
Helmia yang sudah memegang handle mobil dan hendak masuk itu menghentikan langkahnya ketika getar ponsel di tasnya memanggil. Sejenak wanita itu mengambil alat komunikasi tersebut dari dalam tasnya dan memperhatikan nama yang tertera pada layar interface-nya. Dengan ekspresi kesal, ia mengangkat panggilan itu dan menempelkan ponselnya di telinga.
“Apakah acara pembukaan galeri Alfa sudah selesai?” suara bass pada lelaki di seberang teleponnya itu terdengar tenang. “Aku menghubunginya, tetapi ia tak mengangkat panggilanku,” resahnya.
Wanita itu mengembuskan napas panjang. “Kau memang benar-benar peduli atau hanya daripada tidak menanyakan kabar sama sekali?” cemoohnya. “Pulanglah jika kau ingin tahu.” Helmia melipat bibir dengan ekspresi terkejut, tidak menyangka karena kata-kata itu akan keluar dari mulutnya.
Terdengar tawa kecil Yunus yang membuat wanita itu malu. “Apa? Kau menginginkanku pulang? Apa kau sedang rindu?” Tanyanya dengan nada menggoda.
“Kau seperti anak kecil saja. Sudah. Aku masih banyak urusan. Tak punya banyak waktu untuk meladeni omong kosongmu.”
Helmia langsung memutus telepon begitu saja, tanpa memberi waktu bagi Yunus untuk berbicara.
Wanita itu melanjutkan kembali aktivitasnya tadi yang sempat tertunda, memasuki kabin mobil dan memerintah dengan malas kepada sopir yang sudah siap bersedia di belakang kemudi. “Ke kantor pusat,” perintahnya.
“Baik Nyonya,” jawab sopir itu langsung dengan menginjak pedal gas dan menjalankan mobil sesuai perintah sang tuan. Keluar dari gerbang besar rumah miliknya.
Helmia menyandarkan kepalanya pada sandaran jok dengan menengok ke samping, ke arah jendela kaca hitam yang memperlihatkan ramainya lalu lintas di jalan utama yang sedang mereka lewati ini. Pikirannya penuh dengan berbagai macam hal yang menumpuk dalam benaknya. Yunus sungguh keterlaluan. Baru kali ini lelaki itu dengan seenak hidungnya pergi begitu lama dalam urusannya ke luar kota. Dua bulan dan tak sekalipun suaminya itu mempertanyakan bagaimana kabar dan kehidupannya. Setiap kali ia menghubunginya, yang ada dalam topik pembicaraannya hanyalah tentang perusahaan ataupun Alfa. Padahal, selama ditinggal olehnya, Helmia benar-benar setiap hari pergi ke perusahaan untuk melakukan checking atas laporan harian dan mingguan yang diberikan oleh para karyawan. Ia merasakan tubuhnya penat luar biasa. Dua bulan ini turut bekerja keras meluangkan waktu demi mengontrol jalannya perusahaan. Wanita itu bahkan diam-diam tertidur hingga larut malam untuk melakukan riset terhadap hal-hal baru yang bisa diterapkan di perusahaannya.
Perempuan itu mendesah lalu mengatupkan mata. Sejenak memberi jeda pada ruwetnya pikirannya ketika terasa pada tubuhnya, mobil yang ia tumpangi itu berhenti. Masuk ke dalam alur kemacetan yang membuatnya lelah.
Dalam pandangannya yang gelap itu, Helmia mengingat lagi pertemuan singkatnya dengan anak lelakinya beberapa waktu lalu, ketika ia baru saja memasuki ruang galeri. Memikirkan tentang hubungan anak lelaki itu dengan Karina. Apakah tidak lebih baik jika mereka berdua segera menikah saja? Sehingga saat-saat seperti ini, ia tidak sendiri dan ada Karina yang bisa menemaninya, bukan? Tetapi, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Wajah Tiara yang selalu nampak polos itu entah mengapa begitu mengganggunya. Helmia tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada hubungan Alfa dan Tiara. Mereka belum juga berpisah. Namun, benarkah Alfa telah berubah pikiran sesuai rencananya? Ah, ia menyesal telah menuruti emosinya untuk melakukan pembicaraan empat mata dengan Tiara, sehingga selalu membuat mood-nya menjadi berantakan.
"Nyonya, sudah pukul satu siang. Apakah tidak lebih baik jika Anda menunda perjalanan ke kantor pusat dan makan siang terlebih dahulu? Kemacetan masih mengular panjang. Kita bisa berbelok ke restoran terdekat." Sopirnya itu memberanikan diri untuk unjuk bicara meski Helmia masih memejamkan mata. Lelaki itu sedikit memiringkan tubuh ke sebelah kiri, menatap tuannya yang nampak letih.
Dengan malas dan berat, perlahan kedua kelopak mata wanita itu tertarik ke atas, memperlihatkan warna kemerahan pada skleranya. "Aku tak punya banyak waktu. Nanti saja aku akan memesan makan siang setelah tiba di kantor," ucapnya.
"Baik. Saya akan mengambil jalur lain saja yang sedikit memutar, tetapi tidak terjebak dalam kemacetan," jelasnya.
"Ya. Begitu lebih baik," tuturnya dengan desahan napas panjang.
******
Yunus berdiri di belakang dinding kaca besar di pucuk gedung kantor cabangnya. Melihat dengan penuh rasa damai, pemandangan dengan dominan warna hijau yang tersuguh di hadapannya. Hamparan pepohonan dengan rumput liar merambat di atas tanah, masih diimbuhi dengan sketsa pegunungan yang dipeluk oleh awan-awan putih yang mengalungi pada pucuknya. Panorama yang tentu saja tak bisa ia temukan pada kota tempat tinggalnya.
