The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 85 - Memaksa Diri



Tiara berpikir sejenak hingga akhirnya ia memutuskan. “Kurasa, sementara waktu aku ingin menempatkan bayi kita di kamar ini dulu. Akan repot jika kita menempatkannya di ruangan terpisah, sementara bayi akan mudah sekali terbangun bukan di malam hari? Menempatkannya di dalam boks bayi sudah cukup membuatnya aman dan mempermudah kita untuk segera menengok keadaannya,” tutur wanita itu.


“Baiklah. Terserah padamu saja bagaimana baiknya. Mungkin nanti akan kupindahkan sementara perabot seperti lemari hias dan lainnya untuk digantikan dengan barang-barang bayi. Begitu?” Alfa berkata dengan memperhatikan sekeliling kamar. Mengira-ira penempatan yang pas untuk barang-barang bayi yang akan segera memenuhi ruangan mereka.


Tiara mengangguk tipis. “Ya. Seperti itu saja.”


Perempuan itu mengedarkan pandangan dan tersenyum. Membayangkan dalam benaknya, betapa nanti akan sempurna kamarnya ini dengan aneka rupa hiasan serta suara tangisan bayi. Oh, wanita itu tak sabar untuk segera merengkuh anaknya itu dalam pelukan. Menimang-nimangnya dengan penuh kasih dan bercengkerama sepanjang waktu. Tiara mengusap perutnya ketika merasakan pergerakan lembut di sana. Anaknya tumbuh begitu sehat dan hal itu adalah keajaiban.


Suara panggilan ponsel Alfa memecah suasana damai keduanya. Setelah melihat nama pemanggil yang tertampil di layar, lelaki itu segera mengangkat telepon. Mendengarkan dengan saksama si pemilik suara selama beberapa waktu.


“Ya, aku tahu,” ucapnya. Keningnya berkerut dengan embusan napas sebal. “Iya, baik,” pungkasnya lalu menutup sambungan telepon.


Tiara turut berkerut memandangi wajah suaminya yang mendadak berubah ketika baru saja menerima panggilan. “Ada apa?” wanita itu mengelus sebelah pipi Alfa. Mata lelaki itu mengatup, menerima sentuhan hangat dari tangan Tiara.


Alfa memaksakan senyumnya sehingga justru tampak menyedihkan. “Tidak ada, hanya masalah pekerjaan yang harus kuselesaikan.” Lelaki itu merangkul dan mengecup pelipis istrinya. “Maaf,” ujarnya.


Tiara mendongakkan kepala. Mempelajari dengan teliti maksud dari ucapan serta mimik wajah suaminya. Wanita itu mengangkat kedua alis, penuh dengan tanya tersirat di dalam ekspresinya.


“Aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Ada perusahaan yang meminta tim untuk melakukan fotografi iklan terbaru produk mereka,” resahnya. “Aku berjanji, ini adalah terakhir kali dan aku akan berada di rumah menemanimu sampai waktunya kau melahirkan nanti, ya?”


Tiara tersenyum dan mengusap rambut Alfa. “Iya. Pergilah. Aku akan baik-baik saja. Bekerjalah dengan tenang,” pintanya.


Alfa mengangguk dan mencium pelipis istrinya sekali lagi. “Terima kasih, hubungi aku jika terjadi sesuatu, aku akan segera kembali.”


“Ya.” Wanita itu melepas sentuhan tangan pada lengan suaminya perlahan, mengiringi Alfa yang lambat laun berdiri dan bergegas keluar dari kamar.


Tiara mengembuskan napas panjang dan berdiri dari duduknya. Berjalan perlahan menuju pintu kaca dan membukanya, membiarkan desau angin yang berembus kencang pagi itu menerobos masuk ke dalam ruang kamar. Wanita itu memajukan tubuh hingga balkon dan bersandar pada pagar besinya, mengamati lekat-lekat bagaimana Alfa dibantu oleh pelayan memasukkan peralatan memfotonya termasuk tas laptop, handycam, serta kameranya ke dalam bagasi mobil. Dengan sedikit berlari, laki-laki itu memasuki ruang kemudi dan melajukan kendaraannya dengan cepat. Seperti sedang terburu-buru benar. Berusaha menepati janji kepada istrinya untuk segera menyelesaikan pekerjaan dan kembali pulang.


Wanita itu terus menatap hingga mobil suaminya menghilang dari pandangan. Ia meringis dan mengusap perutnya perlahan. Merasakan kontraksi palsu yang semakin sering melandanya akhir-akhir ini.


