The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 72 - Mendekap Luka



Gadis kecil berkucir ekor kuda itu tersenyum dengan memegang jari telunjuk Tiara, menjadikannya sebagai pegangan. Mereka berdua berjalan beriringan, menapaki jalan berumput yang mereka injak dengan perlahan, menikmati waktu-waktu kebersamaan dengan damai, hingga tiba-tiba, si gadis kecil melepaskan pegangan tangannya dan melangkah mendahului. Berjalan mundur dengan sebelah tangannya terangkat, melambaikan tangan dengan wajah cerianya yang tulus, terus dan terus hingga sampailah anak perempuan itu pada pintu bercahaya terang yang amat menyilaukan mata. Sekali lagi, gadis berambut hitam itu tersenyum, tetapi dengan ekspresi masam. Melambaikan tangan dan berjalan semakin jauh dari jangkauan mata, meninggalkan debuman pada pintu cahaya itu dengan keras karena tertutup.


Tiara yang masih mengangkat tangan sebagai penghalang kedua matanya dari silau sinar di depannya itu terperangah, mendapati dirinya kini berada dalam ruang tak berbatas dengan keseluruhan berwarna hitam pekat. Hatinya terasa kosong, siapakah gadis kecil tadi yang mendadak datang lalu pergi?


Ia mendadak merasa kesepian. Berada seorang diri tanpa mengetahui siapa pun yang bisa ia jadikan teman. Tubuh rapuhnya menggigil dengan kuat, sebelah tangannya bergerak, menggapai apa saja yang bisa ia raih saat ini. Jiwanya begitu putus asa untuk segera bangkit dari ketidaknyamanan yang menderanya tanpa henti. Tatkala ia merasakan ada sesuatu yang hangat menyentuh punggung tangan, lambat-lambat Tiara didera rasa penasaran, siapa lagi yang datang ini? Akankah ia hanya menampakkan kehangatannya dalam sekejap lalu turut enyah?


Dalam usaha yang begitu berat untuk mencari tahu, kelopak mata Tiara terbuka beberapa mili, merasa terkejut karena alam tidurnya yang lelap itu mendadak terbangunkan. Tersambut oleh cahaya redup. Bola matanya yang masih belum sempurna menangkap bayangan yang tertangkap dalam pupil matanya itu mengirim sinyal pengenal dalam otaknya, memberitahunya bahwa wanita itu tidak sedang sendiri. Ia bersama dengan … Alfa.


Pandangan kabur yang sempat membayang dalam benaknya itu lama kelamaan menjadi jelas, dipandu oleh tubuh yang kini sadar sepenuhnya. Lelaki itu tersenyum hangat, menyentuhkan tangan pada kepala istrinya dengan lembut. Membelainya perlahan, seakan sedang memberinya hipnotis berupa gerakannya yang tenang dan mendamaikan.


Perempuan itu merasakan hatinya menghangat seketika, manakala tanpa disadari, rasa perih, kaku, dan tersayat pada perut bagian bawahnya mulai mengenalkan rasa sakit. Tiara melihat ke sekujur dirinya. Mendapati ia kini bisa melihat dengan jelas, kakinya yang tertutup selimut dengan perutnya yang tak lagi membuncit. Oh, ia teringat ketika beberapa waktu lalu dirinya sempat terserang demam sebelum akhirnya dokter menyatakan bahwa Nadianya telah pergi.


“Sayang ….” Alfa menyeru pelan sambil tetap meneruskan gerakan tangan di kepala istrinya. Namun, wanita itu tak memberi tanggapan. Ia tetap dalam keadaan anteng dan matanya yang menerawang. Tubuh Tiara memanglah tenang, tetapi siapa menyangka bahwa jiwanya menyimpan begitu banyak ketakutan, cemas, dan gelisah yang berpadu dalam lorong hatinya yang gelap?


Tidak ada lagi nyala harap dan semangat. Ingin rasa ia turut pergi saja dengan gadis kecilnya, mengakhiri segala penderitaannya yang tak pernah mau usai.


Tanpa menahan, wanita itu merelakan buliran kristal mengalir dari sudut matanya. Menunjukkan kuasa terakhirnya yang tak dapat lagi melakukan protes terhadap keadaan, selain dengan meratap. Alfa yang menangkap dengan jeli perubahan demi perubahan mimik wajah istrinya pun mengerutkan kening. Apakah Tiara tadi bermimpi bertemu dengan buah hati mereka sampai-sampai wanita itu menyebut-nyebut namanya? Oh, wanita itu pastilah mengalami trauma yang semakin bertambah buruk.


Alfa memanggil berulang-ulang nama istrinya, tetapi, seolah keberadaannya tak nampak dalam lingkup pandang wanita itu sehingga Tiara tak memberi reaksi apa-apa selain menangis. Lelaki itu lantas memajukan tubuh, menggapai wajah Tiara dengan bibirnya yang menempel pada pipi dingin wanita itu, tetapi, lagi-lagi, wanitanya tak memberi reaksi.


Lelaki itu lalu menekan tombol darurat yang berada di sebelah ranjang, berharap dokter segera datang ke ruangan dan memeriksa keadaan istrinya yang baru saja tersadar.


Begitu mendengar derap langkah yang saling bersahutan di dalam ruangan, Alfa meninggalkan kamar perawatan itu sejenak, memberi izin kepada tenaga medis untuk melakukan tugasnya.


