The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 79 - Antipati



Pagi yang sejuk menguarkan udara segar. Tiara tengah sibuk dengan aktivitas berkemasnya untuk kembali ke Kota Bunga. Suara resleting kopor yang berderit nyaring itu menjadi bebunyian terakhir kali sebelum perempuan itu berbaring kembali di atas ranjang. Meluruskan punggungnya yang lelah setelah sepagian tadi membereskan kamar dan mengepak barang-barangnya kembali ke dalam tas. Wanita itu terduduk kembali. Teringat jika selama dua hari ia berada di rumahnya ini belum sekali saja ia bertemu dengan Widya. Asisten Berta itu sedang meminta izin untuk tidak bekerja selama tiga hari karena urusan orang tuanya yang berada di luar kota. Ah, ia akan datang kembali pagi ini. Tiara buru-buru menyeret langkah menuju lantai satu, hendak ke ruangan dapur tempat perempuan itu biasa berkutat di pagi hari.


Tiba di anak tangga terakhir, mata Tiara memicing untuk mengidentifikasi dengan benar bahwa ternyata, Widya tengah terduduk di lantai teras menghadap taman. Entah sedang melakukan apa. Perempuan itu lantas berjalan mendekat. Memberi kejutan atas kedatangannya sekaligus berpamitan sebab pagi itu juga ia akan kembali ke vila.


“Widya?” Tiara berucap perlahan sambil turut mendudukkan dirinya di samping wanita setengah baya itu. Betapa terkejutnya ia manakala manik matanya bertemu tatap dengan Widya dan langsung menemukan wajah perempuan itu yang pucat pasi. “Astaga Widya, kau kenapa?” tanyanya dengan penuh kepanikan sambil mengelus punggung wanita itu yang sedikit membungkuk.


“Oh. Kau mengejutkanku Tiara,” jawabnya dengan tersenyum paksa. “Aku tak apa-apa. Beberapa bulan lalu aku baru saja mengganti metode kontrasepsiku sehingga aku harus mendapati periodeku dengan waktu yang lebih lama dan dengan jumlah yang banyak. Maafkan aku, Alisa sedang mewakiliku di dapur untuk memasak, aku hanya ingin beristirahat sebentar.” Widya menangkupkan kedua tangan sebagai isyarat permintaan maaf.


Tiara terpaku sejenak. Sungguh kata-kata Widya yang panjang dan lebar itu tak masuk seluruhnya di telinganya, karena benaknya menyerap dengan cepat kata ‘periode’ dan seolah langsung mem-pause pikiran dari alam sadarnya.


“Tiara.”


Ah, setelah operasi cesar dan mendapatkan darah pertamanya setelah melahirkan dan selesai dalam waktu satu bulan, Tiara hampir tidak pernah memikirkan lagi tentang periodenya. Apakah stres dan depresi berpengaruh besar terhadap perubahan hormon? Jantung wanita itu mendadak berdebaran dengan kencang. Otaknya tiba-tiba saja sampai pada kesimpulan bahwa ketika ia tidak mendapatkan lagi periodenya, berarti ketidaksuburan dalam kandungannya itu datang lagi.


“Tiara.”


Perempuan itu menelan ludahnya dengan kasar. Gusar karena rasa sesak dalam dadanya datang. Tiara menghela napas panjang dan mengembuskannya pendek-pendek.


“Tiara,” panggil Widya ketiga kalinya dan barulah Tiara menoleh dan tergagap. “Aku … harus ke kamarku sebentar,” ujarnya dengan napas terengah-engah. Tiara berusaha berdiri dengan berpegangan pada apapun yang bisa dijangkau oleh tangannya. Widya pun membantu dengan segenap usahanya untuk merangkul wanita itu yang kini terlihat sama pucat dengan dirinya.


Tiara terhuyung dengan kedua mata yang mulai kabur dan tubuhnya yang semakin tidak bisa mengontrol gerakan anggota badannya, hingga belum dua langkah mencapai pintu, wanita itu ambruk tak sadarkan diri. Widya yang terkejut luar biasa itu segera berteriak meminta bantuan sembari memangku setengah badan Tiara dalam pangkuan.


Alisa yang mendengar suara teriakan yang begitu keras tak jauh dari arah dapur itu dengan tergopoh-gopoh segera berlari mendekat. Matanya membeliak melihat Widya yang tersungkur di atas lantai dengan tubuh Tiara yang tergeletak lemas. Alisa lantas berlari ke arah garasi, mencari Alfa yang ia lihat terakhir kali sedang memeriksa mobilnya di sana. Mempersiapkan kendaraannya dengan baik, sebelum ia gunakan kembali untuk perjalanan pulang nanti.


Begitu menemukan lelaki itu yang masih berada di dalam mobil, dengan gugup, segera ia beri tahu keadaan Tiara hingga membuat Alfa seketika berlari dalam keadaannya yang juga tertimpa panik.


Lelaki itu menatap nanar istrinya yang terjatuh pingsan, lalu membawanya dalam gendongan sampai ke dalam kamar dan menidurkannya di atas ranjang.


******


Alfa memijat pangkal hidungnya sambil memejamkan mata. Lelaki itu berdiri di samping pintu ruang kamarnya dengan Tiara yang tengah bersama seorang dokter keluarga yang sedang memeriksa, didampingi Berta yang duduk di tepian ranjang. Berdiri di depan laki-laki itu, Widya yang sedari tadi memohon-mohon maaf dengan dalih dirinyalah yang menyebabkan Tiara pingsan, padahal lelaki itu sudah berkali-kali pula berkata bahwa Tiara mungkin saja memang sedang tidak enak badan dan kelelahan.


