
Helmia memandangi keseluruhan tubuh menantunya itu dengan pandangan menilai. Alisnya terangkat sebelah dengan ekspresi kecut. Menampakkan dengan jelas perasaan tak nyaman yang sedang merasukinya itu. Kedua tangannya bersedekap. Embusan napas kasar terdengar sebelum dengan nada benci ia berkata. “Apa kau sakit? Atau kau sedang memanfaatkan situasi ini untuk mencari perhatian Alfa?” Wanita itu memiringkan kepala. Benar-benar berniat untuk menghabisi Tiara kali ini. “Sayangnya, asamu itu tinggal setengah harapan saja, karena Alfa sekarang sudah menyadari bahwa ia keliru karena telah memilihmu,” decaknya. “Aku sudah pernah berkata padamu bukan? Dan kuharap kau belum lupa. Tugasmu sekarang sudah selesai. Kau hanya tinggal merelakan saja karena Alfa sudah menemukan wanita yang tepat,” ucapnya dengan nada bangga.
Tiara menunduk. Berusaha mengabaikan perkataan mama mertuanya itu yang jelas sekali sudah tak menganggapnya apa-apa. Ia ingin menangis, tetapi, rasa sakit yang teramat sangat itu telah sukses menyedot seluruh kekuatan tubuhnya, ataukah ... wanita itu sekarang sudah terlampau kuat sehingga untuk menangisi kembali hal ini ia sudah jemu?
Perempuan itu mendesah. Teringat akan asisten rumah tangganya itu yang tak ada di sampingnya. Alisa pastilah belum mengenal Helmia, sehingga mungkin saja tadi dengan segala cara, mama mertuanya itu mampu meyakinkan wanita itu untuk meninggalkan mereka berdua. Ah, Tiara menyesal karena terlalu asyik dengan aktivitasnya sehingga tak memperhatikan bahwa Alisa telah pergi entah ke mana dan dengan merdeka, Helmia bisa mengata-ngatainya sesuka hati seperti saat ini.
“Aku … aku memang sedang tak enak badan dan aku … tak kuasa untuk berdiri.” Tiara berkata dengan menatap lurus ke depan, kembali memandangi lukisan Alfa yang seolah sedang menatap sendu ke arahnya. Memberi belas kasihan, tetapi, tak bisa.
Dengan sekuat tenaga wanita itu berusaha mengacuhkan mertuanya yang berdiri tak jauh di sampingnya. Membuang jauh segala amarah karena saat ini segala perlawanan sepertj apapun tiada guna.
“Oh … apakah Alfa memperlakukanmu dengan tidak baik? Atau inikah caramu untuk mendapat cinta Alfa kembali? Dengan menunjukkan bahwa kau lemah?” Helmia menyipitkan mata dan menipiskan bibir. Sungguh sebenarnya ia tak menyangka bahwa ia akan bisa senekat ini untuk melakukan konfrontasi emosional dengan Tiara. Ia tak tahu mengapa semakin hari, kebencian di hatinya semakin terpupuk, apalagi saat ini, Yunus masih berada di luar kota dengan kabarnya yang tak tentu, sehingga membuatnya mudah sekali tersulut kemarahan.
Tiara menoleh dengan melenggak, memberanikan diri untuk balik menatap Helmia yang sedari tadi sudah menatapnya dengan pandangan membunuh. Embusan napas ia keluarkan, lalu dengan malas kembali memandang kedua tangannya yang bertaut di pangkuannya. Menatap perutnya. Wanita itu tersenyum dalam buaian kelu, mendapati saat-saat seperti ini yang seharusnya telah menjadi muara seluruh kebahagiaannya, tetapi, ia masih harus menghadapi hal rumit demikian. Jadi, memang benarlah adanya jika tercapainya sebuah cita-cita tak menjamin bahagia. Ternyata, kebahagiaan tak mampu diukur dari hal remeh temeh seperti terwujudnya sebuah keinginan. Ia hanya bisa dijumpai ketika hati merasa tentram, khusyuk dalam jiwa penuh dzikir terima kasih kepada Tuhan.
