
“Tidak apa-apa, istri Anda hanya mengalami shock dan tensi darahnya menurun,” jelas singkat Prita sembari melepaskan earpieces dari kedua telinga. “Saya akan menambahkan multivitamin karena sepertinya hemoglobin Ibu Tiara masih dalam keadaan rendah. Jangan lupa untuk terus meminta istri Anda mengonsumsi makanan seperti yang sudah saya resepkan agar kadar protein sel darah merahnya terus meningkat. Kemungkinan, bulan depan akan saya cek kembali, dan semoga hasilnya semakin membaik,” paparnya, lalu mengemas kembali peralatan memeriksanya.
Alfa hanya mengangguk tipis, lalu kembali memandangi Tiara yang masih mengatupkan mata. “Dokter,” panggil lelaki itu dengan mimik wajah berkerut.
“Ya,” jawab dokter wanita itu dengan menengokkan kepala, menghentikan aktivitasnya sejenak.
“Apakah kandungan Tiara benar-benar tidak ada masalah?” Alfa berdeham sebelum melanjutkan kembali kata-katanya, “Maksudku, tidak perlu ada tindakan penjahitan leher rahim atau semacamnya? Dokter tentu sudah melihat dengan lengkap seperti apa riwayat kehamilan istriku sebelum-sebelumnya dan keadaannya begitu kompleks,” tukasnya.
“Sejauh ini pemeriksaan yang saya lakukan menunjukkan bahwa kondisi rahim serta janin dalam keadaan sempurna sehat, hanya saja, kemungkinan besar proses kelahiran akan kembali dilakukan dengan cara bedah cesar mengingat jarak kehamilan ini dengan proses kelahiran sebelumnya terlalu pendek.”
“Benarkah?” Alfa bertanya kembali dengan ekspresi yang menunjukkan ketidakpercayaan. Menanggapi perkataan sang dokter tentang kata ‘sempurna sehat’ yang seakan-akan belum pernah ada dalam glosarium mereka selama ini.
Prita tersenyum hangat. Mengerti benar akan kekhawatiran yang sedang melanda laki-laki itu. “Mengapa Anda begitu pesimis? Yakinlah semuanya baik-baik saja, maka hal itulah yang akan terjadi.”
Alfa mengembuskan napas dan menarik kedua ujung bibirnya melebar. Mencoba untuk menumbuhkan kelegaan yang sepertinya masih enggan untuk merapat. Ia hampir gila karena Tiara baru saja mengejutkannya dengan kondisinya yang tak sadarkan diri. Dan Prita mengatakan dengan mudahnya bahwa Tiara dan bayinya baik-baik saja? Oh, sungguh ini adalah shock therapy yang sukses membuat jantungnya hampir meloncat keluar dari rongga dada.
Lelaki itu memejamkan mata. Merapal ucapan sang dokter yang begitu meyakinkannya itu berkali-kali dalam hati. Ya. Inilah yang ia tunggu. Semesta telah menjawab keinginannya. Tuhan seakan sedang mengangkat hidup mereka perlahan hingga ke arah kebahagiaan yang belum pernah ia terima dan membuat Alfa tidak percaya. Seolah hidup keduanya yang selalu terliputi oleh ketidakbaikan itu membuat mereka terbiasa, sehingga setitik kabar baik ini adalah celah yang menampilkan sorotnya yang benderang, menerobos masuk ke dalam hati, menghangatkan dan menyinari kegelapan jiwanya dari keputusasaan yang begitu panjang, membuatnya terkesima dengan penuh takjub. Inikah keajaiban setelah kesusahannya beberapa waktu lalu?
“Selamat beristirahat,” ujar Prita kemudian, menyentak lamunan laki-laki itu. “Saya permisi dulu,” pamitnya dengan menganggukkan kepala, menyunggingkan senyum dan berjalan keluar ruangan.
“Terima kasih.” Alfa berkata tergagap-gagap dengan tanpa beranjak dari tempatnya, masih dengan posisi duduknya di tepi ranjang. Lelaki itu hanya menoleh sekilas ke arah Prita yang sudah berjalan menjauh dan kembali memandangi istrinya. Pelayan yang mengetahui dokter itu telah menyelesaikan tugasnya pun segera menutup pintu kamar dan mengantar sang dokter hingga sampai pada kendaraannya yang terparkir di halaman vila.
Alfa membaringkan tubuh dengan posisi miring menghadap istrinya. Turut bergelung ke dalam rongga selimut dan menutupkan kain tebal itu hingga sebatas dada. Lelaki itu mencium pelipis Tiara sejenak dan memelukkan tangannya ke atas perut wanita itu. Mengusap-usapnya pelan, mencurahkan kasih cintanya yang begitu penuh sampai-sampai membuat dadanya sesak, memaksa buliran kristal merebak dalam kelopak mata hingga akhirnya mengalir turun seiring kedua matanya yang terpejam. Gerakan lembut itu terus ia usapkan dan berhenti dengan sendirinya ketika Alfa ikut terlelap.
