
"Kau berbohong," ucap Tiara dengan lesu ketika Alfa baru saja mengempaskan dirinya di sofa tempat wanita itu duduk.
Lelaki itu melebarkan mata dan menampilkan wajah penuh tanya. Baru saja ia melepaskan rasa kesalnya dengan memukulkan tangannya pada Davian dan merasa tenteram, karena baru saja bertemu dengan perangai manis istrinya yang menyenangkan itu, dan ia malahan disambut oleh Tiara yang merajuk?
"Berbohong tentang apa?" Alfa menggenggam tangan kiri istrinya lalu memangkunya di atas paha.
"Aku asistenmu bukan? Mengapa aku tak boleh ikut serta denganmu ketika kau pergi ke studio?" Wanita itu tetap mengarahkan pandangannya ke depan, tak mau memandang wajah Alfa walau ia membiarkan sebelah tangannya untuk digenggam.
Alfa berpamitan dengan tanpa memberinya waktu untuk berbicara, memaksanya untuk tetap tinggal di rumah sakit dengan kata-kata peringatannya yang tak menerima sanggahan. Meskipun sebenarnya, ia hanya berniat untuk mencandai suaminya itu, tetapi, reaksi berlebihan Alfa dengan kata-kata ketusnya membuat Tiara tergelitik, apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh suaminya itu di sana.
"Aku tentu akan membawamu pergi ke tempat yang aman saja." Alfa menjawab dengan menyembunyikan nama Davian dalam kalimatnya. Ia tak ingin istrinya itu bertemu dengan Davian walau untuk terakhir kali. "Dan aku akan membawamu pergi ketika keadaanmu memungkinkan. Aku pasti akan mengajakmu untuk turut berpetualang, tetapi tidak sekarang sayang, kau harus tetap berada dalam kondisi nyaman dan aman untuk beraktivitas," bujuknya dengan mengelus pipi Tiara.
Alfa memang perayu ulung. Bagaimana bisa dirinya luluh begitu saja dengan kata-kata lelaki itu yang demikian sederhana?
Tiara mengembuskan napas. Ia tahu dan menyadari benar keadaannya. Meskipun saat ini ia tengah baik-baik saja, tetapi ia harus selalu berhati-hati karena keadaan tubuhnya yang lemah itu secara tak langsung mengancam keselamatan dirinya dan bayinya.
"Aku memiliki Leon yang bisa kuandalkan. Kau tak usah khawatir," ujarnya lagi.
Wanita itu menganggukkan kepala dan terkekeh kecil. "Ya. Aku hanya senang bisa melihatmu bekerja seperti saat kita di pantai waktu itu," ucapnya.
Alfa tersenyum dengan sebelah bibir lalu menatap Tiara. "Kau senang melihatku bertingkah konyol ketika sedang mengambil foto? Ya. Bisa mengcapture gambar dengan sudut yang tak biasa adalah tantangan. Dan aku sangat suka ketika ada klien kreatif yang memintaku untuk melakukan shoot dengan latar tak biasa," ucapnya dengan bangga yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh istrinya. "Bagaimana Mama? Apakah sudah ada perkembangan?" Alfa menolehkan kepala ke arah pintu ruang perawatan yang tertutup. Berusaha dengan segera untuk mengalihkan pembicaraan agar istrinya tak bertanya lebih lanjut mengenai kegiatan yang baru saja ia lakukan di studio dan pertemuannya dengan Davian.
Tiara pun turut menatap ke arah yang sama sebelum menatap tangannya yang masih digenggam oleh Alfa, lalu perlahan melabuhkan pandangannya ke manik mata cokelat muda lelaki itu. "Belum ada perkembangan yang berarti. Mama masih dalam kondisinya yang belum sadarkan diri," resahnya.
"Widya sedang menunggui di dalam?" Tanya lelaki itu kemudian.
"Ya. Widya ada di sana." Tiara mengangguk tipis.
"Kalau begitu, bisakah kita pergi sekarang juga ke tempat dokter Jeni? Aku sudah memesan waktu luang padanya," ajak Alfa yang langsung disetujui oleh wanitanya.
"Sayang, mari kita bertemu," ucap Alfa sembari mengusap lembut perut Tiara yang membuat wajah wanita itu menampilkan semburat warna merah muda.