“Kenapa kau hanya diam? Berarti yang kuucapkan benar bukan?” Helmia menyeringai.
Tiara sedikit mengekorkan matanya demi melihat mertuanya yang sedang tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membungkam mulutnya dengan kata-kata, hingga tak mampu memberinya jawaban. “Karena akan sia-sia belaka,” lirihnya.
Helmia melebarkan matanya. “Apa kau bilang?”
“Sia-sia saja aku berkata-kata, karena kau membenciku. Tak ada kata-kata yang berfaedah untuk para pembenci, karena mereka hanya mempercayai apa yang ada dalam kebenciannya dan menutup mata atas semuanya,” ucap Tiara dengan lemah. Ia tak menyangka, suasana penuh kerenggangan ini akan terjadi dengan Helmia. Wanita itu benar-benar merasakan sudah tak ada lagi pembatas canggung antara dirinya dan mama mertuanya. Ia sungguh merasakan bahwa ia adalah orang asing bagi mertuanya saat ini.
Wanita bersanggul itu mengangkat telepon yang bergetar dalam tas tangannya. Tak berbicara apa-apa, hanya mendengarkan dengan saksama lalu menjawab. “Ya.” Beberapa detik kemudian, setelah ponselnya ia masukkan kembali ke dalam tas dan menatap Tiara yang masih berada dalam kubangan pikirannya itu, Helmia berlalu pergi, meninggalkan istri Alfa itu seorang diri tanpa memberi reaksi atas ucapan Tiara yang terasa getir itu.
******
Alfa melangkah cepat menuruni tangga. Bersiul dengan riangnya, sebelum tiba-tiba matanya menatap tajam ke arah depan jauh di bawah tangga, di mana Alisa berdiri di sana, sedang mengamati lukisannya. Tiara … di mana Tiara? Lelaki itu sedikit berlari hingga menimbulkan suara berdebum yang begitu keras karena hentakan sepatunya.
Alisa yang mendengar suara keras dari arah belakangnya segera menoleh dan terkejut luar biasa tatkala melihat Alfa sudah begitu dekat dengannya dengan ekspresi murka. Wanita itu menelan ludahnya dengan kasar. Jantungnya berdebar cepat, saat menyadari bahwa manik mata lelaki itu tengah memindai ke segala arah. Saat matanya tajam mengarah ke kedua matanya, Alfa menggeram. “Di mana Tiara? Kenapa kau meninggalkannya seorang diri?”
Alfa panik. Ia baru akan menengok untuk memastikan apakah mamanya akan benar-benar datang. Dan, ia sudah datang!
“Ibu Tiara tidak sendiri Pak. Beliau bersama dengan Ibu Helmia. Maafkan saya karena saya belum mengenal anggota keluarga Bapak sehingga saya seringkali tidak bisa bersikap sebagaimana mestinya,” jelasnya dengan ekspresi bingung karena bukannya merasa tenang, tuannya itu justru nampak belingsatan ketika mengetahui istrinya tengah berdua dengan mamanya.
“Alfa!” Leon memanggil dari arah belakang. “Kau hendak ke mana? Acara akan dimulai tiga menit lagi. Ayo ke depan,” ajaknya.
Lelaki itu menghentikan langkah dan membalikkan badan. Menengok sebentar ke arah jam tangan dan semakin mengumpat kesal karena sungguh, nasib baik sedang tak berpihak padanya saat ini. Ia tak memiliki waktu lagi.
Beberapa kerabat, tamu undangan serta tamu kehormatan telah berdiri di depan garis tali pita dengan juntaian bunga-bunganya yang menggantung di udara, menunggu Alfa.
Lelaki itu bertolak dari arahnya berdiri, mendekati Alisa yang masih mematung di tempatnya. “Tolong jangan tinggalkan Tiara. Tetaplah bersamanya sampai aku kembali. Katakan pada siapa saja yang hendak berbicara empat mata dengannya untuk menemuiku dulu. Aku tak ingin ini terulang!" tegasnya yang membuat Alisa berkerut.
