
Mobil berwarna cokelat tembaga itu memelankan lajunya begitu mendekati gerbang besi megah nan tinggi di sebelah kiri jalan. Melihat kedatangan tamu yang sudah dikenali, penjaga pintu pun langsung membukakan gerbang dan mempersilakan tamu tuannya itu untuk memasuki area rumah. Alfa lantas menyapa pegawai di rumah mertuanya itu dengan satu kali bunyi klakson dan menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama.
Keduanya lantas beranjak dari tempat duduk dan keluar berbarengan dengan bergandengan tangan, berjalan memasuki pintu yang sudah terbuka setengahnya. Alisa yang melihat kedatangan Alfa dan Tiara itu pun tersenyum lebar dan berjalan mendekat. Wanita setengah baya yang kini dipekerjakan di rumah Berta itu memperlihatkan kebahagiannya yang tanpa ditutup-tutupi kepada Tiara. Nampak dari wanita itu yang saat ini mengusap dengan lembut lengan Tiara dan tersenyum penuh syukur melihat tuannya itu kembali sehat.
“Alisa ….” Tiara tersenyum masam. “Maafkan aku,” ucapnya dengan ekspresi penuh rasa bersalah.
Alisa yang menatap dengan teliti mimik wajah Tiara itu lalu mengerutkan kening dan berkata, “Tidak apa-apa. Saya justru mengucapkan terima kasih karena telah diijinkan untuk tetap bersama dengan keluarga ini,” tukasnya.
Tiara kehilangan senyumnya. Mendadak ia teringat akan rumah unik hadiah pernikahannya dari Alfa. Sejujurnya ia merasa bersalah. Karena telah mengabaikan sesuatu yang sangat berarti bagi suaminya itu. Namun, ia merasa berat, seolah ada batu besar yang bercokol di hatinya setiap ia mengingat bagian dari bangunan bercat putih tersebut. Tempat di mana ia memulai segala sesuatunya, menciptakan kenangan abadi dalam memorinya dan meninggalkan sepercik luka yang begitu memengapkan dada. Alfa sungguh baik. Mau menerima pertimbangan apa saja yang diputuskan oleh Tiara. Meskipun jika itu berarti harus meninggalkan sesuatu yang berharga untuk lelaki itu.
Rumah di depan galeri Alfa itu kini dibiarkan begitu saja. Hanya sesekali Alfa memerintahkan pegawai yang berada di rumah galerinya untuk membersihkan secara berkala rumahnya. Siapa tahu, suatu saat nanti, ia bisa memanfaatkan kembali.
Tiara tersenyum kaku, membuyarkan sendiri lamunan singkatnya itu. “Kau telah membantuku dalam banyak hal Alisa. Sudah sepantasnya aku membalas budi,” ujarnya. “Di mana Mama?” tanyanya sembari menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan tempatnya berdiri.
“Nyonya ada di ruang atas, sedang membaca buku,” jawabnya.
Wanita itu tersenyum dan mengangguk tipis. Ada kelegaan yang tersirat dalam ekspresinya, mengetahui jika mamanya sedang dalam kondisi yang tak perlu ia khawatirkan. “Baiklah. Akan kutemui Mama dulu,” pungkasnya lalu berlari-lari kecil menaiki tangga. Alfa hanya tersenyum singkat kepada Alisa dan turut melangkahkan kaki mengikuti istrinya.
Di belakang sebuah jendela besar dengan nyala terang warna langit yang mulai memudar, duduklah Berta di kursi kesayangan dengan mata berkacamatanya yang tengah fokus pada satu buku tebal di tangan kanannya. Membaca dalam kekhusyukan ruangan pikirannya sendiri, sampai-sampai, suara langkah yang saling bersahutan di belakangnya itu tak bisa membelokkan sedikit saja benaknya dari tulisan-tulisan kecil yang begitu memanjakan netranya itu.
Tiara menghentikan langkah di samping kursi ibunya dan menyapa pelan dengan suara lembutnya. “Mama.”
Tubuh wanita paruh baya itu meregang tatkala tuturan singkat itu seketika mengembalikan alam pikirannya ke dalam ruangan dirinya berada saat ini. Berta menoleh cepat, hatinya berdesir oleh keterkejutan yang langsung dikirimkan oleh indra pendengarannya sesaat ia mengetahui pasti siapa pemilik suara yang memanggilnya.
“Tiara,” lirihnya sembari meletakkan bukunya ke meja, mengiringi anak perempuannya itu yang memeluk cepat ke arahnya. Mendekap erat, meleburkan rasa rindu yang sudah meluap-luap.
Alfa mencium tangan mertuanya di sela Tiara yang masih memeluk sang mama. Tersenyum hangat melihat pemandangan di depannya. Lelaki itu lantas menyeret dua buah kursi tabung dari kayu jati yang tertata rapi di samping sebuah meja nakas di depan Berta, mendudukinya, dan menyisakan satu lagi untuk Tiara.
Beberapa menit berlalu, wanita berambut cokelat itu lantas mendongakkan badan, menghapus dengan sebelah tangan, air mata yang sempat mengucur dari tempatnya. “Mama sehat kan?” Tiara mengelus lengan mamanya, meyakinkan dirinya bahwa Berta memang baik-baik saja.
Berta mengangguk dengan senyumnya yang selalu menenangkan. “Jangan perlihatkan terus menerus air matamu itu pada tubuhmu. Jiwamu berhak mendapat ketenangan dan ia akan bahagia karena raganya yang kuat,” lipur wanita itu sembari mengusap kembali air mata yang masih tersisa di sudut mata anak perempuannya.
