The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 55 - Bersandiwara



“Kau pernah menikah? Bercerai?” Alfa yang mendapat informasi yang sama sekali tak diduganya itu menampakkan ekspresi ternganga yang tak bisa ia tutup-tutupi. Segala pertanyaan tentang bagaimana dan apa itu berkelit dalam pikirannya. Karina pernah menikah dan dicampakkan oleh suaminya? Oh, jadi karena itulah ia menolak perjodohan ini? Pernah merasakan bagaimana terpuruknya menjadi seorang wanita yang tersakiti dan tak mau menjadi antagonis karena telah merasakan sendiri bagaimana rumitnya hubungannya dahulu dengan suaminya?


“Sepertinya kau sudah mengerti Gheo?” Wanita itu mengangkat sebelah alis ketika ditemukan dalam sekilas pandangnya, lelaki itu tengah berpikir keras dan mendapat kesimpulan atas apa yang dipikirkannya dengan ekspresi wajahnya yang menatapnya tajam.


Laki-laki itu mendeham dan mengalihkan pandangannya begitu saja.


“Ya. Begitulah.” Karina terkekeh dan menjawab sendiri pertanyaan yang ia lontarkan kepada Alfa karena tak mendapat jawaban. “Dan sekarang, kupikir kita berada dalam persoalan yang sama bukan? Kau yang harus berbakti pada orang tuamu dan aku yang harus membalas budi atas jasa Mamamu. Bagaimana jika kita bekerja sama? Terlepas dari kenyataan bahwa Helmia itu adalah Mamamu, aku hanya ingin bersikap sebagaimana mestinya saja. Seperti yang ia lakukan kepadaku, berpura-pura baik untuk meminta imbalan,” ujarnya dengan menganggukkan kepala tipis dan wajah yang dipenuhi oleh amarah tertahan.


“Aku tak mengerti. Apa sebenarnya yang kalian bicarakan?” Tiara yang sedari tadi diam menyimak itu akhirnya membuka suara. Mempertanyakan hal menjengkelkan yang sama sekali tak ia paham.


“Tiara Nichole.” Karina menatap lurus ke arah Tiara yang sedang mengerutkan kening. Memandang dirinya dan juga Alfa dengan wajah mungilnya yang penuh tanya. “Maafkan aku. Aku benar-benar tak berniat untuk turut bercampur tangan atas urusan pribadi kalian. Ini hanya tentang bagaimana membalas perbuatan orang lain dengan cara elegan. Itu saja.”


Alfa meremaskan genggaman tangannya pada punggung tangan Tiara yang berada dalam pangkuannya. Istrinya itu menoleh. Menatap suaminya dengan penuh tanya dan mimik wajah yang menunjukkan keresahan.


Alfa mengembuskan napas dengan sikap frustrasi, terlihat malas untuk mengucapkan perkataannya. Lelaki itu mendecak sebelum melontarkan kalimat pendek yang terdengar seperti pecutan petir untuk istrinya. “Mama berniat menjodohkanku dengan wanita lain untuk memenuhi obsesinya. Dialah Karina. Wanita yang saat ini ada dalam rencana Mama.” Tiara terbelalak dan refleks menatap Karina dengan pandangan terkejut luar biasa. Ada perih yang memelintir sudut hatinya ketika saat ini, dihadapannya, ada seorang wanita yang terang-terangan mendatanginya dan Alfa untuk membicarakan masalah tersebut.


“Kau jangan salah paham. Aku tidak sedang mengkonfrontasimu, apalagi memamerkan diri sebagai wanita tak tahu malu yang terang-terangan menunjukkan gelagat jahatku pada hubungan pernikahan kalian. Sama sekali tidak. Aku sedang menyusun rencana lain dengan Alfa, kuharap kau mau mengerti dan sebentar saja membuang egoismu agar urusan ini segera selesai,” sela Karina di antara pikiran dan hati Tiara yang tengah carut-marut.


Tiara tergeragap. Tak tahu apa yang hendak disampaikan kepada dua orang yang kini tengah memperhatikan dirinya. Semua hal yang ia terima kali ini membuatnya terkejut setengah mati. Ia tak habis pikir, bagaimana Alfa bisa membawanya untuk bertemu dengan Karina dan memberitahukan kabar mengejutkan itu? Apakah Alfa tak memikirkan bagaimana perasaannya?


