
Alfa tengah duduk di kursi teras depan rumah bersama Leon ketika udara malam yang dingin mulai memeluk erat tubuh masing-masing. Keduanya menatap ke depan. Memandangi bangunan putih yang tepat berada di sisi seberang jalan. Bergulat dengan pikiran mereka sendiri. Sudah hampir dua bulan ini mereka berhenti dari kesibukan perencanaan pameran, karena Alfa yang harus dirawat di rumah sakit beberapa waktu lalu dan proses terapinya yang memakan waktu cukup lama. Ruangan yang telah dibersihkan, lukisan-lukisan karyanya serta foto hasil jepretan kameranya yang terpajang rapi pun kini berdebu kembali, belum ada waktu senggang baginya untuk kembali menyentuh barang-barang kesayangannya itu.
“Alfa?” Leon bertanya dengan tolehan kepala sejenak.
Alfa yang tengah menggenggam cangkir kopinya itu menjawab hanya dengan tengokan kepalanya.
“Apa Davian itu sahabatmu sejak lama?” Tak disangkanya, Leon mengucapkan kembali pertanyaannya yang belum sempat terjawab waktu itu.
Lelaki itu tersenyum. “Iya. Dia sahabatku sejak aku memulai karirku di dunia fotografi dan bergabung dengan Blueict.” Alfa menatap penuh ke arah anak laki-laki muda di sampingnya itu. Menafsirkan ekspresi yang yang ditunjukkannya di sana. “Kau ada sesuatu yang hendak kau sampaikan padaku?” Dengan tepat, Alfa menarik pancingan setelah umpannya akhirnya tersambut.
“Aku melihat ia berkali-kali mendatangi Tiara saat kau tidak ada di rumah. Apakah kau tahu? Apa itu wajar?” Leon memiringkan tubuhnya. Terkejut karena ternyata Alfa hanya bersikap santai, sama sekali tidak terkejut dengan kata-kata dan pertanyaan yang ia lontarkan.
Alfa menyesap lagi kopinya dalam satu sesapan kecil. “Terkadang, kau harus bersikap bodoh agar kau pintar. Aku tahu semua. Aku tahu apa yang ia perbuat dan rencanakan. Mana mungkin aku tak tahu, chemistry seorang sahabat hampir sama dengan chemistry seorang ibu pada anaknya bukan? Perubahan satu titik arah pandang saja kau pasti tahu, itu jika kau tulus. Tapi ternyata, hanya aku saja yang tulus di sini. Davian…” Hembusan napas terdengar berat, seakan mencoba bersiap dengan kata-kata buruk yang hendak diucapkannya. “Davian pengkhianat.” Alfa meminum kopinya dengan kasar hingga tandas lalu meletakkan cangkirnya di meja samping.
Leon tergeragap. Ia terduduk kembali dengan posisi lurus. Kehilangan kata-katanya.
Beberapa detik berlalu dalam hening, sebelum dengan berani Leon akhirnya berucap. “Kau tahu semuanya? Tetapi kenapa kau biarkan Davian begitu saja?” Kening berkerut dalam, pada mimik wajahnya. Mengekspresikan keingintahuan yang tanpa diduganya, justru ia sendiri yang terkejut.
“Aku tidak membiarkannya.” Alfa melamun. Kilasan-kilasan kejadian lalu terbuka lebar di depan matanya. Bagaimana dengan getir ia terpaksa memasang kelir senyumnya saat kobaran api kemarahan telah membakar habis kesabaranya. Ia bersyukur telah menjadi orang yang dapat menahan amarah, hingga sampai saat ini, ia masih memikirkan jalan terbaik untuk mengakhiri drama kepura-puraannya dengan Davian.
Ia tak menyangka, ternyata Davian sendirilah yang melakukan penyadapan atas Tiara untuk menyebarkan rumor pada satu tahun yang lalu. Alfa marah? Ya. Tentu saja. Tetapi ia justru merasa tergelitik untuk mempelajari lebih lanjut bagaimana sahabatnya itu akan beraksi. Davian ternyata hanyalah laki-laki labil yang sama sekali tak punya pendirian. Sikap dan hatinya mudah sekali goyah dalam sekali kejutan.
