The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 41 - Wanita itu



Alfa dan Tiara tengah berjalan beriringan pada lorong rumah sakit bersalin tempat mereka biasa bertemu dengan Dokter Jeni dan melakukan cek kesehatan serta mengikuti program kehamilan. Tiara merasakan kembali kegugupannya seperti ketika pertama kali menginjakkan kakinya ke tempat ini. Sudah sekian lama ia tak bertemu dengan dokter yang ramah itu dan perasaan tak nyaman langsung hadir menjadi yang pertama menyapa ketika ternyata setelah beberapa lama menjalani program kehamilan, dirinya tak kunjung mendapati tanda-tanda bahwa ia kembali mengandung.


Alfa menggandeng tangan istrinya sesaat sebelum mereka memasuki ruang periksa dokter perempuan itu.


“Tiara ..." Dokter Jeni yang sudah siap sedia pada kursinya itu menyapa dan tersenyum melihat Alfa dan Tiara yang masuk bersamaan. “Silakan duduk.” Dokter itu lalu berdiri dan mengambil beberapa berkas yang ada pada rak di belakang mejanya.


“Bagaimana kabar kalian?” Wanita berkacamata itu menumpukan kedua tangan di atas meja, menutupi dokumen yang tadi diambilnya dengan kedua tangan yang bertaut di atas meja, sengaja bertanya demikian mengingat mereka telah begitu lama melewatkan sesi konsultasi sesuai jadwal. Jeni memandang pasangan suami istri itu bergantian, sementara Alfa dan Tiara pun saling melempar pandang.


“Baik Dokter.” Tiara akhirnya memberi jawaban dengan menatap lurus pada kedua mata dokter itu yang menyipit karena senyuman dibalik kacamata bulatnya.


“Apakah ada keluhan? Tiara, bagaimana dengan siklus menstruasimu?” Dokter Jeni membuka berkas yang ada di hadapannya dan membacanya dengan teliti.


“Sudah mulai teratur sejak setelah aku mengalami keguguran yang kedua kali.” Tiara menjawab mantap.


“Berat badanmu turun Tiara. Apa kau mengalami stres?” Bertanya dengan menatap kembali pasiennya itu yang sedikit terkejut mendengar kalimat tanya sang dokter. Jeni mengetahui hal tersebut setelah Tiara melakukan pemeriksaan awal pada ruang check-up sebelumnya.


“Apa berat badan mempengaruhi potensi kehamilan? Maksudku bentuk tubuh seseorang?” Tiara bertanya dengan kening berkerut.


Alfa menghembuskan napas panjang. “Tentu tidak Tiara.” Lelaki itu menggenggamkan sebelah tangannya kepada istrinya dan sedikit memajukan tubuh untuk melihat reaksi wajah istrinya. Wanita itu perlahan memandang suaminya, sebelum matanya beralih lagi ketika suara dokter Jeni kembali mengudara.


“Tidak ada hubungan yang spesifik antara bentuk atau tipe tubuh dengan kesuburan. Seseorang dengan berat badan berlebih belum tentu ia memiliki tingkat kesuburann yang rendah, sementara seorang wanita dengan berat badan rendah belum tentu juga. Masing-masing harus dicek secara teknis. Dan kau jangan khawatir Tiara, tingkat kesuburanmu sudah mulai membaik. Aku hanya khawatir, mengapa angka timbanganmu sampai bergeser ke sebelah kiri. Apakah kau sakit?”


“Aku mengalami kecelakaan dan harus menjalani perawatan serta fisioterapi hingga dua bulan lamanya. Maaf tak mengabarimu. Berta juga berada pada rumah sakit yang sama waktu itu, sehingga Tiara kurang bisa mengatur waktu istirahatnya.” Alfa menjawab pertanyaan Dokter Jeni yang ditujukan kepada Tiara itu, berharap wanita paruh baya itu mengerti akan kondisi psikis istrinya yang sempat down ketika menghadapi masa-masa sulit beberapa waktu lalu.


“Benarkah? Oh, bagaimana aku bisa sampai tak tahu?” Jeni menunjukkan wajah penyesalan dan kembali melipat kedua tangan di atas meja.