“Aku … aku harus ke … belakang sebentar.” Dengan tergopoh dan melepaskan paksa genggaman tangan suaminya, wanita itu berdiri dan berjalan memunggungi kedua orang yang sama sekali tak menyangka, jika sikap Tiara akan sedemikian marah, ketika penjelasan dari Alfa dan Karina belum tuntas.


“Kau tahu? Tiara tengah hamil muda.” Alfa menatap Karina dengan wajah cemas dan bergegas berdiri menyusul istrinya yang berjalan cepat meninggalkannya.


“Hamil?” Karina membelalakkan mata. Menampakkan manik mata biru yang semakin jelas terlihat. “Jadi bagaimana?” Wanita itu memekikkan pertanyaan dengan suara sedikit keras, agar terdengar oleh lelaki itu yang semakin menjauh.


Alfa menolehkan kepala sejenak. Memandang dengan ekspresi putus asa. “Akan kuberitahu nanti. Tiara adalah prioritasku saat ini.”


“Astaga. Gheo. Istrimu!” Karina menjerit dan berdiri dengan cepat begitu melihat dari kejauhan, Tiara ambruk tak sadarkan diri di belakang Alfa yang tengah menengokkan kepala ke arahnya.


******


Tiara terbaring lemas dengan selang infus yang terpasang pada lengan kanannya. Ia marah. Marah dan kecewa pada suaminya. Terlebih pada wanita yang baru ditemuinya pertama kali itu dan ternyata adalah wanita yang dijodohkan oleh mama mertuanya kepada Alfa. Entah mungkin saja karena kehamilannya itu berpengaruh besar terhadap kontrol emosi dan jiwanya. Sehingga ia sensitif dan mudah sekali terbawa perasaan. Tiara memang belum mendengar lengkap penjelasan Alfa dan Karina tentang rencana mereka, tetapi, sungguhlah, mendengar kalimat Alfa tadi membuatnya shock, perutnya mual dan pening di kepala, menyekapnya begitu saja kedalam ketidaksadaran.


“Maafkan aku sayang.” Alfa mengelus kening Tiara perlahan dan mencium pelipisnya. “Aku tahu ini sangatlah berat untukmu dan … untukku juga. Namun, aku meminta, kali ini dengarkanlah penjelasanku terlebih dahulu. Aku tidak sedang merencanakan pernikahan bersama Karina. Kali ini wanita itu ada di pihak kita. Ia hanya sedang terjebak pada urusan hutang budi pada Mama sehingga Mama menggunakannya sebagai alasan untuk mengharuskannya menikahiku. Aku dan Karina hanya akan bersandiwara di depan Mama. Tak lebih dari itu,” urainya.


“Kau tahu bukan? Julius terus mengikutiku dan Karina lalu melaporkan apa saja yang kami lakukan? Kami akan berpura-pura sampai pada suatu saat nanti Mama terlena dan kami berdua akan melakukan serangan balik pada Mama. Hanya untuk memberi pelajaran pada Mama bahwa apa yang dilakukannya itu adalah sebuah kesalahan.” Alfa berkata perlahan dengan terus mengeluskan tangannya pada kening Tiara, menenangkannya. Berharap perkataannya tadi mampu memberi ketenangan pada istrinya yang tengah kalut itu.


“Bagaimana jika kau nanti benar-benar terpikat padanya dan melupakanku perlahan-lahan?” Tiara mengerutkan wajah dengan air mata yang perlahan menetes dari sebelah matanya yang telah memerah dengan kepala menengok ke samping, memalingkan wajahnya dari tatapan Alfa.


Astaga. Tiara sedang cemburu?


“Hei.” Alfa memegang pucuk dagu istrinya untuk menghadapkan wajah Tiara padanya. Lelaki itu memejamkan matanya ketika dilihat dengan jelas, ada kristal bening yang meleleh dari sebelah wajah istrinya. Merasakan hatinya tertusuk sembilu, menyaksikan rasa sakit yang tengah hinggap di hati orang yang dicintainya. “Aku tak akan menyentuhkan tanganku pada perempuan selainmu dan tak akan kubiarkan wanita lain menggodaku dan menyentuhku."


