
Tiara terbaring lemah hampir kehilangan kesadaran ketika tubuhnya berada di atas ranjang dan didorong menuju ruang operasi. Wajahnya yang pucat dan raut muka yang berkerut menunjukkan betapa rapuh dan sakit dirinya saat ini dengan usahanya yang masih kuat untuk tetap mempertahankan kondisi sadar. Alfa tak satu langkah saja menjauh dari sisi perempun itu. Satu tangan lelaki itu menggenggam jemari Tiara yang tergeletak begitu saja di samping tubuhnya.
Beberapa langkah sebelum tiba di ruang operasi, Tiara sempat mengencangkan tautan jemarinya dengan jemari Alfa dan berucap. “Alfa … apakah akan terasa sakit?” Ucapnya lirih sehingga Alfa harus memajukan tubuhnya untuk mendengar ucapan wanita itu lebih jelas.
Tubuh lelaki itu mendadak kaku dan hatinya kelu, tersayat oleh ucapan istrinya yang begitu sendu. Tiara seperti sedang merasa ketakutan saat ini. Lelaki itu tak menyangka sebelumnya bahwa istrinya tengah kembali mengandung dan dengan cerobohnya ia meninggalkan sisa tetesan minyak di lantai dapur sehingga Tiara terpeleset. Ingin rasanya ia tampar mukanya sendiri dan ia pukul keras-keras tubuhnya karena telah membuat Tiara seperti ini. Entah apa yang bisa menggantikan penyesalannya dengan keadaan yang sudah terlanjur menjadi bubur.
Sekarang, dalam keadaan demikian yang sudah tentu memberikan jera rasa sakit yang amat sangat, Tiara masih bertanya, apakah operasinya nanti akan menyakitinya? Oh Tuhan, seandainya saja bisa, Alfa ingin sekali tidur berbaring di atas ranjang menggantikan Tiara.
Tanpa terasa, rasa ngilu di hatinya itu mendorong rasa panas memuncak ke matanya. Ia sungguh ingin menangis sekarang. Tapi, dengan segenap kekuatan jiwanya, Alfa berkata dengan lembut ke sisi pipi Tiara dan menciumnya sekilas.
“Tidak Tiara sayang. Bertahanlah, kamu wanitaku yang super kuat.” Alfa menegakkan tubuhnya dengan lunglai, lalu melepaskan genggaman tangannya yang sedari tak terlepas. Membiarkan para petugas yang telah bersedia di sana membawa Tiara masuk ke dalam ruangan, menyisakan dirinya yang remuk sendiri.
Dokter Jeni sedang tidak ada di tempat. Tiara akhirnya ditangani oleh dokter pengganti begitu ia datang dengan pendarahan hebat. Dokter itu berkata bahwa istrinya mengalami keguguran karena terjatuh ketika di rumah, seperti yang diceritakan oleh Alfa sebelumnya. Benturan yang keras membuat rahimnya mengalami kontraksi dan mulut serviksnya terbuka sebelum waktunya. Apalagi, menurut riwayat kesehatan Tiara yang telah tercatat rapi menyebutkan bahwa rahimnya lemah dan seharusnya ia melakukan bed rest.
Tiara tanpa sadar telah mengandung kembali dan itu sempat membuatnya bahagia sebelum menerima kenyataan bahwa ternyata kandungannya tak bisa dipertahankan. Ia merasa menjadi laki-laki tak berguna karena berada pada keadaan yang tak bisa menyenangkan istrinya ketika menyambut masa kehamilan. Kesalahannya ketika memberi reaksi kemarahan atas kejutan kehamilan pertama yang hendak disampaikan Tiara saja masih menggayuti pikirannya. Dan sekarang, ia dihukum oleh rasa bersalah lagi karena ketidakhati-hatiannya menjaga Tiara. Rasa bersalah. Ah, Tuhan, mengapa ia dilingkupi oleh rasa tak nyaman itu yang enggan sekali pergi.
Alfa memukul-mukulkan belakang kepalanya ke arah dinding di mana ia tengah duduk bersandar di kursi tunggu. Matanya terpejam dan berat. Menunggu Tiara yang tengah melakukan proses kuret di dalam sana. Sungguh jika ia masih punya kekuatan saat ini, ingin sekali ia salurkan seluruhnya kepada istrinya.
******
Tiara langsung kehilangan kesadaran ketika suntikan obat anestesi itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya redup dan tubuhnya lemah tanpa perlawanan ketika dokter memulai proses kuretase dengan dibantu oleh dua orang perawat. Proses singkat itu tak menyakitkan untuknya saat ini. Namun, meninggalkan bekas yang cukup ngilu bagi rahimnya yang hanya bisa diredakan dengan mengkonsumsi obat.
Untuk Tiara, dokter melakukan tindakan tambahan berupa hysteroscopy untuk melihat lebih jauh kondisi rahimnya, sehingga proses kuretase ini memakan waktu yang lebih lama. Tindakan tambahan itu memungkinkan untuk melihat secara jelas keadaan nyata yang nampak di sana. Hysteroscopy dilengkapi dengan senter kecil sehingga para petugas medis dapat mengetahui secara nyata keadaan rahim pasien.
Setelah mencatat hasilnya dalam laporan operasi, dokter mengakhiri proses operasi tersebut dengan mencopot alat pembuka mulut rahim yang terpasang di sana. Membiarkan Tiara yang masih terlelap dalam tidur yang dipaksakannya untuk kemudian membawanya ke ruang rawat inap untuk pemulihan.