******


Alfa memijat peningnya yang terasa pengar. Sudah sedari tadi sebelum berangkat ia merasakan kepalanya sedikit pening, tetapi ia abaikan begitu saja. Kini, saat ia baru saja memarkir kendaraan di area parkir, sakit di kepalanya itu semakin menjadi. Lelaki itu menyandarkan kepala sejenak, merasai ujung kepalanya yang seolah baru saja dihantam oleh pukulan tak kasatmata. Napasnya pun semakin panas seiring kulit di tubuhnya yang turut menunjukkan peningkatan suhu. Untunglah dalam perjalanan tadi, Alfa masih bisa terus fokus menyetir hingga ia bisa tiba di lokasi ini dengan selamat.


Brian dan rekan-rekan kerjanya yang lain sudah cukup memaklumi sebenarnya, jika Alfa sedikit memangkas waktu bekerja karena Tiara yang sedang membutuhkan waktunya, tetapi, lelaki itu tetap bersikukuh untuk melakukan pekerjaannya selagi ia bisa. Dan tadi, ketika Alex sempat mengatakan bahwa ia akan menggantikannya dengan orang lain itu membuatnya kesal. Ia sudah menandatangi kontrak sampai dengan hari itu untuk bekerja. Tentu saja, ia tidak akan seenak hati mengiyakan kebaikan teman-temannya dan tidak menepati janjinya sendiri.


Hanya tinggal hari ini saja ia bekerja sebelum mengambil hari liburnya mulai esok hari. Namun, di akhir tugasnya ini, tubuhnya malah tak bisa diajak kompromi?


Sepertinya, Alfa belum menyadari juga jika ia tengah merasakan imbas dari kesibukan yang dipaksa. Tubuhnya lelah, belum lagi beban pikiran yang terus menggayuti jiwanya. Ia telah sampai pada titik di mana tubuhnya mulai bereaksi menolak untuk terus diajak bekerja keras dan memintanya untuk beristirahat.


Ponsel yang ia letakkan di jok sebelahnya itu memanggil kembali. Alfa menengok sekilas dan mengetuk loud speaker. “Kau baik-baik saja? Kau ada di mana?” Alex menyapa dengan nada gusar penuh kekhawatiran. Sudah hampir empat puluh lima menit berlalu dari dua puluh menit seharusnya lelaki itu tiba di lokasi. Alfa memang mengendarai mobilnya dengan perlahan dan jarak yang cukup jauh membuat perjalanannya lebih lama.


“Aku sudah tiba di tempat parkir. Sebentar lagi aku masuk. Tunggulah,” ucapnya.


“Oh, oke.” Alex berkata dengan embusan napas lega dan langsung menutup panggilan.


Alfa mengangkat alis dan mengerjapkan mata. Mengusir segala ketidaknyamanan yang tentu saja tidak akan hilang begitu saja. Lelaki itu perlahan melepas sabuk pengaman dan mendorong pintu. Berjalan ke belakang kemudian membuka bagasi dan mengeluarkan peralatannya.


Matahari yang semakin terik dan biasa membuatnya panas berkeringat itu sama sekali tak membuatnya nyaman. Alih-alih tubuhnya mengeluarkan peluh, malahan sekujur badannya terasa semakin dingin dan pusing di kepalanya semakin menjadi-jadi. Ah, ia sebal saat harus lemah seperti ini.


Langkah kaki lebar lelaki itu membawanya menuju sebuah ruangan besar yang di dalamnya sudah terpasang latar dan setting tempat untuk pengambilan foto dan video.


Alex dan Brian yang sudah menunggu sembari memainkan ponselnya itu menyambut hangat kedatangan Alfa. Keduanya berjalan mendekat dan bersiap untuk melakukan tos seperti biasa, tetapi dua laki-laki itu bersamaan saling melempar pandang begitu bertatapan dari jarak yang cukup dekat.


“Astaga, kau seharusnya pergi ke fasilitas kesehatan dengan wajahmu yang seperti itu. Masih juga memaksakan diri untuk pergi kemari?” Brian menasehati dengan sungguh-sungguh kali ini.


Alfa tersenyum kecut. “Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing,” jawabnya lalu berjalan melewati keduanya dan meletakkan peralatannya di atas meja.


“Ayo mulai,” ajak lelaki itu ketika memperhatikan dua temannya yang masih terpaku di tempat. Memperhatikan sikapnya yang seolah aneh dan tak biasa.


Ketiganya pun segera menempatkan diri di posisi masing-masing dan bergantian melakukan pemotretan. Saling membantu menyempurnakan latar dan gaun yang dikenakan oleh model ketika kemudian, Alfa meremas kepalanya dengan kuat dan mengagetkan seisi ruangan dengan tubuhnya yang sempoyongan dan terjatuh begitu saja membentur lantai.


Orang-orang yang melihat lantas berlarian menolong, membantu mengangkat tubuh jangkung itu dan membawanya ke rumah sakit terdekat.