang diri? Tidak. Jangan. Mama tidak setuju," tolaknya dengan kening berkerut. Apa Tiara hendak membahayakan dirinya dan bayi dalam kandungannya dengan mengendarai mobil seorang diri?
"Bukan begitu. Alfa memerintahkan salah seorang pegawai di rumah pameran untuk menggantikannya mengantarku pulang. Apa Mama tidak apa-apa jika diantar olehnya?" Tanya Tiara kemudian.
"Oh. Baiklah. Tidak apa-apa," ujar Helmia dengan menganggukkan kepala dan tersenyum tipis.
Kepergian Alfa sepagi ini mengingatkannya pada Yunus yang menghubunginya kemarin petang. Lelaki itu meminta maaf padanya karena tak bisa menjenguk dalam waktu dekat sebab sedang berada di luar kota. Ayah Alfa itu juga memberitahunya perihal rencana Helmia yang akan memisahkan putrinya dengan Alfa. Namun, dengan berbagai cara, lelaki itu berkata bahwa ia sedang mencoba untuk meluluhkan hati istrinya. Tidak dengan mengatakan bahwa Tiara tengah hamil kembali, biarlah hal itu menjadi kejutan untuk Helmia suatu saat nanti tatkala wanita itu tahu dengan sendirinya.
"Apakah Yunus baik kepadamu?" Helmia yang merasa cukup lama diperhatikan oleh Tiara karena melamun itu kemudian bertanya.
"Iya. Papa sangat baik. Ia bahkan terlihat sangat akrab dengan Alfa dan sama-sama terlihat sebagai sosok ayah yang baik." Tiara berkata sambil menerawang, mengingat kilasan memori yang memintas begitu saja dalam benaknya, beberapa bulan lalu ketika suami dan papanya itu tengah bergembira dengan saling bergantian dalam menggendong seorang bayi yang datang ke rumah Alfa bersama sang ibu untuk melakukan sesi baby photography. "Ada apa mama tiba-tiba mengingat papa Yunus? Apakah ia menghubungi mama?" Tanyanya kemudian.
"Ya. Kemarin Yunus menghubungi mama. Syukurlah jika ia memang baik padamu," jawabnya.
"Baik. Ayo kuantar Mama pulang. Leon sudah menunggu di depan." Tiara berdiri dari kursinya lalu mendekat ke ranjang dan memapah Berta untuk turun agar terduduk di kursi roda.
Widya yang telah bersiaga di samping sofa pun beranjak dan turut menuntun hingga wanita itu terpangku dengan nyaman di atas kursi roda.
Tiara menghela napas panjang dengan senyum merekah di bibirnya, bersiap untuk mendorong kursi roda.
"Tiara, biar aku saja yang melakukannya. Kau jagalah dirimu agar tidak lelah dan bekerja terlalu berat," sela Widya cepat ketika wanita itu hendak melangkah satu jangkahan dalam menyorong tempat duduk mamanya.
Tiara menoleh cepat dan melepaskan tangannya dari pegangan kursi roda. Menimbang dengan cepat keputusannya lalu mengangguk. "Ya. Baiklah," ucapnya lalu memundurkan tubuh, memberi tempat untuk Widya yang akan melakukan tugasnya.
Ketiganya lantas berjalan perlahan dengan beriringan keluar dari ruang perawatan, diikuti Leon yang sudah siap sedia menanti di sofa ruang tunggu dan beberapa orang pelayan yang membawakan barang-barang Nyonya mereka untuk dibawa pulang.
Ketika langkah mereka sudah hampir melewati pintu kaca batas ruang VIP, Tiara mendadak menghentikan langkah membuat langkah orang-orang dibelakangnya menjadi tersendat dan turut terkejut.
"Ada apa Tiara?" Widya mengernyitkan dahi ketika menoleh ke samping dan menemukan anak perempuan tuannya itu tengah berpikir sejenak. Berta pun turut menengadah dan mengekspresikan pertanyaan dalam mimik wajahnya.
"Aku meninggalkan barangku di laci nakas ruang perawatanku." Tiara tersenyum masam. "Kalian berjalanlah terlebih dahulu, aku akan mengambilnya," putusnya.
"Aku perlu mengantarmu?" Tawar Leon.
"Tidak usah. Aku akan cepat kembali," ujarnya lalu membalikkan badan dan berlalu begitu saja.
"Berhati-hatilah," Leon menatap Tiara yang berjalan memunggunginya. Wanita itu hanya menoleh sebentar dan menganggukkan kepala. Lelaki itu memutuskan untuk menunggu istri Alfa itu di tempatnya berdiri.
Tiara sedikit mengerem langkahnya ketika napasnya terengah-engah. Ia telah berjalan cepat rupanya. Dielusnya perutnya itu dengan tangan kanannya. Berucap dalam hati bahwa ia akan benar-benar berhati-hati kali ini. Setelah melihat kembali ruangan tertutup yang hanya tinggal kurang lebih enam langkah itu dari posisinya, wanita itu mengembuskan napas lega. Perlahan tapi pasti, ia berjalan mendekat hingga depan pintu. Diraihnya gagang pintu itu ketika tiba-tiba saja tepukan pada pundaknya mengagetkannya.
Tiara menoleh cepat dengan jeritan kecil yang tanpa sadar keluar dari mulutnya. Matanya membulat sempurna ketika tatapannya bertemu dengan manik mata biru itu lagi.