“Baik … baik Pak. Maafkan saya,” resahnya. Alisa menipiskan bibir dengan segala kekalutan yang mendera, mempelajari dalam benaknya, di manakah letak ketidakberesan ini semua?
Tak lama kemudian, terdengar derap langkah yang tertangkap indra pendengarannya dari arah Tiara dan wanita tadi berada untuk berbicara empat mata. Mungkin saja keduanya tadi berbincang di sudut lorong seperti terkahir kali Alisa meninggalkannya. Helmia berjalan ke arahnya dan mengacuhkan begitu saja keberadaan wanita itu yang tengah mengamatinya lamat-lamat. Apa yang terjadi?
******
Suara riuh ramai orang-orang terdengar di area depan gedung pameran itu. Kesemuanya tengah melihat ke arah lima sosok yang tengah berdiri di belakang garis pita berwarna hijau cerah yang membentang di sepanjang pintu masuk. Alfa, Berta, Helmia, Karina, dan Hendri, paman Tiara. Pembawa acara yang terdengar begitu menggebu-gebu dalam mengantarkan acara itu menambah semarak dengan riuh pujian yang berisik di telinga.
Setelah melontarkan orasi singkatnya, terdengarlah suara pembawa acara yang dengan keras memandu para tamu untuk menghitung mundur. Ketika hitungan mencapai angka satu, kelima orang itu bersama-sama memotong pita di depan mereka sebagai tanda bahwa pameran itu secara resmi telah dibuka. Suara tepuk tangan serta kilatan-kilatan flash kamera memecut di mana-mana.
Tiara berada tak jauh di belakang kelima orang itu dengan pandangan nanar. Ia menyaksikan dengan hati teremas pasrah melihat pemandangan di depannya. Keakraban Alfa dengan Karina yang sungguh membuatnya sesak. Ia tahu ini hanya drama, tetapi, ah, Tiara benar-benar seperti anak remaja yang sedang merasa cemburu buta ketika melihat kekasihnya tengah berada dekat dengan perempuan lain.
Alfa terpaku seketika pandangannya yang melihat secara acak itu akhirnya menemukan manik mata redup Tiara. Ia sungguh merasa bersalah karena telah membiarkan istrinya itu berada dalam keadaan tidak nyaman. Lelaki itu bisa membaca dengan jelas, raut wajah Tiara yang tengah menunjukkan rasa kesal dan lelah. Ingin rasanya ia memeluk istrinya saat itu juga untuk memberinya ketenangan, tetapi, tangan Helmia yang mencengkeram pergelangan tangannya itu membuatnya tersentak.
Dadanya bergemuruh ketika lengan Karina pun tengah dipegang oleh mamanya itu, mempertontonkan kemesraan kepada khalayak ramai atas keakraban mereka.
“Selamat ya Alfa. Mama senang atas pembukaan acara ini. Mama harap, kau segera memutuskan dengan cepat, kapan kau akan mulai bergabung dengan papamu,” harapnya. “Dan juga, mama sangat mengharapkan hubungan kalian berdua ini … semakin baik,” ucapnya.
Alfa memalingkan muka, menatap ke arah Tiara yang kini tengah menunduk.
“Alfa ….” Helmia menyentakkan tangannya hingga lelaki itu kembali memandang ke arah mamanya.
“Aku masih ada urusan, Mama silakan menikmati waktumu di sini.” Alfa berkata dengan tersenyum paksa lalu berlalu dari tempat itu, meninggalkan Helmia dan Karina yang sedari tadi terdiam. Lelaki itu kemudian memandang kembali Tiara dengan mata berkaca-kaca. Ia tahu pasti bahwa istrinya itu sedang berusaha dalam penuh tekanan untuk terus memperlihatkan bahwa dirinya tengah baik-baik saja di balik wajah pucatnya.