
Tiara masih terpaku sejenak sementara kedua tangannya masih berada pada dua pegangan tangan kursi roda. Ada orang lain yang asing bagi Tiara di rumahnya sendiri? Alfa menoleh ke belakang. Tersenyum miring melihat keterkejutan istrinya itu.
“Ayo sayang. Bawa aku masuk.” Alfa mengusap punggung tangan Tiara sebentar untuk mengusik lamunan perempuan itu, menyadarkannya bahwa mereka kini masihlah tengah berada di bawah terik matahari yang membuat lelaki itu menyipitkan mata karena intensitas cahaya yang masuk ke dalam matanya terlalu terang.
Tiara tergeragap lalu turut mengerjapkan mata dan barulah menyadari bahwa panas terik sang surya seolah telah sampai pada rongga tubuhnya yang paling dalam sehingga membuat tubuhnya panas dan berkeringat.
Wanita itu pun menoleh ke belakang dan mendapati Davian masih berdiri dengan koper di tangan tak jauh di belakangnya. Oh, apa yang dia lakukan? Menjemur kedua lelaki ini di bawah terik matahari? Wanita yang berdiri di ambang pintu pun tersenyum lalu menepikan tubuhnya mempersilakan tuan rumah dan tamunya untuk masuk.
“Oh. Iya. Mari masuk.” Tersenyum simpul menebar ke segala arah termasuk kepada Davian yang masih setia menunggui di belakang. Lelaki itu hanya mengangguk lalu mengekor ke mana Tiara berjalan sembari menyeret koper besar di tangannya.
Setelah sampai pada ruang tamu, Alfa menghentikan Tiara untuk mendorong kursi rodanya dengan kembali memegang punggung tangannya.
“Alisa.” Alfa menoleh ke arah perempuan tadi. Si empunya nama pun mendekat.
“Tiara, dia Alisa. Mulai hari ini, ia akan membantumu mengurus rumah. Alisa, ini Tiara istriku. Saling berakrablah kalian satu sama lain.” Alfa menatap kedua wanita itu bergantian.
“Nona Tiara.” Alisa menganggukkan kepala.
Tiara membalasnya dengan anggukan kepala dan senyum lebar. “Tentu saja. Alisa, selamat datang. Maaf tak menyambutmu dengan baik.” Tiara merasa tak enak hati sebab Alisa lah yang justru menyambut mereka datang. Alfa mungkin telah memerintahkannya untuk datang sebelum mereka pulang. Dan, untuk apa Alfa mempekerjakan seorang asisten rumah tangga? Apakah Tiara tak bisa menjadi istri yang baik sehingga Alfa tidak merasa puas atas apa yang dikerjakan oleh Tiara di rumahnya? Dan apa ini? Alfa sama sekali tak meminta persetujuannya terlebih dahulu. Bagaimana pekerjaan yang akan asisten itu lakukan dan siapa Alisa ini? Apakah Alfa mengambilnya dari Yayasan Asisten Rumah Tangga atau merekrutnya secara acak?
Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab dalam pikirannya itu membuat Tiara melamun.
Ish, dirinya seorang pengangguran sekarang. Aktivitasnya sebagai manajer rumah tangga cukup untuk menghiburnya dan mengisi waktu luangnya dengan nyaman. Mengangkat seorang asisten rumah tangga hanya akan membuat statusnya meningkat menjadi pengangguran level 02.
Tiara masih berkutat dengan pemikirannya sendiri sambil terus mendorong kursi roda suaminya hingga sampai pada ruang kamar. Menempatkannya di sisi ranjang.
“Terima kasih Davian. Singgahlah terlebih dahulu.” Tiara menerima uluran pegangan koper yang diangsurkan lelaki itu, kemudian menaruhnya di depan almari pakaian.
“Tidak Tiara. Aku harus segera pergi. Aku tak akan tahan untuk tinggal, karena pasti aku akan membicarakan masalah pekerjaan. Alfa membutuhkan banyak waktu untuk beristirahat bukan?" Tersenyum kecut. Kepalanya menoleh ke arah Alfa yang masih terdiam di kursi rodanya. “Aku pulang Al.” Membalikkan tubuh dan berlalu begitu saja meninggalkan ruangan setelah melihat Alfa menganggukkan kepala tipis serta melambaikan tangan.
