The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 40 - Kolam Renang



Dengan berat hati, Julius menengadah. Ia paham. Alfa akan sangat memperhitungkan segalanya dan tak akan mudah untuk melakukan serangan balik kepada mamanya. Jadi, ia putuskan untuk memberi tahu saja kepada Alfa tentang apa yang direncanakan oleh Helmia terhadapnya.


Alfa semakin mengepalkan tangannya erat dan napasnya berirama cepat, tak sabar karena Julius hanya terdiam. Lelaki itu memajukan satu langkahnya, memberi peringatan, bahwa semakin lama ia diam, Alfa tak segan untuk memukulnya kembali.


Sudah cukup. Ia tidak mengerti bagaimana Alfa bisa memiliki pukulan mematikan itu di tangannya. Julius mengusap pipinya yang kemerahan, kemudian berseru dengan lantang. “Nyonya Helmia ingin agar kau segera berpisah dengan Nona Tiara, lalu kau menikah dengan gadis pilihannya.”


Ketegangan pada diri Alfa melunak. Mimik wajah kakunya berubah menjadi ekspresi datar tak terbaca. Leon pun menolehkan pandangan pada Alfa disampingnya dengan keterkejutan yang amat sangat. Ada apa dengan semua orang? Mengapa mereka menginginkan Alfa dan Tiara untuk berpisah? Sepertinya ada satu bab kejadian yang belum sempat Leon lihat secara langsung yang menyebabkan orang lain, bahkan dalam hal ini adalah mama Alfa sendiri menghendaki pasangan itu untuk mengakhiri kebersamaan mereka.


“Siapa gadis itu?” Alfa menatap ke arah Julius, namun polat matanya memperlihatkan bahwa ia tengah berangan-angan. Merasakan pukulan tak kasatmata yang lebih sakit dari sekedar pukulan tangannya ke pipi Julius.


Jantungnya seperti diremas. Sosok istrinya yang sedang tersenyum memintas begitu saja dalam pikirannya. Membuat rasa cinta dan rindu membuncah dalam hatinya. Rasa ingin melindungi dan memiliki semakin mengikatkan perannya ketika ia mengetahui bahwa nampaknya, Helmia benar bersungguh-sungguh atas apa yang ia ucapkan. Ia tak boleh menganggap sepele persoalan ini.


“Karina.” Julius menjawab seperlunya. Tak ingin menyiksa dirinya dengan rasa bersalah, walau tak bisa dipungkiri, dirinya kini telah berkhianat pada Helmia dan memberitahukan rencananya pada Alfa. Hubungan keduanya teramat dekat bukan? Jadi, sepertinya bukan masalah besar baginya saat mereka berseteru atas persoalan ini.


Alfa mengetatkan gigi-giginya dan matanya menyipit hingga ekspresinya terlihat keras dan mengancam. Ia tahu gadis itu. Serupa dengan Nelly yang kaya raya dan hobi memamerkan tubuhnya di depan mata kamera. Cantik jelita dengan polesan make-up tebal dan pakaian terbuka. Ah, ia sungguh menyesal telah menunjukkan ketertarikannya pada Nelly di masa lalu, hingga membuat mamanya pun turut menyukai selera yang diperlihatkan olehnya. Tapi, sungguh, Alfa tak melirik sedikit saja perihal ketenaran, kecantikan, dan embel-embel apapun yang melekat pada wanita yang disukainya.


Alfa hanya menitikberatkan pada kenyamanan berada di dekat orang yang mengasihinya, melebihi kasih sayang orang tuanya yang hanya berwujud benda mati seperti uang dan kekuasaan.


Namun, hatinya porak poranda, mengetahui Nelly telah berselingkuh di belakangnya. Bukan tanpa bukti, ia telah mempelajari selama beberapa waktu bagaimana rupanya Nelly telah bosan terhadapnya dan memilih untuk berkhianat. Pantas saja, saat ia mengajak wanita itu ke arah yang lebih mendekatkan mereka untuk menikah, Nelly menolak dengan alasan belum mempersiapkan diri bagaimana nantinya ia akan berperan sebagai seorang istri. Alfa sungguh mual mengingat semua itu.


