The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 53 - Rencana Terselubung



Awal hari, ketika Bintang Timur masih menyala terang untuk mengiringi semburat kuning Matahari terbit, Alfa duduk dengan resahnya, memijit perlahan pundak Tiara yang duduk pula dengan tubuh lemas di sampingnya, di tepi ranjang. Sudah tiga kali wanita itu mengalami muntah hingga tubuhnya gemetar. Hampir setiap pagi, wanita bertubuh kurus itu selalu terbangunkan oleh rasa mual hebat yang menuntutnya untuk segera menyeret langkah menuju kamar mandi.


"Berbaringlah, akan kuambilkan minum." Alfa meletakkan satu tangan pada belakang kaki wanita itu dan menggendongnya hingga terbaring dengan posisi setengah duduk. Tiara tak berkata-kata dan memasrahkan begitu saja tubuhnya pada sandaran bantal yang bertumpuk di belakang punggungnya.


Kedua matanya bekunang-kunang hingga membuat rasa mualnya semakin menjadi-jadi walau ia sudah tiga kali memuntahkan isi perutnya bahkan sebelum ia sempat memakan satu sendok saja sarapan di pagi itu. Alfa menutupkan selimut hingga pinggang, menatap dengan nanar penampilan istrinya itu dengan rambut terurai yang kini terlihat acak-acakan dan wajah pucat lesu.


Udara segar nan lembap yang masuk ke dalam paru-paru lelaki itu terasa pengap. Tak menyegarkan sedikit pun bagi hatinya yang tengah diremas oleh sebentuk kekhawatiran. Perempuan itu memejamkan mata, tetapi bukan berniat untuk tertidur kembali. Hanya untuk menahan segala rasa tak nyaman yang kini tengah memeluknya mesra. Tubuhnya mungkinlah terasa sakit. Namun, Tiara bahagia saat ini, ketika ia dapat menjadi satu dari sekian banyak wanita yang sedang berada dalam perjuangan awal pertumbuhan makhluk kecil di rahimnya. Ini bukanlah apa-apa dibanding rasa tenteramnya ketika ia bisa memeluk anaknya dengan satu telapak tangan terbuka di depan perut.


Alfa membawa langkahnya ke dapur. Menemui Alisa yang tengah bergelut dengan peralatan memasak dan mempersiapkan sarapan. Melihat lelaki itu datang dengan wajah kusut, Alisa yang memperhatikan dengan saksama pun terdorong untuk bertanya, "Ada apa Pak? Mengapa wajah Bapak terlihat sedemikian murung?" Wanita dengan celemek yang menempel di tubuh bagian depannya itu memberanikan diri untuk menatap secara intens wajah Alfa yang kini tengah menerawang ke arah pintu kaca di samping pantry.


"Apa kau mengalami mual muntah hebat di awal kehamilan?" Alfa memantapkan hati untuk bertanya, mengusir jauh-jauh rasa malunya, lalu tanpa ragu lagi menanyakan hal tersebut, mengingat dari informasi yang ia dapatkan, Alisa telah menikah dan memiliki dua orang putra. Lelaki itu berdiri dengan menyandarkan pinggulnya pada meja makan dan menyakukan kedua tangan di saku celana. Terlihat sekali jika ia tengah diterpa gundah gulana karena penampilannya yang tak sesegar biasanya dengan rambut yang belum terjamah sisir.


Rona merah sempat muncul di pipi wanita itu, merasa malu sebab lelaki yang berstatus majikannya ini telah menanyakan hal pribadi yang berkaitan dengan perempuan. Meski usia Alisa lebih tua dari Alfa, tetapi, aura lelaki itu berbeda. Lelaki dengan tinggi seratus tujuh puluh lima senti itu seolah selalu bisa memaksa Alisa untuk terus menundukkan kepala ketika bertatap muka dengannya.


Alisa sedikit mendeham untuk mengusir rasa canggungnya. Ditatapnya Alfa yang sepertinya memperhatikan penuh gerakan dan mimik wajahnya ketika lelaki itu bertanya. Wanita itu kemudian sedikit mengerutkan kening tatkala melihat dengan jelas kemuraman yang tengah berkabut pada majikannya tersebut.


"Saya pun mengalaminya. Bapak jangan khawatir, mual muntah akan hilang dengan sendirinya ketika usia kehamilan menginjak waktu lima belas minggu," jawabnya. "Apakah ... apakah Ibu Tiara kembali mengalami mual muntah seperti hari-hari sebelumnya?" Alisa bertanya dengan penuh kehati-hatian dalam memilah kalimatnya.


Alfa membelalak. Menghitung cepat kapan waktu empat bulan bagi kehamilan Tiara. Oh, mengapa masih lama sekali? Ia sungguh tak tega melihat keadaan Tiara yang demikian tersiksa walau istrinya itu selalu memaksakan bibir untuk tersenyum dalam warna bibir pucatnya yang justru semakin menambah rasa pedih lelaki itu.


"Ya. Bahkan pagi ini lebih parah dari sebelumnya. Dan ... ia mulai tampak kurus," keluhnya dengan kerutan di dahinya yang semakin dalam. Memperlihatkan kesusahannya yang tanpa ditutup-tutupi.


"Saya sudah membuatkan bubur dan sop sayur hijau seperti biasanya dan juga menyiapkan irisan buah untuk kudapan. Apakah Ibu Tiara mau saya buatkan seduhan jahe? Jahe bisa menghangatkan perut dan meminimalisir rasa mual," sarannya.


