The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 76 - Melepas Beban



“Ini adalah jalanan terbaik yang pernah aku lewati,” ujar Alfa setelah melepas maskernya, sembari mengitarkan pandangan dari ujung kanan ke kiri, mengagumi setiap inci pemandangan yang tertangkap oleh matanya. Ia dan Tiara tengah berada di tepi sebuah jalan utama yang memiliki trotoar cukup besar dengan bangunan-bangunan pendukung layaknya sebuah rest area. Sepertinya, pemerintah setempat memang sengaja menjadikannya tempat singgah bagi pengendara. Selain karena titik lokasinya yang pas, tempat itu mempunyai panorama alam yang begitu elok. Jalan lebar itu terletak di tepi tebing, sehingga orang-orang yang sedang berdiri di samping jalan akan merasa seolah sedang berada di pucuk gunung dengan hamparan pemandangan yang membentang jauh ke bawah, melebar ke segala penjuru.


Dua sejoli itu saling mengetatkan kedua tangan pada tubuh masing-masing. Menghalau udara dingin yang terus-menerus berusaha menerobos tebalnya kain jaket tanpa ampun. Tiara bahkan mengenakan topi beanie dan terus memasang masker di wajahnya. Kostumnya benar-benar seperti seorang yang sedang berada di musim salju, padahal mereka kini hanya sedang berdiri di samping jalanan pegunungan.


Alfa benar. Lukisan nyata yang terpampang di depan mereka saat ini memang benar-benar indah. Menampilkan lanskap tatanan terasering persawahan serta jalanan-jalanan kecil yang dilewati oleh kendaraan bermotor yang berlalu lalang. Ada pula bukit kecil yang menonjol di tengah-tengahnya, di mana pucuk hijaunya tertutup oleh awan tipis.


Tiara memuaskan tatapan mata pada apapun yang bisa terjamah oleh pupil matanya. Menangkapnya, lalu merekamnya dalam ingatan, bahwa mereka pernah menjadi saksi atas indahnya bumi ciptaan Tuhan yang ternyata begitu memesona. Menyejukkan netra siapapun yang memandang.


Pagi semakin naik mendekati seperempat putaran jam ketika matahari yang bersinar mulai menunjukkan kuasanya untuk menusuk kulit. Membuat permukaannya terasa panas, meski udara yang berembus belum juga menghangat.


“Buka maskermu, Sayang,” perintah Alfa dengan senyum manisnya. Tiara mengalihkan pandangannya sejenak, menatap Alfa yang saat ini menghadapkan tubuh padanya.


Dengan bimbang, wanita itu akhirnya menurunkan masker hingga leher, menuruti titah Alfa yang entah dimaksudkan untuk apa. Lelaki itu lalu merangkul pundak Tiara, merapatkan tubuh dan kembali menghadap ke depan. “Apa masih ada yang mengganjal di hatimu? Yang membuatmu begitu sulit untuk bernapas lega? Karena jika kuperhatikan, kau sudah bisa sedikit demi sedikit membuka tirai engganmu untuk kembali berinteraksi dengan dunia luar,” tanya lelaki itu dengan sedikit menundukkan kepala, melirik ke arah istrinya yang masih melihat ke depan.


Tiara mengerutkan kening dan menerawang. Mencoba menyelisik lebih dalam pada dirinya, mencari-cari sesuatu yang tak menyamankan dirinya hingga masa ini, tetapi, ia memang merasa lebih lega dari sebelumnya. Ya. Seiring hari-hari yang berlalu, waktu yang bergulir begitu cepat itu ternyata berhasil meloloskannya perlahan dari jeratan siksa kecemasan, kegelisahan serta ketakutan tak berujung yang membuatnya seolah terkurung dalam jiwanya yang menghitam.


