The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 51 - Salam Perpisahan



Ruangan itu penuh sunyi. Hanya terdengar suara alat pendeteksi jantung yang berdetak tak henti yang menjadi penanda bahwa seseorang yang tengah berbaring di ruang perawatan itu sedang berjuang untuk menggapai masa sehatnya. Tiara telah terduduk selama lima belas menit di kursi samping ranjang mamanya. Terdiam dengan segala teriakan kesakitan yang terus saja melagukan dendang kesedihan di ruang hatinya. Berta terlihat pucat dengan cekung pipi yang semakin terlihat. Lengan yang tergeletak begitu saja di samping tubuhnya pun nampak kurus, membuat anak perempuannya itu tertunduk dengan pecutan rasa bersalah karena tak bisa meluangkan waktu lagi sepenuhnya bersama Berta. Membersamai waktu mamanya itu di masa tua.


Saat ini, tak ada yang bisa dilakukan Tiara selain terus melabuhkan seluruh jiwanya kepada kekuasaan Tuhan, dengan terus melangitkan doa, semoga kabar baik lekas menjemput mamanya itu.


“Ma ….” Tiara berucap lirih, menahan isak yang hampir lolos dari bibirnya. “Tiara di sini. Ada di dekat Mama,” ucapnya sembari memegang tangan wanita itu dengan penuh kehati-hatian. “Tuhan telah menunjukkan kuasanya Ma, aku bisa kembali hamil, dan aku sehat,” lirihnya. “Meskipun … meskipun aku tak tahu, Mama Helmia bisa menerimaku kembali atau tidak dengan keadaanku saat ini yang tengah mengandung kembali cucunya,” Tiara terisak, kedua pipinya basah oleh air mata yang sama sekali tak mau peduli bahwa wanita itu ingin sekali menjadi kuat dengan menuruti Alfa agar tidak mempedulikan lagi mertuanya yang sudah terang-terangan tak menginginkannya lagi. Ia ingin seperti itu. Namun, kenyataan tentang Helmia yang menyakiti hidupnya itu terus saja menjadi hal yang mengakar dalam jiwanya. Membelenggu erat hatinya dengan rasa perih. Sudah jelas ia sakit, masih disakiti pula.


Wanita itu menengadahkan kepala, memejamkan erat kedua matanya untuk menahan agar buliran bening itu tak kembali membasahi pipi. Ia lega, meskipun baru saja, ia mengatakannya dengan Berta yang sedang tak bisa mendengarkannya. Paling tidak, segala hal yang menyumpal sesak di dadanya itu sudah ia lepaskan perlahan. Tiara mengusap kasar pipinya yang basah hingga mengering, menyekanya berulang-ulang, tepat sebelum ada suara pintu yang terbuka di belakangnya.


Tiara dengan refleks menoleh. Ia teringat akan Alfa yang satu jam lalu berpamitan untuk pergi ke Blueict studio untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Lelaki itu berkata bahwa ia akan segera kembali dan mengajak Tiara untuk memeriksakan kandungannya ke tempat dokter Jeni. Wanita itu mengira suaminya telah kembali dengan cepat. Namun ternyata, Widya lah yang kemudian muncul dari balik pintu dan tersenyum begitu melihat Tiara telah duduk di kursinya.


Widya mengitarkan pandangannya dan mengerutkan kening kemudian ketika tak menemukan keberadaan Alfa yang ia kira akan bersama dengan Tiara ketika ia meninggalkan wanita itu bersama mamanya.


“Di mana Alfa?” tanya Widya sambil mendudukkan dirinya di kursi sofa dan meletakkan beberapa barang yang ia bawa.


“Alfa sedang pergi ke studio untuk menyelesaikan pekerjaannya,” jawabnya sambil mengangkat bahu. “Mungkin ia akan datang sebentar lagi,” lirihnya sembari melihat dengan ekor matanya ke arah Berta. Memastikan bahwa obrolan mereka tak mengganggu tidur mamanya itu.


Widya menganggukkan kepala. “Makanlah.” Wanita itu memegang pundak Tiara hingga Tiara menoleh, lalu menyajikan beberapa bungkus makanan yang ia tata ke atas meja. “Kau harus menjaga kesehatanmu dengan baik. Bukankah sekarang ada bayimu juga yang harus kau jaga? Ibunya harus sehat agar bayi yang ada dalam perut pun sehat.”


Tiara membelalakkan mata. Terkejut mendengar Widya yang baru saja akan ia beri kejutan dengan mengatakan tentang kehamilannya dan malah ia sendiri yang kaget karena wanita itu telah mengetahuinya. Satu malam bertemu dengan Alfa dan Widya sudah tertular sifat lelaki itu yang suka memberi kejutan? Oh, astaga.


******


“Aku akan berhenti dari Blueict.” Satu kalimat itu berhasil membuat seluruh aktivitas Alfa terhenti. Mata cokelat muda itu memicing tajam pada Davian yang tengah duduk di hadapannya. Namun tak lama kemudian, ekspresi Alfa berubah menjadi santai.


