The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 80 - Panik



Perjalanan pulang kembali ke Kota Bunga cukup melelahkan. Udara panas dan berdebu berkat musim yang telah beralih itu membuat tubuh banyak mengeluarkan keringat dan mudah merasakan letih, tetapi, agaknya hal itu terobati oleh suasana sejuk di lokasi vila berada. Tempat itu tak bosan menyuguhkan udara segar walaupun angin muson timur telah bertiup melewati garis khatulistiwa.


Alfa tak henti-hentinya memerhatikan aktivitas Tiara sejak mereka tiba di garasi vila. Sungguh lelaki itu khawatir istrinya akan terantuk ketika tak berhati-hati melangkah melewati undakan-undakan yang tertata di dalam ruangan. Padahal, di hari-hari biasa, lelaki itu tak sempat terpikir pada keselamatan istrinya sampai pada hal remeh seperti itu. Namun, keadaan wanita itu yang sedang berbadan dua sungguh membuat jiwa posesifnya menyala, tetapi, sekali lagi, Alfa luar biasa bimbang dan masih berpikir mengenai cara terbaik untuk menyampaikan berita itu, meski mulutnya sungguh sudah sangat tergelitik, bak hati gatal, mata digaruk.


“Hati-hati.” Alfa mengerem langkah Tiara yang sedikit berlari-lari kecil pada tangga dengan memegang lengan istrinya. Lelaki itu mengerutkan kening dengan senyum kecil. Tiara memandangi suaminya dengan ekspresi heran, menatap tangannya yang masih dipegang erat oleh lelaki itu.


“Aku baik-baik saja Alfa, kenapa kau tampak khawatir seperti itu?” Tanyanya dengan mengernyitkan dahi. Dirinya tak habis pikir, sikap Alfa menjadi begitu aneh dengan terus memerhatikannya semenjak ia terjatuh pingsan beberapa waktu lalu. Apakah dokter yang memeriksanya mengatakan sesuatu yang tidak baik mengenai keadaannya? Mengapa suaminya menjadi begitu posesif seperti ini?


Tiara yang masih berdiri memiringkan tubuh dari posisi Alfa itu lalu menurunkan sebelah kakinya yang telah menginjak satu anak tangga di atasnya hingga kini ia menghadap lelaki itu sepenuhnya. Kedua matanya yang masih bersitatap dengan manik mata cokelat muda Alfa itu semakin menyelisik. Ya. Suaminya itu sedang mengkhawatirkannya. Wanita itu tak bisa menahan untuk tak mengubah mimik wajahnya menjadi masam.


“Kedua matamu itu tak bisa membohongiku Alfa,” ujar wanita itu dengan menatap lurus ke depan, memandangi bergantian ke kedua mata suaminya yang nampak sayu. “Katakan padaku, apa yang dokter itu bicarakan denganmu. Apakah keadaan tubuhku semakin memburuk?” resahnya.


Alfa berdeham, mengalihkan pandangannya dari tatapan Tiara yang ternyata sudah berhasil menembus ke kedalaman hatinya. Lelaki itu berusaha untuk menarik bibirnya hingga menampilkan senyuman paksa yang sangat kentara. “Kau lelah bukan? Aku hanya takut jika kau sampai jatuh dan terluka,” ucapnya.


Tiara mendesah. Tidak puas dengan jawaban Alfa yang masih saja terlihat menyembunyikan sesuatu darinya, menutup-nutupinya sampai ia kesal setengah mati karena sikap Alfa yang demikian menjengkelkan. “Oke. Aku akan berjalan pelan dan hati-hati. Tolong lepaskan,” perintah wanita itu sembari menggerakkan tangannya.


Alfa yang tersadar jika tangannya masih memegang lengan istrinya itu kemudian melepaskannya perlahan dan mengembuskan napas panjang. Membiarkan Tiara kembali melangkah menaiki tangga hingga tubuhnya tak nampak lagi di balik dinding. Lelaki itu tak henti-hentinya menarik udara banyak-banyak untuk menenangkan kegelisahannya yang telah sampai ke ujung. Tidak mungkin ia akan diam saja dan membiarkan istrinya mengetahui kehamilan dirinya seorang diri dengan perutnya yang semakin membesar bukan?


