
Helmia dan Berta baru saja duduk di ruang tengah ketika kedua orang itu memasuki rumah Berta dengan sama-sama diam. Dua cangkir teh hangat telah tersaji di atas meja lengkap dengan kudapan-kudapan kecil yang ditata rapi pada piring-piring kecil berhiaskan garis-garis emas. Berta mengamati lamat-lamat tatapan Helmia yang tak kunjung menatap ke arahnya. Perasaan tak nyaman sudah hinggap di hatinya ketika Helmia datang tanpa membawa senyum untuknya ketika pertama kali Berta membukakan pintu.
“Bagaimana kabarmu?” Berta mengawali pembicaraan. Helmia kemudian menatap dengan tatapan garangnya tanpa menutupi sedikitpun dengan senyuman.
“Baik. Apa kau sudah sehat?” Mengambil cangkir tehnya dengan elegan, meminumnya sedikit dan meletakkannya kembali sambil terus melihat ke arah lawan bicaranya.
Sungguh sebenarnya Helmia malas untuk berbasa-basi ala sahabat seperti ini. Ingin rasanya ia langsung saja berbicara tentang apa yang sudah penuh sesak di dalam dadanya. Mengutarakan semua, hingga tuntaslah sudah beban yang bergelayut di punggungnya, meringankan tubuh dan melegakan hatinya.
Berta menghembuskan napas berat. Besannya ini sama sekali tak menjenguknya ketika ia dirawat di rumah sakit yang sama dengan menantunya. Seolah memutus hubungan baik dengan menampakkan ketidaksukaan secara nyata. Apa yang sebenarnya wanita ini inginkan? Menilik sifatnya yang arogan dan penuh dengan ambisi, apakah ia akan berbicara tentang Tiara?
Oh, inikah jawaban dari pertanyaan yang muncul dalam pikirannya selama ini? Apakah Helmia tak memperlakukan anaknya dengan baik?
Sebagai orang tua dan sebagai wanita, tentu Berta sudah bisa merasakan apa yang sedang terjadi pada hubungan rumah tangga anaknya. Bagaimana kata-kata tajam telah menambah kedalaman luka, dengan vonis yang seolah sudah ditetapkan menjadi paten karena sampai saat ini, setelah sekian lama menikah, Tiara belum juga menunjukkan tanda-tanda sehatnya untuk bisa kembali mengandung. Entah apa yang sedang Tuhan rencanakan, namun sepertinya hal ini sudah mengusik ketenangan Helmia.
“Aku… baik. Apa hal yang membuatmu datang kemari?” Berta tak kalah gemas dengan suasana tak enak yang tercipta ini.
Helmia merasa telah lolos dari pintu tahap pertama ketika berhasil datang ke rumah ini dan mendapat kartu hijau dari Berta untuk segera mengutarakan maksudnya saat menerima nada dingin yang sama dari besannya itu. Berta rupanya sudah menyadari maksud kedatangannya. Baguslah.
“Aku hanya ingin menegaskan, Alfa adalah anak laki-lakiku satu-satunya. Harapanku, harapan keluargaku, dan harapan perusahaan ada padanya. Aku ingin yang terbaik untuknya saat ini, menikah, punya anak dan meneruskan bisnis ayahnya. Kau tahu bukan, Yunus pun semakin menua dan dengan kesehatannya yang demikian, ia membutuhkan pendamping untuk memimpin perusahaan.”
Berta mendecak, “Tiara pun anakku satu-satunya. Aku hanya akan menyerahkannya pada laki-laki bertanggung jawab dan keluarga yang bisa memperlakukan ia dengan baik," ejeknya tajam.
“Sebagai laki-laki yang telah bertanggung jawab dengan baik, seharusnya Alfa pun mendapat hal yang setimpal ketika ia berniat untuk mengarungi rumah tangga. Ia ingin meneruskan keturunan. Dan Tiara, tak dapat mewujudkannya," cemoohnya dengan tanpa ditutup-tutupi lagi.
“Kau sendiri? Kau tak dapat mewujudkan dirimu menjadi orang tua yang baik untuk mereka. Kau memaksakan egomu dan mengorbankan mereka. Kau tahu seperti apa hancurnya hatiku melihat Tiara yang terus menerus menguatkan diri karena banyak tekanan? Kau pun perempuan. Kau pasti tahu rasanya," cetus Berta dengan kalimat yang sama pedasnya.
