
Di sebuah rooftop Gedung 10 lantai .…
Embusan angin yang semakin kencang menerpa membuat rambut Nelly yang panjang terurai terbawa arah angin dan memperlihatkan lehernya yang jenjang. Ia sedang berdiri bersandar pada pagar tembok dan bertumpu pada kedua sikunya. Jaket tebal yang dikenakannya cukup untuk menghalau rasa dingin di tubuh, Namun sepertinya, wajahnya yang pias tampak menahan dingin. Sungguh Davian tega membiarkannya menunggu di tempat ini. Lelaki itu memesan penuh area ini khusus untuk berbicara dengannya. Ia tak ingin ada orang yang mengganggu, sehingga mereka bisa bercakap dengan nyaman.
Waktu menunjukkan bahwa sebentar lagi senja datang, namun Davian bahkan belum menunjukkan batang hidungnya. Ia putuskan untuk menunggunya sambil duduk di kursi yang ada. Ketika hendak membalikkan tubuh, wanita itu kaget luar biasa saat laki-laki yang tengah dinantinya itu mendadak sudah berada di belakangnya dengan senyum cerahnya yang tanpa dosa.
“Kau memang selalu menyebalkan.” Nelly melangkahkan kaki ke samping hendak mengabaikan kedatangan lelaki yang tengah ditunggunya itu, tetapi, Davian menggapai cepat tangan Nelly dan ditangkis begitu saja olehnya hingga membuat Davian malah semakin mendekat dan mencengkeram pundaknya lalu mendaratkan ciumannya dengan lembut, membuat wanita itu hanya meronta perlahan dan tak bisa menolak.
“Apa kau lupa bahwa sekarang kau kekasihku?” Davian merambatkan sentuhannya dari bahu ke leher. Mendorong tengkuk Nelly semakin mendekat kepadanya dan ******* habis bibirnya. Lelaki itu tak menahan-nahan lagi dan mencecap segala nikmat yang bisa ia raih di sana. Membawa wanita itu ke gelombang hasrat yang akan terus mencapai puncaknya jika saja Davian tak mampu menahan.
Terhanyut dalam buaian kehangatan, sampai lelaki itu tak menyadari bahwa perlahan-lahan tubuh Nelly bergetar. Davian yang sedikit membuka matanya melihat badan Nelly yang tergoncang hendak mengeluarkan air mata. Napasnya sama terengahnya dengan wanita itu tetapi dengan situasi yang berbeda.
Davian begitu behasrat saat itu juga. Namun Nelly malah membayangkan hal yang lain sehingga tak mungkin saat mereka berciuman seperti ini, Nelly ingin menangis.
Ketika napas perempuan itu yang terengah berubah semakin kencang menjadi isakan, Davian melepaskan ciumannya dan hampir-hampir tubuh lelaki itu roboh, terdorong ke belakang, karena Nelly langsung menghambur ke pelukannya. Laki-laki bermanik mata biru itu memeluk dan mengusap rambut Nelly yang terbang kemana-mana. Menenangkannya, membiarkan perempuan itu meredakan tangis dalam pelukannya.
Ketika tak dirasakan lagi gerakan tubuh wanita itu yang menunjukkan bahwa tangisannya telah terhenti, Davian pun memulai berbicara. “Kau bodoh! Masih saja membayangkan lelaki lain ketika kucium," umpatnya dengan kasar namun tak mengubah kelembutan sikapnya ketika mengusap punggung dan kepalanya.
Padahal Davian sendiri tengah melakukan hal yang sama.
“Kau pikir kau sedang memikirkan siapa ketika menciumku.” Nelly menjawab tak kalah ketusnya.
Davian mengembuskan napas panjangnya.
Ya. Dua sejoli yang terluka karena rasa sakit hati yang sama. Menganggap satu sama lain sebagai pelarian dan dengan nyamannya mengikat diri mereka sebagai pelampiasan.
Nelly bahkan sebenarnya tak tahu lagi. Ia mencintai siapa. Mantan kekasihnya atau Davian sendiri. Wanita itu tak mau berpusing-pusing memikirkan hal tersebut, karena sudah terlalu luluh lantak hatinya hingga tak bisa menafsirkan bagaimana hatinya saat ini. Begitu juga Davian. Ia sangat menyesal karena terlalu lamban sampai-sampai kesempatan menjauh darinya. Tiara menikahi Alfa. Tiara. Ya, Davian hancur sehancur-hancurnya mengetahui sahabatnya sendiri yang justru menikahi Tiara. Usahanya dalam mengenali Tiara diam-diam tak bermakna. Ia pikir bahwa Tiara tak akan semudah itu menerima Alfa di kehidupannya mengingat mereka belum lama saling mengenal.
Davian mengetahui Tiara dengan segala pesonanya, mencintainya dalam diam. Belum sampai ia menginjakkan gas untuk melangkah lebih dekat dengan wanita itu, Tiara sudah melesat jauh meninggalkannya.
Lelaki itu kecewa, hatinya penuh oleh tambalan-tambalan luka yang memenuhi segala sisinya, menyisakan ruang perih tak terkira yang tak ia tahu bisa sembuh atau tidak.
Rasa sakitnya itu membuatnya nekat. Davian bahkan memendam rasa benci yang kian bertambah semakin hari ketika melihat jalan mulus Alfa dalam segala hal. Lelaki itu sudah mendapatkan Tiara dan segala kepopuleran sebagai fotografer. Davian selalu menjadi yang nomor dua bahkan nomor tiga di antara deretan nama teman-temannya dalam tim. Hal itu membuatnya bertambah muak. Label sahabat yang menjadi emblem mereka berdua dianggapnya bullshit. Lelaki itu akan menggunakan segala cara untuk memisahkan Alfa dan Tiara.