“Sudah, dokter sedang memeriksa keadaannya. Kau tak perlu khawatir.” Alfa menyunggingkan senyumnya padahal raut muka lelaki itu terlihat masam. Sungguh ia cemas, takut jika sesuatu yang tak diinginkan kembali terjadi. Pasalnya, beberapa malam termasuk ketika menginap di rumah Berta ini, wanita itu selalu saja tak bisa tertidur dan memejamkan mata ketika dini hari.


“Maafkan aku sekali lagi,” Widya mengucapkannya dengan ekspresi penuh penyesalan. Apakah kata-katanya perihal kewanitaan tadi cukup memicu trauma Tiara kembali datang? Widya benar-benar tak habis pikir kepada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia melupakan begitu saja keadaan wanita itu yang masih dalam tahap penyembuhan? Oh, Widya benar-benar ketakutan.


Tak berapa lama, keluarlah sang dokter dengan membawa senyumnya yang membuat Alfa mengerutkan kening. “Bisa berbicara sebentar? Ada sesuatu yang harus saya sampaikan,” ucapnya.


“Apakah Anda pernah memeriksakan istri Anda sebelumnya ke dokter kandungan?” dokter itu tiba-tiba saja melemparkan pertanyaan yang membuat Alfa mendecak.


“Tentu saja. Kami telah bertahun-tahun melakukan program kehamilan, kecuali sembilan bulan terakhir ini karena Tiara mengalami depresi-“


“Istri Anda hamil.” Sang dokter berkata cepat, menyela perkataan Alfa yang terdengar kesal.


“Ap … apa?” Alfa bertanya dengan tergeragap. Memandangi dokter itu yang terus saja tersenyum setelah mengetahui keadaan sebenarnya dari pasiennya pagi itu.


“Segeralah membawanya ke dokter kandungan agar istri Anda dan kehamilannya tetap sehat,” ujarnya. “Saya permisi dulu,” pamitnya lalu berlalu begitu saja meninggalkan Alfa yang masih berkubang pada keterkejutannya.


Lelaki itu menyandarkan tubuh pada sofa yang didudukinya. Hatinya direcoki oleh beraneka macam perasaan yang belum pernah hinggap sebelumnya. Ia senang, tetapi keadaan Tiara yang tidak biasa itu sungguh membuatnya khawatir. Alfa memejamkan mata dan memijat pelipisnya. Menimbang-nimbang kemungkinan yang akan terjadi ketika istrinya itu mengetahui bahwa dirinya telah kembali hamil.


Tiara merasakan kepalanya berdenyut hebat dengan kedua matanya terasa berkunang-kunang. Wanita itu masih terpejam, tetapi kesadarannya telah kembali. Perlahan, ia tarik napasnya kuat-kuat dan mengembuskannya dengan panjang. Rasa sesak itu sudah hilang, tetapi sungguh, keadaan tubuhnya saat ini membuatnya tidak nyaman. Berkali-kali ia buang kata-kata yang menempel erat dalam benaknya itu tentang periode. Bukan hanya itu saja, dirinya sekarang ini begitu antipati terhadap segala hal yang berhubungan dengan bayi dan kehamilan. Bahkan, nomor ponsel Jeni pun kini tak lagi bertengger di daftar kontak ponsel wanita itu.


“Tiara ….” Suara Berta yang terdengar dekat sekali di telinga itu membuat Tiara tergesa membuka mata. Nampaklah mamanya duduk di samping tubuhnya, tersenyum dan mengusap perlahan sebelah lengannya.


Bau-bauan minyak oles yang begitu kuat masih terhirup kuat di hidung Tiara. Mama dan suaminya tadi mungkin mengusap-ngusapkan benda tersebut untuk memberinya rasa nyaman. “Aku baik-baik saja Ma, mungkin aku hanya sedikit kelelahan,” ucapnya lalu memaksakan diri untuk duduk bersandarkan bantal.


“Jaga kesehatanmu betul-betul. Alfa berkata bahwa kau seringkali tertidur larut malam dan bangun pagi-pagi sekali. Jelas sekali kalau waktu tidurmu itu kurang,” resahnya.


Tiara tersenyum. “Iya Ma.”


Alfa yang kembali memasuki ruang kamar dan menemukan Tiara telah sadarkan diri itu tersenyum dengan sebelah bibir dan melangkah mendekat. Turut terduduk di tepi ranjang.


“Kita mungkin bisa menginap lagi di sini jika kau masih merasa lelah,” bujuk Alfa.


“Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja sampai kita tiba di kota Bunga nanti,” kilahnya.


Lelaki itu mengembuskan napas panjang, menengok ke arah mertuanya sejenak untuk meminta persetujuan. Berta hanya tersenyum tipis dan mengangguk. “Yah, senyamannnya kalian saja,” tuturnya, mengusap lembut lengan Tiara sekali lagi dan beranjak dari tempat duduknya, memberi waktu berdua untuk anak-anaknya bercakap-cakap.


Selepas pintu kembali tertutup, Alfa tak menunda lagi untuk segera memeluk erat istrinya. Entah sudah berapa kali ini terjadi. Lelaki itu merasa bahagia mengetahui kehamilan istrinya, meskipun ia harus menerima kenyataan pahit pada akhirnya di masa-masa sebelumnya. Namun, ia tak peduli lagi akan seperti apa kisah akhirnya nanti. Alfa bahagia, bahagia dengan jalan cerita seperti apapun yang diskenariokan untuknya, asalkan Tiara ada di sampingnya.


Wanita itu terkejut dengan gerakan Alfa yang tiba-tiba, tetapi tak urung, ia merangkulkan jua tangannya, mendekap erat tubuh suaminya dalam pelukan.