“Iya Ma. Aku sudah mencoba untuk merelakan,” tutur Tiara dengan mimik wajah sendu.
“Kalian sedang bertambah kuat,” ucap Berta yang membuat Alfa dan Tiara menatapnya secara bersamaan. “Kalian berdua tidak sedang dihinggapi benalu yang membuat diri kalian layu, sungguh persoalan ini adalah pupuk yang membuat diri kalian bertambah baik, yah, seperti kalian tahu, pupuk itu seperti obat yang getirnya memang serta merta membuat tenggorokan pahit. Namun, jangan ditanya lagi seperti apa manfaatnya. Mama yakin setelah ini akan terbuka mekar keindahan yang belum kalian lihat sebelumnya. Selalu seperti itu,” hiburnya.
Tiara kembali menggelayut di sisi kanan mamanya. Hatinya merasakan kedamaian tak terkira mendapat siraman menyejukkan itu. Begitu pun dengan Alfa yang mengangguk tipis. “Kami akan saling menjaga Ma.” Alfa berujar dengan yakin.
Berta tersenyum dan mengusap-usap lembut kepala Tiara. “Mama yakin kamu bisa menjaga Tiara dengan baik Alfa. Kalian harus saling menguatkan.”
Terpaan angin yang terasa dingin menandakan bahwa matahari telah benar-benar berada dalam ambang peraduannya. Sinar jingga yang menyorot menambah hangat hati ketiganya dalam buaian kedamaian.
******
Tiara berdiri di belakang pintu kaca kamar. Menikmati candra di pertengahan bulan yang memancarkan purnama. Wanita itu barulah ingat jika sudah bertahun-tahun tak menatap rembulan dari balik pintu kaca di kamarnya itu setelah menikah. Saat ini, tinggal kembali di rumah mamanya, ia merasa kerdil, seolah kembali menjadi anak gadis yang selalu rindu dekapan kasih sayang mamanya. Ah, tidak ada tempat melepas penat terbaik selain di rumahnya sendiri. Seakan tiap bagian dari rumah itu mengandung selaksa obat yang selalu bisa menyembuhkan lukanya tiap kali ia merasa sakit.
Perempuan itu mendekapkan kedua tangan pada tubuh dan memejamkan mata. Menelusuri ke kedalaman jiwanya yang seolah belum siap menyambut mimpi yang sudah melambai-lambai di ujung remang lampu kamar. Ia telah menyeruput habis secangkir cokelat panas yang diseduh oleh Alisa berharap rasa nyaman dan kantuk segera menghampiri dan membawanya ke alam lelap. Namun sepertinya, kedua matanya terlalu menyayangkan jika melewatkan pemandangan malam ini yang begitu indah, sehingga entah mengapa, ia masih nyaman dengan kedua kaki berdiri di tempatnya itu.
Alfa yang baru saja memasuki kamar dan melihat siluet Tiara yang bermandikan cahaya rembulan itu segera menghampiri. Lelaki itu berdiri di samping istrinya. Turut menengadahkan kepala dengan kedua tangan tersaku pada kantung celana dan menyandarkan separuh tubuhnya pada kusen pintu.
“Hm … agaknya, setiap inci keindahan alam selalu menemukan penikmatnya,” ucapnya hingga wanita itu menoleh. Tiara memerhatikan suaminya yang kini tampak begitu memesona dengan wajahnya yang berkilauan karena cahaya terang dari luar pintu. Wanita itu seolah tak diberi kesempatan untuk sekedar menyahuti perkataan Alfa yang terdengar memujinya itu. Ia malah terkagum dengan paras suaminya, seakan baru sekarang ia menyadari bahwa wajah suaminya itu terpahat sempurna tanpa cela.
Merasa diperhatikan, lelaki itu lantas menatap Tiara. Menghentikan aktivitas mengasyikkan wanita itu yang kini sedang memandang tanpa jemu ke arahnya. “Kenapa belum juga tertidur?” Berkatalah Alfa kemudian.
Tiara mendeham, mengusir rasa malu yang kini telah menjelma menjadi semu merah di kedua pipinya. “Aku belum mengantuk,” jawabnya.
Alfa tersenyum miring. “Mari tidur, tak baik terjaga hingga larut malam seperti ini,” ajaknya lalu menggandeng tangan istrinya hingga ke peraduan. Tiara menurut saja. Lelaki itu menyingkapkan selimut tebal yang menutupi permukaan ranjang, mendekatkan kedua bantal yang terletak menempel dengan headboard, dan menjatuhkan diri di atasnya. Pria itu kemudian membuka sebelah tangannya dan menghela agar Tiara berbaring di sana.
Perempuan itu tanpa ragu lagi mendekat, membantali kepala dengan lengan kokoh Alfa dan tertidur miring menghadap tubuh tegap suaminya. Menghirup aroma tubuh lelaki itu yang mulai bisa kembali bersinergi dengan indra penciumannya hingga membuat Tiara nyaman. Alfa mengelus dengan sentuhan yang terus menerus perlahan. Meninabobokkan perempuan itu ke buana tidur yang menenteramkan. Tubuh mungil Tiara meringkuk, bergelung manja ke pelukan Alfa, persis seperti seorang anak yang sedang ditidurkan oleh ibunya. Baik Alfa maupun mamanya kini sama. Mampu memberinya dekapan penuh restu yang sanggup memberinya sokongan beribu-ribu watt semangat kepada jiwanya yang hampir meredup.