“Tak apa. Semua sudah baik-baik saja.” Alfa tersenyum. “Apa dua bulan kemarin memperburuk keadaan Tiara karena ia tak sempat mengkonsumsi vitamin?” bertanya dengan wajah masam, merasa bersalah atas keteledorannya hingga melewatkan masa-masa penting seperti ini.


“Tidak. Jika Tiara sudah kembali rutin mengalami datang bulan, maka sekarang kita tinggal mensiasati bagaimana agar proses pembuahan itu tepat pada waktunya sehingga kehamilan bisa segera datang.” Dokter itu menyeret kursinya ke belakang, lalu berdiri dan mengambil sebuah kotak dan meletakkannya di atas meja. Wanita itu duduk kembali lalu mengambil satu kotak kecil dan digeserkannya ke hadapan Tiara.


“Ovulation test pack.” Dokter Jeni berkata cepat menjawab wajah Tiara yang berkerut penuh tanya. "Alat itu cukup efektif untuk mendeteksi kesuburan. Mirip sekali dengan test pack pada umumnya, namun, seperti namanya, alat itu untuk mengetahui perubahan hormon Luteinizing atau HL. Jika HL meningkat yang berarti terdapat dua garis dalam alatnya, maka itulah waktu yang tepat untuk melakukan pembuahan.”


Alfa menatap Tiara sejenak dan kembali meremas tangan istrinya untuk mengalihkan perhatian. Tiara balas menatap suaminya dengan wajah sedikit merona karena pembahasan kali ini sudah mengarah ke hal-hal intim. “Dokter, Tiara sudah tahu kah bagaimana menghitung masa subur?” Alfa bertanya kepada dokter Jeni namun dengan memandangi istrinya, berharap ada jawaban yang sama diantara mereka berdua. Namun, tatapan itu lebih untuk mengintimidasi Tiara, menuntut jawaban iya.


“Tentu saja sudah tahu.” Jeni berkata dengan mulut terlipat diiringi Tiara yang menganggukkan kepala.


Alfa menatap keduanya dengan satu alis terangkat. “Kau yakin?” Kedua bola mata Alfa menusuk tajam pada mata Tiara yang teduh memandangnya.


“Iya.” Memukul paha Alfa dengan intensitas ringan untuk menyadarkan Alfa bahwa saat ini lelaki itu tengah tak berkedip menatap dirinya tanpa mempedulikan tatapan dokter Jeni yang melihat mereka dengan pandangan geli.


Alfa berdehem setelah selama beberapa detik terpaku pada istrinya seolah sedang terpesona, karena ada rasa bahagia yang tiba-tiba menyelip begitu saja ketika ia mendengar tentang kata pembuahan dan kehamilan.


“Jangan terlalu sering Alfa.”Dokter Jeni pun turut berdehem. “Lebih baik lakukan dua sampai tiga kali saja dalam satu minggu dengan posisi yang tepat pada masa subur. Waktu-waktu itu sangat manjur untuk melakukan pembuahan sehingga bisa dipastikan Tiara akan segera mengandung. Bersemangatlah!” Wanita itu mengayunkan tangannya yang terkepal ke depan tubuh seolah sedang menyemangati dua orang di depannya itu yang pada masa ini tengah bergelora dalam drama panas di atas ranjang.


Alfa dan Tiara hanya saling pandang sebentar dan tersenyum malu dengan semburat warna merah menghiasi wajah mereka.


******


Waktu menunjuk pada pukul setengah lima sore ketika Alfa dan Tiara telah duduk kembali ke dalam mobil usai melakukan sesi konsultasi. Sepertinya suasana hati laki-laki itu tengah sangat baik, terlihat dari ekspresi wajahnya yang tak henti-hentinya menguarkan keceriaan.


Dan, benarlah. Alfa merasa puas sekaligus senang kali ini, tinggal selangkah lagi dan semoga saja usaha mereka yang telah sekian lama ini membuahkan hasil. Lelaki itu sengaja membeli mobil dengan ukuran yang lebih besar, berharap secercah harapannya ini didengar oleh semesta bahwa ia telah siap menyambut kedatangan anggota keluarga baru yang sudah tak sabar dinantikannya.