“Ada apa?” tanya Alfa dengan mengubah posisi duduknya menjadi bersandar sepenuhnya pada sandaran punggung kursi dengan tangan terlipat di depan dada.


“Aku akan kembali ke Singapura, meneruskan usaha ayahku di sana,” jawabnya dengan memajukan tubuh dan menopangkan kedua tangan pada meja panjang di depannya. “Maaf karena aku tak bisa lagi membantumu untuk mempersiapkan acara pameran,” lanjutnya dengan desahan napas berat. “Sudah tak seharusnya aku di sini, karena apa yang kucari sudah tak bisa kudapatkan,” tukasnya dengan wajah muram.


Alfa mengangkat sebelah alis. Mengerti akan maksud kalimat terakhir yang dilontarkan sahabatnya itu. “Ya. Memilih itu adalah hakmu dan aku tak bisa melarang. Semoga kau segera bertemu dengan seseorang yang bisa menjadi pendamping hidupmu nanti,” balasnya dengan senyum miring.


Davian menunduk dalam keheningannya sendiri. Merasakan betapa bodoh dirinya karena telah dengan berani menodai persahabatannya dengan pengkhianatan walaupun ia belum sempat melakukan rencananya sampai akhir. Sesak yang ia rasakan semakin membuncah ketika mendengar Alfa berkata demikian. Walau bagaimanapun, cara terbaik untuk bisa melepaskan adalah dengan meninggalkan. Memutus semua tali yang terikat dan melangkah menjauh serta tidak lagi menoleh ke belakang. Davian sudah memulai tekad itu dan harus ia wujudkan segera.


“Terima kasih,” ujarnya. “Bagaimana istrimu? Apakah ia baik-baik saja?” tanyanya kemudian. Sejujurnya, Davian ingin sekali saja bertemu dengan perempuan itu untuk terakhir kali. Kilasan kejadian di mana Tiara sedang terpuruk ketika mendapat pengusiran secara nyata dari Helmia itu masih menghantui dirinya. Bagaimana mereka kini setelah sekian lama? Apakah hubungan Alfa dan Tiara baik-baik saja?


Alfa menyeruput kopi hitam di depannya perlahan. “Apa kau tak tahu jika aku tahu semuanya?” tanya Alfa perlahan yang membuat Davian terkesiap.


“Apa … apa maksudmu?” Davian mulai dilanda kegugupan ketika ekspresi Alfa berubah keras dan menatapnya dengan tatapan setajam elang yang menusuk seolah sudah siap menghadang mangsa.


“Terima kasih karena kau telah mengundurkan diri terlebih dahulu sebelum aku mengusirmu. Ternyata kau masih punya urat malu sehingga kau sadar diri untuk segera enyah dari sini,” sergah Alfa yang mendapat reaksi ternganga dari laki-laki di depannya.


Davian tak menyangka, kepergiannya dengan niat baik-baik ini ternyata disambut oleh sikap Alfa yang sedemikian keras. Dan ia lebih tak mengira lagi bahwa ... Alfa tahu semuanya?


“Aku sudah menunggu. Aku sudah dengan sabar menunggu waktu hingga kemarahanku ini siap meledak dan menghancurkanmu!” Alfa berdiri dari tempatnya dengan kedua tangannya menggebrak meja hingga cangkir-cangkir kopi yang ada di atasnya pun turut berdenting hingga bergeser beberapa mili karena gerakan kasar tersebut.


Lelaki bermata biru itu memundurkan tubuhnya yang masih terduduk di kursi ketika mendapat ancaman dari sahabat di depannya. Jantungnya berdebar cepat seakan akan meloncat dari tempatnya ketika Alfa mendekat ke arahnya.


“Ini ucapan terima kasihku karena telah berhenti sampai di sini.” Alfa meninjukan pukulannya tanpa ampun hingga terdengar bunyi seperti tulang yang patah pada pipi Davian yang putih itu. Menggema pada ruang studio yang kini hanya berisikan mereka berdua.


Davian memejamkan mata, menerima pukulan keras itu menghujam pipinya. Ia tak melawan. Pasrah begitu saja atas apa yang Alfa lakukan padanya. Ia tahu ia telah bersalah dan semoga saja, kemurkaan lelaki itu bisa menjadi penebus rasa bersalahnya yang sepertinya tak akan terbayar begitu saja dengan hal seperti ini. Apa saja yang menyangkut hati, pastilah akan melekat di sana hingga akhir nanti.


“Dan ini … adalah sebagai salam perpisahan dariku!” Alfa memukulkan kepalan tangannya sekali lagi. Meninggalkan bekas lebam dan darah yang mengalir dari ujung bibir lelaki itu.


“Semoga aku bisa memaafkan!” Alfa mengibaskan tangannya seolah merasa risih karena telah menyentuhkan tangannya ke pipi lelaki itu. Tanpa berkata-kata lagi, Alfa melenggang pergi dan tak menolehkan kepala lagi pada sahabatnya itu yang kini terdiam menyaksikan kepergian Alfa dengan mata berkaca-kaca.