The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 30 - Bertahan



Tiara membuka mata. Rasa sakit yang menerjang kepalanya telah memudar. Perlahan, kedua matanya menangkap tatapan bola mata cokelat muda yang tengah mengawasinya diam-diam, tepat di hadapannya. Tiara tertidur dengan posisi miring, sehingga ia langsung bisa melihat siapa yang berada di sebelahnya. Ia bahagia sekali ketika Alfa lah yang pertama menjadi penyambut saat ia terbangun dari tidur, seperti hari-hari biasa di pagi hari. Sesaat ketika ia menyadari telah tertidur di sebelah suaminya, alam memory-nya langsung memutar cepat pada ingatan bahwa mereka sedang berada di rumah sakit.


Mata Tiara melebar sempurna. Ia tidak sedang di rumahnya saat ini. Alfa masih lah dengan tubuh penuh memar dan senyum yang dihiasi pipi terbaret luka. Sontak wanita itu terduduk di ranjangnya. Menyadari bahwa mereka berdua tertidur di ranjang yang terpisah namun berdekatan.


Seperti baru saja tiba di dunia lain yang tak dikenal, Tiara mengamati dirinya sendiri yang duduk di atas ranjang dengan infus yang menempel di tangan dan tubuh berselimut tebal.


Ia mengarahkan pandangan dengan sikap setengah jengkel pada Alfa yang masih saja terdiam. Namun, menatapnya dengan senyum yang tak berubah.


“Itu hanya suntikan vitamin. Kau terlihat lelah dan pucat kemarin, sehingga kau membutuhkannya untuk mengembalikan lagi staminamu. Terima kasih karena telah mengkhawatirkanku, dan maaf telah membuatmu lelah, tapi sekarang, bisa kau lihat sendiri? Aku baik-baik saja.” Alfa berujar dengan santainya.


Tiara mendengarkan dengan teliti setiap kata yang diucapkan oleh Alfa. Lelaki itu merasa baik-baik saja dengan luka di sekujur tubuh? Mungkin maksudnya adalah Ia merasa lebih baik karena telah bertemu dengan Tiara. Memaksakan keadaan dan nekat untuk pulang dengan rindu sebagai kambing hitam, sehingga seperti ini imbasnya. Mengapa rindu itu kejam? Selalu menyeret paksa hati yang sedang didera olehnya dengan egois dan menuntut untuk segera dipertemukan?


Wanita itu mencopot selang infus yang masih tertancap di tangannya. Meletakkannya begitu saja. Dengan tegesa ia menyibakkan selimut lalu turun dari peraduannya yang terasa memalukan. Entah bagaimana ia bisa tertidur dengan ranjang yang berdekatan seperti itu? Apa iya dirinya telah mengalami sleepwalking dan menyeret ranjang dari kamar sebelah agar Ia bisa terlelap di samping suaminya? Aih, mukanya mendadak memerah membayangkan betapa mesum dirinya bahkan ketika di rumah sakit seperti ini.


Ia turun dan melangkahkan kaki di atas lantai yang dingin seperti es. Tiara terlalu malu untuk mencari di mana alas kaki yang kemarin dipakainya. Dengan wajah tertunduk, wanita itu mendekati hingga menempel pada tepi ranjang Alfa.


“Apa aku terlalu memalukan ketika sedang rindu? Bagaimana aku bisa tertidur di ranjang itu?” Tiara melipat bibir.


Alfa mengangkat kedua alisnya demi mendengar pertanyaan aneh dari Tiara, lalu berkerut kemudian. Tak mengerti benar pertanyaan dengan makna tersirat yang disampaikan olehnya. Tiara merasa malu? Tetapi, malu karena apa? “Aku sudah menelanjangimu sampai pada batas kau sendiri tak mengetahui bagaimana tubuh dan hatimu. Kau tak perlu malu. Aku pun rindu. Sangat-sangat rindu Tiara. Mendekatlah.” Alfa mengisyaratkan perintah dengan sebelah tangannya yang telah mencengkeram lengan tangannya. Tiara tentu paham. Alfa tak bisa menggerakkan tubuhnya dan meminta wanita itu untuk memeluknya.


Dalam gerakan cepat namun penuh kehati-hatian, Tiara menelungkupkan badan dengan sebelah tubuh memeluk suaminya. Kedua mata mereka terpejam. Membuai kasih sayang yang sama. Melepaskan rindu yang lama kelamaan melebur menjadi rasa cinta yang semakin menggebu.


Seketika Tiara diingatkan kembali pada peringatan mengerikan dari Helmia yang memintanya untuk meninggalkan lelaki ini. Bagaimana ia bisa sanggup? Tiara melepaskan pelukannya sejenak. Menatap dengan kedua alis berkerut dan mata berkaca-kaca.


“Maaf jika aku harus tak sanggup. Hidupku saja sudah seperti ampas, sementara saripati hidup dan cintaku sudah kuserahkan sepenuhnya kepadamu. Bagaimana aku bisa meninggalkanmu, padahal hanya kau satu-satunya tempatku bergantung?” Wanita itu berucap lamat-lamat dengan nada menyenangkan. Namun, menusuk hingga ulu hati.


Alfa membeku. Hatinya teriris mendengar kalimat penuh keputusasaan yang terlontar dari bibir istrinya. Apakah Helmia telah mengatakan sesuatu padanya?