“Berta… Aku tidak sedang ingin mendengar curahan hatimu. Aku hanya datang untuk memintamu mempertimbangkan satu hal saja. Biarkan Alfa memiliki kehidupan yang lebih baik dari sekarang, dan akan kubiarkan juga Tiara untuk hidup dengan lelaki yang mau menerimanya.” Helmia berdiri dari tempat duduknya dengan kalimat ejekan telak dan membunuh. “Permisi. Aku harus pergi. Aku tak punya banyak waktu.” Berkata tanpa memperhatikan lagi Berta yang tengah menunduk dalam di sana.
Meski Helmia saat ini masihlah bimbang karena wanita yang telah lama diimpi-impikannya untuk menjadi istri Alfa kini telah mengkhianatinya. Tidak mungkin ia akan menikahkan Alfa dengan perempuan gila seperti Nelly. Helmia masih harus berpikir keras. Siapa wanita yang akan ia sandingkan dengan anaknya.
Berta memejamkan matanya. Hati dan pikirannya sedang tak bisa diajak bekerja sama. Bagaimana mungkin ia akan setega itu untuk memisahkan anak-anak mereka hanya karena alasan ini? Persoalan ini terlalu sensitif. Terlalu melibatkan emosi pribadi. Ia tahu posisi Tiara saat ini, bahkan mungkin, dalam hati Helmia yang paling dalam pun merasakannya. Entah mengapa nasib yang sama harus dialami oleh anak-anak mereka juga?
Begitu juga dengan Helmia. Berta paham benar, perempuan itupun pernah merasakan saat-saat seperti ini dimana ia dengan sabar dan telaten menjalani pengobatan dan program kehamilan agar segera dikaruniai momongan. Namun sepertinya, ia telah lupa diri saat ini.
Oh, menikahkan Alfa dengan Tiara seakan-akan menikahkan kesulitan dan kesulitan yang berujung pada kesengsaraan. Ingin sekali ia dekap terus menerus anak perempuannya itu dengan segala limpahan kasih sayang yang bisa ia berikan.
Alfa. Berta yakin lelaki itu tidak sama dengan ibunya. ia hanya berharap semoga rengkuhan hangatnya bisa terwakili oleh Alfa yang kini telah menjadi suami Tiara.
Berta menutup muka dengan dua telapak tangan. Doa-doa baik ia panjatkan. Semoga mampu sedikit saja memberi jalan.
******
“Dari mana kau?” Yunus mengangkat pandangannya dari tumpukan kertas di atas meja. Punggung ia sandarkan pada kursi dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Menatap penuh kecurigaan pada istrinya.
“Menemui Berta. Kenapa?” Menantang dengan nyata. Meletakkan tas jinjing ke atas meja dan membanting tubuhnya di atas sofa. Siap untuk berdebat.
“Apa yang sudah kau katakan? Kau tak boleh membawa-bawa namaku sebagai alasan, karena aku tak sependapat denganmu," cecarnya tepat sasaran.
“Mau sampai kapan kau bodoh? Aku melakukan ini semua demi kau! Kau tak sadar? Perusahaan lain tengah bersemangat untuk menantikan kau tumbang dan akan segera menjatuhkan saat semuanya lengah. Kita butuh Alfa. Apa salahnya kita sebagai orang tua meminta anak untuk membantu kita? Sampai kapan kau akan terus mendidiknya sebagai anak tak berbakti?” Helmia berkata dengan suara nyaring mengisi seluruh penjuru ruang.
Ia tak habis pikir. Mengapa hanya dirinya yang bisa berpikir secara normal. Semua yang dilakukannya ini sudah sesuai dengan pikiran logis dan solutif yang bisa dijalankan. Alfa masih belum mau memimpin perusahaan. Anak laki-laki itu terlalu terikat dengan Tiara. Wanita polos nan mempesona bak bunga mawar dengan duri tajamnya. Kehadirannya bagai menutupkan kelambu kelabu yang tak mampu tersibak oleh Helmia. Menutup semua celah baik yang bisa Alfa lakukan untuk orang tuanya. Menutup mata pada orang tuanya dan menganggap Tiara sebagai satu-satunya jalan kebahagiaan. Dengan bangganya berkata bahwa ia bisa sukses dengan caranya sendiri. Sungguh bodoh dan naif.
