
Wanita itu berhenti berkata-kata. Ucapan sumpah serapah yang hendak dilontarkannya pun menguap begitu saja, berganti dengan tatapan tak berkedip ketika bertemu pandang dengan tatapan datar bola mata cokelat muda di seberang sana.
“Nona.” Pelayan yang masih berdiri di belakang wanita itu kembali menyapanya untuk memastikan apakah tamu VIP di depannya ini masih membutuhkan sesuatu.
“Tinggalkan aku,” bentaknya sembari mengibaskan sebelah tangannya sebagai tanda pengusiran.
Pelayan itupun dengan sopannya menundukkan kepala untuk berpamitan walau sudah tak diperhatikan lagi oleh lawan bicaranya tersebut.
Tanpa mengalihkan pandangan, wanita dengan gaun pendek berwarna peach dengan bunga-bunga merah itu melangkah mendekat menuju meja dimana Alfa dan Tiara tengah duduk berhadapan di sana, lebih tepatnya, memusatkan perhatian penuh pada Alfa saja dan mengabaikan Tiara yang sedang ada di sana dengan ekspresi terkejut penuh tanya.
Alfa yang telah mengetahui siapa wanita yang datang di waktu yang tidak tepat itu kemudian melengos dan meletakkan kamera ke atas meja yang sedari tadi berada pada genggamannya. Bersiap atas segala hal yang mungkin saja akan terjadi di tempat itu, entah basa-basi dari wanita itu, maupun sikap merayunya yang akan terang-terangan.
Tiara yang masih dalam kependiamannya itu memperhatikan gerak-gerik Alfa dan wanita itu bergantian dengan mengerutkan kening. Suaminya mengenal wanita itu? Mengapa sikap Alfa terlihat acuh?
Baru saja Tiara menggenggamkan tangannya pada Alfa untuk mengajaknya bicara, wanita bertubuh tinggi semampai itu terlebih dahulu mengudarakan suaranya.
“Tak kusangka kita akan bertemu secepat ini di sini Alfa,” selorohnya dengan nada tak suka yang amat kentara, menampakkan wajah sinis dengan kedua tangan terlipat di depan dada. “Meja ini, tempatku. Bisakah sekiranya kau berpindah tempat? Aku dan pasanganku telah memesan tempat duduk ini.”
Alfa terperangah mendapat serangan tiba-tiba dari wanita angkuh yang ia kira akan merayunya itu. Rasa senang muncul begitu saja dalam hatinya. Ia begitu bahagia ketika seketika itu mengetahui bahwa wanita yang hendak dijodohkan dengannya itu ternyata menolaknya mentah-mentah. Alfa tak perlu repot-repot lagi menghindar ataupun melakukan hal-hal yang memeras pikiran dan keringat untuk meloloskan diri dari perjodohan konyol mamanya itu.
Dengan lantang Alfa berujar, “Aku terlebih dahulu datang dan pelayan sama sekali tidak memberikan keterangan bahwa tempat duduk ini telah kau sewa. Jadi, silakan cari tempat duduk yang lain.” Lelaki itu mengangkat tangan serta memiringkan badan seolah menunjukkan secara acak bahwa masih banyak tempat duduk kosong di tempat itu yang masih bisa ditempatinya.
Wanita itu menyapukan pandang ke keseluruhan diri Alfa, mulai dari kepala hingga ke ujung kaki, kemudian dengan santainya berkata dengan penuh ejekan. “Aku tak tahu apa sebenarnya hal yang bisa kudapat dari kau. Lelaki pecundang yang tak punya masa depan.” Matanya melirik sebentar ke arah Tiara yang sedari seolah menjadi bayangan yang tak nampak dan tak dihiraukan sama sekali olehnya.
“Kau …."Dua alis lentik wanita itu terangkat dengan ekspresi wajah menilai. “Kau kekasihnya?” Tersenyum mengejek. “Cocok sekali. Pria tak tahu diuntung dengan wanita yang mencari keuntungan namun tak beruntung.”
