The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 70 - Muara Rindu



Alfa yang telah memasuki ruang kemudi itu melepas kacamata hitamnya dan memicingkan mata. Memastikan pupil matanya memanglah sedang menangkap sosok yang dikenalnya. Helmia. Wanita itu memandang lurus ke arah anak laki-lakinya sembari menutup pintu. Alfa menyeringai lalu keluar dari mobil, berdiri dengan menyakukan sebelah tangannya ke dalam kantong celana. Bersamaan dengan itu, berhentilah mobil silver tepat di belakang mobil Helmia. Membuat keduanya sama-sama memfokuskan perhatian sejenak pada kedatangan kendaraan tersebut.


Karina yang dengan santainya keluar dari mobil kesayangannya itu terhenyak karena tak sempat memperhatikan dengan teliti seseorang yang tengah berdiri di samping mobil hitam di depannya. Perempuan itu lalu menatap secara bergantian, Alfa dan Helmia dengan air muka meminta penjelasan.


Helmia memandangi Alfa lagi dan berjalan mendekat. Mengabaikan Karina di belakangnya. “Di mana Tiara?” Tanyanya dengan wajah ketusnya yang biasa.


Alfa menaikkan sebelah alis. “Wow. Tak kusangka Mama mau datang kemari dan mendadak mencari Tiara. Ada apa?” Lelaki itu bertanya dengan raut muka tenang tak terbaca. Ada rasa gembira dan puas yang membuncah di dada, tetapi berhasil ia kendalikan sepenuhnya sehingga Helmia malahan memalingkan muka mendapat lontaran pertanyaan demikian.


“Aku akan pergi terlebih dahulu ke studio,” sela Karina di antara percakapan canggung ibu dan anak itu.


Lelaki itu memiringkan kepala sebentar, merelakan waktunya beberapa detik untuk menanggapi ucapan wanita itu dengan anggukan. Wanita model itu lalu masuk kembali ke dalam mobil dan melajukan lagi kendaraannya ke dalam keramaian lalu lintas yang bersenjangan dengan dua kendaraan yang tengah berhenti di depan gerbang itu.


Alfa menatap lagi Helmia di depannya. Wanita itu mengembuskan napas panjang. “Mama ingin bertemu,” jawabnya.


“Untuk?” lelaki itu memajukan tubuh dengan kesiapan penuh untuk berdebat dengan Mamanya. “Apa ada yang masih Mama pedulikan?” Bertanyalah Alfa dengan nada konfrontatif yang langsung ditanggapi Helmia dengan tatapan tajam.


“Apakah benar ia sedang hamil?” Helmia bertanya dengan keraguan yang begitu nyata dalam ekspresinya.


Alfa tertawa kecil. “Aku tidak mengerti dengan apa yang sedang Mama pikirkan,” selorohnya.


“Mengapa kau terlihat menutup-nutupi? Apakah ada yang keliru saat Mama sekedar bertanya bagaimana kabarnya? Bukankah ini pula yang kau mau? Penerimaan?” Wanita itu terlihat putus asa untuk bisa menjelaskan dengan masuk akal pertanyaannya agar bisa diterima dengan baik oleh Alfa.


Lelaki dengan kaus longgar berwarna abu itu menyandarkan tubuhnya pada kap mobil. “Bagaimana jika Tiara memang sedang hamil? Dan bagaimana jika ia ternyata tidak sedang hamil? Apakah Mama masih akan peduli? Penerimaan seperti apa yang Mama maksud? ” Tanyanya dengan mimik wajah penuh emosi yang tertahan. “Kuharap Mama mengingat kembali perkataan Mama tentang aku yang berhak bahagia lebih dari hidup yang sedang kujalani,” ucapnya lagi. “Aku sedang menjemput kebahagiaanku sendiri sekarang. Jadi, jangan berpikir lagi untuk menghalangi usahaku kedua kalinya,” tandasnya lalu masuk kembali ke dalam mobil, menutup pintunya keras-keras dan melajukan kendaraannya tanpa mempedulikan lagi, Helmia yang masih terpaku di tempatnya.