Julius berdiri, lalu berlalu dengan sedikit berlari begitu saja dari hadapan Alfa dan Leon yang masih mematung di tempatnya.


Leon terdiam sedari tadi. Memberi waktu bagi Alfa untuk menyerap segala perkataan lelaki bernama Julius itu kepadanya dan mencerna dengan benar untuk selanjutnya memikirkan akan bagaimana sikapnya.


“Leon.” Panggilnya lirih tanpa memandang.


Lelaki itu menoleh demi menjawab panggilan yang ditujukan kepadanya.


Beberapa detik berlalu dengan berat saat tak jua ada kata-kata yang keluar dari mulut Alfa. “Mari kita pulang.” Dengan desahan napas, akhirnya Alfa menggantungkan kunci mobil Leon di tangannya, berniat untuk kembali pulang dengan mobilnya sendiri. Sekali lagi Leon hanya mengangguk tanpa suara, menyakukan tangannya dan mengambil kunci mobil Alfa dalam sakunya lalu bertukar dalam sekali gerakan.


Alfa beranjak pergi dari tempatnya berdiri dan langsung bergegas menuju mobilnya yang terparkir di sisi jalan. Membuka pintu dan terduduk di balik kemudi. Menyandarkan kepala untuk sejenak melepaskan beban penat yang secara tiba-tiba diambrukkan padanya tanpa ampun. Tangan Alfa bergerak memencet tombol di dashboard untuk membuka panoramic sunroof di atasnya. Sejenak matanya terbuka, menikmati langit malam yang tampak di atasnya.


Lamunannya terkoyak sejenak ketika suara klakson mobil yang melewatinya terdengar keras mengagetkan. Leon telah pulang terlebih dahulu. Mengucapkan salam melalui mobilnya.


Sebentar kemudian, fokus Alfa kembali ke langit-langit mobilnya, di mana pemandangan malam dengan ribuan bintang dan kilasan awan putih sangat nyaman dipandang mata. Alfa teringat pada Tiara, bagaimana waktu itu ia mengucapkan janjinya pada wanita itu dengan berpandang ke langit sana.


Sekuat hati ia mencoba untuk teguh, meski tubuhnya nyeri seperti mendapat cambukan dari mamanya saat kata-kata berpisah muncul lagi dalam bayang-bayang.


"Duhai langit malam dengan bintang-bintangmu yang memesona … Aku berjanji padamu, aku akan mempertahankan istriku sekuat hidupku. Menjaganya dengan segenap jiwa dan raga." Lelaki itu menarik napas dengan berat dan menghembuskannya perlahan, sebelum melanjutkan, "Bintang ... bintang di langit, aku tak ingin terpisah darinya. Jika ada jarak yang harus kau rentangkan, maka kuharap itu adalah kematian.” Alfa memejamkan matanya sejenak, merasakan dadanya yang sesak setelah berkata demikian, lalu dengan malasnya, lelaki itu menghidupkan kembali mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi untuk kembali ke rumahnya dan melepas segala gundah dengan memeluk erat-erat kekasih hatinya.


******


Alisa sedang mempersiapkan sarapan ketika Alfa mendatangi ruang dapur dan membuka almari pendingin dengan hanya memakai kaos singlet dan celana pendek selutut, serta langsung meneguk habis minuman dingin yang ia ambil dari kulkas. Apa yang dilakukan majikannya itu, hingga pagi ini ia terlihat bercucuran keringat dan membutuhkan air es?


“Tuan Alfa, sarapan sudah siap.” Alisa berdiri canggung menghadap Alfa yang terlihat sangat maskulin dengan otot-otot tubuh yang menonjol dimana-mana dengan pakaiannya yang lebih terbuka.