******
Tiara masih dalam pengaruh obat bius dan kemungkinan Alfa masih harus menunggu beberapa saat lagi sampai pengaruh itu hilang dan wanita itu mendapatkan kembali kesadarannya. Ranjang itu berjalan melewati beberapa lorong dan sampailah ke salah satu ruang perawatan yang telah disiapkan untuknya.
Perawat itu menganggukkan kepala untuk berpamitan lalu meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan. Alfa duduk di tepi ranjang dan membelai pucuk kepala istrinya perlahan. Berharap Tiara terbangun dengan sentuhan yang ia berikan.
Dalam tidur terpaksa itu, Tiara merasa amat gemetar dan dingin. Seluruh badannya terasa menggigil seperti tengah berada dalam tempat dengan suhu yang sangat rendah. Apakah tidak ada orang yang kasihan padanya? Di mana semua orang? Betapa ia merasa ketakutan mulai menyergap tubuhnya dalam gelap. Rasa nyeri mulai hinggap dalam perutnya, belum lagi mual yang semakin terasa. Terdengar bunyi dengingan panjang di telinganya sebelum ia mulai merasakan ada gerakan berulang yang menyentuh kepalanya, memintanya untuk tersadar. Ia diseret oleh cahaya yang semakin lama semakin dekat dengannya, tanpa peduli ia yang terseok-seok dalam tubuhnya yang tak berdaya. Dengingan itu hilang dan mulai tertangkaplah suasana hening dengan jarum jam yang berdentang memutar waktu. Suara itu mengirim sinyal ke kedua syaraf penglihatannya untuk membuka, mengetahui dengan pasti apa yang terjadi.
Netranya membuka secara perlahan dan degup jantungnya memompa dengan cepat seolah memberi sorak sorai karena ia baru saja mengalami keterkejutan. Bola mata cokelat itu tengah menyambutnya. Oh, rasa hangat mulai mendatangi hatinya. Ia merasa nyaman dan ketakutannya sirna perlahan.
Ia hanya sedang bermimpi?
Alfa tersenyum manis dan menggenggamkan kedua tangannya erat ke salah satu tangan Tiara yang tergeletak di samping tubuhnya. Mata Tiara lalu beralih dengan jelas menatap pada jam dinding yang tepat berada di samping kepala Alfa dalam pandangannya. Otaknya mulai memutar balik hidupnya sebelum tiba di tempat ini. Oh, ini baru satu jam dari kedatangannya ke rumah sakit ini. Mengapa terasa seperti seratus tahun lamanya ia tak bersua dengan Alfa?
Rasa mual dan muntah yang sudah tiba di pucuk tenggorokannya membuat Tiara sontak membungkam mulut dan memiringkan tubuhnya hingga ke tepian ranjang dan menyampirkan tubuhnya di sana hendak mengeluarkan seluruh isi perutnya. Alfa pun dengan sigap memegangi lengannya dan mengurut pelan tengkuk Tiara. Namun, tak ada apapun yang keluar dari perutnya. Justru rasa perih di ulu hatinya yang kini terasa memeras pencernaannya. Wanita itu tiba-tiba teringat bahwa tadi pagi ia hendak menjemput sarapannya yang kesiangan sebelum akhirnya terjatuh dan tiba di rumah sakit ini. Oh, ia belum menyuapkan satu sendok pun sarapan di meja yang telah disiapkan oleh suaminya.
“Kau mual? Apa kau belum makan?” Alfa mengerutkan keningnya melihat Tiara yang kepayahan dan kembali berbaring di ranjang. Lelaki itu sengaja tak membangunkan Tiara tadi karena tak tega mengusik istrinya yang masih tertidur lelap dan sekarang ... Tiara harus menahan lapar?
“Tiara maafkan aku. Aku akan mencarikan makanan untukmu.” Alfa sudah bergegas untuk keluar ruangan, tetapi Tiara mencegah. Dicekalnya tangan suaminya itu lalu mengedikkan dagunya ke tepi ranjang tempat ia tadi duduk.
“Tolong, jangan tinggalkan aku sendirian.” Ingatan Tiara ketika ia berada di rumah sakit beberapa bulan lalu seperti dejavu baginya. Ia takut Helmia akan datang kemari ketika Alfa tak ada. Wanita itu masih saja merasa terintimidasi jika harus berhadapan dengan tatapan aneh mertuanya yang selalu membuatnya tak nyaman itu.
Alfa mendengar kalimat memohon itu mengusik hatinya. “Aku tak akan meninggalkanmu untuk yang itu Tiara. Kenapa kau cemas?” Sinyal otaknya langsung menangkap ketakutan yang sama ketika pagi buta Yunus dan Helmia datang menjenguknya. Apakah Tiara merasa takut karena itu? Melihat tatapan tidak suka Helmia ketika dengan ketus ia keluar dari ruang perawatannya tanpa permisi.
Tiara terdiam. Bingung dengan apa yang hendak disampaikannya. Namun, Alfa tetap ditempatnya. Mengelus pipi dengan jarinya.
“Aku akan di sini .…” Alfa akhirnya tersenyum masam dan berusaha untuk memudarkan kekhawatiran yang nampak di wajah Tiara yang pucat pasi.