The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 66 - Kucing Persia



Cuaca nampak berseri pagi itu. Awan cirrus yang terlukis dengan apik, dipadu dengan warna langit yang membiru menjadi atap yang sempurna untuk melakukan aktivitas bagi pecandu kesibukan di bawah naungannya. Tiara dengan ceria tengah memandikan tanaman-tanamannya dengan segembor air. Menghujani aneka dedaunan dan bunga-bungaan yang bermekaran di sudut-sudut tamannya. Perutnya yang kian membesar tak menjadi penghalang baginya untuk terus melakukan aktivitasnya di tiap pagi dan sore hari itu. Malahan, kini perempuan itu semakin giat dalam bergerak aktif melakukan kegiatan rumahan dan membantu Alfa tatkala lelaki itu tengah disibukkan dengan aktivitas melukis dan editing foto.


Diam-diam, lelaki berambut hitam itu mengamati istrinya dari balik jendela. Bersedekap dengan senyum masam yang mengartikan keseluruhan cintanya yang begitu besar dengan sebentuk kecemasan. Sebentar lagi ia akan membawa Tiara ke luar kota, bersembunyi untuk sementara waktu di tempat Yunus. Ia pastikan akan membawa istrinya itu untuk berjalan-jalan terlebih dahulu ke taman kota seperti janjinya tempo hari. Wanita itu ingin sekali melakukan olah fisik meskipun hanya dengan berjalan santai mengelilingi taman.


Tiara mendudukkan dirinya di teras rumah setelah menghabiskan setengah gembor air berukuran kecil itu di tangannya. Mengibas-ngibaskan tangan pertanda rasa panas mulai muncul dari tubuhnya. Alfa yang melihat istrinya itu tengah beristirahat, kemudian melangkahkan kaki menuju dapur, membuat seduhan lemon tea seperti yang biasa wanita itu konsumsi dan satu gelas air putih. Alisa yang tak diijinkan untuk turut membantunya itu hanya menatap aktivitas tuannya dengan tersenyum. Menyaksikan betapa cekatannya lelaki itu dalam menyentuhkan tangannya dengan benda-benda yang berada di dapur.


Setelah akhirnya meletakkan satu cangkir bening teh lemon dan segelas air putih ke atas nampan, Alfa lantas membawanya seorang diri ke teras rumah.


Tiara yang tengah duduk dengan santainya itu menengok ke samping begitu mendengar ada suara langkah yang mendekatinya. Kedua alisnya terangkat dan bibirnya mengulas senyum senang melihat suaminya itu datang membawakan minuman. Begitu meletakkan gelas dan nampannya di atas meja, Alfa berjongkok di depan istrinya dengan kedua tangan bertumpu pada siku di atas kursi wanita itu dan tubuh membungkuk, mencium dengan mesra perut Tiara yang kini telah nampak sedikit membuncit.


“Kau ingin dia seorang laki-laki atau perempuan?” Alfa membelai perut besar itu kemudian menempelkan telinga di depannya. Mendengarkan dengan saksama pergerakan yang sama sekali tak bisa didengarnya itu. Hampir setiap pagi dan malam hari sebelum tidur, lelaki itu selalu melakukan kegiatan tersebut, berkomunikasi dengan gerakan-gerakan lembutnya yang menyentuh permukaan perut dan menempelkan kepalanya.


Wanita itu mengusap kepala suaminya dan berkata, “Aku tak masalah dia seorang laki-laki atau perempuan. Aku bahagia dengannya hingga hampir-hampir aku tak memikirkan jenis kelaminnya.” Tiara mengerucutkan bibir. “Tetapi … aku rasa, dia seorang perempuan,” kekehnya.


“Oh ya? Jadi kau perempuan duhai bayi mungil?” Alfa mengusap-usapkan kembali tangannya dan ekspresinya berubah menjadi begitu takjub ketika dirasakannya ada gerakan kecil yang seakan merespon usapan tangannya, menjawab tanya dari lelaki itu. Tiara tersenyum dan ikut membelai perutnya, mengikuti gerakan-gerakan dalam perutnya yang berubah-ubah.


“Dia akan senang sekali mendapat sentuhan seperti ini.” Tiara menangkup tangan suaminya. “Dan … dia sangat menyukai saat aku membacakannya cerita. Dia akan diam seperti sedang mendengarkan cerita yang kubacakan,” tukasnya dengan wajah bahagia.


