The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 77 - Bertamu



“Kau tak perlu melakukannya sekarang, mungkin suatu saat nanti jika kau benar-benar sudah tenang,” bujuk Alfa untuk kesekian kalinya ketika Tiara masih juga kukuh akan keinginannya itu. Wanita itu memang tampak lebih tegar, tetapi, lelaki itu tahu betul seperti apa batin istrinya saat ini. Tiara baru saja mampu untuk menyembuhkan diri dan hendak mendekati luka itu lagi? Bagaimana jika yang terjadi adalah perempuan itu kembali depresi karena lukanya kembali menganga?


Tiara mendengkus kesal. Merasa jengah untuk berlama-lama berdebat dengan Alfa. Ya, mungkin ini terlalu dini, tetapi, kehadiran sosok gadis kecil yang terus membayangi mimpinya itu membuatnya tidak tenang. Ia harus menuntaskan segala kabut yang menyelimuti dirinya itu hingga ia bisa benar-benar merasa lega sepenuhnya, begitupun dengan Nadia yang mungkin saja, ia tak senang melihat ibunya terus terkenang akan kesedihan.


“Baiklah.” Wanita itu menatap malas suaminya. Alfa yang mendapat reaksi seperti yang diinginkannya itu pun tersenyum puas. Namun, tanpa diduga, Tiara berdiri dari duduknya dan menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja. “Kalau kau tak mau mengantar, baiklah aku akan pergi sendiri,” putusnya dengan cepat, melangkah menjauh hingga membuat Alfa buru-buru mencekal pergelangan tangan istrinya itu. Lelaki itu mengembuskan napas kasar dan memandang wanitanya dengan tatapan tajam. Sungguh keras kepala. Tidak tahukah Tiara bagaimana putus asa lelaki itu dengan segala lelah yang harus ia tekan hingga sedemikian menyiksa agar tetap bisa terus tersenyum dengan hatinya yang remuk redam menghadapi dirinya yang sedang dalam keterpurukan? Menyabarkan diri hingga sekarang wanita itu bisa pulih seperti saat ini? Oh, dan sekarang dengan seenak hati ia berseregang untuk tetap pergi?


“Kemarikan kuncinya,” perintah Alfa dengan menengadahkan tangan. “Perjalanannya sangat jauh. Biar aku yang menyetir,” ucapnya.


Tiara memandang wajah Alfa dengan embusan napas panjang, melihat sejenak ke tangan kanan suaminya yang sudah menggantung di udara, lalu dengan enggan menaruh kembali kunci itu ke atas tangan Alfa. Lelaki itu kemudian melangkah dengan tetap menggenggam tangan Tiara. Tak mau jika perempuan itu berubah pikiran kembali apalagi sampai bersikukuh untuk akan pergi seorang diri. Sikap Alfa membuat Tiara seperti seorang tahanan yang sedang diborgol agar tak melarikan diri.


Perempuan itu dengan pasrahnya menurut saja akan Alfa yang sudah setengah marah menghadapi kekesalannya. Berjalan di belakang tubuh suaminya dengan tangan kanannya yang dipegang erat oleh lelaki itu.


Keduanya sama-sama mengencangkan sabuk pengaman dan duduk dengan tenang di jok masing-masing. Menikmati perjalanan dengan nyaman, meski udara perseteruan masih pekat dalam kabin itu. Baik Tiara maupun Alfa sama-sama tak mengucapkan sepatah kata saja untuk sekedar berbasa-basi. Mereka lebih memilih diam dengan lelaki itu yang terus fokus pada kemudinya dan Tiara yang anteng, menatap apa saja yang tertampil dari kaca samping pintu mobil yang ditumpanginya.


Perjalanan mereka ini memang sangatlah jauh. Melewati beberapa kota dengan keadaan jalan yang berbeda-beda hingga nanti mereka tiba di kota Metro, tempat tinggal keduanya sebelumnya.


Alangkah rindu wanita itu dengan ibunya setelah hampir delapan bulan ia dan Alfa meninggalkan rumah lamanya, rindu dengan keramaian hiruk pikuk keramaian kotanya, rindu udara yang sudah melekat akrab dengan paru-parunya yang sekarang ini harus ia tinggalkan.


Ya. Tiara memutuskan untuk tetap tinggal di Kota Bunga. Menjadi warga tetap di sana dan menyatukan diri dengan hijaunya alam yang selama ini memang menjadi dirinya. Sudah ia tetapkan untuk akan meninggalkan segala kehidupannya dahulu, melepaskan harapan usangnya termasuk memakamkan Nadianya di sana.