“Bagaimana jika ternyata Karina pun menjebakmu dan berbohong?” Wanita itu membalas cepat. Masih dengan kekhawatiran yang tak surut dari wajahnya. Mencemaskan segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi di masa yang akan datang. Apalagi dirinya kini tengah hamil. Bagaimana jika Alfa meninggalkannya ketika anaknya lahir nanti? Tiara mendesah. Menghirup napas panjang-panjang untuk melegakan rasa penuh di dadanya yang kian menyiksa.


“Percayalah padaku. Aku telah mengetahui dengan baik seperti apa Karina melalui tangan kananku.” Alfa kembali berucap meyakinkan.


“Kau telah menyelidikanya?” Tiara pun tak kalah untuk bertanya lagi.


“Ya sayang. Aku tak mungkin gegabah. Aku telah memikirkan semuanya dengan sebaik-baiknya. Percayalah padaku.” Alfa menyelipkan rambut-rambut Tiara yang terurai di wajahnya ke belakang telinga. Dalam satu gerakan, Alfa merengkuhkan lengannya pada Tiara hingga wanita itu menghadap padanya, meringkuk dalam rangkulan suaminya yang terasa hangat. Laki-laki itu memeluknya erat dan berbisik. “Tidurlah. Tenangkan pikirmu. Jangan bebani dirimu dengan semua persoalan ini. Biar aku yang menyelesaikannya.” Alfa mengusap kepala Tiara perlahan, berharap bahwa gerakan tersebut mampu menidurkan istrinya. “Aku mencintaimu Tiara … aku mencintaimu ….” Suara itu menggema dalam telinga Tiara hingga lambat laun wanita itu benar-benar memejamkan mata dan tertidur.


******


“Mamamu sudah sadarkan diri sekarang.” Widya berucap lirih pada Alfa yang tengah duduk di sebelahnya. Meninggalkan sejenak Tiara yang tengah tertidur pulas di ruang perawatan di sebelah kamar Berta. Mereka kini tengah berada pada kursi sofa ruang tunggu di area kamar perawatan VIP di rumah sakit tempat Tiara dan mamanya dirawat. Menunggui dengan penuh rasa cemas dan sabar, seorang dokter dan perawat yang sedang melakukan visit kepada Berta di kamarnya.


“Syukurlah.” Alfa menghela napas panjang dan memajukan tubuhnya. Menyandarkan tubuhnya dengan kedua siku yang bertopang pada kedua lutut.


“Apa yang terjadi dengan Tiara?” Widya memiringkan tubuhnya pada Alfa. Menyimak dengan antusias penjelasan yang ia harapkan akan diutarakan oleh lelaki itu. Meskipun kondisi pingsan Tiara ini bukanlah pertama kalinya, tetapi, rasa was-was selalu saja melingkupi wanita itu. Mengingat saat ini, putri dari majikannya itu tengah hamil muda.


“Ia hanya sedang kelelahan.” Lelaki itu menatap sejenak Widya yang tengah menatapnya dengan wajah penuh tanya. “Kau tak perlu khawatir. Semoga Tiara selalu baik-baik saja. Aku sudah mengusahakan apapun yang terbaik untuknya,” lirihnya.


“Ya. Aku percaya padamu. Jagalah dia baik-baik.” Widya mengembuskan napas kelegaan yang masih terdengar berat.


Bunyi pintu yang terbuka mengalihkan perhatian keduanya. Dokter dan perawat telah keluar ruangan dan menganggukkan kepala sejenak kepada Alfa dan Widya yang kini tengah menyusul berdiri, lalu beranjak meninggalkan kamar perawatan tersebut.


Tanpa ragu lagi, lelaki itu segera mendekat ke arah pintu dan menarik handle untuk membukanya. Begitu setengah tubuhnya memasuki ruangan, dahi Alfa berkerut, tetapi ekspresi wajahnya menunjukkan senyum kelegaan begitu matanya bersirobok dengan kedua pasang mata yang juga tengah menatapnya.