Alfa mengangguk tipis. "Baiklah. Siapkan seperti biasa dan bawa ke kamar untuk Tiara saja. Aku akan memakan sarapanku di sini." Alfa menarik kursi lalu duduk di sana dengan diam. Lelaki itu mulai mengambil roti panggang yang tersaji di meja, lalu menumpuknya dengan slice keju dan menutupnya kembali dengan roti. Memaksakan diri untuk mengisi perutnya yang lapar meski lidahnya terasa hambar. Bagaimana bisa ia makan dengan kenyang sementara istrinya tengah kesusahan menelan makanan?


"Aroma apa ini Alisa?" Tiara terlihat sedikit menutup hidungnya dengan jemari tangan ketika asisten rumah tangganya itu membawakan satu nampan berisi sarapan lengkap dengan satu gelas susu vanila dan secangkir jahe hangat yang mengepulkan asap panas dan menguarkan aroma khasnya ke atas meja nakas.


Tiara menggenggamkan tangannya pada jemari Alisa. "Terima kasih," ucapnya. "Alisa, bisakah aku menambahi kerepotanmu? Aku ingin kau mencuci ulang semua pakaian Alfa di lemari. Entah mengapa semakin hari aku semakin mual membaui aroma parfum yang menempel pada bajunya." Tiara terkekeh kecil dengan rona merah di pipinya.


Alisa terkejut untuk kedua kalinya. Namun, di detik berikutnya, ia pun menampakkan senyum lebarnya. "Baiklah." Wanita itu menepukkan sebelah tangannya yang bebas ke punggung tangan Tiara yang tengah menggenggam tangannya.


Tanpa mereka tahu, di belakang punggung mereka, Alfa terpaku mendengar pembicaraan mereka yang jelas terdengar di telinganya itu. Tersenyum masam dengan hati membuncah bahagia sekaligus sedih yang tak bisa ia rupakan dalam wajah tampannya.


******


“Bagaimana? Apakah kau sudah berhasil membujuk Alfa?” Helmia memandang suaminya dengan pandangan menyelidik, memindai keseluruhan wajah suaminya itu, hendak menemukan jawaban dengan kejujurannya dalam berekspresi melalui wajah.


Yunus mengangkat sebelah alis. Tertawa dalam hati karena ternyata istrinya itu benar-benar mempercayainya untuk membujuk Alfa. Lelaki itu hanya tersenyum dengan sebelah bibir yang ditangkap sebagai senyum puas oleh Helmia. Berpikir bahwa kali ini Yunus pasti telah berhasil berkompromi dengan anak semata wayangnya yang keras kepala itu. Ia sempat tertegun ketika tanpa sepengetahuan Yunus, Julius melaporkan kepada Helmia bahwa akhir pekan minggu lalu, suaminya ternyata tidak bepergian ke luar kota, melainkan mengadakan kunjungan mendadak ke rumah Alfa. Ah, bahagianya dirinya. Akhirnya, saat-saat yang ia tunggu di mana Alfa kembali ke jalur yang benar itu akan tiba juga.


“Tentu saja. Kau meragukan kemampuanku dalam bernegosiasi?” Yunus berkata dengan wajah angkuh yang membuat Helmia luluh begitu saja.


Lelaki itu kemudian mengalihkan pandangannya ke samping. Berpikir sejenak tentang rencana yang akan dilakukannya. Ia ingin sekali sebetulnya memberi tahu istrinya itu bahwa menantu mereka telah hamil, tetapi ia urungkan. Tak akan ia mendekatkan terlebih dahulu Helmia dengan Tiar agar sesuatu yang tak diinginkan tak kembali terjadi. Ia akan berpikir masak-masak kali ini, berharap apa yang akan dilakukannya ini berjalan sempurna tanpa cela.


“Aku ingin segera melihat Alfa menikahi Karina. Secepatnya. Aku tak ingin mengulur waktu lagi. Yunus, kau pasti bisa mengatur semuanya bukan? Jika Alfa sudah berada di pihak kita, bukankah itu semakin memudahkan langkah kita?” Helmia berkata dengan menggebu-gebu, sebelah tangannya bahkan menggoyang-goyangkan lengan suaminya itu seperti seorang anak yang sedang merengek-rengek kepada orang tuanya agar dituruti kemauannya.


“Kau lihat saja sendiri nanti,” jawabnya singkat dengan seringaian yang muncul di wajah lelaki itu.


Helmia yang semula tersenyum itu pun kembali memasang wajah datar ketika mendengar jawaban tak memuaskan. “Baik. Aku percaya padamu. Jangan sampai aku kecewa,” ketusnya dengan membuang muka. Yunus hanya tertawa singkat membalas ucapan istrinya itu yang terdengar was-was.


Lelaki itu sudah menyusun rencana. Ia yakin cara ini sangat ampuh untuk bisa melunakkan hati Helmia yang sekeras karang. Sudah begitu lama ia mengenal wanita dan tabiat-tabiatnya. Mereka akan mudah tersentuh jika didekatkan dengan sesuatu yang berhubungan dengan perasaan. Memang membutuhkan waktu beberapa lama, tetapi, Yunus sudah memantapkan hati untuk akan melaksanakakan rencana terselubung itu segera. Banyak hal yang harus ia korbankan untuk bisa tiba pada puncak rencana hingga misinya itu selesai. Tak apa, berkorban sebentar untuk kebahagiaan yang lebih lama.