Sungguh ia pun merindukan kotanya. Ingin bersua kembali dengan hiruk pikuk aktivitasnya serta tinggal bersama dengan istrinya kembali, tetapi, ia harus menahan sebentar lagi, hingga Alfa memberinya kabar tentang rencana yang juga tengah anaknya itu jalankan. Ini sungguh menguras energi dan pikirannya karena ia harus bekerja ekstra dengan jarak jauh seperti ini.
Dengan berat hati, akhirnya ia nonaktifkan jammer yang terpasang pada vilanya, karena tak tahan dengan omelan Helmia yang kesulitan ketika hendak menghubunginya.
Lelaki itu lantas kembali pada tempat duduknya lalu mengambil ponselnya yang terletak di atas meja. Buru-buru ia mencari nama anak perempuannya itu lalu menekan tombol pemanggil.
Setelah beberapa dering, akhirnya terdengar gemerisik dan suara Alfa menyapa di seberang telepon.
"Tiara sedang beristirahat Pa, ada apa?"
"Oh. Apakah istrimu baik-baik saja?" Tanyanya. "Papa mendadak teringat Tiara karena pemandangan tempat ini yang masih menunjukkan kelestariannya. Ia suka sekali dengan warna hijau bukan?" Lelaki itu berkata-kata dengan tetap memandang ke luar dinding kaca.
Alfa nampak melihat sejenak ke arah Tiara yang tengah tertidur pulas di atas ranjang sebelum menjawab pertanyaan papanya. "Tiara baik-baik saja dan kandungannya ... sehat. Apakah Papa sedang luang sehingga melegakan waktu untuk menelepon?"
Yunus tersenyum. "Syukurlah." Lelaki itu mengangguk tipis. "Yah, seperti inilah. Papa tidak pergi ke manapun. Hanya menyelesaikan pekerjaan yang dikirim via email dan menunggu laporan-laporan dari karyawan yang akan dikirim nanti pada sore hari," paparnya.
Alfa mengembuskan napas panjang. "Apakah Mama tidak curiga? Bukankah setiap hari ia datang ke kantor dan menganalisa semuanya?"
Yunus terkekeh. "Jangan khawatir, semua sudah diatur sebaik mungkin sehingga tidak akan ada celah yang mencurigakan. Lagipula, laporan-laporan yang diserahkan pada mamamu itu sudah diperbarui juga sesuai keadaan sekarang yang tengah direncanakan," ujarnya sembari menyandarkan kepala pada sandaran kursi di belakangnya. "Bagaimana rencanamu? Apakah berjalan sesuai seharusnya?"
"Sepertinya begitu. Mama sudah mulai mempercayai hubunganku dengan Karina." Lelaki itu mengangkat sebelah alis dan mulut menguncir ke depan.
"Bagus. Lanjutkan sampai akhir. Kau bisa membawa Tiara ke vila bersama Papa. Di sana ada banyak asisten rumah tangga yang akan melayani kebutuhan istrimu. Apapun itu," bujuknya.
Terdengar Alfa menghela napas berat. "Sejujurnya aku sangat keberatan jika harus berada jarak jauh dengan Tiara. Ia sedang hamil dan masih harus rutin melakukan check up. Apakah aku harus meminta dokter Jeni untuk mendatangi vila ketika Tiara ada di sana?" Tanyanya dengan ragu-ragu. Sungguh lelaki itu merasakan rencana ini sungguh berat. Masih ada sisa setengah rencana lagi yang harus ia jalankan dan yang terakhir ini, amatlah menyiksa batinnya. Mana sanggup ia berlama-lama membentangkan jarak antara dirinya dan kekasihnya itu, apalagi keadaan Tiara saat ini yang benar-benar membutuhkan pengawasan ekstra.
"Itu mudah saja. Bisa diatur. Papa pun mempunyai akses pelayanan kesehatan yang-"
"Tidak. Aku tetap mau dokter Jeni yang menangani semuanya karena dialah yang telah tahu pasti bagaimana keadaan Tiara sedari awal," elaknya.
"Oke. Terserah padamu saja. Jangan sungkan untuk menghubungi Papa karena Papa akan selalu siap sedia untuk membantu," ucapnya.
Alfa tersenyum miring. "Terima kasih. Jaga kesehatan Papa."
"Tentu saja. Kau pun begitu. Jaga cucu Papa baik-baik," pungkasnya lalu menutup panggilan. Yunus tersenyum masam. Ingin rasanya dalam akhir kalimatnya itu ia berkata dengan lantang bahwa dirinya begitu menyayangi anak lelaki satu-satunya itu.
Tidakkah Helmia menyadari, bahwa anak mereka kini telah berada dalam situasi yang sama dengannya dulu? Berada di satu masa penuh pengharapan akan penantian seorang putra? Oh, saat ini saja, Yunus masih selalu menganggap Alfa sebagai anak lelaki kecilnya. Bayangan akan bocah laki-laki yang selalu tertawa ketika dirinya datang itu terpaku erat dalam angan-angannya. Dan, ia tak tahu lagi harus dengan cara apa untuk menunjukkan kasih sayangnya selain dengan cara konyol seperti ini.
Semoga saja, semoga rencana terakhir ini adalah tutup buku untuk kisah kelam dalam keluarganya.