The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 37 - Wonder Woman



Alfa memegang tangan Tiara dengan kedua tangannya. Keduanya tengah duduk berhadapan dengan pakaian rapi, siap untuk bepergian. Hari ini adalah hari pertama Alfa akan menjalani terapi. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya dengan dokter yang menanganinya ketika ia dirawat di rumah sakit, lelaki itu akan menjalani fisioterapi untuk mempercepat kesembuhan kaki kanannya selama tiga pekan ke depan dalam tiga sampai dengan empat pertemuan.


“Maaf Tiara. Kunjunganmu ke Dokter Jeni harus tertunda lagi. Aku benar-benar merasa bersalah kali ini. Bagaimana jika kau telah kembali hamil dan kita terlambat…” Alfa memusatkan pandangan matanya ke perut Tiara sejenak sebelum kata-katanya terinterupsi.


“Mari lakukan saja apa yang harus kita lakukan terlebih dahulu. Aku berjanji, aku akan lebih berhati-hati lagi ke depannya. Hmm?” Tiara membalas genggaman erat tangan Alfa yang masih bertaut di sana. Mencoba untuk meyakinkan.


Alfa menghembuskan napas panjang lalu mengangkat pandangannya. Menatap kembali Tiara yang tengah memandangnya dengan tatapan mata penuh kasih sayang yang tak bisa ia tolak. Ada cinta yang ia panahkan melalui matanya. Melesat masuk tepat ke jantungnya, menebarkan aura kehangatan dalam sudut hatinya.


Senyum simpul menghias wajah Alfa. Apapun. Apapun akan ia lakukan asal perempuannya ini bahagia. “Baik. Aku akan menghubungi Leon.” Mengambil ponsel di meja dengan sekali gerakan tangan, lalu bersiap membuka layar.


“Untuk apa?” sergah Tiara cepat dengan sebelah alis terangkat.


“Menyetir mobil. Ia bersikukuh untuk menjadi sopirku selama kakiku belum siap untuk berkendara. Aku merasa tak nyaman jika terus mengabaikan.”


“Tidak perlu. Aku akan menyetir.” Dengan kilat, Tiara menyambar kunci mobil yang tergeletak di meja sebelah kursi roda suaminya. Melemparkannya ke udara sebentar dengan bergaya. Berkacak pinggang dengan ekspresi menantang dan menggoda. “Kau lupa Gheo Alfa? Kau mempunyai istri lincah yang tak hanya bisa kau andalkan di rumah, tapi juga di luar rumah. Aku akan menghubungi Leon nanti.” Berkata sambil menengok dengan setengah tubuh membelakangi. “Kusiapkan dulu mobilnya.” Berkata tanpa meminta pendapat karena ia terus saja berjalan lurus tanpa ragu menuju arah garasi rumah, di mana Outlander Sport PX tengah menantinya dengan gagah.


Alfa terperangah dengan tingkah istrinya. Tak mempercayai bahwa Tiara akan begitu berkeras hati untuk mengendarai mobil untuknya. Irama jantungnya sudah naik turun dengan kencang, seolah kursi rodanya sekarang adalah roller coaster. Alfa tak membayangkan bagaimana wanita itu akan mengendarai mobilnya mengingat setelah sekian lama ia mengenal Tiara, ia belum pernah melihat wanita itu mengemudikan mobil. Ternyata, ia bisa mengendarai mobil?


Wow, tanpa sadar, Alfa menggigit ujung jarinya dengan penuh rasa gemas dan penasaran.


Tiara geleng-geleng kepala melihat mobil Copper Metallic itu terparkir di garasi rumahnya. Berbeda jauh dengan mobil Jazz Alfa yang mungkin saja kini telah berada di tempat pembuangan karena rusak parah, atau mungkin saja masih berada di lokasi kejadian dan dipajang sebagai tugu peringatan kehati-hatian kecelakaan lalu lintas. Sebenarnya bagaimana selera laki-laki itu? Tiara terus saja menggerutu sembari menyalakan alarm mobil dan membuka pintu. memencet fast key entry system dan menunggu sejenak hingga mesin mobil menyala.