Bahkan sekarang ia bisa tertawa puas karena dengan kecelakaan yang dialaminya itu, Davian ternyata mampu luluh dan besimpati, serta mengurungkan niatnya untuk kembali mendekati Tiara. Ah, mengapa banyak sekali orang munafik di sekelilingnya. Alfa seolah sedang berdiri tepat pada tengah-tengah kelambu merah panggung teater. Mengetahui dengan pasti bagaimana mereka di depan dan di belakang. Namun, sayangnya, tak ada yang memperhatikan. Mereka masih dengan nyamannya melakukan tipuan masing-masing.
“Aku tentu akan bertindak. Namun, aku harus mempertimbangkan banyak hal karena persoalan ini sangat kompleks.”
“Mungkin aku bisa membantu?” Laki-laki itu menyentuhkan satu jemarinya ke arah pangkal hidung, membetulkan posisi kacamata.
Alfa mengangkat Alis, lalu tersenyum dan mendehem. “Kau mau melibatkan dirimu yang polos itu ke dalam kehidupanku yang rumit ini? Kau tanggung sendiri efek sampingnya.” Melipat kedua tangan di depan dada.
Leon tertawa.
“Kenapa kau begitu tertarik dengan kehidupanku? Apa karena penuh dengan drama sehingga membuatmu terpacu untuk turut meneteskan peluh dan air mata?” Alfa tersenyum geli. Tak dinyana, di umurnya yang masih muda itu Leon ternyata bisa bersikap lebih dewasa dari usianya, tidak hanyut dalam godaan anak muda untuk berfoya-foya menghabiskan hari-hari dengan kesenangan.
“Hmm… Aku hanya merasa perlu berterima kasih karena telah banyak hal yang telah kau lakukan untukku.” Menjalinkan kedua tangannya sendiri ke pangkuan.
“Begitu?” Mimik wajah Alfa terlihat menilai dengan ekspresi senyumnya yang tajam.
Leon mendongak. “Kurasa… demikian.”
“Baik. Ikut aku.” Alfa bangkit dari duduknya. Menatap tajam ke arah Leon yang sedang tercengung karena ajakan tiba-tiba. Dengan nanap, akhirnya ia menganggukkan kepala dan ikut serta berdiri, menunggu sikap Alfa selanjutnya.
******
Alfa dan Leon tengah berada di dua mobil yang berbeda, bertukar tempat dan sekarang mereka sudah duduk pada belakang kemudi masing-masing. Berkat ketelatenannya mengikuti terapi, Alfa tak segan-segan untuk langsung melatih kembali otot-otot kakinya dengan menginjakkan kaki pada pedal gas dan rem, setelah tak ada lagi rasa nyeri dan pegal pada tulang kakinya.
Leon turut menyalakan mesin mobil Sport milik Alfa dan mengekor di belakang ke mana mobil miliknya itu berjalan. Ia hanya diminta oleh Alfa untuk mengikuti saja ke tujuan mana ia akan pergi, tentu dengan jarak yang tidak terlalu dekat agar mereka tak tertangkap sedang melakukan rencana. Alfa seolah sedang menyamar karena ia mengenakan topi dan jumper yang ia tutupkan di kepala, begitu juga dengan Leon.
Tiga puluh menit mereka mengitari jalanan kota dengan kecepatan rendah dan mobil mereka beranjak semakin jauh dari kediaman Alfa. Setelah berhenti pada lampu merah sekian kalinya, Alfa menghentikan mobilnya tepat di tepi jalan sebuah club malam yang cukup lengang.
Wow… Alfa mengajaknya ke club malam? Apa ia tidak salah?
Leon masih terdiam di tempatnya, menanti aksi bosnya itu selanjutnya hingga pada lima menit pertama, Leon melihat jam pada pergelangan tangannya dan menengok sebentar ke arah ponsel, berharap ada kabar yang bisa membuang resahnya saat itu.
Alfa memperhatikan sekeliling. Senyum sinis tampak di wajahnya setelah sekian menit, yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga, memintanya untuk segera menghampiri. Mobil sedan hitam yang terparkir agak jauh di seberang itu menjadi pusat perhatiannya. Orang yang selalu mengikutinya selama ini.
Karena tidak ada gerakan darinya, maka dengan gemas Alfa segera menghubungi Leon agar turun dari mobilnya dan segera memasuki kawasan club yang tertutup itu. Bangunan itu memang hanya memiliki satu akses gerbang masuk dengan tembok tinggi menjulang di kanan dan kirinya. Di baliknya, terdapat pepohonan bambu hias yang mengerumpul dan sejuk di siang hari dan tentunya aman pada hari gelap seperti sekarang ini untuk bersembunyi.