Sepertinya, ia harus melakukan sesuatu agar trauma wanita itu segera sembuh, mengingat kondisi Tiara sekarang yang mengharuskan tubuh, jiwa, dan hatinya jauh dari kecemasan berlebih yang tentu saja tidak baik untuk kesehatan diri Tiara sendiri dan calon anaknya. Lelaki itu mengacak rambut dengan frustrasi. Rasa kantuk, lelah, dan segala persoalan yang harus ia selesaikan itu menggerogoti staminanya perlahan hingga kini Ia menjadi sulit untuk sekedar berkonsentrasi dan berpikir.


******


Tiara melangkah dengan tersuruk-suruk menuju ruang kamar mandi. Takut jika Alfa sampai terbangun karena bebunyian yang timbul dari pergerakannya. Hari masih begitu pagi dan wanita itu yakin, suaminya sebentar lagi akan terbangun. Oleh karena itu, ia harus cepat-cepat sebelum aktivitasnya diketahui oleh suaminya. Wanita itu menenteng tas plastik kecil dan menggenggamnya di depan dada. Berjinjit hingga sampai dalam kamar mandi dan menutup pintu dengan pelan.


Perempuan itu mengembuskan napas lega dan bersandar pada pintu yang baru saja ditutupnya. Kedua matanya mengatup rapat sejenak, menenangkan debaran jantungnya yang terpacu cepat. Tubuh ia dudukkkan begitu saja di atas karpet kamar mandi sambil lalu ia mengamati dengan nanar tas plastik yang ada dalam pangkuan. Tangan kanan ia masukkan ke dalam kantung plastik, kemudian ia keluarkan lagi, begitu hingga beberapa kali sampai ia merasa putus asa akan keputusannya sendiri. Sempat terlintas dalam pikirannya untuk membuang saja benda itu, sebab, rasa penasaran dan takutnya hampir mendekati prosentase yang sama. Lima puluh persen banding lima puluh persen, yang membuatnya super kebingungan.


Suara di dalam kamar yang mendadak masuk sampai ke gendang telinga Tiara membuat wanita itu dengan segera berdiri dan menyambar kran air, menghidupkannya hingga menimbulkan suara pantulan keras antara air yang mengalir deras dan porselen wastafel. Alfa telah terbangun. Perempuan itu dengan gelagapan dan tangan gemetar segera mengeluarkan benda kecil itu hingga saat ini telah tergenggam.


Alfa yang menggeliatkan tubuh dan mengetahui Tiara telah terbangun pun segera duduk, mengucek matanya yang masih berat untuk terbuka. Ia tengok jam bundar dengan hiasan kristal di tepi-tepinya itu dengan kerutan di dahi. Masih beberapa menit lagi hingga fajar menyingsing di langit timur. Tiara sudah bangun dan … lelaki itu menoleh ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Istrinya sudah mandi pagi-pagi sekali?


Disibakkannya selimut hingga terlemparlah ponselnya memukul sudut meja nakas di samping tempat tidur sampai terdengar gemaan suara nyaring. Dengan malas ia pungut kembali alat komunikasinya itu dan diletakannya di meja nakas. Lelaki itu berjalan dengan gontai keluar kamar dan masuk ke dalam kamar sebelah. Alfa menghidupkan saklar lampu ruangan itu dan langkah langsung membawanya ke ruang kamar mandi di seberang ruang. Mengguyur tubuhnya dengan air hangat, berharap tubuhnya segar kembali untuk memulai aktivitas. Pantaslah Tiara mandi sepagi ini, karena memang sepertinya cuaca sedang tidak bersahabat.


Alfa masuk kembali ke kamarnya dua puluh menit kemudian dengan masih mengenakan bathrobe dan sebelah tangannya menggosokkan handuk ke kepala. Lelaki itu bersiul-siul kecil. Alangkah menyenangkannya pagi ini jika mereka nanti bertemu kembali sudah dalam keadaan tubuh mereka yang segar.


Langkah lelaki itu terhenti. Kedua alisnya terangkat demi tidak menemukan Tiara di ruangan kamar. Belum selesai mandi?