Keduanya memperhatikan Davian yang keluar dari kamar hingga di penghujung mata tak dapat lagi memandang.
******
Alfa tengah menyuapkan tusukan terakhir irisan buah apel dari piring kecil di pangkuannya. Menyesap berkali-kali rasa manis, asam serta tekstur lunak Apel Washington yang telah diiris kecil oleh Tiara hingga sekarang ia telah menghabiskan satu butir penuh dalam beberapa irisan.
Udara yang sejuk dari pepohonan belakang rumah yang memberi suplai oksigen secara membanjir membuat cemilan sore hari itu semakin menyegarkan. Hawa panas di siang hari telah terganti oleh surutnya panas mentari yang tak lagi menyengat dan sekarang tengah bersiap menuju peraduan dengan meninggalkan cahaya kuning.
Keduanya tengah terduduk santai di teras belakang sambil duduk berdekatan, menikmati damainya waktu yang sedang memeluk.
“Lagi?” Tiara memandang suaminya, menyangga kepalanya dengan sebelah tangan. Alfa selalu memakan makanan yang dibuatnya dengan lahap, dan itu membuatnya senang. Meski, akhir-akhir ini, lelaki itu tampak sedikit lebih kurus dengan raut muka lelah yang begitu nampak dengan kantung mata yang menggantung di bagian bawah kelopak matanya.
“Cukup. Aku kenyang.” Tersenyum. “Kau sendiri, mengapa tak makan?” Menatap penuh ke arah Tiara.
“Aku akan makan nanti. Aku terlalu bahagia kau bisa pulang kembali ke rumah. Jadi, aku merasa kenyang.” Wanita itu mengelus perutnya perlahan.
“Oh. Jadi tidak benar ya, kalau ada yang berkata bahwa cinta saja tidak cukup sebagai bekal untuk berumah tangga? Nyatanya, hanya dengan aku pulang saja kau kenyang.” Alfa mengangkat sebelah alis dengan ekspresi menggoda.
Tiara menoel pipi Alfa pelan. “Aku sungguh sudah makan Gheo Alfa, dan aku sudah memakan lebih banyak dari padamu. Cinta tentu saja tak bisa membuat perut kenyang, hanya... hanya bisa membuat perut lebih berisi.” Wanita itu menekan suaranya dengan tegas pada nama suaminya, lalu terkekeh sambil menutup mulutnya ketika mendengar perkataan terakhirnya sendiri.
Rasa trauma masih hinggap di memory nya. Rasa sakit dan ketakutan akan kehilangan lagi membuatnya sempat berputus asa. Tapi, Tiara tak akan menyerah secepat ini. Ia harus menguatkan diri, mendobrak semangatnya untuk terus bertahan dan berusaha semampu yang bisa ia jalani. Jika Alfa saja terus mendorongnya untuk melangkah maju, bagaimana mungkin ia akan mengecewakan dengan berdiam diri saja di tempat?
Tiara bangkit dari duduknya. “Aku harus mandi.” Satu langkah kakinya yang telah berhasil maju terhenti tatkala Alfa mencekal pergelangan tangannya.
Lelaki itu tidak menatap pada matanya, namun pada perutnya yang tepat berada lurus dengan pandangan matanya karena suaminya itu masih duduk di kursi roda.
Dengan perlahan kemudian, Alfa mengelus lembut perut Tiara yang membuat wanita itu terkesiap. “Aku tak sabar menantikannya hadir kembali... Anak kita.” Alfa memperhatikan Tiara yang kini telah menatap pada perutnya pula.
“Hmm. Aku juga.” Menjawab singkat sambil memeluk punggung tangan Alfa yang masih menempel di sana.
“Oh. Kau ingin mandi? Aku juga.” Berucap mendadak dengan tersenyum menggoda, membelokkan pembicaraan dengan santainya.
“Apa?” Tiara membelalak.
“Aku ingin mandi, kau pun ingin mandi. Mari kita mandi bersama.” Tangan Alfa yang masih berada di depan perutnya itu kini mengusap dengan gerakan sensual yang membuat Tiara menahan napas.