“Wah, dia pasti akan tumbuh menjadi gadis cerdas seperti ibunya.” Alfa menengadah, menatap mata Tiara yang bersinar-sinar. “Kalau begitu, siapa namanya?” lelaki itu menatap kembali ke arah perut istrinya.


Tiara mengerutkan kening. Ia belum memikirkan tentang nama, karena jenis kelaminnya saja belum mereka ketahui pasti. Bukan apa-apa, wanita itu menginginkan hal itu menjadi kejutan saja di hari kelahiran anaknya nanti. Sehingga, ia lebih memilih untuk menentukan nama pada hari-hari menjelang perkiraan lahir yang kurang lebih masih tersisa waktu dua bulan lagi.


Alfa terkekeh ketika melihat mimik wajah Tiara yang mendadak memberengut, berpikir keras untuk memberi jawaban tentang nama padanya. “Bagaimana jika kita panggil dia Nadia?” Lelaki itu mengangkat kedua alis. Menanyakan pendapatnya pada Tiara. “Nama itu mempunyai arti harapan. Seperti kita saat ini yang begitu mengharapkan kehadirannya untuk segera lahir ke dunia.”


“Kau yakin dia perempuan?” Tiara menyesap lemon tea yang berada di sampingnya, meminumnya hingga tandas. Memuaskan rasa haus yang sedari tadi menyiksa tenggorokannya.


“Seperti firasat ibunya. Karena biasanya seorang ibu memiliki ikatan kuat dengan anak,” tuturnya. “Mari kita berjalan-jalan sebentar. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” Alfa berdiri dan mengulurkan tangan. Dengan bertumpu pada lengan kursi, Tiara berdiri sembari menyambut uluran tangan suaminya.


Setelah bisa berdiri dengan sempurna, lelaki itu merangkulkan tangan pada pinggang istrinya, mengamati Tiara yang sudah bersiap untuk melangkah. Namun, hingga wanita itu bersiap untuk melangkah, Alfa masih berdiri saja dengan tegapnya. Perempuan itu menengadah, memandangi suaminya dengan ekspresi berkerut.


“Ada apa?” Tiara bertanya dengan raut wajah penuh tanya.


Alfa tersenyum simpul, lalu mencium pelipis wanitanya dengan lembut dan melepaskannya, membalas tatapan penuh tanya Tiara. “Seperti sebelum-sebelumnya, kau nampak begitu cantik ketika mengandung,” pujinya.


Tiara mencebik, menolehkan kepala dengan rona merah muda di pipinya. Merasa malu karena diperhatikan begitu intens oleh laki-laki itu.


******


“Hei, apa yang kau lakukan?” Alfa memegangi tangan Tiara ketika wanita itu hendak turun dari mobil dengan melepaskan alas kaki.


“Begitukah? Bagaimana jika ada benda-benda berbahaya seperti pecahan-pecahan kaca atau semacamnya yang akan melukai kakimu?” cemasnya.


Tiara mengangkat sebelah alis dengan ekspresi heran. Kedua matanya memindaikan pandang ke sekeliling. “Kau pikir akan ada benda-benda seperti itu di tempat ini?” perempuan itu mengedikkan dagunya ke luar kaca mobil.


Lelaki itu pun melihat ke arah luar dengan menimbang-nimbang. “Baik,” ucapnya lalu membungkuk dan turut melepaskan sepatu yang dikenakannya. Tiara tersenyum geli melihat tingkah suaminya. Apakah seumur hidup lelaki itu belum pernah melepaskan alas kaki selain di rumah dan di pantai?


“Ayo,” ajaknya. Alfa menghela tangan istrinya dan dengan perlahan memapah Tiara untuk turun dari mobil. Berjalan beriringan menyambut udara segar yang dipompa oleh rindangnya pepohonan yang tengah sibuk berfotosintesis itu.


Keduanya berjalan melewati jalan paving selebar satu meter yang memanjang ke berbagai penjuru taman. Melangkah perlahan, benar-benar menikmati tiap detik yang berlalu di tempat itu. Meninggalkan jejak kemesraan mereka yang terpatri menjadi kenangan.


Perlahan, Alfa melepaskan tautan tangannya, dan berdiri menjauh dari Tiara. “Berdirilah di situ,” perintah lelaki itu sembari mengotak-atik kamera yang kini sudah berada dalam genggaman kedua tangannya.


