
Helmia mempercepat langkah hingga menimbulkan bunyi derapan yang begitu keras berkat ketukan sepatu kitten heels yang dikenakannya dengan ubin keramik yang berwarna putih itu. Ekspresinya masih menunjukkan kecemasan yang belum berubah sejak keberangkatannya tadi. Hal itu masih ditambah dengan napas yang tersengal karena langkahnya yang sedikit berlari. Lengkap sudah wanita itu didera rasa panik melihat suasana lorong bangunan bercat putih dengan aroma khas tersebut yang berbaur dengan kata-kata Jeni yang menggema di benaknya. Terjadi sesuatu pada Tiara.
Langkahnya yang semakin dekat dengan tujuan itu berbanding terbalik dengan kelegaan yang semakin tertinggal di belakang. Berkali-kali ia menghela dan mengembuskan napas untuk menetralkan degupan jantungnya yang masih cepat.
“Dokter Jeni?” Ucapnya ketika membuka pintu ruang perawatan yang penuh damai itu. Matanya terbelalak melihat suguhan yang nampak sangat jelas di matanya. Tiara terbaring lemah di atas peraduan dengan kedua mata terpejam. Satu tangan wanita itu terlihat memeluk perutnya yang membuncit, sedangkan tangan yang satunya lagi dibiarkan tergeletak di atas kasur, sedang digenggam oleh Jeni yang menungguinya.
Helmia berjalan mendekat dengan langkah yang terputus-putus. Manik matanya tak berpaling barang satu detik saja dari wajah Tiara yang pucat. Jeni yang melihat keterkejutan wanita itu lalu berdiri, menyambut kedatangan sang ibu mertua dari wanita yang menjadi pasiennya itu.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” wanita itu perlahan duduk di kursi yang sedari tadi dipakai oleh Jeni.
“Tiara shock,” jawab dokter berkacamata itu lalu mengembuskan napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. “Bayi yang ada di dalam kandungannya telah tiada. Dan … ia harus menjalani bedah cesar karena posisi janinnya sungsang,” paparnya. “Di mana Alfa? Kau tak datang bersama dengannya?”
Wanita itu bungkam seribu bahasa. Kabar ini sungguh sangat mengejutkan untuknya, membuatnya seperti baru saja tersengat aliran listrik, hingga kejutan statis itu seakan-akan melolosi seluruh kekuatannya. Lidahnya kaku dan otaknya kesulitan untuk sekedar menata kata-kata yang hendak diucapkannya. Pukulan keadaan itu terlalu menghantam keras hingga Helmia kini hanya terduduk lesu tanpa energi.
“Kita harus segera melakukan operasi untuk mengeluarkan bayinya. Aku sudah berkoordinasi dengan dokter terbaik yang ada di rumah sakit ini serta membawakan laporan pemeriksaan rutin Tiara setiap bulannya. Kita hanya tinggal menunggu persetujuan keluarga untuk melakukan proses bedah,” ujarnya.
“Apakah harus Alfa? Apa aku tidak bisa menjadi jaminan keluarga?” Helmia menoleh, menatap dengan penuh harap dan kesungguhan pada Jeni yang sedang menatap Tiara dengan penuh kesedihan.
Jeni menoleh dan meniup udara dari mulutnya, terlihat menimbang-nimbang keputusan. “Baiklah. Akan segera kuurus. Tungguilah Tiara sebentar, aku akan berbicara dengan para Dokter,” putusnya lalu menjangkahkan kaki keluar dari ruang perawatan.
Dada Helmia bergemuruh. Seluruh tirai keakuannya meleleh sudah. Ia tidak bisa untuk menahan lagi buliran air mata yang keluar dari kedua sarang matanya yang memanas. Wanita itu menangis tersengguk-sengguk dengan suara lirih. Dihujani oleh rasa penyesalan yang memukul-mukul dengan begitu kerasnya di dalam hati. Tiara dan anaknya telah berpisah dengan menantunya ini yang tertinggal jauh di seberang menanggung sendirian rasa kepedihan.
Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi kini pun dengan tanya yang meruap-ruap dan tak terjawab. Mengapa Alfa dan Tiara menyembunyikan kehamilan ini padanya? Hingga kini pengetahuan tentangnya yang akan memiliki seorang cucu itu terlambat. Ia harus bertemu dengan cucunya untuk pertama dan yang terakhir dengan kondisinya yang tak terselamatkan.
Tak mengapa. Wanita dengan rambut yang telah beruban pada pangkal-pangkal rambutnya itu mengusap dengan elegan pipinya yang basah dengan sapu tangan. Menegakkan tubuhnya. Ia tak boleh lemah menghadapi situasi ini. Ia berikrar dalam hati untuk akan menemani Tiara dalam proses kelahiran calon jabang bayinya itu nanti. Ya. Ia akan melakukannya. Meskipun, ini saja rasanya belumlah apa-apa untuk menebus perlakuannya yang semena-mena dulu.
******
Alfa yang datang dengan napas terengah-engah itu menghentikan langkah seketika melihat Tiara yang tengah terbujur lemah di atas ranjang yang telah separuhnya memasuki ruang operasi. Mulai dari rambut hingga sekujur tubuh wanita itu tertutup oleh kain berwarna hijau. Corak yang selalu mendamaikan mata dan hatinya. Namun, kini lelaki itu melihatnya dengan rasa perih teriris. Yang lebih mengejutkan lagi, ada Helmia yang masa itu juga telah mengenakan baju dengan warna serupa. Mengiringi ranjang istrinya memasuki bilik bedah.
Jeni yang melihat lelaki jangkung itu tengah terkesiap, kemudian berjalan menghampiri dan menghela lengannya untuk kemudian menyeretnya duduk di ruang tunggu.
“Bayimu mengalami stillbirth.” Berucap Jeni dengan hati-hati sambil terus memandangi raut muka Alfa yang berubah pucat kesi.
Dokter berkacamata itu menghela napas panjang dan berujar. “Ada banyak faktor, tetapi, kemungkinan penyebabnya adalah karena istrimu pernah mengalami dua kali keguguran,” ucapnya. “Helmia menunggui di dalam, kau bisa sedikit tenang,” hiburnya.
Alfa membungkuk dan menyangga tubuhnya dengan kedua siku yang ia tumpukan pada kakinya. Membiarkan dadanya yang penuh perih itu mengeluarkan saripati kesakitannya. Lelaki itu menangis sejadi-jadinya tanpa menahan-nahan lagi. Melepaskan tetes-tetes air matanya jatuh menerjuni lantai. Menjadikannya saksi atas penolakan takdir yang hanya bisa ia sampaikan melalui tangisan.
“Kuatkan hatimu Alfa. Ini bukanlah akhir,” ucap dokter itu sembari menepuk-nepuk punggung lelaki yang masih tertunduk itu. Memberikan penghiburan sebisanya, karena ia pun turut masuk dalam kubangan kesedihan yang tengah menguar di tempat itu.
Lelaki itu menengadah. Memperlihatkan wajahnya yang merah padam. Menatap dengan nanar pintu ruang operasi yang tertutup tak jauh dari tempatnya duduk. Tidak ada harapan lagi di sana selain Tiara yang keluar dari ruang yang padat dengan aroma obat nan mengerikan itu dengan selamat. Ia rindu. Rindu yang selalu membawanya ke dalam geliat keputusasaan untuk bersua. Sungguh saat ini ia ingin menerobos masuk dan memeluk istrinya itu yang pastilah tengah dirundung oleh sesak kesakitan baik fisik maupun jiwa, tetapi, kelancaran operasi adalah keutamaannya saat ini, sehingga ia lebih memilih untuk diam dalam pangkuan penantian yang melelahkan.
******
Tiara yang dalam keadaan setengah sadar dengan selang oksigen yang menempel serta di hidungnya itu memandang langit-langit ruangan dengan berkabut. Kesadarannya terambil lebih dari setengahnya oleh obat bius yang disuntikkan ke tubuhnya. Ingatan akan dirinya yang sedang menjalani operasi itu menusuk hatinya dengan sakit yang teramat tajam, apalagi dengan tambahan pengetahuan bahwa nanti tidak akan ada suara tangisan bayi setelah udara dunia menyambut kelahiran anaknya yang terpaksa.