******


"Bukankah ini yang kau inginkan?" Yunus memiringkan kepala. Menatap dengan pandangan penuh benci, padahal dalam hatinya ia merasa bahagia, bahwa usahanya untuk menyadarkan istrinya itu berhasil, bahkan lebih sukses dari yang ia duga. Kedatangan Helmia kemari ternyata membuka dua pintu hati wanita itu sekaligus. Entah bagaimana wanita itu bisa datang kemari hingga mau menemani Tiara dalam proses bedah cesar beberapa waktu lalu.


Hal itu tentu saja sangat mengejutkan bagi Yunus dan Alfa, karena mereka sudah menempatkan Tiara di lokasi yang cukup jauh lagi sulit terjangkau oleh kendaraan burung besi yang bisa menyingkat perjalanan. Namun, sampailah Helmia di tempatnya kini, di pucuk ruang kantor cabangnya, dengan muka lusuh dan mata sembap.


"Tolong bicaralah dengan lugas, sebab aku sudah terlampau lelah untuk sekedar berdebat denganmu," ucapnya dengan tanpa memandang ke arah suaminya, melihat ke arah luar dinding kaca yang menyajikan pemandangan hijaunya alam yang masih begitu perawan.


"Haruskah aku bertanya lagi, untuk apa kau berlama-lama di tempat ini tanpa persoalan yang jelas? Dan bagaimana bisa Tiara tinggal bersamamu di vila? Kau pikir aku bodoh dan tak bisa mengambil kesimpulan?"


"Apa kesimpulanmu?" Yunus berkata cepat dan berjalan pelan menuju kursi besarnya, menyakukan kedua tangan pada kantong celana dengan ekspresi gelap.


Tak ada jawaban hingga lelaki itu tiba pada samping meja. Menyandarkan panggul di tepinya dan menatap cepat Helmia yang tak bergerak di sana. Detik demi detik itu terasa bagaikan jarum waktu yang berdentang keras, menghitung waktu mundur seolah respons dari istrinya itu adalah sebuah kejutan yang mendebarkan.


Tubuh wanita itu berguncang pelan, seiring dengan isakan tertahan yang keluar dari mulutnya. Helmia menangis. Entah mengapa ia bisa menangis sedalam ini, mungkin saja karena hatinya yang dulu terlalu beku, sehingga air matanya terlalu kaku untuk sekedar mencairkan rasanya yang kelu. Kali ini, pecah sudah tangisnya, membarengi rantai keegoisan yang perlahan memudar. Ia kalah. Namun, ia bahagia, sebab kesakitan itu ternyata tak hanya melukai hatinya, tetapi juga mampu mendobrak jiwanya yang seolah-olah tak mengenal kasih dan toleransi.


Yunus berjalan mendekat. Mengelus lengan istrinya lembut hingga menolehlah Helmia dengan wajahnya yang semakin terlihat kusut, karena basah oleh riak air mata. Matanya yang kuyu itu beradu dengan bola mata penuh haru suaminya. Tanpa aba-aba, lelaki itu menghadapkan paksa tubuh Helmia dan memeluknya erat. Membiarkan luapan rasa rindu itu melebur kepada pemiliknya. Menyatu tanpa jarak. Membuat perempuan tua itu semakin tersengut-sengut. Menangis dengan sukmanya yang penuh dengan kesyukuran, karena pada akhirnya, ia tahu bahwa ketenteraman hidupnya adalah saat seperti ini, saat ia bisa dekat dengan si penawar hatinya manakala ia mencintai.


Lelaki dengan jas berwarna hitam itu mengembuskan napas panjang, melonggarkan dekapannya.


"Aku ... aku tidak ingin kehilangan kalian," desah wanita itu dengan mendongak ke arah suaminya. "Tetapi, sepertinya aku sudah terlambat," ucapnya lagi. "Alfa sudah akan menikah lagi dengan Karina-"


"Siapa yang berkata bahwa aku akan menikah lagi?" Suara Alfa yang cukup lantang itu menggema di seisi ruangan.


Helmia terhenyak, kedua matanya sontak membelalak lalu segera melepas pelukannya pada Yunus. Mendeham dengan suara yang dibuat-buat karena merasa canggung dan malu, dirinya yang lemah akhirnya terlihat sudah di depan Alfa.


Perempuan itu menatap anak laki-lakinya yang berjalan mendekat. Senyum yang tersungging dari bibir Alfa kian lebar, melihat pemandangan yang begitu menyejukkan hati, mengetahui kehangatan hubungan kedua orangtuanya yang kembali terjalin.


"Aku dan Karina tidak akan menikah. Kami hanya sedang melakukan pemotretan untuk promosi rancangan Diena yang tebaru. Itu saja," ucap Alfa ringan.


Helmia kembali mengangkat alis. Mencoba mencerna dengan seluruh akal sehatnya atas informasi yang syarat akan kejutan untuknya itu.


"Pandangan manusia terbatas Ma, maka dari itu kita pun harus membangun sekat untuk membatasi agar tatapan kita yang menerawang dan suka menembus tembok yang belum pasti isinya itu dengan prasangka baik." Alfa tersenyum lagi. "Aku membawa Tiara kemari karena ia sangat suka dengan keadaan di sini yang masih asri," desahnya dengan mengembuskan napas penuh kecewa yang begitu kentara di mimik wajahnya, ketika mengingat tentang kehamilan istrinya yang harus kembali gugur.


"Maafkan Mama." Helmia memegang kedua lengan Alfa dengan ekspresi penuh penyesalan.


Alfa tersenyum getir dan mengangguk singkat. Dipeluknya Mamanya itu dengan rapat. Lelaki itu berteriak puas di dalam hati, bahwa ia begitu menyayangi Mamanya. Mencintai dengan kasih yang tak tergantikan dan begitu membutuhkan pelukan mendamaikan ini untuk dapat berdiri tegap menyongsong langkah ke depan.