
Karina.
Tiara mengatupkan kedua matanya rapat, mengenyahkan keterkejutan menjengkelkan yang baru saja melandanya. Wanita itu lalu mengembuskan napas panjang dan perlahan mengarahkan tatapannya ke wanita berambut pirang dengan mata blue sapphire tersebut.
“Kau mengagetkanku,” ketusnya.
“Maaf Tiara. Aku hendak menjengukmu, tetapi aku tak tahu bahwa ternyata kau sudah tidak ada di ruang perawatan,” ujarnya dengan senyum masam. Karina merasa bersalah karena dirinyalah penyebab Tiara harus menjalani perawatan setelah wanita itu pingsan di sebuah resto beberapa hari lalu. Namun, ia pun tak berani langsung datang mengunjunginya, takut jika Tiara akan kembali shock.
“Untuk apa? Aku sudah tahu semuanya,” balasnya. “Aku ada sesuatu yang harus kuambil di dalam,” Tiara membuka pintu di belakangnya, meninggalkan Karina yang masih mematung di tempatnya. Wanita itu kemudian menyandarkan tubuhnya pada dinding di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada sembari menunggu Tiara yang entah tengah mengambil apa di dalam sana.
Setelah keluar beberapa menit kemudian, tanpa berkata-kata lagi, Tiara berjalan begitu saja mengabaikan Karina yang masih menantinya, berjalan dengan cepat berharap segera enyah dari tempat tersebut dan tak bertatap muka lama-lama dengan wanita yang sudah setengah jengkel dan setengah tak enak hati menerima perlakuan dingin Tiara kepadanya.
“Tiara! Tunggu dulu!” Karina mengikuti langkah dengan berjalan cepat pula di belakang istri Alfa itu. Saat jangkauan tangannya telah berhasil memegang tangan Tiara, akhirnya keduanya pun menghentikan langkahnya dengan paksa.
“Aku harus mengantar mamaku pulang. Aku tak punya banyak waktu, mereka pasti telah menungguku,” pintanya dengan nada gusar dan muka berkerut ketika Karina ternyata begitu gigih ingin mengajaknya berbicara.
“Sebentar saja, kumohon.” Wanita model dengan postur tubuh dua sentimeter lebih tinggi dari Tiara itu memelas, menampakkan muka memohon dengan penuh kesungguhan hingga akhirnya, Tiara memejamkan mata sejenak dan mengembuskan napas panjang. Meredakan segala bentuk emosi yang tiba-tiba saja menggayuti hatinya.
Karina yang melihat Tiara telah bersikap tenang itu pun mulai berbicara. “Aku hanya ingin meminta maaf karena secara tidak langsung aku telah masuk ke dalam urusan rumah tanggamu dengan Alfa. Aku hanya ingin menegaskan bahwa aku tak berniat apa-apa dan benar-benar tulus untuk membantu persoalan kalian,” urainya dengan dahi berkerut. Tiara hanya mengangguk tipis dan menipiskan bibir. Terlihat sangat enggan untuk berbicara dengan wanita itu. “Maaf jika mungkin dalam beberapa kesempatan, aku akan dekat dengan Alfa. Kau tahu bukan? Ini hanya kerja sama. Aku dan Alfa sedang menyelesaikan permasalahan bersama yang kebetulan melibatkan mama mertuamu, aku tak ingin ada kesalahpahaman,” jelasnya lagi.
Tiara menatap lurus Karina yang masih memandang kedua bola matanya dengan pandangan resah, berharap wanita itu mau mengerti. “Ya.” Tiara mendesah. “Kau pasti sudah paham. Ini bukanlah persoalan sederhana dan mama mertuaku bukanlah mesin yang bisa di-setting begitu saja ketika kita menginginkan sesuatu padanya. Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi, meskipun aku pun tengah mencoba untuk meyakinkan diriku sendiri dan optimis bahwa semua ini akan terselesaikan dengan baik,” ucapnya lirih dengan suara serak. “Apa jaminanmu hingga kau bisa meyakinkanku bahwa kau tidak akan mengkhianatiku?” seru Tiara dengan nada resah.