“Mari kita makan di luar. Aku akan mengajakmu ke sebuah tempat yang pasti kau akan menagih kembali untuk kuajak ke sana.” Mengusap pundak wanitanya sebentar sebelum menyalakan mesin mobil dan melakukan manuver untuk segera beranjak dari lokasi parkir rumah sakit.


Tiara tersenyum remeh. “Oh ya? Kuharap kau tak mengecewakan.”


Alfa mendecak. “Tentu saja. Gheo Alfa tak akan pernah mengecewakan wanitanya.” Berkata dengan pongahnya namun tetap memfokuskan pandangan ke depan. Dengan sabar menanti antrian panjang kendaraan yang mengular hingga beberapa meter ke depan. Siap menyambut perjalanan panjang dengan cuaca yang cukup panas di luar sana.


Tiara tampak mengenali sepanjang jalan yang terlewati melalui sisi jalan dan memajukan badan untuk menebak ke tempat mana Alfa akan membawanya kali ini tatkala mobilnya akan melewati sebuah bangunan, namun berkali-kali wanita itu menengokkan kepala ke samping di mana Alfa selalu tersenyum jahil ketika mendapati Tiara yang lagi-lagi salah menebak dan ia terus saja melajukan mobilnya.


“Kau belum pernah pergi ke tempat yang akan kita datangi ini. Jangan salah menebak lagi ya Tuan Putri.” Alfa terkekeh dengan tubuh yang bergerak ke samping untuk menghindari cubitan perempuan itu.


Tiara memancungkan bibirnya tanda kesal, tetapi sesaat kemudian ia melebarkan mata dan menampakkan ekspresi terkesiap ketika mobil yang mereka kendarai berbelok ke arah tempat parkir basement sebuah bangunan besar seperti hotel yang menjulang tinggi. Suara deruman mobil yang bersahutan terdengar cukup keras di dalam area parkir bawah tanah tersebut.


Alfa terkekeh. “Kau berpikir begitu?” Lelaki itu menatap Tiara dengan pandangan menggoda. “Mungkin nanti aku jadi akan berpikir demikian karena kau terlebih dahulu memberiku ide.” Lelaki itu keluar dari dalam mobil dengan tawa singkatnya yang membuat Tiara mendengkus kesal.


‘ceklek’


Pintu keluar di samping Tiara terbuka dan Tiara masih terdiam di tempatnya.


“Ayo sayang.” Mengulurkan tangannya dengan senyum tampannya yang menjengkelkan.


Tiara hanya menghembuskan napas panjang dan bersiap untuk turun.


“Pakailah ini.” Lelaki itu memberikan sweater milik Tiara sendiri yang entah sudah sejak kapan Alfa bawa. Cuaca di luar cukup panas dan Alfa memintanya untuk memakai sweater?


“Kau ingin aku melakukannya di sini saja?” Alfa menaik turunkan alisnya menggoda sepenuhnya, masih mengikuti alur pemikiran perempuan itu yang masih menduga bahwa mereka sengaja datang ke tempat ini untuk bercinta.


Wanita itu memutar bola matanya, kesal dengan sikap seenaknya suaminya yang selalu membuatnya mau tak mau menurut, menerima sweater itu, memakainya asal, dan menyambut uluran tangan suaminya yang masih setia menggantung kemudian keluar dari sana dan menutup pintu.


Mereka berjalan beriringan menuju lift terdekat. Alfa merangkul pundak istrinya dengan erat sembari menunggu pintu lift terbuka, memencet tombol panah ke atas lalu menunggu hingga lift itu membawa mereka melesat naik.


Tiara mengamati angka yang berjalan di sana dengan kening berkerut. Ia berpikir bahwa mereka akan berhenti pada lantai pertama untuk terlebih dahulu melakukan reservasi, tetapi, angka lift itu terus bergerak naik tanpa berhenti. Apa jangan-jangan dirinya saja yang salah menyangka mereka akan menginap di hotel ini? Ah, benar, bukankah Alfa tadi mengajaknya untuk makan malam di luar? Tentu saja mereka akan menuju restoran di hotel ini bukan?


Alfa tersenyum melihat tingkah lucu istrinya yang tercermin melalui dinding kaca di depannya. “Sepertinya kau sudah tidak sabar ya.” Lelaki itu mengelus rambut istrinya sejenak.


