The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 81 - Memulihkan Diri



Tiara terlihat lebih segar kali ini, setelah dengan susah payah, Alfa akhirnya berhasil membujuk wanita itu untuk bangkit dari kondisinya yang kacau setelah melihat hasil tes kehamilannya melalui test pack. Lelaki itu dengan telaten membantu istrinya untuk mandi dan berpakaian. Ia juga dengan sabar membantu mengeringkan rambut serta mengucir dengan model kegemarannya, ponytail. Dengan tidak bersemangat dan sangat terlihat tidak berselera, perempuan itu hanya menurut saja seperti boneka, tak membantah atas apapun yang suaminya itu lakukan padanya.


Hingga kini, keduanya tengah terduduk di tepi ranjang dengan Tiara yang menyandarkan kepala ke dada laki-laki itu. Sementara Alfa merangkulkan sebelah tangannya ke lengan istrinya, mengelusnya dengan gerakan ringan, sebisa mungkin menyalurkan rasa nyaman. Mereka sedang menunggu.


Alfa berkata bahwa pagi ini akan datang dua orang yang akan memeriksa kesehatan Tiara. Perempuan itu menolak dengan keras untuk melakukan pemeriksaan atau apapun yang berhubungan dengan kehamilannya. Alfa sudah bisa menebak itu, sehingga dengan segala cara dan bantuan dari Jeni, lelaki itu akhirnya berhasil menemui dokter kandungan yang bisa melayani pemeriksaan di rumahnya, dengan menjelaskan terlebih dahulu kondisi Tiara yang sedemikian rupa.


Selain itu, Alfa juga sudah berkonsultasi dengan psikiater terbaik yang ada di kota itu, sehingga nanti, dalam pemeriksaan yang harus dijalani oleh Tiara, wanita itu akan didampingi oleh satu orang psikiater, sehingga ia berharap, dua hal yang direncanakannya itu akan berhasil mulus bersamaan. Istrinya mau untuk diperiksa dengan pendampingan psikologi yang tepat.


Tiara tak banyak bicara sejak tadi ia mandi. Wajahnya yang sembap itu nampak lelah. Tak ada barang secuil nasi atau seteguk air saja yang mau ditelannya. Alfa sudah kehabisan cara untuk membujuknya lagi, wanita itu hanya berkata, nanti. Jika sudah begitu, seperti biasa, lelaki itu memerintahkan kepada pelayan bagian dapur untuk membuatkan bubur, sup, roti panggang dan susu cokelat hangat untuk sarapan ketika kelak Tiara mau duduk di kursi meja makan.


Suara ketukan di pintu membuat keduanya menoleh. Lelaki itu melepaskan rangkulannya, mengecup kening Tiara sekilas dan berjalan menyeberangi ruangan untuk membuka pintu. Tampaklah dua orang wanita setengah baya berpakaian kasual dengan atasan mengenakan blus dan rok selutut. Satu wanita berkacamata yang telah Alfa ketahui bernama Prita itu membawa satu tas hitam besar yang sudah tidak perlu ditanya lagi, pastilah ia membawa peralatan memeriksa. Dokter kedua yang mencangklong tas bahu di pundak kanannya itu adalah Wina, psikiater yang akan menemani Tiara selama proses pemeriksaan. Keduanya tersenyum hangat dan tanpa menunggu lagi, Alfa mempersilakan tamunya itu untuk memasuki kamar.


Tiara terpaku sejenak pada kedatangan dua wanita yang sedang berjalan ke arahnya. Dahinya sedikit mengernyit melihat penampilan dua orang yang sedang berjalan menghampirinya itu. Inikah dokter yang Alfa bicarakan beberapa waktu lalu? Mereka tampak sebaya dengan Tiara, dan sungguh dengan penampilan yang demikian itu, suasana tegang yang sempat menyeret wanita itu dalam kegugupan mencair sudah. Perempuan itu terlihat lebih santai dan mau langsung berinteraksi dengan keduanya.


Tiara sudah bersiap diri sebelumnya, membayangkan akan didatangi oleh paramedis berseragam putih dengan penampilan tak jauh berbeda dengan dokter-dokter yang pernah ia temui sebelumnya. Betapa ia terlihat seperti anak kecil yang sedang takut diperiksa oleh dokter. Ah, Tiara mengabaikan itu semua, karena memang, berkali-kali ia bertemu dengan dokter dan perawat beberapa waktu lalu membuatnya seolah-olah divonis oleh pernyataan bahwa status kesehatan rahimnya itu sedang sekarat. Dan hal itu membuatnya kembali bersedih.