Alfa menatapnya sekilas. “Baik. Terima kasih.” Ucapnya sembari meletakkan gelas minumannya dengan asal ke atas meja dan berjalan meninggalkan ruang dapur. “Alisa, tolong bersihkan kolam di ruangan belakang. Aku sudah mengangkat barang berat yang tertimbun di sana, kau tinggal membersihkan sisanya dan mengisinya dengan air.” Perintahnya tanpa menunggu reaksi dari lawan bicaranya.


Alisa tercenung. Membayangkan di mana letak kolam di ruang belakang yang sepertinya belum pernah ia lihat. Dengan segenap rasa penasaran yang semakin memuncak, tergesa-gesa, Alisa pergi melangkahkan kakinya menuju ruang yang disebut sembari mengedarkan pandangan ke segala penjuru agar tak lewat sedikit saja semua sisi rumah hingga menemukan kolam itu.


Wanita itu terkesiap melihat pemandangan di depannya dengan mata melebar sempurna dan mulut terbuka, lap yang dipegangnya pun jatuh ke lantai karena spontan, jari jemarinya menyentuh bibirnya karena terkejut.


Ruang yang sering ia ketahui sebagai ruang penyimpanan yang gelap, pengap dan kotor itu ternyata adalah ruang kolam pribadi dengan pencahayaan alami matahari dari bagian atas ruang yang tak tertutup. Dekorasi berupa gantung-gantungan daun sintetis dan bunga warna warni menempel di beberapa sudut dinding. Kerikil-kerikil kecil tertata rapi mengitar di sekeliling ruang dengan rumput sintetis yang membuat ruangan itu terlihat segar.


Kolam berukuran empat kali tiga meter itu memiliki kedalaman sekitar seratus tiga puluh centimeter dengan tangga dan juga railing sebagai pegangan.


Wah, Tuan Alfa memang memiliki selera tinggi menyangkut rumah.


Dilihat dari luar, rumah ini memanglah terlihat biasa saja, namun jika sudah memasuki pintu rumah dan masuk ke dalam berbagai ruangan, akan sangat kentara seperti apa selera pemiliknya, termasuk kolam renang tersembunyi dimana tembok bagian dalam yang menghubungkan dengan ruangan dalam ini terbuat dari kayu tebal dan bisa dibuka seperti sebuah gerbang, mengubah ruangan kolam yang kecil itu menjadi kolam renang terbuka yang nampak dari berbagai sisi.


Dengan cekatan, Alisa mengambil alat kebersihan lalu menyapukan segala debu yang menempel pada semua bagian ruang itu hingga terlihat bersih dan cemerlang. Air bening nan jernih pun lekas mengaliri kolam perlahan-lahan hingga penuh dan hampir meluap.


“Kau tak boleh keluar kamar.” Alfa masih dengan pelukan dari arah belakang Tiara ketika wanita itu sedang menghadap ke cermin besar di depannya sambil merapikan rambutnya dengan sisir. Berpelukan sambil bercermin? Ah, Tiara malu sendiri dengan pose mereka saat itu.


Wanita itu mendesah dan pasrah. Entah ada apa lagi dengan suaminya ini. Tingkah anehnya selalu penuh dengan kejutan yang tak disangka-sangka sehingga selalu berhasil membuat Tiara terperangah.


“Lalu?” Tiara mengangkat alisnya setelah meletakkan sisir ke atas meja.


“Lalu, kau hanya harus menurut Tiara, Aku punya sesuatu untukmu dan kau pasti senang.” Alfa melepaskan pelukannya lalu berjalan membuka almari pakaian.


Dipindainya secara menyeluruh seisi almari pakaian sambil disentuh beberapa seolah sedang memilih.


“Pakailah.” Alfa menyodorkan satu set pakaian renang ke hadapan Tiara yang membuat wanita itu tertegun dan menatap mata suaminya.


Lelaki itu tersenyum miring setelah akhirnya wanitanya itu menerima dengan ragu pakaian yang diberikannya. “Ayo kita berenang," ajaknya mantap.


Tiara semakin melebarkan matanya. Dengan tidak sabar, Alfa sudah memegang bagian bawah baju yang dikenakannya berniat untuk melepaskan pakaian istrinya. Ia tersenyum puas karena berhasil membuat Tiara terkejut.