“Bagaimana… kita… akan mandi?” Seperti tersengat listrik, Tiara berkata dengan terbata, hingga sebelah tangannya menopang pada dinding untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Ada orang lain sekarang di rumah ini yang membuat mereka tak lagi bisa seenaknya memamerkan kemesraan. Seolah ada peraturan yang langsung di cap jempol bahwa mereka haruslah menggunakan kamar saja sebagai tempat untuk melakukan sesuatu yang intens seperti sekarang.
Tak terbayang jika tiba-tiba saja, Alisa muncul dari balik pintu dan menyaksikan adegan Alfa yang sedang menggoda Tiara dengan mengusap perutnya mesra.
“Alisa telah meninggalkan rumah. Aku hanya memerintahkan ia untuk datang pada pagi hingga siang hari.” Memandang Tiara yang tengah melirik ke matanya. “Mari kita mandi.” Alfa terpaksa menghentikan aktivitasnya yang menyenangkan itu lalu mengedikkan kepalanya ke arah dalam rumah.
“Huft. Baiklah.” Tiara mendesah diikuti tangannya yang kini telah berada pada pegangan kursi roda dan mendorong Alfa memasuki rumah. Mengunci pintu kaca yang lebar di belakangnya dan menutup tirainya hingga tertutup sempurna tak ada celah.
Masih sakit dan sudah mengajak mandi bersama?
******
Bathtub berukuran besar dengan warna coklat kayu pada pinggirannya itu telah penuh dengan busa dan air. Lilin votive aromaterapi berwarna violet yang diletakkan di ujung kayu tempat bathtub berada juga telah dinyalakan. Membuat seisi ruangan kamar mandi tersebut penuh dengan wangi lembut yang menenangkan. Suhu air yang telah diatur sedemikian rupa pun lengkap sudah menjadi penyempurna acara mandi yang akan berakhir dengan tubuh yang rileks.
“Bantu aku masuk ke sini.” Alfa yang masih duduk di kursi roda dan tinggal selangkah lagi menuju bathtub memperhatikan Tiara yang masih termangu dengan lilitan handuk berwarna hijau terang dengan mata yang melebar maksimal, melihat rancangan acara mandi mereka yang sepertinya akan berakhir melelahkan.
“Ya.” Dengan ragu Tiara melangkah mendekat dan memapah suaminya agar bisa duduk tenang di dalam bathtub. “Kakimu? Apa tidak apa-apa seperti itu?” Melihat ke arah kaki Alfa yang sudah tertutup dengan busa sabun.
Dokter masih membebatkan perban di kakinya, namun tanpa pikir panjang Alfa langsung masuk begitu saja ke dalam bak dan membasahi perbannya dengan air yang membuatnya sepenuhnya basah tentu saja.
“Tidak apa-apa. Aku bisa melepaskannya nanti dan tak akan kupakai lagi. Aku hanya tinggal menyelesaikan terapinya bukan? Retaknya sudah sembuh sempurna. Dan ini, aku lebih suka terapi air seperti ini. Bukan hanya lukaku yang rileks, tapi tubuhku juga akan mendapatkan ketenangan yang sama.” Alfa berkata dengan menatap lurus ke mata istrinya, menghipnotisnya, karena tanpa terasa, handuk yang melilit tubuh bugil Tiara telah teronggok begitu saja di lantai.
“Masuklah.” Lelaki itu menyiratkan perintah dengan menyeret perlahan pergelangan tangannya.
Dengan gugup Tiara pun turut menenggelamkan dirinya di sana. Duduk di atas pangkuan suaminya, dan sekali lagi, terkesiap begitu merasakan ada hasrat besar yang tengah bersiap untuk menerkamnya.
Alfa mencium rambut Tiara dengan kedua tangan memeluk dari belakang. Menyentuh titik kesukaannya.
“Nikmatilah sayang. Rilekskan tubuhmu.” Berkata dengan senyum di sebelah bibir ketika mendapati Tiara bersandar pada dada bidangnya dan matanya mulai terkatup rapat.
Oh, Tiara mulai terbuai dan segalanya yang dimulai dengan rileks itu kian memanas…