Seketika Tiara ternganga dan ekspresinya berubah muram. Tak tahu harus dengan bagaimana ia bersikap dengan wanita yang tak ia kenal itu yang mendadak mengajaknya berperang. Oh, ternyata semua orang mengetahui secara utuh perihal Alfa yang menjadi putra mahkota keluarga Yunus namun lebih memilih jalannya sendiri dan membangun usahanya sendiri. Apakah seperti itu nampak buruk di mata orang-orang? Menjadi anak orang kaya yang tak mau meneruskan usaha keluarga apakah itu aib? Sungguh Tiara bahagia saat ini dengan apapun keadaan yang mereka jalani. Perempuan itu bahkan bersyukur ketika Alfa mau menerima dirinya yang sudah jelas memiliki ketidaksempurnaan itu.
Alfa menggeram. “Karina!” Laki-laki itu berdiri dari tempat duduknya membuat Tiara spontan langsung mendongak dengan jantungnya berdetak kencang sementara wanita itu melangkah mundur satu jangkahan menerima gertakan dari Alfa.
“Kau marah? Berarti itu memang benar adanya,“ ketusnya kemudian membalikkan badan hendak pergi meninggalkan tempat. “Aku pergi, aku tak akan sanggup menyuapkan makanan dengan pemandangan romantis kacangan seperti kalian,” ejeknya lagi. Karina pergi begitu saja setelah mengucapkan kata-kata terakhirnya, meninggalkan Alfa yang masih tersulut emosi dan Tiara yang tertunduk penuh luka.
Suara denting lift yang terdengar agak jauh dari tempat mereka duduk menjadi tanda bahwa wanita itu benar-benar telah pergi meninggalkan rooftop bar tersebut.
Dengan gamang dan ekspresi gerak tubuh yang melemah, Alfa menyurungkan kursinya untuk kemudian berputar mengitari meja dan mendekati Tiara yang tak bersuara sedari tadi, menyeret kursi di sebelahnya dan duduk di sana.
Perempuan itu menggerakkan kepalanya perlahan memandangi Alfa yang menatapnya sendu. Dengan pertahanan yang sudah hampir lolos, Alfa memeluk perempuan itu erat-erat. Menengadahkan kepala agar buliran bening itu tak keluar dari tempat persembunyiannya. Dadanya semakin bergemuruh ketika merasakan tubuh Tiara yang bergetar dalam dadanya. Wanitanya menangis. Sungguh ia tidak kuat merasakan istrinya harus terus menerus menerima pencelaan seperti itu.
Tiara sangat berarti untuknya. Tak akan pernah ia lepaskan walau bagaimanapun.
“Aku sudah bertemu dengan Alfa ... tanpa sengaja.” Karina memandang wanita di depannya dengan ekspresi muram. “Dia sudah memiliki kekasih? Mengapa selera Alfa bisa berubah seperti itu? Apa ia lebih suka dengan penampilan gadis sederhana namun memiliki jiwa yang liar?” ucapnya dengan nada tak suka.
Helmia menghembuskan napas panjang. Satu tangannya terulur untuk menggenggam punggung gadis yang duduk terhalang meja di hadapannya tersebut. “Dia istrinya.” Helmia mendehem. “Tetapi dia sama sekali tak bisa memberi kebahagiaan untuk Alfa, terutama untuk kami orang tuanya. Tiara tidak bisa memberi Alfa keturunan," sergahnya cepat.
Karina membelalakkan mata. Tak percaya dengan ucapan Helmia. Wanita itu tak habis pikir. Mengapa bisa-bisanya Alfa seperti sedang salah melangkah seperti ini? Ia pernah tahu tentang hubungan lelaki itu dengan model sepertinya. Romantisme Alfa dengan perempuan yang dilihatnya ketika di rooftop bar saja sudah mengejutkannya. Ternyata, wanita itu istrinya? Oh, mengapa ia harus terjerumus ke dalam urusan pelik ini?
Jujur saja, ia pernah menaruh hati pada Alfa sewaktu dulu. Namun, laki-laki itu bukanlah tipe pria gampangan yang bisa dengan mudahnya ia bujuk rayu, apalagi, ia terlanjur tertinggal satu langkah dengan Nelly, sehingga ia lebih memilih untuk tak lagi mendekatkan dirinya pada lelaki itu.
“Bibi hendak meminta mereka bercerai?” Karina mengangkat alis dengan ekspresi wajah penuh tanya yang tak dibuat-buat, karena benar-benar dibuat bingung dengan keadaan yang tak disangkanya ini.