Ya. Helmia memang pernah berlaku kejam pada menantu perempuannya itu. Bukan karena ia tak sudi menerima Tiara yang memiliki kekurangan serupa dengannya, tetapi, Helmia benar-benar belum bisa menyembuhkan trauma pada dirinya dan tak ingin jika Alfa sampai mengalami nasib yang sama dengannya. Ia hanya ingin anak laki-lakinya itu bahagia tanpa melewati masa sulit seperti yang wanita itu alami. Namun, sepertinya ia telah melewatkan satu hal terpenting yang ia lupa bahwa ternyata, kebahagiaannya bukanlah terletak pada tergenggamnya apa yang ia mau, tetapi juga, keberadaan orang-orang tercinta yang membersamai langkahnya. Dan saat ini, Helmia tak memiliki itu. Ia baru merasakan kepergian Yunus yang begitu lama itu ternyata cukup mengosongkan hatinya. Ia kesepian. Bahkan, meski kini Alfa tengah dekat dengan Karina pun, ia merasa ada sesuatu yang kurang karena anak laki-lakinya itu terasa jauh dari jangkauannya. Belum lagi pengetahuan tentang Tiara yang tengah mengandung cucunya.


Alisa yang nampak keluar dari dalam rumah dan melihat Helmia itu datang mendekat. “Nyonya,” sapanya.


Wanita tua yang terlihat sedang melamun itu, dengan malas menolehkan kepala ke arah suara yang memanggilnya. Sejenak wanita itu memindai wajah Alisa dan tersentak manakala ia mengenali parasnya.


“Kau …,” tebaknya.


“Iya … saya … Alisa, asisten rumah tangga Pak Alfa. Silakan masuk,” ucapnya dengan gerak tubuh memberikan ruang kepada tamu tuannya itu untuk masuk ke dalam rumah.


Helmia menyapukan pandangan ke sekitar area rumah unik nan minimalis itu sebelum pandangannya kembali mendarat ke wajah Alisa.


“Tidak usah, aku hanya ingin bertemu Tiara. Apa dia ada?” Tanyanya dengan ragu karena seolah suasana sepi yang nampak dari rumah itu telah menjawab semuanya.


“Maaf, Nyonya, Ibu Tiara sedang tidak berada di rumah ini,” jawabnya.


“Ke mana perginya?” Helmia mengerutkan muka. Merasa tak nyaman dengan pertanyaannya sendiri karena tak pantaslah ia disebut ibu saat tak mengetahui apa yang sedang terjadi pada anak-anaknya.


“Saya tidak tahu, Ibu Tiara berangkat dengan membawa banyak sekali barang dan tak meninggalkan sekalimat saja ucapannya kepada saya. Sudah satu minggu ini,” jelasnya.


“Apa?!” Helmia terkejut luar biasa. Sungguh ingin sekali ia bertanya pada Alisa tentang kehamilan Tiara, tetapi, ia lebih memilih untuk bungkam. Wanita itu lalu mengangguk tipis seraya mengembuskan napas. “Baiklah. Aku pulang. Terima kasih,” pamitnya lalu melangkah mendekat ke mobilnya dan masuk kembali.


******


Wanita itu menghempaskan tubuhnya dengan pasrah pada pangkuan kursi jok mobilnya. Merasakan hatinya yang kini mendadak benar-benar putus asa untuk bisa mengartikan kecamuk rasa yang begitu ganas memenuhi palung hatinya dengan kegalauan. Tak ada seorang saja yang bisa menjadi tempatnya berkeluh kesah kini, tidak pula Karina.


Helmia memejamkan mata. Mencoba meredupkan sinar silau perasaan tak nyaman yang bersarang di rongga dadanya itu.


“Nyonya,” Julius yang tengah menyetir di balik kemudi itu menelengkan tubuhnya dan menengokkan kepala ke arah Helmia. “Ponsel Anda memanggil sedari tadi,” ucapnya.


Layar interface yang menyala dengan nama pemanggil tak biasa itu menambah keterkejutannya. Jeni. Dengan sedikit gemetar, perempuan itu menggeser tombol hijau dan mendengarkan suara di seberang teleponnya dengan ekspresi penuh tanya.


“Helmia?” Dokter itu menyapa dengan suara resah.


“Iya. Jeni? Ada apa kau memanggilku?” Helmia mengerutkan kening dalam.


“Di mana Alfa? Apakah ia sedang ada bersamamu? Aku menghubunginya beberapa kali tetapi nomor ponselnya sedang tidak aktif. Ada sesuatu yang terjadi pada Tiara. Kuharap kau segera menghubunginya dan membawanya kemari,” harapnya dengan penuh kecemasan.


“Tiara ada di mana?” Wanita itu tak tahan lagi untuk memendam pertanyaannya.