Beberapa menit berlalu, Prita, sang dokter kandungan yang tengah mempersiapkan peralatan memeriksa itu, meminta Tiara untuk berbaring. Sedangkan Wina, psikiater yang memperkenalkan diri sebagai rekan dokter Prita itu mulai menjalankan perannya. Wanita itu mengajak Tiara berbincang dengan santai. Memulai percakapan dengan candaan-candaan yang sukses membuat istri Alfa itu tersenyum dan tertawa kecil.


“Apa itu?” Tiara menengok ke sebuah alat yang sedang diletakkan ke meja, begitu Prita selesai melakukan pengecekan tensi darah.


Tiara mengerutkan kening dan melipat bibir. Ragu-ragu untuk berkata bahwa sungguh kali ini ia tidak mau melihat gambaran USG itu. Dokter Prita paham betul dengan ekspresi wajah yang sedang ditunjukkan Tiara, sehingga ia kemudian berkata, “Anda tidak perlu melihat jika tidak berkenan. Saya hanya butuh memastikan bahwa Anda dan kandungan Anda baik-baik saja,” tukasnya.


Tiara akhirnya tersenyum dan menganggukkan kepala, lalu mempersilakan sang dokter untuk mulai memeriksa dan menulis ke buku catatan tentang laporan yang bisa ia dapat dari hasil pemeriksaan pagi itu. Prita mengoleskan sedikit cairan dingin ke perut Tiara yang telah tersingkap dan mulai mengoperasikan transducer serta melihat dengan teliti hasilnya melalui interface ponselnya. Tak lupa ia merekam semua hasil pemeriksaan dan menyimpannya ke dalam berkas. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja sampai dokter itu menyelesaikan tugasnya.


“Sudah Ibu,” ujar dokter itu sambil membersihkan gel yang masih menempel pada perut pasiennya dengan tisu. “Semuanya baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” pungkasnya.


Wanita itu kembali mengernyitkan dahi, antara percaya dan tidak percaya pada apa yang diucapkan oleh sang dokter. Apakah itu nyata? Apakah dokter ini telah memeriksanya dengan benar? Alangkah ia berharap ucapan tersebut bukan sekedar penghiburan untuknya.


“Boleh saya memiliki waktu berdua saja dengan Ibu Tiara?” dokter Wina berucap kemudian kepada Alfa yang sedari tadi hanya terdiam di samping istrinya.


Alfa menyimpulkan senyum. “Tentu saja,” jawabnya lalu mengusap lengan istrinya sejenak, berpamitan dengan isyarat untuk meninggalkannya berdua saja dengan sang dokter. Prita yang telah menyelesaikan tugasnya itu pun turut melangkahkan kaki keluar dari ruang kamar. Mendahului Alfa yang masih bercakap singkat dengan istrinya.


Alfa menutup pintu kamar perlahan. Membiarkan Wina melakukan tugasnya. Sepertinya, Alfa tidak salah memilih psikiater. Wanita itu dengan cakapnya bisa langsung menghipnotis istrinya dengan ucapan-ucapannya yang menenangkan.


Bunyi pesan masuk di ponsel yang ia sakukan ke kantung celana itu sejenak mengalihkan perhatian. Alfa tersenyum puas ketika mendapat laporan kesehatan dan juga potret citra hasil USG tadi ke ponselnya. Tak lupa Prita mengirimkan pula resep vitamin dan aneka obat untuk menunjang kesehatan calon ibu dan bayinya. Ia teramat senang bisa terus memantau kesehatan Tiara, mengetahui jika seolah Tuhan telah mengiyakan ucapannya tadi pagi yang sejujurnya penuh dengan keraguan. Istri dan calon anaknya itu baik-baik saja.


Lelaki itu menutup bibirnya yang terlipat dengan jemarinya yang terkepal, kedua matanya berkaca-kaca, melihat berulang-ulang hasil cetak USG yang dikirimkan oleh dokter itu. Ia benar-benar tak menyangka, seolah Tuhan ingin mereka berdua cepat-cepat menyambut kebahagiaan yang Tuhan kirimkan dengan tergesa. Kebahagiaan yang datang tanpa dinyana, mengiringi Tiara yang sedang tertatih-tatih memulihkan diri.