The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 57 - Lelaki Penggoda



Alfa memperhatikan dengan intens, Tiara yang tengah menyuapkan satu sendok penuh makanan ke dalam mulutnya. Lelaki itu merasakan kelegaan yang luar biasa menyenangkan mendapati istrinya sepagi ini tidak mengalami mual muntah dan menunjukkan keinginan untuk makan, meskipun lagi-lagi Alfa harus mengangkat sebelah alis dengan ekspresi terheran-heran karena Tiara meminta sesuatu yang tak biasa. Asinan buah-buahan. Hampir selama lelaki itu mengenal istrinya, belum pernah sekalipun wanita itu memakan makanan yang selama hamil ini ia makan. Entah bagaimana rasanya hingga Tiara terlihat begitu menikmati suapan demi suapan dalam satu sendok penuhnya.


“Mmh … ini enak sekali,” puji Tiara dengan memejamkan mata dan merasai benar perpaduan rasa yang tengah memanjakan lidahnya.


Jika diingat-ingat, Tiara senang akan olahan buah-buahan dalam selera makannya akhir-akhir ini. Selain itu, entah bagaimana mulanya, istrinya itu tak bisa mencecap rasa makanan yang biasa ia makan, seolah dengan kehamilannya itu, semua hal tentang Tiara berubah seratus delapan puluh derajat.


“Kau yakin akan menghabiskan semuanya?” Alfa masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. Tiara begitu lahap dengan mulut yang terus menggembung berisi makanan. Pedas dan asam adalah dua rasa makanan yang paling dihindari oleh wanita itu, tetapi, saat ini, Alfa bahkan harus merayunya agar Tiara meminta sesuatu yang lain saja, mengingat asam lambung perempuan itu yang akan meningkat ketika menerima asupan makanan dengan rasa demikian.


"Tentu saja, aku sudah lama tak merasai makanan ini, Kau mau? Kita bisa makan bersama-sama," tawar Tiara sembari mengacungkan sendoknya.


Alfa mengangkat sebelah alis. "Tidak. Kau saja. Puaskan rasa inginmu itu," tolaknya dengan senyum masam. "Aku sudah makan," ucapnya lagi sembari bersedekap dan memandangi istrinya dengan perasaan penuh sayang.


Tiara hanya menganggukkan kepala dan melanjutkan lagi aktivitas makan paginya itu dengan nikmat hingga menandaskan satu cup besar asinan buah yang dibeli oleh Alfa itu.


"Sudah kenyang?" Alfa berjalan mendekat ke arah ranjang di mana Tiara tengah menaruh kembali nampan besarnya ke atas meja nakas.


"Kau duduklah di sana saja." Tiara mengisyaratkan penolakan dengan melambaikan tangan pada Alfa yang berjalan ke arahnya. Mencegah pria itu mendekat. Membuat laki-laki itu terkesiap lalu menghentikan langkah.


"Ada apa?" Lelaki itu menatap bingung.


"Apa Alisa belum mencuci ulang semua bajumu? Aku masih belum tahan dekat-dekat denganmu. Jadi, tetaplah di situ saja," pintanya dengan memalingkan muka. Merasa tidak enak hati karena harus berkata demikian pada suaminya untuk kesekian kali. Sungguh kehamilannya kali ini terasa mengejutkan baginya karena ada banyak sekali perubahan aneh pada dirinya, termasuk tidak menyukai sama sekali aroma wewangian yang ada di rumah. Mulai dari baju hingga parfum ruangan serta pewangi mobil yang bahkan pada awalnya Tiara sendiri yang mempersiapkan semuanya. Sekarang, Alisa harus bekerja keras untuk mengganti dan mencuci ulang mulai dari baju hingga gorden jendela dengan aroma lemon. Ya. Tiara menyukai buah bahkan untuk bau-bauan pun, rumahnya itu sudah seperti pabrik minuman lemon yang tidak melewatkan satu bagian rumah saja yang tak tecium aroma tersebut.