Tiara menoleh dan tersenyum miring. “Astaga … ingin rasanya aku menjadi sebuah kamera saja agar selalu bisa bersamamu kemana pun,” ejeknya lalu menelengkan kepala ke arah angin yang menerpa wajahnya, membuat rambut cokelat emasnya yang bergelombang itu tergerai-gerai ditiup udara. Gaun chiffon berwarna kuning yang dikenakannya pun melambai-lambai dengan manis, makin mempercantik wanita itu yang kini nampak bercahaya dengan semburat sinar mentari pagi yang menyorotinya melalui celah-celah dedaunan. Tak bosan-bosan Alfa memicingkan mata ke lensa kamera dan mengambil foto istrinya itu berkali-kali. Perempuan itu sampai memukul-mukul lengan Alfa dengan kesal dan penuh rasa malu, karena suaminya itu nampak seperti seorang lelaki kasmaran yang sedang mencuri gambar diam-diam, bagaimanapun pose kekasihnya itu.


“Hei lihat!” Tiara berseru ketika terlihat dalam pandangannya ada seekor kucing Persia berwarna abu-abu yang tengah berlenggak dengan tenang ke arahnya.


“Jangan!” lelaki itu berkata dengan sedikit melangkah cepat ke depan, menghalangi wanita itu yang hendak menyentuhkan tangannya pada si kucing.


Dengan kaget Tiara menoleh, terkejut karena suaminya begitu kaget akan sikapnya. Kucing abu-abu itupun turut terperanjat dan berlari dengan cepat mendengar suara keras Alfa yang seperti gertakan untuknya itu.


“Jangan dekat-dekat dengan kucing. Dia memiliki virus mematikan yang bisa membahayakan ibu hamil dan anak-anak bukan?” Alfa duduk di samping Tiara yang masih memandang sampai hewan tersebut berlari dan tak nampak lagi dalam pandangannya.


“Aku sudah kebal dengan kucing. Tak tahukah kau, aku memelihara banyak kucing di rumah mama sejak aku kecil? Ada lima ekor dan kesemuanya adalah kucing Persia yang kuadopsi dari rumah hewan,” ucapnya.


Lelaki itu memiringkan kepala, memandang ke arah istrinya dengan heran. “Benarkah? Aku belum pernah melihatnya.”


“Tentu saja. Aku dengan berat hati menyerahkannya kembali ke tempat adopsi hewan sebelum kita menikah,” Tiara menoleh dengan tersenyum. “Em … bagaimana jika kita mengadopsi kucing? Ah, pasti akan menyenangkan sekali mendengar suara ocehannya sepanjang hari.”


Alfa membelalak. Kucing? Istrinya menginginkan kucing? “Kau jangan bercanda. Aku tak ingin terjadi apa-apa denganmu jika kau sampai hidup bersama hewan itu. Apalagi kucing termasuk hewan manja yang selalu ingin dekat dengan majikannya. Kau tahu itu bukan?”


“Kau bisa menempatkannya di rumah belakang dengan membelikannya kurungan. Boleh ya? Aku berjanji akan menjaga jarak selama aku hamil jika itu yang kau mau,” mohonnya. “Atau … kita bisa mengajaknya ke rumah papa? Ia bisa menjadi hiburan untukku selama aku berada di sana.” Tiara memegangi lengan Alfa dengan mata bulatnya yang berbinar. Sungguh terlihat seperti anak kecil yang sedang merengek.


Hati Alfa berdesir mendengar perkataan terakhir istrinya itu. Dengan cepat ia menoleh, menyelidik ke kedalaman mata Tiara. Tanpa terasa, tangannya menangkup kedua pipi wanita itu, mengunci tatapannya, mencium bibir istrinya sekilas dan tersenyum. “Aku akan melakukan apa saja untuk memperjuangkanmu Tiara. Jangan memohon-mohon seperti itu hanya untuk meminta seekor anak kucing.” Lelaki itu mengusap pipinya dengan lembut. “Kita akan mengadopsinya setelah terlebih dahulu pergi untuk check up ke tempat dokter Jeni dan memastikan kau baik-baik saja,” pintanya.


Tiara mengangguk dengan senyum simpulnya. Dengan segera, Alfa melepaskan tangannya dari kedua pipi wanita itu. Menahan sekuat tenaga atas hasratnya yang kembali membara, seketika mendapat perlakuan manja wanitanya yang semakin menjadi-jadi selama kehamilan ini. “Kau mau menikmati air mancur di sebelah sana? Ayo, sebelum matahari naik terlalu tinggi dan membakar kulitmu.” Lelaki itu berdiri dan menggenggam tangan istrinya, berjalan kembali menelusuri jalan paving itu, menuju sumber suara air yang sedari tadi bergemerisik merdu di telinga.