Duduk di kursi kemudi sembari mengamati seluruh interior mobil. Kepalanya terdongak dan pasrah pada sandaran kursi dengan pandangan matanya yang berakhir pada sunroof. Lelaki aneh yang sulit ditebak. Dahulu Alfa suka sekali dengan mobil-mobil mini yang menurutnya cukup gesit dan ringkas, tidak memakan banyak tempat. Mengapa Alfa sekarang rela menghabiskan uangnya untuk membeli mobil berbodi sangar dengan ukuran lebih besar seperti ini? Apalagi mobil dengan sunroof sangat tidak cocok untuk cuaca di negaranya yang terik ketika sampai pada musim kering.


Tiara akhirnya kembali masuk ke dalam rumah dan menemukan Alfa yang masih terduduk tenang di tempatnya semula, lalu berlalu begitu saja melewati Alfa yang tengah duduk, membuat mata lelaki itu mau tak mau mengikuti arah gerakan istrinya. “Kau mau apa?”


Tiara berhenti sejenak dan menolehkan kepala. “Berganti pakaian.” Tersenyum simpul.


“Lagi?” Alfa menanyakan begitu saja pertanyaan yang muncul di benaknya. Istrinya itu baru lima belas menit yang lalu berganti pakaian dan sekarang ingin berganti pakaian lagi? Ah, dasar perempuan!


“Aku harus mengganti pakaianku dengan yang lebih kasual. Tak nyaman bukan, menyetir dengan gaun seperti ini?” Wanita itu menggerakkan bahu sambil menyibak sedikit roknya yang melebar untuk menunjukkan betapa tak nyamannya ia dengan pakaiannya saat ini. “Aku akan cepat. Tungguhlah sebentar.” Berjalan dengan langkah terburu menuju kamarnya.


Lagi-lagi Alfa hanya bisa terkejut. Seolah sikap istrinya hari ini merupakan kejutan untuknya.


******


Tiara muncul kembali dengan kemeja pendek motif lurik berwarna coklat dengan celana pensil yang menutup setengah betisnya. Rambutnya diikat sekenanya dengan model kuncir kuda dengan anak-anak rambut yang dibiarkannya tergerai menghias wajahnya.


“Ayo berangkat.” Dengan semangat penuh, Tiara mendorong kursi roda Alfa hingga sampai pada samping pintu penumpang.


Berpegangan pada pundak kecil istrinya, Alfa melangkah perlahan hingga ia duduk dengan nyaman pada seatnya.


Setelahnya, Tiara pun membuka pintu sebelah kanan mobil dan turut duduk di belakang kemudi. Menutup pintunya dan segera menggerakkan mobilnya perlahan keluar dari garasi. Alisa tengah berdiri di samping gerbang bersiap menutup kembali pintu besi itu ketika mobil tuannya telah meninggalkan rumah. Tiara menekan tombol klakson sekali diikuti Alisa yang menganggukkan kepala kemudian membaurkan mobilnya dengan deru kendaraan lain yang melintas.


“Kenapa kau tak bilang kalau kau bisa menyetir mobil?” Alfa memusatkan perhatian penuh pada istrinya meski tahu bahwa kali ini wanita itu tak akan memperhatikan dan fokus pada jalan serta kendaraan yang mereka tumpangi.


“Karena kau pasti tak memperbolehkan dan aku tak ingin berdebat.” Tiara tersenyum mengejek. “Tapi, di saat-saat seperti ini, aku berguna bukan? Kau mungkin akan menemukan bakat-bakatku yang lain nantinya saat keadaan memaksa seperti saat ini.” Perempuan itu terkekeh dan menutup mulutnya sejenak menahan tawa.