******
Tunggu. Tiara menurunkan lagi kedua tangannya yang menggantung di udara. Ia seperti pernah mengalami ini sebelumnya, bersama dengan Nadianya yang akhirnya pergi menyisakan kekosongan di hatinya. Wanita itu menggelengkan kepala pelan, menolak dejavu yang kini menyergapnya kembali dengan tiba-tiba.
Tidak. Ia tidak mau lagi patah hati. Tiara sudah jera dengan keadaan kecewa. Perempuan itu menatap sosok yang ada di depannya dengan wajah berkerut. “Kau … kau akan pergi?” Tanyanya dengan seruan tertahan yang membuat dadanya kembang kempis, bersiap untuk kembali merasakan kehilangan yang baginya telah menghadang.
Sosok kecil itu terpaku. Belum juga menurunkan sebelah tangannya yang telah hampir mencapai tangan Tiara ketika ia menyambut uluran tangan wanita itu. Wajahnya memerah, kedua matanya basah.
Tiara membalikkan badan dan menutup muka. Mengatupkan mata rapat-rapat, bersiap menerima kegelapan yang sebentar lagi akan menghampiri. Namun, hingga beberapa detik berlalu, tak ada apa-apa yang menyerbu, justru lirih ia dengar suara tangisan samar yang berasal dari arah belakang.
Perempuan itu dengan cepat membalikkan badan, dan betapa terkejutnya ia melihat anak laki-laki itu menangis. Ah, mengapa ia terisak-isak seperti itu? Tiara berada dalam keadaan bingungnya sejenak. Mendekat kembali dalam upaya menghentikan tangis anak kecil tersebut. Dilihatnya dengan lekat kedua manik mata cokelat mudanya yang seperti bola sihir. Menghipnotis wanita itu dalam keterpakuan antara rasa ingin tahu dan kedekatan dalam hatinya yang entah mengapa begitu akrab dengan anak tersebut.
Bocah itu kembali tersenyum. Memeluk dengan cepat ke kedua kaki Tiara hingga membuat perempuan itu terkejut. Apakah … apakah anak laki-laki itu ….
Tiara membuka mata lebar-lebar dan ia kaget begitu merasakan tendangan yang begitu keras di sebelah kanan perutnya. Waktu masih menunjukkan pukul dua dini hari dan seperti biasa, bayi kecilnya itu selalu membangunkannya tepat pada jam yang sama.
Ia bermimpi lagi. Mimpi yang sama lagi. Wanita itu lantas mengusap perutnya sejenak, menoleh cepat ke kanan tubuhnya di mana wajah Alfa ternyata begitu dekat, dengan sebelah tangan lelaki itu memeluk perutnya. Rasa panas yang hinggap dalam tubuh membuat Tiara menyingkapkan selimut dan mengangkat tangan suaminya perlahan. Perempuan itu memiringkan tubuh ke arah kanan, hingga kini keduanya tidur berhadapan.
Tiara memandangi wajah suaminya yang terlelap. Lelaki itu tertidur tenang dengan dengkuran napas teratur yang memperlihatkan kepasrahannya tanpa beban. Wajah itu … Oh, Tiara mengingat terakhir kali ia menatap raut muka suaminya yang penuh dengan rasa cemas dan ketakutan ketika ia memuntahkan isi perutnya di kamar kecil lokasi pesta Karina semalam.
Ingatan itu membawanya kembali di mana ia melihat dengan jelas bola mata cokelat muda anak laki-laki yang sudah beberapa kali menemuinya dalam mimpi itu, dan Tiara barulah menyadari bahwa warna cokelat mudanya mirip sekali dengan milik Alfa.
Wanita itu tersenyum dan mengelus perutnya sebentar. Apakah anak kecil itu adalah gambaran anaknya kelak? Apakah benar bahwa mereka akan bisa bertemu dan menemui keakraban seperti dalam mimpi itu?
Tiara kembali terkesiap ketika seolah ada bagian yang lancip dari dalam perutnya yang menyikut perutnya. Refleks wanita itu menekuk kakinya karena rasa geli hingga membentur kaki Alfa yang ada di dekatnya. Tanpa diduga, Alfa menggerakkan kembali tangannya mengelus perut istrinya, laki-laki itu membuka kelopak matanya beberapa mili, memaksa untuk membuka mata, padahal ia masih tertidur sepenuhnya. Kening laki-laki itu berkerut, seperti sedang merasa bersalah karena ia tertidur dan lupa untuk mengusap perut istrinya. Wanita itu tak bisa menahan diri untuk tertawa kecil, mendapati tingkah suaminya yang begitu menggemaskan ketika tertidur.