Ia tak mengerti, yang pasti, ia masih merasa putus harapan dan tak ingin lagi menciptakan asa baru pada hal yang sama. “Aku tak tahu,” jawabnya. “Aku hanya … aku hanya ingin menjalani hari-hariku dengan ringan tanpa beban. Aku … aku takut untuk berharap. Aku takut jika aku kembali jatuh cinta pada sesuatu yang belum pasti akan aku punyai, lalu patah hati,” resahnya sambil menarik ulur napasnya dengan panjang.


“Aku pun begitu.” Alfa tersenyum masam. “Kau ingin tahu bagaimana cara melegakan perasaanmu?” Tanyanya yang sekali lagi mendapat tatapan aneh dari Tiara. Ragu-ragu, perempuan itu menganggukkan kepala.


“Seperti ini.” Lelaki itu melepaskan rangkulan tangannya dan mencorongkan kedua tangan di depan mulut. Sekonyong-konyong, Alfa menghela udara dengan panjang dan melepaskannya dalam bentuk teriakan keras yang membuat Tiara begitu terkejut. Wanita itu melebarkan mata melihat tingkah suaminya yang tak biasa. Suara lengkingan itu menyebar ke berbagai arah, sebelum kemudian hilang diterpa angin.


Alfa terengah-engah dan menengok ke arah Tiara yang masih tertegun di tempatnya. “Lakukanlah. Lepaskan segala beban yang ada pada dirimu. Hatimu membutuhkannya untuk membuat perasaanmu lebih lega dan tenang,” bujuknya.


Wanita itu melipat bibir. Merasa sangsi atas apa yang akan ia lakukan, sebelum akhirnya, perempuan itu turut mengangkat tangan ke depan mulut, memejamkan mata dan menjerit sepuasnya hingga terdengar nada suaranya yang melengking. Tiara mengulangi teriakannya hingga tiga kali. Sampai pada penghujung jeritannya, wanita itu menangis tersedu-sedu, menumpahkan segala kemelut rasa yang mulai memudar dari dalam dada. Alfa tersenyum haru dengan kedua matanya yang berkaca-kaca, memeluk erat Tiara yang menghambur ke arahnya.


******


“Sudah sampai.” Alfa berkata bersamaan dengan mobilnya yang berhenti pada tempat parkir sebuah gedung besar di mana keseluruhan bagian depan bangunan tersebut berupa dinding kaca. Lelaki itu turun terlebih dahulu lalu berjalan memutar, membukakan pintu untuk istrinya. “Ayo kita masuk,” ajaknya setelah Tiara keluar dari mobil.


Keduanya berjalan beriringan memasuki gedung megah tersebut dengan disambut oleh beberapa orang laki-laki berpakaian rapi. “Sudah ditunggu di ruang atas,” ucap salah satu pegawai yang lalu mengantar mereka, mendahului langkah. Alfa hanya mengiyakan dengan anggukan kepala kemudian berjalan dengan santai mengikuti pegawai yang sedang menjalankan tugasnya itu.


Tiara yang masih memindai dalam angan-angannya itu tersenyum sejenak kepada keseluruhan pria yang berada di tempat itu, dan barulah ia menyadari bahwa kesemua orang yang berada di tempat itu adalah rekan-rekan Alfa dalam Blueict Company. Astaga, mengapa Tiara menjadi mudah lupa hanya dengan penampilan mereka yang sedikit berbeda.


“Tiara.” Suara seorang perempuan yang terdengar tak asing dalam pendengarannya itu membuat wanita itu menoleh dan kedua manik matanya langsung bersirobok dengan mata biru safir Karina yang sedang berjalan ke arahnya. Perempuan bertubuh semampai dengan hot pants dan cardigan berwarna khaki itu tersenyum hangat dan melambaikan tangannya pada istri Alfa.


“Lima belas menit lagi kita siap Rin,” seru Brian di tengah gelak tawa dan candaan-candaan para fotografer itu.


“Oke,” ucapnya mengalihkan pandang sejenak dan menatap Tiara lagi.