Alfa hanya menyengir kuda dan berkacak pinggang. "Jadi, apakah aku perlu mengganti parfumku dengan aroma lemon?" Lelaki itu mengernyitkan dahi, mengelus pucuk dagunya dengan jemari, sambil berpikir keras untuk mencari-cari dalam benaknya, wewangian apakah yang memiliki racikan khusus dengan aroma tersebut. Tetapi kemudian, pria bertubuh tegap tinggi dengan kaos ketat yang menempel erat pada tubuh rampingnya itu menyeringai. "Atau, bagaimana jika aku membuka baju?" Tanyanya dengan nada menggoda dan gerakan tangan sensual yang memegang pinggiran kaos, hendak membuka pakaiannya saat itu juga.


Tiara buru-buru menatap cepat secara bergantian ke arah suaminya dan pintu kamar perawatan yang tertutup di belakangnya. "Hei jangan berbuat yang tidak-tidak. Bagaimana jika Widya atau suster tiba-tiba masuk dan melihatmu tanpa baju?" Wanita itu terlihat resah melihat gelagat Alfa yang mulai menunjukkan hasrat kepadanya. Tidak peduli jika ternyata suaminya itu telah mengunci pintu. Apa yang akan orang pikirkan ketika akan memasuki ruangannya, termasuk para perawat, ketika ruangan pasiennya terkunci dari dalam dan mengetahui mereka berdua tengah berasyik masyuk di ruang perawatan? Wanita itu bergidik ngeri dan menggelengkan kepala cepat, mengusir ketidakmungkinan yang akan membuatnya malu.


Tanpa sadar, ketika Tiara tergugah dari lamunannya, wajah Alfa sudah sangat dekat dengannya membuat perempuan itu memundurkan tubuh hingga penuh terpepet pada bantal yang ia letakkan pada headboard sebagai sandaran. Lelaki itu menopangkan tubuh dengan kedua tangan. Sengaja menggesekkan pucuk hidungnya yang mancung itu dengan hidung Tiara yang mulai mengembuskan napas panas di sana.


"Siapa yang akan berbuat aneh-aneh Tiara sayang, hm?" Alfa mencium singkat bibir istrinya yang sedikit terbuka itu karena terkesiap. "Atau kau sedang menginginkannya?" Godanya.


"Ti ... tidak. Ak ... aku tidak begitu," ucapnya dengan tergugu. Lelaki itu mengelus dengan sentuhan seringan bulu pada pipi Tiara yang tirus, membuat aliran darah dan degup jantung wanita itu semakin liar tak terkendali dengan wajah merona.


"Jangan malu sayang, aku pun menginginkannya, tetapi, tentu saja aku tak akan melakukannya di sini," ujar Alfa dengan tersenyum lalu gerakan tangannya di pipi itu beralih pada rambut Tiara yang tergerai dan menyelipkannya ke belakang telinga.


******


Helmia sedang duduk di kursi kebesaran Yunus di kantor pusat perusahaan miliknya. Mengamati dengan teliti dan membuka lembar demi lembar dokumen yang ada di hadapannya. Suaminya itu sudah tiga hari berada di luar kota dan belum juga menghubunginya. Ia tahu, mungkin saja, area yang tengah dikunjungi Yunus itu berada jauh dari Base Transceiver Station sehingga komunikasi menjadi terhambat. Namun, apakah benar-benar tidak ada waktu bagi lelaki itu untuk sekedar bertanya bagaimana kabar dirinya?


Wanita itu menyangga kepala dengan tangan kirinya, dahinya berkerut dalam ketika berkas yang dibacanya itu menunjukkan defisit laporan keuangan yang membuat perusahaan cabangnya itu hampir saja diakuisisi oleh perusahaan raksasa di daerah tersebut. Bagaimana bisa sampai Yunus melewatkan satu hal sepenting itu hingga perusahaan anak cabangnya hampir mengalami kebangkrutan? Wanita itu mengelus pangkal hidungnya perlahan, merasakan betapa beratnya beban Yunus yang turut ia rasakan saat ini.