Tiara memalingkan muka. Peristiwa traumatis yang ia alami ketika Nelly hampir saja mencelakai Alfa itu membuatnya menjadi sulit untuk percaya begitu saja kepada wanita yang hendak dekat dengan suaminya. Hatinya sudah tidak utuh lagi, pernah dirobek oleh sayatan sembilu yang seakan turut membelah jiwanya juga. Menyisakan bekas luka yang tidak akan pernah pulih seperti sedia kala. Keberadaan orang ketiga dan kebencian Helmia sungguh membunuh rasa percayanya sehingga sebenarnya sampai saat ini, Ia masih begitu berat melepaskan Alfa begitu saja.
“Jaminanku adalah diriku sendiri. Segenap jiwa ragaku.” Karina membuka telapak tangan Tiara dan meletakkan satu buah benda kecil di sana. Tiara memperhatikan telapak tangannya yang kini memegang benda hitam kecil itu, lalu kembali memandang karina. “Tenanglah Tiara, aku pun pernah mengalami masa yang lebih buruk darimu,” ujarnya. “Aku menyimpan semua dokumen pribadiku pada benda itu. Semua hal tentang model dan kehidupanku ada di sana. Kau bisa pegang ucapanku atau kau bisa menghancurkanku dengan itu, tetapi, percayalah, aku adalah orang yang bisa dipercaya,” mohonnya.
Tiara tampak melihat lagi flashdisk mini yang kini telah ada di tangannya. Berpikir dengan mengumpulkan segenap akal sehat dan mencoba untuk menipiskan sejenak egonya dalam penyelesaian persoalannya kali ini. Beberapa detik kemudian, wanita itu pun menengadahkan kembali tatapannya lalu memindai keseluruhan wajah Karina dengan teliti. “Baiklah. Mungkin kali ini aku harus percaya,” ucapnya kemudian melangkah meninggalkan Karina yang tengah menghela napas lega.
Sungguh ada rasa ngilu yang tengah merangkul Karina saat ini, ketika menyaksikan pasangan suami istri itu yang seharusnya sudah hampir menggapai kebahagiaan sempurna dengan Tiara yang telah mengandung anak mereka, tetapi, yah, nasib siapa yang tahu.
******
Alfa mengembuskan napas kasar setelah mendapat laporan dari Leon bahwa Tiara dan Karina baru saja bertemu. Tidak terjadi sesuatu yang membahayakan, karena dari sekilas jauh Leon mengintai pertemuan keduanya, hanya nampak pembicaraan singkat yang sepertinya tak begitu dikehendaki oleh Tiara karena dua kali wanita itu menghindar dari Karina. Kehamilan ini membuat istrinya itu lebih galak dari biasanya dan ia mengerti, Tiara merasa terganggu dan keberadaan Karina adalah sebuah ancaman, meskipun sudah berkali-kali ia katakan bahwa semuanya hanyalah permainan di balik layar saja.
Lelaki itu kembali berkutat dengan software di layar komputernya untuk melakukan editing pada foto-foto hasil jepretannya sebelum kemudian nantinya ia serahkan pada klien. Ada begitu banyak pekerjaan yang harus ia lakukan saat ini yang begitu menguras pikiran dan tenaganya. Beberapa kali ia mendapat telepon dari nomor tak dikenal yang memesan tanggal pada tim fotografernya untuk mengantri foto pada mereka. Hari pembukaan pameran pun semakin dekat, dua puluh empat jam terasa amat kurang baginya untuk kesibukannya akhir-akhir ini.
Getar ponsel lagi-lagi mengganggu konsentrasi. Sampai beberapa kali dering, panggilan itu diabaikannya begitu saja membuat meja kerjanya turut bergetar. Diliriknya sekilas melalui ekor matanya bahwa yang meneleponnya kali ini adalah Mamanya.
"Siapa? Jawablah, siapa tahu penting," Dony yang duduk berhadapan dengan Alfa itu menghentikan sejenak aktivitasnya di depan laptop, memperhatikan dengan penuh tanda tanya, Alfa yang kali ini mengabaikan panggilan telepon.