“Ayo, kita berbincang di lain tempat saja.” Karina menggandeng tangan Tiara dan menghelanya menuju ruangan lain yang nampak luas dengan set peralatan fotografi yang sudah siap di tempatnya. wanita itu menyeret lucia bar stool yang terdapat di pojok dinding kaca. Mempersilakan Tiara untuk duduk dan mendudukkan dirinya pula di salah satu kursinya.


“Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali kita tak bertemu ya, kau tampak semakin cantik,” puji Karina yang terus memandangi wanita di depannya itu dengan tersenyum, meski dalam hati, ia sungguh-sungguh ingin memeluk Tiara. Ia tak menyangka, kehamilan istri Alfa itu akan berakhir dengan penuh dramatis. Namun, ia pun tahu diri untuk tak menunjukkan simpatinya yang justru akan membuat wanita itu mengingat kesedihannya.


“Aku … baik,” ucapnya dengan ragu-ragu. Hatinya mendadak terenyuh, bertemu kembali dengan Karina dalam keadaannya sekarang yang tak pernah ia duga. Teringat akan rencana mereka yang berhasil justru karena Tiara kehilangan bayinya. Helmia sudah kembali baik padanya kini, tetapi, ia kehilangan calon putrinya. Ah, wanita itu tak tahu lagi, mana sesungguhnya yang baik untuknya. Kedatangan dan kepergian orang-orang terdekat yang begitu ia sayangi secara bersamaan yang begitu mengejutkan dan mengguncang jiwa.


Tiara mengusap hidung untuk mengalihkan pikirannya. “Kau bagaimana? Sepertinya pemotretanmu semakin lancar ya,” tanyanya dengan senyum hangat yang sama.


Karina memandang lurus ke depan dan mengembuskan napas. “Ini pemotretan terakhirku Tiara. Aku memutuskan untuk berhenti dari dunia modelling dan akan menikah.” Perempuan yang masih mengenakan topi beanie itu membelalak, mendengar sengatan kejutan dari ucapan Karina. “Kau harus datang ya di pernikahanku nanti, aku akan kecewa jika tak melihatmu,” rayunya.


Istri Alfa itu terhenyak. Merasa bahagia mendapat kabar pernikahan Karina, tetapi juga bersedih karena perempuan itu memutuskan untuk mengakhiri karirnya. “Iya … pasti, pasti aku akan datang,” ucapnya yakin.


Suara pintu terbuka dengan banyak derapan langkah yang memasuki ruangan membuat kedua wanita itu memusatkan perhatian pada mereka yang datang. Alfa tersenyum lalu Karina pun beranjak dari duduknya dengan berpamitan. “Maaf Tiara. Aku harus melakukan tugasku dulu,” katanya. Tiara mengangguk dan berdiri menghampiri suaminya yang kini tengah menenteng satu kamera besar di tangannya.


Alfa berdiri di belakang Tiara, memeluk dan mencium pipi istrinya sejenak, sebelum lelaki itu menghadapkan viewer kamera yang ada di tangannya itu pada Tiara. Membuat wanita itu mau tak mau memegang juga kamera yang ada di depan matanya. Teman-teman fotografer dan Karina yang sudah berada di posisi itu segera menciptaan pendar cahaya putih berkat flash dari alat pengambil gambar itu.


“Cobalah,” ucap Alfa di sela lalu lalang rekannya yang sedang sibuk dengan aktivitasnya. Mengajari Tiara untuk mengambil sudut-sudut menarik dari kegiatan mereka siang itu dan mengotak-atik kameranya dengan berbagai pengaturan. Tiara tersenyum puas dan sesekali menggeser tubuh untuk dapat menangkap gambaran yang pas. Mereka tertawa ketika kadangkala, ada hasil foto yang terlihat lucu dan menampakkan pose-pose aneh dari para rekan Alfa yang sedang mengambil gambar itu.


Alfa mengucap syukur berkali-kali dalam hati, mendapati Tiara tertawa adalah kebahagiaan tersendiri untuknya.