
Alfa menghela papanya untuk duduk di sofa. Alfa dan Tiara sendiri duduk berdampingan pada seberangnya. Di atas meja, tersaji beraneka kudapan dan makanan serta satu piring penuh berisi buah-buahan yang sepertinya dibawa oleh Yunus ketika datang kemari. Alisa menyajikannya dengan rapi hingga membuat siapa saja yang melihat pastilah meneteskan air liur karena platingnya yang elegan dan menggugah selera.
"Silakan minumannya." Alisa membawa satu nampan berisi aneka minuman untuk tamu yang sepertinya spesial itu dan juga untuk tuan rumahnya seperti biasa.
"Terima kasih Alisa." Tiara tersenyum dan Alisa pun menganggukkan kepala dengan sopan kemudian berlalu dari ruangan tersebut.
Yunus menyeruput secangkir teh yang ada di depannya. Menikmati dengan penuh khidmat atas kekentalan dan manis yang terasa pas di indra perasanya. Sepertinya, meski telah lama tak menikmati teh bersama, Alfa masihlah paham benar bagaimana selera papanya, sehingga asisten rumah tangganya itu bisa membuat seduhan rasa yang begitu nyaman di lidahnya.
"Apa yang membawa Papa datang kemari?" Alfa langsung bertanya tanpa berbasa-basi. Lebih seperti tengah mengawali sebuah introgasi kepada seseorang yang baru saja terpergok masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu. Tiara menyentuhkan perlahan tangannya ke lengan suaminya, memperingatkan bahwa perkataannya itu tidaklah tepat.
Yunus mengangkat alis dengan ekspresi heran, tetapi sesaat kemudian ia mengulas senyum di bibirnya. "Jadi, karena Papa sama sekali belum pernah berkunjung ke rumahmu, kau perlu bertanya, apa tujuan Papa kemari?" Lelaki itu mengulang pertanyaan Alfa dengan pandangan menilai. "Tentu saja karena Papa ingin bertemu dengan anak-anak Papa," jawabnya kemudian.
Alfa dan Tiara saling berpandangan, lalu menatap ke arah Yunus secara bersamaan. Tiara sedikit terkejut mendengar jawaban yang begitu santai dari papa mertuanya itu namun terasa sangat mengejutkan untuknya. Hatinya tiba-tiba saja diguyur oleh perasaan bahagia ketika telinganya merekam dengan jelas ucapan Yunus yang mengatakan tentang 'anak-anaknya'. Ia tak menyangka bahwa ia masihlah dianggap sebagai seseorang yang memiliki arti oleh Yunus setelah beberapa waktu lalu, ia dibuang begitu saja oleh Helmia dengan mengatakan bahwa dirinya haruslah menyiapkan hati untuk segera meninggalkan Alfa.
Ya. Tiara tak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang, pun tak bisa memperkirakan pula seperti apa hubungannya dengan keluarga Alfa yang terasa semakin rumit dan pelik ini. Ia hanya bisa berpegangan pada keyakinannya saat ini, bahwa, selama Alfa masih mempertahankannya, maka ia pun akan menggenggam dengan erat hati suaminya itu dan tak akan melepaskannya. Walau sebelumnya, rasa tidak percaya diri sempat hinggap di jiwanya dan ia sempat akan memilih menyerah saja sepenuhnya pada takdir atas apa yang akan menjadi jalan untuknya. Namun, sekarang, rasa cintanya semakin kuat tatkala ia mendengar penerimaan tersirat yang disampaikan oleh Yunus.
Alfa tersenyum. Terbersit sinar kelegaan yang nampak di wajahnya. "Papa sengaja meluangkan waktu untuk datang kemari dan tak menyayangkan penundaan acara penting bersama klien?" Ledeknya dengan sengaja. Masih mencoba terus meyakinkan diri bahwa tak ada niat terselubung dari kedatangan ayahnya yang tiba-tiba itu.
Lelaki tua itu mendecak. Sejujurnya pertanyaan itu amatlah menampar jiwanya. Namun, ia mengerti, kedekatan emosi yang merenggang ini membuat Alfa menjadi antipati terhadapnya. Membuat mereka berdua seolah-olah harus memulai dari awal segala hal yang mengambang dan hampir terputus itu.