Alfa tertawa dan senyum tipis tak bisa hilang dari ekspresi wajahnya. “Kau terlihat seksi dan menawan saat menyetir mobil.” Sengaja menyandarkan kepala pada tangan kirinya yang ia tumpukan pada kaca mobil. Menatap dengan tatapan jahil yang tanpa menunggu lama, langsung membuat pipi Tiara berubah pink. Alfa melebarkan senyumnya. Selalu asik saat menggoda istrinya seperti ini. Berhasil membalas kata-kata Tiara dengan kalimat candaan yang lebih mengena. Wanita itu membuang muka sejenak demi mengusir rasa malu yang mulai meniraikan warna merah di wajahnya.


“Jangan menggodaku kalau kau masih ingin selamat.” Tiara menginjak pedal gas dalam dan mobil pun melaju cepat dengan tiba-tiba. Alfa yang terkejut langsung berpegangan pada dashboard mobilnya.


“Hati-hati sayang.” Alfa mengernyitkan dahi dan terdiam. Ini bukan saat yang tepat untuk bergurau dan Tiara malah tertawa lepas karena sukses membuat Alfa kaget.


Tangannya meraih tombol play pada layar mini yang terpampang di sana dan alunan musik klasik menggema, melarutkan keduanya pada suara indah yang masuk ke telinga dan memohon untuk didengarkan.


Perjalanan baru ditempuh setengah dan Tiara memelankan mobilnya karena merasakan sesuatu yang aneh. Ditepikan mobilnya dan langsung menekan tombol segitiga merah untuk menyalakan lampu hazard. Keluar dari mobil dengan gusar dan berjalan berkeliling untuk melihat apa yang terjadi. Alfa mengekorkan mata melihat ke arah Tiara dan mengangkat alis ketika wanita itu sedikit mengumpat. Hari pertamanya menyetir mobil setelah sekian lama mengapa harus penuh drama dengan ban?


“Ada apa?” Alfa membuka kaca mobilnya.


“Ban mobilnya kempes.” Tiara berkata sedikit berteriak untuk mengalahkan suara ramai kendaraan di tepi jalan itu. Wanita itu kemudian menengok ke kiri dan ke kanan berharap menemukan hal yang sangat ia tunggu dapat menolong. Tanpa mempedulikan Alfa, ia berjalan meninggalkan mobil dan berhenti pada bangunan putih 50 meter dari mobilnya terparkir saat ini.


Tak berapa lama, Tiara kembali berjalan dengan seorang montir yang mengikutinya di belakang. Sembari menunggu bannya diperbaiki, Tiara menyandarkan tubuhnya pada kap samping mobil dan terus memperhatikan apa saja yang montir itu lakukan. Alfa menatap pemandangan di depannya dengan hati terluka. Jika mamanya selalu berkata bahwa dirinya berhak bahagia lebih dari ini, maka Tiara harus lebih bahagia dari dirinya. Tiara wanita tangguh. Namun, bukan berarti, wonder womannya itu bisa seenak batu yang tanpa perlawanan bisa digunakan untuk melempar ataupun dihempas begitu saja dengan seenaknya.


Nelly telah mundur. Dan ia yakin itu. Apakah mamanya telah menyerah?


Suara debuman pintu yang tertutup menyadarkan Alfa bahwa wanita yang sedari ditatapnya itu telah tiada di depan mata dan berpindah kembali ke samping tempat duduknya.


“Sudah?” Alfa menanyakan pertanyaan retorik yang hanya dibalas dengan anggukan penuh senyum oleh Tiara. Wanita itu menggembungkan pipinya lalu menghembuskan napas melalui mulut. Menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya akibat udara panas yang mendera. Setelah AC menyala, ia melajukan kembali mobil sportnya dengan perlahan tapi pasti.


Mobil itu akhirnya berbelok pada gerbang tinggi sebuah bangunan ber cat abu-abu yang menjadi tujuan mereka. Setelah memarkir mobilnya dengan benar, Tiara kembali membantu Alfa untuk duduk di kursi roda dan mendorongnya hingga tubuh mereka berteduh di bawah kubah lobi.