Yunus memejamkan mata. Berpikir keras. Sungguh ia sangat menyayangi anak lelaki satu-satunya itu. Anak yang dahulu begitu lama ia nantikan kehadirannya. Jauh di lubuk hatinya, ia selalu mengenang bagaimana Alfa yang tengah berumur 2 tahun menyambutnya pulang dari bekerja dengan langkah kaki mungilnya yang masih tergopoh-gopoh untuk berjalan. Memeluk kakinya. Yunus juga masih ingat betul saat anak itu berhasil membuatnya khawatir setengah mati kala tengah malam dengan hujan badai petir, Alfa yang masih berumur 5 tahun, mengalami panas tinggi dengan tubuh kejang.
Kenangan bagaimana anak semata wayangnya itu tumbuh, lewat begitu saja di depan angan-angannya. Bagaimana ia tega memaksa anak itu untuk memenuhi keinginannya. Kehadirannya, segala kenangan yang telah tertoreh, sudah cukup membuatnya Bahagia.
Namun seketika, suara deheman Helmia merampas begitu saja dengan kejam, reuni kecil Yunus dengan kenangan masa kecil anaknya. Lelaki itu menatap istrinya sejenak. Dan, entah dari mana datangnya, kebimbangan menyeruak begitu saja. Helmia benar, keadaan sudah berbeda sekarang. Alfa bukan lagi anak laki-laki kecilnya yang bisa ia manja terus menerus. Ada kalanya ia harus bersikap tegas. Tetapi, ia tidak ingin mengekang.
“Aku akan memikirkannya.” Yunus mengusap kepalanya dengan kedua tangan. Hanya itu saja yang bisa ia katakan untuk saat ini. Lelaki itu tak boleh memutuskan dalam keadaan dilema besar sedang menyerangnya. Yunus menghembuskan napas panjang. Berkata pada dirinya sendiri untuk akan segera mencari solusi terbaik.
“Sudah seperti ini dan kau baru akan memikirkannya?” Helmia mendecak. “Semoga belum terlambat. Mungkin saja Alfa mau mendengarkan jika kau yang berbicara. Bertindaklah cepat.”
Yunus menganggukkan kepala dengan kasar lalu menyandarkan tubuhnya kembali pada sandaran kursi. Memejamkan mata. Guratan-guratan dan kerut di wajahnya semakin dalam. Helmia tersenyum miring melihat Yunus yang tengah berpikir keras. Akhirnya setelah sekian lama, suaminya itu mau juga untuk mendengarkan pendapatnya.
“Aku sedang merencanakan untuk menikahkan Alfa dengan wanita pilihanku. Ia tak bisa terus menerus dengan Tiara jika keadaannya seperti ini. Apa yang akan kau lakukan saat anak kita menjadi sorotan karena drama kehidupannya yang berkepanjangan?"
Yunus melebarkan mata. Sungguh bukan persoalan perusahaan yang membuatnya sakit kepala, tetapi sikap Helmia yang suka seenak hidungnya sendiri seperti ini yang tak bisa ia hadapi.
"Kau jangan sembarangan!" Mulai kehilangan kesabaran.
"Kau tak bisa menolak atau perusahaanmu benar-benar akan collaps seperti perusahaan Nicholas dahulu yang sempat tergoncang karena kebodohannya dalam mengambil keputusan." Helmia berdiri dari duduknya dan menyambar tasnya yang tergeletak di atas meja.
Membalikkan badan dan terdiam di sana sebentar. Tersenyum puas karena telah berhasil membuat Yunus kebingungan. Senyum licik sangat kentara di sana. Diliriknya suaminya yang membeku dalam kursinya.
"Kau..." Yunus menggeram dengan nada suara dalam yang penuh dengan otot-otot lehernya yang menonjol keluar.
Tak dihiraukannya suaminya itu yang sedang menahan emosi. Helmia justru melenggang santai dengan penuh kemenangan.
Sebentar lagi. Jika rencananya ini bisa berjalan dengan cepat, jalan lebar dengan karpet merah siap menyambutnya dengan masa depan yang lebih indah.
Tunggu saja...
Senyum jahat mengiringi langkahnya yang semakin menjauh dari ruangan itu.