Rasa cemas mendadak menyelinap ke lubuk hatinya. Apa yang sedang dilakukan Tiara selama itu? Apa yang terjadi? Alfa menjangkahkan kaki lebar-lebar mendekati pintu kamar mandi dan melempar handuk ke sembarang arah. Tubuhnya yang telah siaga untuk mendobrak pintu itu terkejut ketika ternyata pintu tidak terkunci. Matanya membelalak melihat apa yang ditangkap oleh penglihatannya.


Tiara terduduk meringkuk dengan kedua tangan memegangi kepala dengan rambutnya yang berantakan. Napasnya tersengal mencoba untuk terus mengambil udara dengan benar. Lebih dari semua itu, mata tajam Alfa yang sedang mengamati Tiara itu langsung menyipit melihat benda kecil yang sepertinya terjatuh dari genggaman istrinya. Ia lihat dekat-dekat dan mulutnya terbuka lebar begitu melihat arti dari dua carik garis yang dimunculkannya. Tiara mengecek sendiri kehamilannya menggunakan test pack? Astaga, bagaimana istrinya itu bisa mengetahui rahasia yang masih disimpannya rapat-rapat tentang kehamilannya itu?


Alfa melepas tangan dingin istrinya dari cengkeraman di kepala dan mendongakkan wajahnya. Oh, hatinya perih, melihat raut wajah perempuan itu yang benar-benar nampak kacau. Baru akan ia persiapkan dengan baik kejutan kehamilan itu kepadanya, tetapi, lelaki itu tak pernah berpikir jika Tiara akan mendahului langkah.


Wanita itu menangis terisak. Alfa tak tahan lagi untuk segera mendekap. Lelaki itu memeluk erat istrinya yang semakin tersedu-sedu.


Setelah beberapa saat, Alfa melonggarkan pelukannya dan diangkatnya dagu wanita itu. “Hei ….” Lelaki itu menyibakkan rambut Tiara yang menutup di sebagian wajah dan mengusap air mata yang masih membanjir di pipinya. Seperti yang diduganya, istrinya itu akan seperti ini.


“Aku … aku tidak siap … kehilangan,” ucap Tiara dengan terbata. Napasnya semakin tersekat.


“Sshh ….” Alfa mendekap kembali istrinya. “Sayang … kita tidak sedang kehilangan. Kau baru saja mengetahui bahwa ada makhluk kecil yang hidup di rahimmu. Kau tahu? Dia sedang menunggumu untuk tersenyum menyambut kedatangannya. Hm?” ucapnya dengan penuh sayang.


“Dia akan pergi … dia akan pergi ….” Tiara terus saja meracau.


“Tidak Sayang … dia tidak akan pergi.” Alfa memejamkan mata. Kelopaknya mulai basah. Sungguh setiap mili tubuhnya terasa meremang mendengar ucapannya sendiri. Ia pun tak berdaya dan harus menguatkan istrinya saat ini.


Tiara seperti sedang kehilangan dirinya sendiri. Seluruh tubuhnya dikuasai oleh kepanikan yang ia sendiri tak tahu harus bagaimana menyikapinya. Selalu seperti itu jika ia didekatkan dengan hal-hal yang sekarang ini membuatnya trauma.


“Aku takut,” lirih Tiara.


Alfa menatap lurus ke mata istrinya. “Jangan takut. Tenangkan dirimu Sayang,” bujuk lelaki itu dengan sabar. “Lihat aku,” pintanya. pandangan Tiara perlahan merambat naik ke tatapan teduh suaminya. Lelaki itu menangkup pipi istrinya dan tersenyum hangat. “Dia tidak akan meninggalkan kita. Kita pasti akan bersamanya ketika ia terlahir nanti,” hiburnya.


Tiara mengatupkan mata. Menghela napas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan untuk melonggarkan pernapasannya.


“Dia tidak akan pergi,” ucap Alfa dengan pasti sekali lagi.


******


Hai Readers 🥰🥰🥰.. Novel Penantian akan segera tamat 😇😇


Nantikan terus detik-detik menegangkannya ya...


sampai jumpa di episode selanjutnya 😍😍


terima kasih atas sumbangan like, comment, vote poin dan koin serta memfavoritkan novel ini di rak buku 😘😘


semoga hari-hari teman-teman selalu menyenangkan 💐💐💐