******
Tampilan layar monitor 14 inci itu perlahan bergerak ketika dokter Jeni mulai mengoperasikan alat USG yang ditempelkan ke perut Tiara. Dokter itu terkejut dengan kebahagiaan yang membuncah ketika mengetahui Tiara kembali hamil. Dari sekian banyak wanita yang menjadi pasiennya, hanya Tiara lah yang telaten dan terus berusaha dengan maksimal sehingga segala hal ketidakkemungkinan yang ia rasakan sebagai hal yang mustahil, menjadi suatu keajaiban yang membuatnya ternganga. Jeni tak tahu dengan pasien-pasiennya sebelumnya karena sebagian dari mereka hanya mengunjunginya sekali hingga dua kali selama menjalani program kehamilan. Entah karena mereka telah berhasil ataupun berpindah tempat konsultasi.
Tiara, ia sungguh membuatnya terenyuh dengan kisahnya yang sedemikian pelik dan rumit. Mungkin saja karena pada waktu lalu, Helmia sang mertua pun menjalani kisah yang sama, menjalani takdir sebagai seorang wanita yang begitu merindukan kehadiran seorang putra.
Jeni menyadari, bahwa Helmia kini tengah terlena akan segala rupa kekayaan dan kekuasaan, sehingga dengan angkuhnya ia hendak membuang Tiara begitu saja.
"Ini. Lingkaran putih kecil ini. Ini adalah kantung kehamilan," ucap dokter Jeni sambil menunjuk dengan tangannya ke dekat layar monitor. "Usianya barulah lima minggu jika dihitung dari hari menstruasi terakhirmu. Dan hari perkiraan lahirnya...." Dokter itu mengarahkan kursornya pada tulisan-tulisan kecil di sisi kiri layar monitor. "22 Desember," ucapnya dengan tersenyum secara bergantian ke arah Alfa dan Tiara.
"Apakah rahim istriku baik-baik saja?" Alfa yang sedari tadi memperhatikan dengan intens layar monitor itu pun menyuarakan pertanyaan yang sedari tadi sudah muncul dalam benaknya, beralih menatap dokter Jeni.
"Baik. Kondisi rahimnya baik-baik saja dan kandungannya pun dalam keadaan baik. Aku akan memberi Tiara beberapa vitamin dan penguat kandungan yang harus segera dikonsumsi dan habiskan. Jangan lupa untuk memeriksakan kondisi kandungan secara rutin ya, agar kita bisa mengetahui keadaannya lebih lanjut. Sementara ini, semuanya baik-baik saja," tukasnya.
"Pasti. Aku akan memberikan yang terbaik yang kupunya dan akan berusaha sebaik yang kubisa agar dapat memberikan kalian pelayanan yang memuaskan," ucapnya. "Tiara, jangan lupa untuk mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung banyak zat besi, karena zat tersebut adalah salah satu mineral penting yang dibutuhkan untuk pertumbuhan janin, apalagi dengan keadaan tubuhmu yang mengalami anemia. Kehamilan ini membuat tubuhmu memerlukan suplai zat besi hingga tiga kali lipat," urainya dengan tatapan lurus ke arah Tiara.
"Baik Dokter. Aku akan mengusahakan apapun untuk menjaga tubuhku tetap sehat agar bayiku berkembang dengan baik," Tiara mengangguk tipis.
"Alfa, berhati-hatilah ketika kau menengoknya, karena kehamilan muda masih sangat rentan." Dokter itu berkata tanpa memperhatikan laki-laki yang ia ajak bicara, lalu mengarahkan pandangan kepada perawat yang menunggu di kursi belakangnya. Memberi isyarat bahwa pemeriksaan kali ini telah usai.
Perawat tersebut kemudian membersihkan sisa gel yang ada pada perut Tiara dan membantu untuk membenahi posisi baju wanita itu yang tersingkap.
"Apakah aku perlu meliburkan diri dulu?" Tanyanya dengan mimik wajah kecewa, mengabaikan Tiara yang menepuk pelan lengannya dengan rasa malu luar biasa.
Dokter itu terkekeh. "Cukup berhati-hati saja dan jangan terlalu sering," jawabnya.