“Aku tak memanfaatkanmu hingga kau merasa habis seperti ampas lalu kubuang begitu saja tanpa makna. Kau berharga bagiku. Hei. Apa aku perlu lagi mengulang-ulang kata-kataku seperti seorang lelaki puber yang sedang jatuh cinta?” Alfa menyuarakan protesnya. “Baiklah. Akan kuucapkan terus menerus sampai kau bosan mendengarnya. Tapi, kuharap walau telingamu bosan, namun hatimu teguh dengan apa yang akan kusampaikan ini duhai wanita. Aku-”


Tiara melahap bibir Alfa tiba-tiba. Wanita itu memejamkan mata, seolah menahan agar buliran bening yang sudah menggenang itu tak menampakkan diri. Tiara tidak benar-benar ingin menciumnya. Ia hanya sedang merasa pupus dan ingin menenggelamkan diri seutuhnya pada kehangatan cinta yang selalu lelaki itu lebarkan sayapnya kepadanya.


Alfa menyentuh tengkuk Tiara. Memajukan kepala mungil itu agar dapat menciumnya lebih dalam. Satu tetes air mata lolos dari pelupuk mata istrinya membuat Alfa semakin tidak berhenti mencecap kelembutan mulut Tiara. Terus dan terus.


******


“Aku bisa memakannya sendiri.” Alfa menolak untuk disuapi dan malah menggantungkan tangannya untuk meminta mangkuk yang berisi bubur sebagai teman untuk meminum obatnya.


Tiara mengangkat sebelah alis. Berbeda dengan Mamanya yang harus ia bujuk rayu agar mau mengisi perutnya. Laki-laki ini sungguh membuatnya ingin selalu tersenyum karena tingkah anehnya. Alfa mungkin merasa lapar dan tak puas jika disuapi.


Lelaki itu menatap istrinya dengan kepala miring. Ia sudah bisa duduk sekarang, walau gerakannya tetaplah terbatas. Punggungnya bersandarkan bantal sementara kepalanya menoleh ke arah Tiara yang tampak sedang tersenyum sambil memandangnya.


“Pencernaanku tidak bermasalah dan tanganku pun cukup kuat kalau hanya untuk mengangkat satu mangkuk berisi bubur. Jadi, aku tak akan bermanja-manja padamu kali ini hanya untuk makan.” Berkata Alfa sembari menjawil dagu istrinya.


Tiara terkekeh. “Ya. Makanlah.” Tiara mengangsurkan tangannya untuk menaruh mangkuk pada meja makan kecil yang ada di hadapan Alfa.


“Temani aku makan," ucap Alfa kemudian ketika mendapati wanita itu tengah bersiap-siap untuk beranjak dari duduknya.


Perempuan itupun tersenyum dan kembali menghadapkan duduknya ke depan. “Bolehkah aku menengok Mama sebentar saja?”


Alfa mengerutkan kening. “Mama?” Mama siapa yang wanita ini maksudkan? Jangan-jangan .…


“Mama Berta.” Wanita itu menunduk sebentar sebelum menengadah kembali. “Paru-parunya kambuh dan ia dirawat satu hari lebih lama darimu di sini. Untunglah kalian berada pada rumah sakit yang sama.” Tiara mengangkat bahu lalu tersenyum tipis. Seakan berkata seperti, apa jadinya jika kalian berada pada rumah sakit yang berbeda. Bagaimana repotnya ia harus mengantar dirinya sendiri memenuhi kebutuhan dua orang dalam satu waktu.


Alfa berdeham untuk menghilangkan rasa canggungnya. Makanan yang masih menggembung di mulutnya pun ditelannya paksa. Dengan segera ia mengakhiri makan siangnya itu lalu menenggak segelas air putih dengan kasar. Bagaimana ia bisa menjadi bodoh seperti ini dengan tidak mengetahui keadaan pelik yang tengah dialami oleh istrinya? Untunglah tadi ia tak menggoda Tiara dengan memintanya untuk menyuapinya ketika makan, karena itu pasti akan merepotkan dan ia nampak seperti lelaki jahat tak berperasaan.


“Maafkan aku.” Alfa tampak menipiskan bibirnya dan mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Merasa marah sendiri atas keadaan yang menimpanya. Marah karena tak bisa berbuat apa-apa ketika istrinya membutuhkan bantuan. “Kenapa kau tak memberitahuku Tiara? Apa yang harus aku lakukan?” Berucaplah lelaki itu dengan penuh kesungguhan.


Wanita itu mengangkat alis. “Aku tak mau kau cemas. Mungkin hari ini Mama sudah boleh kembali ke rumah. Dan, dokter sudah memberikan penanganan terbaik, jadi kau tak perlu melakukan apa-apa." Tiara menggenggam jemari Alfa. Menyalurkan keyakinannya. "Kau hanya perlu sembuh dengan cepat. Itu sudah cukup memberi semangat untukku."


Lelaki itu mengangguk. "Tapi aku akan banyak merepotkanmu nanti." Alfa beralih memandangi kakinya yang tertutup selimut. Ia teringat kembali akan secercah keinginannya untuk mempekerjakan asisten rumah tangga di rumahnya. Mungkin inilah waktu yang tepat. Ia tak mau menambah rasa bersalahnya semakin menggunung dengan membiarkan wanitanya yang mudah terserang kelelahan itu untuk mengurus segalanya.


Tiara menatap suaminya dengan bertopang dagu. "Kau tak pernah merepotkanku. Justru akulah yang telah datang ke hidupmu membawa beban bergunung-gunung untuk kau tanggung." Perempuan itu tersenyum masam. Dengan kata-kata yang pasti akan membuat Alfa murka. Lagi. Karena terlalu memandang rendah dirinya. "Aku kembali sebentar lagi." Tiara mencium pipi kanan suaminya dengan tergesa lalu beranjak pergi begitu saja sebelum Alfa sempat berkata-kata. Melangkahkan kaki keluar dari ruangan dan menutup pintu kembali.