"Papa mempunyai banyak klien dan hilangnya satu klien tak akan berarti apa-apa dibanding Papa harus kehilangan citra sebagai seorang ayah yang patut disebut ayah," keluhnya dengan senyum penuh ironi yang nampak nyata dengan kerutan-kerutan di wajahnya yang semakin dalam.
Alfa mengangkat sebelah alis ketika tak dikiranya Yunus akan mengeluarkan kata-kata tersebut.
Tiara berdeham. Berusaha memutus pembicaraan tak mengenakkan yang mengudara di ruangan itu. "Bagaimana kalau kita makan siang terlebih dahulu? Alfa, aku sudah lapar," bujuknya, menekan kuat-kuat rasa malunya dengan terang-terangan mengucapkan hal tersebut. Namun, lelaki itu tak jua memperhatikannya yang membuat Tiara menyikutkan lengannya ke pinggang lelaki itu berkali-kali.
Alfa tergugu dan langsung menolehkan kepala.
"Ah ya. Papa membawakan banyak menu untuk makan siang kita hari ini. Mari kita makan sebelum cita rasanya berubah karena terlalu lama kita diamkan," ajak Yunus dengan kembali menunjukkan ekspresi tersenyum.
Alfa melunakkan mimik wajahnya dan turut menampakkan senyum walau masih terlihat kerutan di dahi yang menunjukkan bahwa ia masihlah belum bisa melepaskan otaknya dari segenap kekalutan pikirannya. Ia kembali menatap istrinya dengan tersenyum geli ketika dengan berani Tiara menyela pembicaraan Alfa dan Yunus dengan kalimat konyol seperti itu.
"Maaf Pa, Tiara sedang banyak makan akhir-akhir ini sehingga ia tak bisa menunda sebentar saja waktu makannya karena ia telah kembali mengandung. Mari kita makan," ujarnya yang membuat Yunus seketika memandang Tiara dengan ekspresi terkejut dan Tiara yang membelalak karena Alfa akan mengatakan hal tersebut untuk menanggapi ajakan makannya yang sebenarnya lebih bertujuan untuk mengalihkan perbincangan itu.
******
"Tiara, sudah berapa minggu usia kehamilanmu? Oh, Papa sungguh senang sekali karena menjadi yang pertama mengetahui kabar ini." Yunus berkata sembari mengelap mulutnya dengan tisu, setelah menandaskan makan siangnya yang terasa damai itu.
"Kami belum bisa memastikannya karena dokter Jeni masih di luar kota. Belum ada waktu baginya untuk kembali ke meja kerjanya di rumah sakit," jawab Alfa, kemudian meneguk air putih yang tersaji di depannya.
"Mohon maaf ada tamu di luar menanti Bapak." Alisa yang berada agak jauh dari meja makan itu mendadak menjadi pusat perhatian.
"Siapa?" Tanyanya sembari menyurukkan kursi yang didudukinya untuk memberi ruang baginya untuk berdiri.
"Oh baiklah. Aku tunggu di ruang studio, bawa ia masuk," perintahnya, lalu tanpa permisi lagi segera beranjak dari tempatnya.
Yunus menyentuhkan tangan Alfa dengan satu tas hitam berukuran sedang yang membuat lelaki itu mengurungkan niatnya untuk melangkah.
"Kamera terbaru keluaran perusahaan Papa. Kau bisa menguji cobanya. Pakailah." Yunus berkata dengan sedikit mendongak agar bisa bersitatap dengan anaknya itu.
Alfa menyeringai dan terkekeh. "Apakah ini sogokan?" Tanyanya dengan pandangan mengejek.
Yunus tertawa. "Hanya kau pemilik mata kamera yang Papa percaya untuk bisa menilai dengan benar, apakah kamera itu bisa digunakan dengan baik atau tidak," sanggahnya.
Alfa hanya tersenyum miring dan mengambil tas hitam itu kemudian melanjutkan langkah. Tiara yang menyaksikan percakapan itu hanya tersenyum dan menatap dengan penuh rasa bahagia, melihat hubungan ayah dan anak itu yang lekas menunjukkan kehangatan.