Lelaki itu melipat bibir dan mengangguk. "Bisakah aku mendapat print out hasil USG kali ini?"
"Tentu saja bisa. Kau akan mendapatkannya setiap kali melakukan USG," jawab dokter Jeni sembari melakukan sederet ketikan pada keyboard dan menunggu hingga kertas foto kecil yang menampilkan citra hasil USG itu diangsurkan ke tangannya.
******
Diseperempat terakhir dari satu putaran jam dinding menuju waktu tengah malam, Alfa dan Tiara masih terjaga dengan lampu temaram yang mencahayai mereka, bercanda dan saling tertawa dalam suasana bahagia tak terkira. Tiara bersandar pada headboard tempat tidurnya dengan kaki berselonjor dan kepala Alfa yang berbantal pada pahanya yang tertutup selimut.
Lelaki itu berbaring miring menghadap Tiara dengan kepala yang menempel ke perut istrinya yang masih rata. Sebelah tangannya memeluk pinggang wanita itu dan tubuhnya meringkuk di sana, seolah sedang memeluk anaknya yang masih berada dalam kandungan. Memuaskan rasa bahagia dengan sikap tidurnya saat ini.
"Posisi paling nyaman ketika berada di pangkuan seorang wanita." Alfa mencium sekilas perut Tiara sebelum kembali berujar. "Kau tahu? Aku sering seperti ini ketika aku masih kecil. Tidur di pangkuan Mama," lirihnya dengan mata terpejam.
Tiara yang tengah mengelus rambut lelaki itu dengan lembut kemudian menghentikan aktivitasnya ketika mendengar ucapan Alfa yang terdengar sendu itu di telinganya.
Lelaki itu tengah merindukan mamanya?
Hati Tiara tersentuh mendengar pernyataan Alfa yang tanpa sadar membuatnya turut teringat akan Berta. Saat ini, mereka tengah berada di rumah. Alfa memutuskan untuk kembali ke kediamannya karena waktu telah menunjukkan petang hari ketika mereka berdua selesai melakukan konsultasi. Alfa lagi-lagi mengkhawatirkan kesehatan Tiara mengingat keadaannya yang rapuh dan rentan jatuh sakit ketika kelelahan.
Ataukah mungkin saja, Alfa sedang terbawa pada perasaan pedih yang lebih sakit daripada dirinya?
Sekeras apapun Helmia kepada Alfa, ia tetaplah seorang ibu yang menyayangi dan mencintai dengan melakukan apapun jua untuk kebahagiaan sang putra. Dan, Alfa pun pasti mencintai Helmia sebagai seorang yang berharga dalam hidupnya dengan kasih sayang yang tak akan pernah bisa terwakilkan. Lelaki itu seolah hendak berbicara bahwa ia butuh belaian mamanya dan meminta untuk ditenteramkan dalam buaian penuh kasihnya yang mendamaikan.
Melihat keadaan yang tengah menimpa mereka saat ini, sungguh membuat Tiara sesak, sosok dirinya yang sekarang tengah menjadi ibu hamil seakan menjentikkan sepercik kerinduan yang sepertinya telah dikubur Alfa dalam-dalam.
Alfa merasakan berbagai hal berkecamuk tak tentu arah dalam benaknya. Tiga wanita yang dicintainya tengah berada dalam kondisi kepayahannya tanpa ia bisa berbuat apa-apa. Helmia dalam kesedihan tak berujungnya yang terus saja memikirkan tentang kebahagiaannya tanpa pernah mau mengetahui bagaimana hatinya, Berta yang sudah ia anggap seperti mamanya sendiri yang saat ini tengah tak sadarkan diri dan istrinya yang harus menguatkan jiwa dan raga karena kesehatan dan kandungannya yang membutuhkan pengawasan ekstra, serta kemelut hubungan ibu anak dengan Helmia yang tak tahu akan bagaimana selesainya.
Ah, ingin rasanya lelaki itu berkeluh kesah pada Tiara saat ini, tentang ia yang juga bisa menangis atas semua hal yang terjadi diluar kekuasaannya.
Alfa hanya sedang rindu ... rindu ketika semuanya baik-baik saja ....