“Eh.” Tiara menangkis tangan Alfa yang sudah menyentuh pinggangnya. “Kita akan berenang di mana?” Tiara kemudian melangkah melewati lelaki itu, membawa baju renang yang dipegangnya ke depan almari dan berniat memasukkan baju itu ke dalam tas untuk di bawa.


“Di rumah.” Alfa menjawab enteng.


“Apa?” Tiara tak henti-hentinya terkesiap atas sikap Alfa yang tak bisa dimengerti itu.


Sekali lagi, Alfa tersenyum melipat bibir memperhatikan istrinya yang telah membuka pintu almari dan dengan gemas segera menghampirinya lalu memerangkapnya di sana.


“Cepatlah berganti pakaian sayang, atau aku akan menelanjangimu sekarang juga.” Alfa menjawil dagu istrinya lalu berjalan keluar kamar dan menutup pintu.


Tiara memperhatikan Alfa hingga pintu tertutup di belakangnya. Berenang di rumah? Di bathtub lagi? dan mengenakan kostum berenang? Oh Tuhan kegilaan apa lagi yang akan dilakukan suaminya itu untuk menggodanya?


Tak mau berpusing ria dengan dugaan-dugaan aneh lainnya, wanita itu segera menurut saja untuk berganti pakaian lalu dengan langkah kesal yang dihentak-hentakkan ke lantai, ia meraih gagang pintu dan memekik terkejut ketika Alfa sedang berdiri di sana dengan tawa puas karena lagi-lagi Tiara merasa kaget.


Dengan sekali gerakan, Alfa melangkah ke belakang tubuh Tiara dan menutup dua mata istrinya dengan kedua telapak tangan. “Diam dan ikuti aba-aba.”


Umpatan yang hampir meluncur dari bibir Tiara terasa tersekat di tenggorokan karena Alfa langsung saja memerintah tanpa ambil peduli dengan segala protes yang akan Tiara ucapkan.


Wanita itu berjalan dengan langkah tersendat karena ia harus meraba sekeliling agar tidak menabrak sesuatu.


Apa judul yang tepat untuk permainan ini?


Huft, paling tidak, mereka punya cerita menarik yang bisa ia kisahkan kepada anaknya kelak tentang permainan aneh yang sedang mereka mainkan ini.


Tiara melamun dalam pikirannya sendiri, sampai-sampai tak terasa langkahnya telah terhenti dan Alfa tak lagi menutupi kedua matanya, hingga, perlahan-lahan matanya terbuka.


Tiara menelaah setiap inci perihal apa saja yang berhasil kedua bola matanya tangkap.


Kolam? Kolam renang?


Tiara menolehkan kepalanya dan melihat Alfa tengah bersiap untuk menceburkan diri ke dalam kolam. Setelah menoleh ke belakang dan melihat sepasang kursi teras tak jauh dari tempatnya berdiri, barulah wanita itu menyadari bahwa mereka memang tengah berada di rumah. Oh, ruangan ini telah disulap menjadi kolam renang.


Suara debuman air menyita perhatian Tiara. Dilihatnya Alfa telah membasahi seluruh tubuhnya dengan air dan menyisirkan rambutnya ke belakang.


“Kemari sayang.”


Oh sungguh Alfa terlihat sangat tampan dalam keadaan seperti itu sampai-sampai Tiara tak sadar telah menggigit bibir bawahnya demi menahan debaran jantungnya yang mulai tak karuan.


Wanita itu kemudian melangkah menuju railing tangga dan langsung disambut oleh Alfa yang dengan gerakan cepat menarik tubuhnya hingga terbenam sepenuhnya ke dalam air.


Tubuh mereka terlihat begitu seksi dengan kedua mata memancarkan sinyal hasrat yang sama-sama tajam. Tanpa menunggu lagi, Alfa mendekatkan bibirnya menuju bibir Tiara yang juga tengah siap menyambut. Memulai dengan mesra kegiatan mereka yang tampaknya tidak lagi menjadi aktivitas berenang biasa.