Ketukan di pintu membuyarkan angan-angannya sejenak. Ketika polat matanya mengarah ke pintu, seorang wanita yang ia kenal sebagai sekretaris suaminya itu tengah berdiri di sana dengan tangan yang masih memegang handle.


"Sudah waktunya makan siang Nyonya, apakah Anda hendak memesan makanan atau bagaimana?"


Helmia menghela napasnya dengan berat, lalu menganggukkan kepala. "Ya. Aku ingin memesan makanan seperti biasa. Dua porsi. Aku akan mengundang Direktur Cabang untuk makan siang bersama," perintahnya.


"Baik," ujarnya lalu kembali melangkah mundur hendak menutup pintu.


"Tunggu!" Sela Helmia kepada bawahannya itu yang langsung ditanggapinya dengan melongokkan kepala ke dalam ruangan. "Kemarilah," perintahnya lagi. Wanita itu pun melangkah mendekat dan berdiri satu meter dari meja kerja Yunus yang terbentang lebar dengan kaca hitam di seluruh permukaannya.


"Apakah Yunus membawa salah seorang pegawainya dalam kepergiannya ke luar kota ini?" Tanya Helmia dengan raut wajah berkerut.


"Tidak Nyonya," jawabnya singkat. "Semua pekerjaan yang harus ditangani oleh Bapak sudah diserahterimakan kepada wakil direktur. Nyonya hanya perlu memantau saja perkembangan yang ada di perusahaan," lanjutnya.


Helmia menganggukkan kepala mengerti, lalu berucap kembali. "Tambahkan porsi makan siang untuk tiga orang. Undang wakil direktur untuk makan siang bersamaku juga," ucapnya sambil merapikan berkas-berkas yang ada di depannya.


"Baik. Saya permisi dulu," pungkasnya lalu mengangguk singkat sebagai tanda berpamitan lalu membalikkan badan dan keluar dari ruangan.


Sejenak Helmia memperhatikan wanita paruh baya itu yang sedang melangkah hingga menutup pintu ruangannya. Angan-angannya terus berpikir keras dengan hatinya yang digayuti perasaan tak menentu. Bagaimana kabar suaminya itu di luar sana. Oh, bagaimana bisa Yunus pergi seorang diri tanpa satu pun pegawainya yang mengawal? Apakah karyawan di perusahaannya di luar kota itu bisa dipercaya untuk turut menyelesaikan persoalan pelik ini?


Tanpa terasa, pandangan Helmia memindai seisi ruangan. Menatap dengan nanar dekorasi serta foto-foto keluarga yang terpampang di sana. Mengamati dengan hati kosong, senyum Yunus yang hanya bisa ia tatap melalui sketsa foto.


Ruangan itu senyap, rapi terkendali dengan interior mewah yang terpasang di setiap sisinya. Khas ruangan besar presiden direksi dengan berbagai akses pintu menuju ruangan-ruangan pribadi yang tak pernah dipakai oleh suaminya itu. Mengingatkan kembali pada masa muda mereka di mana Yunus si lelaki pekerja keras yang terkadang menyempatkan waktu istirahat singkatnya di kamar pribadinya itu sebelum kembali bergelut dengan pekerjaannya yang menumpuk dan tak ada habis.


Diam-diam ia rindu, tergoda lagi pada cerita masa muda mereka yang berkelebat cepat dalam otaknya, tetapi, dengan cekatan ia kikis begitu saja ketika beberapa saat kemudian, datang dua orang laki-laki berjas rapi dan sekretaris Yunus yang datang dengan satu kantong makanan besar di tangannya untuk makan siang.