Tiara pun menunduk malu ketika mengetahui bahwa segala ekspresi yang nampak di wajahnya ternyata bisa dilihat penuh oleh Alfa ketika pandangan mereka bertemu dalam kaca.


“Iya. Aku lapar.” Tiara mencebik. Lelaki itu kembali menampakkan gigi putihnya mendengar reaksi istrinya yang tengah kesal.


‘Ting’


Bunyi pintu lift yang telah sampai pada tujuan itu menjadi pertanda bahwa sebentar lagi pintu akan terbuka.


Cahaya berwarna kuning yang langsung menerobos masuk ke dalam pandangan mata Tiara ketika pintu lift melebar membuat wanita itu refleks mengangkat tangannya untuk menghindari cahaya itu masuk lebih dalam.


Mereka menghentikan langkah sejenak ketika telah satu langkah berada di depan pintu lift. Tiara kembali ternganga. Cahaya kuning terang benderang yang menyorot itu adalah cahaya matahari yang nampak di sebelah barat. Langit yang bergulung-gulung dengan warna jingga menjadi atap mereka saat ini. Ya. Mereka sedang berada di rooftop bangunan pencakar langit dengan tinggi 30 lantai itu.


Tiara menutup mulutnya karena terkagum-kagum dengan tempat mereka berpijak saat ini. Pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka pun membuka tangan untuk mempersilakan mereka duduk.


Alfa segera menarik pinggang wanitanya, lalu mengangguk sopan kepada pelayan laki-laki yang sedang melakukan tugasnya itu, kemudian, berjalan menuju tempat duduk berpasangan yang berada pada tepi pagar. Sengaja memilih tempat tersebut agar istrinya bisa lebih leluasa memandang panorama yang indah di sekitar mereka.


Wanita itu memeluk dirinya sejenak ketika telah terduduk dalam kursi dan tersenyum senang ketika udara yang berhembus kencang itu tertahan, tak sempat masuk ke dalam tubuhnya karena ia sudah mengenakan sweater. Sekali lagi Tiara menyapukan pandang. Gedung-gedung pencakar langit yang juga menjulang di sebelahnya, lampu-lampu kuning yang mulai dinyalakan, serta warna senja yang sedang memendar di atas sana benar-benar terasa sempurna.


‘cekrek’


Alfa berkali-kali memfokuskan mata kamera pada istrinya yang tengah terduduk di depannya dengan pose yang sangat cantik berlatarkan pemandangan indah di sekelilingnya. Tiara yang menyadari bahwa dirinya telah dicuri gambarnya itu justru menatap pas ke dalam lensa kamera yang membuat Alfa tersenyum lebar karena lagi-lagi tanpa sengaja, istrinya itu tertangkap mata lensa dengan sangat sempurna cantik.


“Jangan salahkan aku kalau aku tertarik mengambil gambar, sebab kau sangat menawan.” Alfa melihat sejenak pada viewer, untuk mengamati hasil jepretannya dan melirik ke arah Tiara.


Wanita itu hanya tersenyum, lalu menopangkan separuh badannya ke atas meja.


“Terima kasih. Aku suka ini.” Perempuan itu kembali menatap ke samping dan tersenyum simpul seolah awan-awan di sana sedang tersenyum pula kepadanya.


Suara kericuhan mendadak menjadi jeda bagi Alfa dan Tiara yang tengah menikmati aktivitasnya. Keduanya sama-sama menengok ke arah sumber suara.


“Aku sudah selalu memesan tempat duduk itu! Apa kalian lupa? Di mana pelayan kalian yang biasa?” Wanita cantik yang berdiri di depan pintu lift itu tampak marah luar biasa pada salah seorang pelayan yang mengikutinya.


“Kami minta maaf Nona.” Pelayan itu nampak pucat karena sepertinya telah melakukan kesalahan yang cukup berat, tetapi, wanita itu tak lagi memperhatikan pelayan yang tengah memohon-mohon belas kasihan padanya dan matanya kini tengah terpaku sesaat setelah bertemu tatap dengan Alfa di seberang meja.


Alfa pun turut memicingkan mata menerima tatapan mata yang dikenalnya itu..


Dia…