Dokter Jeni nampak mengembuskan napas panjang. “Ada bersamaku di rumah sakit kota Bunga,” jawabnya.


Dada Helmia berdesir kencang menerima informasi yang mendadak diterimanya itu. Tiara ada di luar kota yang begitu jauh dari jangkauannya saat ini. Ia harus datang ke sana dan memastikan apa yang sedang terjadi.


“Julius berhenti!” serunya yang membuat lelaki yang tengah mengemudi itu kaget dan mengerem paksa mobil yang dikendarainya tatkala mendengar perintah mengejutkan dari tuannya itu. “Kita ke kota Bunga sekarang juga,” perintahnya dengan ekspresi tajam penuh kegeraman, menutup speaker ponselnya sejenak, lalu mendekatkan lagi ke telinga. “Jeni, tunggu aku, aku sedang dalam perjalanan menuju tempatmu,” ujarnya lalu memutus sambungan begitu saja.


“Ya, Nyonya,” jawab Juius lalu kembali fokus pada kendaraannya, memutar mobil dan melesat cepat menuju kota yang dikehendaki oleh wanita itu.


Helmia berkali-kali menilik jam tangannya, berharap waktu mau bekerja sama dengan tidak membuatnya terlambat. Entah apa yang sedang terjadi, tetapi wanita itu meyakinkan diri untuk harus segera tiba di sana.


******


Alfa yang masih terduduk di belakang kemudi nampak resah melihat mobilnya kini tengah terkepung di antara ratusan kendaraan yang lambat-lambat merayap pada jalur penuh kemacetan itu. Tubuh jangkungnya ia hempaskan pada jok sembari sesekali melirik ke arah ponselnya yang tak menampakkan sebentar saja notifikasinya. Dengan malas, ia mengambil benda hitam tersebut dan mendecak. Bagaimana bisa ia melewatkan hal penting untuk mengisi daya alat komunikasinya itu? Pantaslah jika ia tak mendapati lampu notifikasinya menyala. Lelaki itu lantas memajukan tubuh dan meletakkan ponsel di atas pengisi daya yang berada di dashboard mobilnya. Beberapa detik kemudian, hiduplah kembali layar 6,5 incinya tersebut, seiring dengan suara klakson yang terdengar di mana-mana karena rupanya, arus kemacetan itu sedikit terurai dan beberapa kendaraan saling meminta pemilik tunggangan lain di depannya untuk bergerak.


Lelaki itu melipat bibir dan mengumpat karena harus terjebak dalam situasi demikian ketika ia tengah terburu-buru. Mata cokelat mudanya sekilas melirik ponselnya yang menyala dan manik matanya yang tajam itu langsung menangkap nama yang tertera sebagai pemanggil di beberapa saat lalu. Dokter Jeni?


Alfa yang merasa sedikit lega karena lalu lintas di depannya sudah kembali lancar pada beberapa jalur itu, lantas menambah kecepatan mobilnya dan berhenti pada tepian jalan demi melihat kembali pemberitahuan pada ponsel yang menggelitik hatinya itu.


“Dokter?” sapanya ketika mengetahui bahwa panggilan teleponnya telah terjawab.


“Ah, ke mana saja kau? Cepatlah kemari, ada sesuatu yang terjadi pada Tiara,” serunya.


“Apa yang terjadi?” Lelaki itu mengernyitkan dahi menerima kabar dari sang dokter. Firasat buruk langsung melingkupinya tanpa jeda.


“Simpan dulu pertanyaanmu. Cepatlah datang!” Perintah Jeni dengan mutlak tanpa menerima tapi, karena wanita itu langsung menutup panggilan di akhir kalimatnya.


Alfa mendesah dan memejamkan matanya sebentar sebelum menginjak kembali pedal gas dan melaju secepat mungkin menuju muara rindu yang terlalu cepat menjawab keinginannya untuk bersua dengan kabar tak terduga.


Jika memang benar ada alat teleportasi nyata, sungguhlah ia berkeinginan untuk memilikinya demi memangkas jarak dan waktu yang selalu saja memaksanya untuk memendam rindunya selama perjalanan.


******


Maaf jika terlalu lama menunggu kelanjutan cerita ini 🙏


Author sedang disibukkan dengan aktivitas RL yang tak bisa ditinggal 🙏


Terima kasih untuk dukungannya dengan tetap memberikan penghargaan berupa vote dan like pada bab2 sebelumnya...


I love you all 💐💐