Alfa membuka ruang studio mininya dan menyalakan lampu hingga ruangan itu pun terang dengan pendar cahaya yang menyorot dengan riangnya. Lelaki itu kemudian duduk di meja kerjanya dan membuka tas hitam itu, lalu mulai memeriksa dan mengotak-atik tombol serta mengarahkan dengan acak lensa kamera tersebut untuk melihat hasilnya.
Pintu yang terbuka dengan seorang wanita yang mendorong trolley bayi itu membuat Alfa tertegun sejenak. Laki-laki itu kemudian berdiri dan memandang bergantian wanita bertubuh pendek itu dengan trolley di tangannya.
"Kau ingin aku memfoto bayimu?" Tanya Alfa kemudian untuk meyakinkan dirinya. Sudah begitu lama ia tak melakukan sesi baby photoshoot seperti yang akan ia lakukan ini. Dan ia merasa senang karena kembali mendapat kesempatan tersebut tanpa ia duga. Aktivitas foto memfoto yang biasa ia lakukan hanya seputar fashion photography, food photography maupun foto-foto komersil yang biasa dilakukannya untuk periklanan maupun foto perjalanannya seperti street, landscape, aerial, maupun jenis fotografi lainnya yang lekat sekali dengan namanya sebagai fotografer populer dengan begitu banyak jam terbang dan pelanggan.
"Iya," jawab wanita itu setelah perlahan menggendong bayi yang sedari tadi ditidurkannya pada trolley itu ke lengannya.
Sejena Alfa terpana menyaksikan bayi mungil nan montok itu berada dalam pelukan ibunya. Membayangkan kebahagiaannya sendiri ketika bisa menyentuhkan tangannya ke manusia kecil yang sangat ia rindukan kehadirannya itu.
"Boleh aku menggendongnya?" Ucap Alfa tanpa sadar saking bahagianya mendapat kesempatan melakukan sesi foto bayi itu.
"Tentu saja," jawab wanita itu dengan ramahnya sembari memajukan tubuhnya ke depan tubuh Alfa untuk memindahtangankan bayinya ke rengkuhan lelaki itu. Dengan kaku, suami Tiara itu memeluk dan menggoyang-goyangkan tubuhnya, berharap, mata bening dan berkilau yang kini tengah menatapnya itu tidak menangis ketika menjumpai wajah yang belum pernah dikenalnya.
"Hei, bagaimana bisa kau menggendong bayi dengan posisi seperti itu?" Yunus yang ternyata tengah mengawasi aktivitas dalam ruang yang penuh akan cahaya itu menginterupsi Alfa yang tengah terbuai dengan kegiatannya yang menyenangkan itu.
Alfa menoleh cepat ketika Yunus mendekat ke arahnya. Lelaki itu kemudian dengan gesit memindahkan bayi kecil itu ke lengan besarnya dengan luwes.
"Seperti ini seharusnya," ucapnya dengan pongah karena telah berhasil mengejek anak laki-lakinya yang terlihat kaku dan memeperlihatkan ketidakahliannya dalam meenggendong bayi itu. "Bayinya akan merasa nyaman dengan lenganmu yang menyangga seperti ini. Punggung bayi di usia ini masih belum sanggup untuk menopang tubuhnya sendiri. Kau harus berhati-hati," pesannya. "Sepertinya ... kau harus belajar menjadi ayah sejati dari Papa," imbuhnya lagi.
Alfa berkacak pinggang dengan pandangan mencela kepada ayahnya. "Ya ... ya ... baiklah, boleh kucoba sekali lagi?" Tanyanya tak mau kalah. Memandang si ibu yang sedari tadi terkekeh melihat tingkah dua orang laki-laki yang tertarik dengan aktivitas menggendong bayi itu.
"Tak masalah. Ia sepertinya senang dengan kalian berdua," pujinya.
Alfa pun mencium sejenak pipi gembil itu sebelum merengkuhnya ke dalam pelukan. Menimang-nimangnya sebentar dan merasa bahagia karena bayi kecil itu pada akhirnya menggerak-gerakkan tangannya untuk menggapai wajah tampan Alfa.
"Bagaimana sayang? Apa aku sudah pantas menjadi seorang ayah?" Ujarnya dengan pandangan menggoda ke arah Tiara yang berdiri bersandar di ambang pintu, menatap Alfa dengan berkaca-kaca .....