“Tentu saja. Tapi bibi mohon, kau harus membuat pertemuanmu dengan Alfa ini tersetting dengan benar, seolah tanpa ada paksaan. Kalian harus dekat dengan cara natural. Kurasa itu akan lebih mengena untuknya daripada kau yang terlalu agresif. Jangan sampai ia menyadari bahwa kau sedang mendekatinya agar rencana ini berjalan dengan mulus.” Helmia menceramahinya dengan serentetan kata perintah yang Karina coba tangkap dengan cepat maksudnya.
“Tapi Bibi … Aku masih merasa kecewa padanya dan ia pun masih kesal padaku. Kemarin aku tak sengaja membuat keributan ketika mereka berdua sedang ada di sebuah restoran, dan sikap Alfa, masih sama seperti dahulu,” gerutunya dengan memancungkan bibir pinknya.
“Justru itu awal yang baik untukmu. Alfa tak akan menyadari jikalau kau sedang mendekatinya. Teruslah begitu, dan pada saatnya nanti, jangan lupa untuk membuatnya jatuh cinta padamu. Siapa yang tahu benci akan menjadi cinta dan cinta menjadi benci? Alam yang akan melakukan seleksi bukan? Mana yang terbaik untuk kita mana yang tidak.” Helmia mengangkat bahu dan tersenyum simpul.
Karina tampak melamun dengan wajah pias penuh dengan segala pertimbangan.
Sekali lagi, wanita yang seharusnya menjadi penyokong semakin baiknya hubungan kedua anak mereka itu, menembakkan lagi kata-kata panahnya, “Kau masih menyukainya kan Karina? Aku telah membukakan gerbang untukmu, kau tinggal melangkah dan menentukan sikapmu,” ujarnya lagi.
Karina memandang Helmia demi mengiyakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan kepadanya itu. Bibirnya terlipat dan keraguan nampak dalam sekilas wajahnya.
“Mereka masih mudah untuk dipisahkan jika kau segera bertindak. Hubungan yang singkat biasanya tidak membekas terlalu dalam bukan?” Helmia memajukan wajah untuk meyakinkan lagi gadis di depannya yang tampak ragu-ragu itu.
“Aku hanya berharap, aku sedang tidak salah langkah kali ini.” Karina akhirnya berucap dengan nada rendah. “Aku tak ingin merusak hubungan orang tetapi ... tetapi-” Nada gusar mulai nampak di sana dan dengan segera Helmia menginterupsi.
“Percayalah.” Genggaman tangan Helmia pada punggung tangan gadis itu mengerat.
“Kau akan menjadi Nyonya Alfa nanti. Semua orang akan menghormatimu karena kau adalah wanita tersohor yang sudah tentu banyak orang mengetahui bagaimana jejak langkahmu. Menjadi istri Alfa adalah nilai plus untukmu. Semua jalan akan segera terbuka lebar, untuk karirmu dan juga untuk kehidupan Alfa." Sekali lagi wanita itu mencoba untuk meyakinkan. Tak lama, genggaman tangan itu ia lepaskan.
Helmia duduk bersandar dengan menyeruput teh panas yang mulai menghangat dalam cangkirnya. Karina yang hanya terdiam dan sesekali menatap Helmia itu cukup untuk menjadi jawaban memuaskan baginya.
Ia tahu, wanita atau gadis mana yang tak mungkin tak terikat pada pesona anak laki-lakinya itu. Mengapa Alfa bodoh sekali? Jika saja anak lelaki satu-satunya itu mau menuruti segala perintahnya, maka kehidupan mewah nan glamour yang diimpikan banyak orang itu ada padanya.
Helmia meminum kembali tehnya dengan rasa yang campur aduk di dadanya. Gadis ini terlihat berbeda. Ia yakin, Alfa akan terpikat pada tipikal gadis seperti ini yang terkesan menghindar darinya ini, seperti ketika ia tertarik pada Tiara sebelumnya.
Helmia menyimpulkan kesemuanya dengan sudut pandang dirinya sendiri, tanpa mau melihat, bagaimana kehidupan anak lelakinya itu saat ini ....