Ah, angin segar yang terhirup dari indra penciumannya itu perlahan memercikkan rindu yang perlahan merambat tanpa tahu malu di segala sisi hatinya. Mungkin Tiara memang tidaklah siap untuk ini, tetapi, keinginan untuk bersua terlalu kuat mengalahkan segalanya, hingga ia beranikan diri untuk menempuh perjalanan ini, menemui jantung hatinya yang telah lelap berkalang tanah.


Mobil Alfa berhenti di sebuah parkiran yang teramat sepi, tepat di depan sebuah gapura megah berpilar putih yang menjulang tinggi di kedua sisinya. Tiara dan suaminya turun bersamaan, lalu berjalan bersisian.


Degup jantung wanita itu semakin tak beraturan mengiringi langkahnya yang semakin mendekat ke dalam. Oh, aroma bunga kamboja yang kental dan menusuk hidung itu menyambut kedatangan mereka.


Dengan sigap, Alfa menggandeng jemari istrinya menuju tempat yang akan mereka datangi. Meremasnya dengan kuat, mengalihkan rasa gugup wanita itu yang kian terlihat. Sampai mereka tiba di sisi sebuah gundukan tanah kecil dengan taburan bunga yang telah mengering. Mereka duduk di sebuah dingklik dan menyamankan tubuh untuk duduk di sana.


Tiara terpaku menatap tanah di depannya. Rupanya, Alfa sengaja meletakkan makam putri kecil mereka di samping makam Nicholas, ayahnya. Ia bahagia, karena dalam duduknya kali ini, ia bisa melihat dalam satu kali pandang makam dua orang yang begitu wanita itu kasihi. Oh, sudah berapa lama Tiara tak bertamu di tempat ini? Rasa-rasanya, sudah sangat lama jika ditelusuri dari jejak ingatannya.


Alfa menatap istrinya yang duduk sembari menutup mulutnya dengan dua tangannya yang menangkup. Mengucap puja dan puji kepada Tuhannya. Benarlah, Tiara mungkin memang sudah bisa mengontrol dirinya setelah sekian waktu berlalu, hingga sekarang ini, wanita itu terlihat khidmat dalam kunjungannya ke tempat sakral tersebut.


Lelaki itu turut memandangi makam putrinya dengan haru, mengingat bagaimana ia menatap gadis kecilnya sebelum wajah mungil itu tak nampak lagi tertimbun tanah. Apakah ia bisa melihat kedatangan orang tuanya saat ini? Oh, barangkali ia sedang tertawa-tawa dengan suara khas bayinya dalam pangkuan para dewi surga. Hidup dengan bahagia di tempatnya. Mungkin alam fana yang sudah kian tua dan rusak ini tak cocok untuk bayinya yang begitu suci dan terjaga. Boleh jadi, Alfa dan Tiara hanya diperkenankan oleh Sang Maha Kasih untuk merawat Nadia hingga sekian waktu saja.


Wanita itu menjulurkan tangannya ke permukaan tanah. Mengusap perlahan gundukan itu seperti seorang ibu yang sedang membelai mesra anaknya. Meluapkan cinta kasih yang kini hanya bisa sebatas itu saja yang bisa ia lakukan. Tiara tersenyum, lalu menaburkan kelopak bunga mawar merah segar yang tadi telah dipersiapkannya, menaburkannya pula ke atas makam ayahandanya, dan meletakkan dua ikat beraneka ragam bunga ke masing-masing tanah gundukan.


Alfa membiarkan istrinya itu untuk melakukan keinginannya, menatapnya dengan tersenyum. Betapa ia melihat kelegaan begitu nyata dalam paras Tiara. Kini, perempuan itu tak lagi meratap. Ia lebih tenang dengan penuh kepasrahan. Mengikhlaskan kepergian putrinya dengan segenap doa dan pengharapan, semoga di suatu saat nanti, mereka kembali bertemu dalam keabadian.


Tiara menatap suaminya dengan sayu lalu menganggukkan kepala. Menyudahi anjangsana mereka kali ini. Keduanya lantas berdiri, Alfa merangkulkan sebelah tangannya dengan wanita itu yang menyandarkan kepala di bahu lelakinya. Saling menumpukan asa, melangkah lagi menuju penghidupan yang masih semesta berikan kepada mereka. Mengisi kesempatan dengan sebaik-baik cinta.


“Aku ingin mengunjungi Mama.” Berucaplah Tiara setelah sekian lama. Alfa memandangi istrinya sejenak lalu menganggukkan kepala. Menginjak kembali pedal gas dan melesatkan mobilnya menjauh dari tanah pemakaman itu. Menuju muara rindu lainnya yang harus mereka kikis dengan pertemuan.