Sekarang, Davian bersama Nelly. Wanita yang begitu terobsesi pada Alfa. Semua terasa begitu pas dan menyenangkan saat mereka bisa bekerja sama. Lelaki itu akan mendapatkan Tiara dan Nelly mendapatkan Alfa. Mereka akan impas.
“Aku tak tega melihatmu terus-menerus menangis seperti itu. Mari kita wujudkan mimpi kita bersama. Kita juga berhak bahagia bukan?”
Nelly melepaskan pelukannya, lalu menatap Davian dengan ragu. Keduanya saling memandang selama beberapa waktu. Ketika Davian menemukan wajah Nelly yang penuh dengan tanya, lelaki itu melanjutkan kalimatnya. “Aku mendapatkan Tiara dan kau kembali kepada Alfa. Bukankah keinginan kita hanya itu?”
“Kau terlalu percaya diri pada keinginanmu.” Seringaian mengejek tampak di wajah Nelly saat ia menghempaskan tubuhnya di kursi diikuti Davian.
“Dan kau selalu pesimis, tetapi obsesimu pada Alfa tak pernah padam. Aku yang selalu percaya diri, dan kau si pesimis. Sudah jelas kita tak dijodohkan bersama. Karena kita tak cocok. Aku tak mungkin dekat denganmu saat ini kalau kau juga tak memiliki tujuan yang sama denganku.” Davian mencerocosinya dengan kata-kata yang menohok.
“Aku sebenarnya masih punya peluang, tetapi, aku tak yakin.” Wajah Nelly berubah menunjukkan keputusasaan.
“Berapa abad lamanya kau akan menjalankan rencanamu itu?” Nelly mengangkat sebelah alisnya dengan pandangan mencela melihat kobaran semangat yang sekarang tengah merayapi lelaki itu.
“Hei, kau ini ingin mengikuti rencanaku apa tidak? Kau terus-terusan mencelaku," geram Davian dengan nada kesal.
“Aku sedang tidak bisa berpikir sekarang. Tapi aku tahu, aku harus tetap bertindak. Dan … aku akan mengikuti rencanamu," ujar Nelly pada akhirnya dengan penuh kesungguhan.
******
“Kau kenapa Tiara?” Alfa yang tengah berjalan dari ruang tengah hendak menuju teras itu langsung berlari cepat begitu melihat Tiara terhuyung dan hendak terjatuh dengan sebelah tangannya berpegangan pada pintu. Lelaki itu kemudian memegang bahu istrinya dan menatap wajah Tiara yang kini telah berubah pucat.
Wanita itu memejamkan matanya sejenak, menetralkan rasa pening yang memukul-mukul kepalanya. Beberapa saat setelah dirasa pandangan gelap itu memudar, Tiara membuka kedua matanya perlahan dengan senyum tipisnya. “Aku tak apa-apa. Aku baru saja duduk dan akan berlari menuju dapur. Aku lupa jika aku sedang merebus air.”
"Aku sudah mematikannya." Lelaki itu berucap dengan resah sambil menuntun Tiara berjalan menuju sofa, mengerutkan kening dengan sebentuk rasa gemas karena kecerobohan istrinya.
“Aku terkadang seperti itu saat hendak berubah dari posisiku duduk.” Tiara masih saja dengan senyum terpaksanya.
Alfa meletakkan bantal di lengan sofa dan merengkuh tubuh Tiara agar berbaring di sana, menatap dengan ekspresi tak senang karena Tiara selalu saja tak mendengarkannya untuk menjaga diri, tetapi tak urung, nada khawatir tak bisa ia sembunyikan.
“Kau harus selalu berhati-hati. Aku sudah selalu berkata padamu. Kau tak sedang sendirian sekarang. Ada anak kita di sana. Jika kau membahayakan dirimu sendiri, kau juga sedang membahayakannya.” Alfa duduk di tepi sofa sambil mengultimatumnya, Namun dengan ekspresi lembut seperti biasa. “Ah, suplemen dari Dokter Jeni. Apa kau sudah meminumnya pagi ini?”
Tiara mengangguk. “Mungkin aku akan tidur sebentar saja.”
“Mau di sini? Atau di kamar?”
Tiara tampak berpikir sejenak. “Di sini saja.”
“Baik. Tidurlah. Panggil saja aku jika kau membutuhkan sesuatu.” Alfa mengelus dahi istrinya penuh kasih, lalu berdiri melangkah.
“Alfa .…”
“Hm?” Alfa menghentikan langkahnya dan kembali menoleh.
“Kau berkata bahwa kita akan datang ke rumah Mama saat ada waktu?” Alfa tersenyum.
“Tentu saja. Saat kau lebih sehat nanti. Aku tak mau kau terlalu sering berkendara. Sekarang beristirahatlah," tukasnya. Tiara hanya menjawab dengan anggukan kepala ringan dan tersenyum.
Rasa kantuk yang mendadak datang saat ia menempelkan kepalanya di atas bantal, membuat ia tak menolak saat matanya mengajaknya untuk terpejam. Tiara bergelung di atas sofa dan tidur memiringkan badan.
Tak lama, Alfa yang baru kembali dari kamar untuk mengambil bed cover itu kembali menghentikan langkahnya ketika tertangkap dalam manik matanya, istrinya itu sepertinya telah masuk ke alam mimpinya. Hatinya berdenyut, ada titik-titik kecil rasa bahagia bercampur cemas yang menjalari tubuhnya.
Dengan segera, lelaki itu menyelimutkan bed cover ke seluruh tubuh Tiara, menyisakan kepala mungilnya yang terlihat di sana.
Alfa membungkukkan tubuhnya lalu mencium pelipis istrinya dengan mesra ....