“Leon, masuklah. Perlambat langkahmu sebelum pintu masuk. Buat dirimu sibuk dengan ponselmu.” Alfa berkata begitu saja setelah panggilan darinya tersambung.
“Baiklah.” Ucapnya lalu melepaskan ponsel dari telinga karena Alfa pun langsung memutus line telepon.
Sejenak ia merapikan penampilannya, lalu keluar dari dalam mobil. Sesuai dengan perintah Alfa, Leon berjalan dengan santai melewati gerbang penjagaan setelah berdialog sebentar dengan para petugas jaga di sana. Mendadak, langkahnya terhenti dan ia mengambil ponsel dari dalam sakunya tepat dua meter sebelum pintu masuk.
Alfa melihat dengan saksama pergerakan yang terjadi di sekitarnya. Ia tersenyum puas ketika Leon telah masuk ke dalam kawasan club. Dan, momen yang ia nantikan datang juga. Satu orang lelaki bertuksedo dan berkaca mata hitam keluar dari dalam mobilnya. Memperhatikan dengan pasti, bahwa Alfa yang dicarinya telah masuk ke dalam club. Lelaki itu pun segera menyeberangi jalan dan turut masuk melewati gerbang.
Setelah situasinya kondusif, Alfa keluar dari dalam mobilnya dan berjalan dengan hati-hati mendekati lelaki bertuksedo hitam tersebut. Beruntunglah, tak ada orang lain di sekelilingnya dan ia pun dengan segera menyeret tangan laki-laki itu lalu mempepetkan tubuhnya ke pohon bambu yang gelap tak tersorot cahaya.
Tangan kiri Alfa mencengkeram erat kemeja putih yang dikenakan laki-laki itu membuat ia terperangah, terbeliak mendapati sosok yang tengah siap menghajarnya. Walaupun dalam keadaan gelap, namun remang cahaya karena ada pantulan-pantulan sinar kecil tak beraturan yang andil dalam mencahayai mereka berdua membuat sekali lagi laki-laki itu membelalakkan mata.
Ia paham betul siapa orang di depannya ini. Gheo Alfa. Ia melirik sekilas pria yang masih berdiri di depan pintu club yang pada awalnya ia ketahui sebagai Alfa. Kurang ajar. Ia telah dijebak.
Setelah mempelajari ekspresi wajah lelaki itu yang sepertinya telah memahami situasi, Alfa mengetatkan cengkeramannya hingga membuat laki-laki itu mengaduh.
Alfa menggeram. “Julius!!... Kau terus membuntutiku! Tak kusangka Nyonya Helmia menyuruh mata-mata kacangan seperti kau!” Dalam satu hantaman keras, Alfa memukulkan kepalan tangannya pada pipi kiri laki-laki itu.
Deru napas kasar diiringi bisik kesakitan dan ketakutan nampak di wajahnya setelah ia terduduk di tanah akibat pukulan Alfa yang terasa sangat menyengat di pipinya.
Leon menolehkan kepala setelah mendengar ada gerakan kaki di belakangnya. Ponsel ia sakukan di saku kanannya dan tangannya tertanam di sana. Tubuhnya menegang menyaksikan bagaimana Alfa mencekik kemeja laki-laki di depannya dan meninjukan pukulan kerasnya. Ia tak pernah menukas sebelumnya bahwa seorang Alfa yang terlihat begitu lembut dan romantis itu ternyata bisa melakukan tindakan kekerasan.
Oh, inilah maksud kedatangan mereka kemari. Alfa ingin menjebak laki-laki itu. Tapi, siapa dia?
“Alfa….” Laki-laki itu berucap sambil terengah-engah, berusaha menormalkan kembali debaran jantungnya yang membuat napasnya memburu. “Ini bukan seperti aku ingin mencelakaimu," tukasnya. Merasa sangat kaget karena tak disangka, Alfa akan mengetahui gerak geriknya.
Alfa mendecak. “Kau seharusnya sudah dipecat! Apa yang Mama inginkan dariku?” Mengusap mulutnya kasar menahan amarah dan menoleh cepat karena Leon tiba-tiba sudah berada di samping tubuhnya, berbicara melalui tepukan pada pundaknya. Tenanglah.
Julius menunduk seolah tengah dihinggapi dilema besar. Dua orang yang sedang mengincar dan diincarnya ini adalah orang penting untuknya. Ia sama-sama menghormati Helmia dan Alfa sebagai atasannya. Lalu, mana yang harus ia pilih?