Oh. Perempuan itu ingin mati saja rasanya. Membersamai anaknya yang telah terlebih dahulu ditimang oleh para bidadari surga. Kehidupan yang penuh dengan kesulitan dan terpaan cobaan di hidupnya mendatang itu seolah sudah membuatnya putus asa sedari sekarang. Alfa pasti akan kecewa. Ah, Alfa, di manakah suaminya itu kini? Apakah ia telah datang di sampingnya tanpa ia tahu?
Helmia yang duduk di belakang kepala Tiara itu menatap pilu ke arah kelambu hijau yang menjadi sekat para dokter untuk melakukan pembedahan. Wanita itu menggigit bibirnya. Menunggu dengan ketakutan dan kecemasan luar biasa. Sekali lagi ia tak tahu bahwa menantunya itu harus pula melakukan pembukaan cervical cerclage yang dijalaninya beberapa minggu lalu untuk menyangga kandungannya agar tetap kokoh. Namun, apalah kekuatan manusia selagi Tuhan telah menjadikan apa yang dikehendakinya itu harus terjadi.
Salah seorang dokter berjalan ke arah Helmia dengan membopong jabang bayi yang telah membiru itu dalam pelukannya. Dengan tangis tertahan, wanita itu menggendong dan menciumi cucunya yang sudah tak bernyawa itu dengan gemetar. Tersenyum dalam ratapan duka, menyambut sekaligus melepas kepergian calon manusia penerusnya itu. Para dokter pun sekilas turut melempar pandang pada dua sosok bersilangan alam yang sedang melepas rindu itu, lalu melanjutkan kembali proses operasi hingga sayatan luka pada perut wanita itu selesai dijahit.
Helmia lantas mendekatkan bayi itu ke tubuh Tiara, membiarkan perempuan itu menyentuhkan kulit pada kulit mati anaknya yang telah tak bernyawa. Dengan segenap kekuatan untuk terus mendorongnya ke alam sadar, Tiara menciumi dengan sebelah pipi, bayinya yang masih digendong oleh Helmia, sebelum kemudian perempuan itu mengatupkan mata. Antara sadar dan tidak, ada rasa bahagia dan sedih yang bersarang dalam hatinya kini, mengetahui bahwa ia telah mengandung dan melahirkan buah cintanya dengan Alfa yang ternyata lebih dulu pergi meninggalkannya bahkan sebelum ia terlahir.
******
Lelaki itu memeluk mesra bayi perempuan di tangannya. Wajah jabang bayi yang begitu mirip dengan dirinya itu sungguh membahagiakan dan membuatnya menangis sekalian. Ia paku dalam ingatan wajah dan tubuh gadis ciliknya yang telah berubah warna itu. Kapan lagi ia bisa menatap dengan lekat seperti ini karena ini adalah yang terakhir. Alfa tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia abadikan bayinya dalam sebuah potret kecil berbingkai indah yang akan ditunjukannya kepada Tiara ketika wanita itu sudah sadarkan diri nanti.
Ah, sayang, terima kasih telah mau hadir sebagai pelengkap hidup kami walaupun sebentar. Alfa memberikan kecupan terakhir sebelum bayi itu dibawa kembali oleh para perawat.
“Aku akan memakamkannya di kotaku,” ujarnya pada perawat yang langsung dijawab dengan anggukan. Membiarkan para petugas berseragam putih itu melakukan upakara terhadap bayinya sebelum nanti dibawanya pulang. Lelaki itu lantas memandang ke arah ranjang di mana istrinya masih terlelap karena efek obat bius yang belum enyah dari tubuhnya. Menatapnya dengan pandangan kosong. Lamat-lamat terlihat bibir wanita itu menggumam dengan ucapan samar yang tak bisa didengar oleh Alfa hingga lelaki itu harus mendekatkan kepala.
“Nadia … Nadia ….” Tiara memanggil-manggil dengan lirih nama yang sempat tersemat pada bayi perempuan mereka. Lelaki itu mencium pipi istrinya sejenak. Merasakan bagaimana terpukulnya wanita itu, bahkan ketika ia berada di alam bawah sadar.