"Hanya mamaku, bukan klien, akan kuhubungi kembali nanti," jawabnya singkat tanpa mengalihkan perhatian sebentar saja kepada temannya itu. Dony hanya mengangkat bahu dan mencoba untuk acuh.
Setelah ponselnya berhenti berdering dan Mamanya kembali melakukan panggilan, lelaki itu lantas menekan tombol pada earphone-nya dan mendengarkan mamanya berbicara.
"Sedang apa kau? Mengapa mengangkat telepon saja lama sekali?" Cerocosnya.
Alfa mengembuskan napas kasar dan menjawab dengan malas. "Aku ada di studio Blueict dan sedang bekerja. Ada banyak hal hari ini yang harus kulakukan. Ada apa Mama meneleponku?" Tanyanya sambil menyandarkan tubuh pada sandaran kursi.
"Kau ini. Mati-matian mempertahankan uang yang tak seberapa dan mengabaikan peluang besar yang sudah jelas-jelas ada di genggamanmu. Mau sampai kapan kau begitu?" Cemoohnya dengan nada ketus seperti biasa.
"Mama hanya mau membicarakan hal itu lagi? Maaf sepertinya aku harus menutup telepon karena aku benar-benar sibuk." Alfa memejamkan mata. Merasakan lelah yang bertubi-tubi menghajarnya.
"Tunggu dulu. Mama hanya ingin bertanya, apakah Kau benar-benar mengundang Karina dalam acara pembukaan pameranmu?"
Seperti yang ia duga, Helmia benar-benar menanyakan hal tersebut.
"Iya. Ada apa?" Alfa menjawab cepat.
"Baguslah. Karina salah satu dari deretan model ternama yang bisa menjadi inspirasimu dalam banyak hal. Ia juga wanita yang baik. Mama senang mendengar kau ternyata mulai dekat dan mengundangnya dalam acara pentingmu," pujinya.
Helmia ingin memastikan, mendengar melalui mulut Alfa sendiri tentang kabar baik yang tak mau ia lewatkan ini. Dan ia sungguh bahagia karena Karina telah menjalankan perannya dengan baik.
"Apa Mama sedang memiliki waktu luang dan bisa datang juga ke acaraku?" Lelaki itu berkata sambil menutup layar laptopnya.
"Tentu saja mama akan hadir," ucapnya dengan mantap.
"Baik. Terima kasih. Sampai jumpa esok," pungkas Alfa dalam sambungan teleponnya diiringi gumaman yang menjadi jawaban Helmia atas perkataan lelaki itu.
Hening kemudian ketika sambungan telepon itu usai. Alfa lantas berdiri dan mengangsurkan flashdisk ke atas meja Dony.
"Sudah kuselesaikan semua. File JPG, PNG, dan file jadwal permintaan klien telah kupindah ke situ. Aku pulang dulu." Alfa tersenyum lalu melangkah meninggalkan ruang kerja itu ketika gelap telah menantinya di luar gedung.
"Oke." Dony mengambil benda kecil tersebut lalu menancapkannya pada laptop di depannya.
Alfa melangkah dengan gontai ke arah mobil yang ia parkirkan di pojok basement. Sekilas ia memperhatikan jam tangan yang terpakai di pergelangan tangan kirinya. Oh, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Hampir dua belas jam lelaki itu meninggalkan Tiara. Semoga perempuannya itu baik-baik saja.
Alarm di ponselnya mendadak menyala ketika hampir lelaki itu memencet Fast Key-nya. Hari pemeriksaan rutin ke Dokter Jeni. Ah, ya, ia hampir melupakan hal sepenting itu karena kesibukannya. Esok hari ia pastikan akan membawa istrinya itu untuk memeriksa kandungan sebelum lusa ia akan disibukkan kembali dengan kegiatan persiapan acara pamerannya.
Setelah mesin mobil menyala, Alfa segera menginjak pedal gas dan melaju kencang menuju rumahnya, tak sabar untuk melepas penat yang terbumbui oleh rasa rindu yang selalu saja menemaninya setiap kali ia pulang bekerja.