The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 29 - Lemah



Tiara masih menangis sampai beberapa lama sebelum akhirnya ia memutuskan untuk perlahan berdiri dari tempat duduknya. Melepaskan genggaman pada tangan Alfa yang masih tergeletak lemah di sana. Ia harus kembali ke ruang perawatan Mamanya yang juga berada pada lantai yang sama. Kepalanya terasa berat hingga ia merasakan bengkak di sekitar area mata karena terlalu banyak mengeluarkan air mata, dan itu menambah rasa pening di kepalanya. Langkahnya terhuyung dan ia berusaha berpegangan pada apapun yang bisa ia jangkau dengan tangannya. Tetapi, syaraf matanya seolah memutus sinyal pada pupilnya untuk dapat merekam gambaran apapun yang bisa ditangkap oleh bola mata cokelatnya.


Pandangannya kabur dan lama-lama warna hitamlah yang mendominasi. Tiara sempat mengaduh dalam lirih ketika ia merasakan kepalanya terbentur lantai, semakin memperparah rasa sakit yang mencengkeram kepalanya dan membuat tubuhnya makin lemah. Ia tak sanggup. Wanita itu ingin sekali terbangun, namun tali kesakitan itu mengikatnya erat. Membuatnya hanya bisa terkulai pasrah ketika otaknya tak mampu lagi untuk mengkoordinasi motoriknya untuk bergerak.


Tiara terjatuh pingsan di lantai. Berdua dengan Alfa yang juga sedang tak bisa apa-apa di atas ranjang.


Alfa masih terpejam dalam lelapnya. Entah mengapa ia merasa bahwa tidurnya kali ini sangatlah lama. Ia mendengar suara Tiara dan itu sudah cukup untuk menambal rasa rindunya yang semakin membuatnya tersiksa. Mengapa wanita itu tak membangunkannya?


Tak tahu lagi rasanya pagi atau malam. Apakah ia merasa selelah ini sehingga ia amat malas untuk terbangun?


Ah, pastilah Tiara sedang tertidur lelap pula di sampingnya, dengan wajah manisnya yang biasa. Selamat tidur sayang ....


******


Davian terlonjak kaget mendapati Tiara yang tergeletak di lantai. Ia pingsan? Sejak kapan?


Oh, sungguh pemandangan memilukan mendapati dua anak manusia yang tengah berada pada masa sulit itu terdampar pada tempat mengerikan ini dalam kondisi tak berdaya. Bagaimana Helmia bisa tanpa hati meminta Tiara untuk meninggalkan anaknya? Apa ia tak melihat? Saat ini saja, perempuan itu harus terombang-ambing karena harus memberi perhatian pada dua orang berbeda yang terpisah pada saat yang bersamaan.


Tiara pastilah sedang merasa hancur saat ini. Tanpa ada seorang pun yang bisa ia jadikan tempat bersandar untuk berkeluh kesah. Bukankah begitu perempuan? Dalam satu hari saja, mereka harus mengeluarkan banyak kata untuk menghempaskan rasa kesal dan bahagianya. Bagaimana Tiara bisa memendam dan menahan semua itu dan hanya menyuarakan isi hatinya melalui tangisan? Tak bisa terbayang bagaimana kondisi psikis wanita itu. Ia sungguhlah hebat jika masih memiliki pertahanan.


Dengan sekuat tenaga, Davian mengangkat tubuh Tiara untuk kemudian ditidurkannya di atas sofa.


“Apa yang terjadi?” Helmia menatap dengan kilas sinis di ambang pintu ketika ia melihat Davian yang menggendong menantu yang dibencinya itu dalam diam lalu diletakkannya di atas sofa tak jauh dari ranjang Alfa.


“Tiara pingsan. Kau tak lihat?” Nada ketus muncul di sana ketika kedua tangannya terlihat sedang menyelimuti tubuh Tiara yang pucat seperti mayat. “Kuharap kau menjadi orang tua yang lebih bijaksana dan memikirkan segala bentuk sebab akibat. Kau tentu tak mau bukan, suamimu meninggalkanmu karena kelemahanmu? Bagaimana jika itu terjadi sebagai karmamu yang meminta istri tak berdaya seperti Tiara untuk meninggalkan Alfa?” Mata birunya menancap tepat ke kedua pupil mata Helmia selama beberapa detik sebelum Davian melangkah keluar meninggalkan ruangan.


******


“Makanlah sedikit lagi.” Widya tampak mendesah ketika Berta lagi-lagi hanya mampu memasukkan empat sendok makanan yang ia suapkan. Dengan telaten ia selalu membujuk dan melakukan apa saja untuk menaikkan selera makan tuannya yang tengah sakit tersebut. Namun, keadaannya yang lemah dengan paru-parunya yang tak bekerja sempurna itu membuat Berta tak berselera makan. Padahal, obat-obatan yang disediakan untuknya harus ditelannya setelah ia memakan makanan untuk mengisi lambung di perutnya.


“Sudah. Aku sudah cukup. Di mana Tiara?” Berta mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Ingin agar pintu itu segera terbuka dan Tiara mengulaskan senyumnya ketika datang.


Widya menoleh cepat ketika sebelah tangannya baru saja meletakkan mangkuk makanan di atas meja dan tersenyum masam. “Aku tak sampai hati sebenarnya harus menyampaikan ini, tetapi, tetap saja kau harus tahu.” Wanita itu menunduk.


“Apa … apa yang terjadi?” Kedua alis Berta bertaut ketika mendengar perkataan Widya yang memberinya pernyataan pahit, tersirat dalam kata-katanya.


Widya menengadah dan menatap Berta dengan pandangan nanar. “Ruang VIP ini hanya terisi oleh beberapa pasien. Dan … salah satunya, Alfa di sana. Dia mengalami kecelakaan. Dari kabar yang kudengar, Ia masih berada dalam kondisi koma karena benturan dan tulang kakinya mengalami retak. Kemungkinan Tiara tengah menungguinya di sana.” Berkatalah dengan cepat perempuan itu karena melihat Berta terkejut dengan napasnya yang pendek dan membuatnya semakin cemas.


“Mengapa kau baru memberitahuku sekarang? Bagaimana aku bisa tak memperhatikan anakku sendiri dan hanya mengharap waktunya dengan egois?” Berta berkata dengan bibir bergetar, mengisyaratkan kepedihan. Tak terbayang bagaimana luka yang tengah ditanggung oleh putri semata wayangnya itu ketika harus membagi waktu untuknya dan Alfa.


“Seandainya saja aku masih punya kekuatan fisik, ingin sekali aku memberikannya saja pada Tiara. Aku tak membutuhkannya lagi. Untuk apa?”


Widya mengusap keningnya. “Bagaimana kau bisa memberikan dorongan kekuatan untuk Tiara jika kau sendiri tak memiliki semangat? Semua pasti akan baik-baik saja. Kau tahu Tiara seperti apa bukan? Ia wanita tangguh.” Widya menggenggam jemari Berta. Berharap dapat menyalurkan sedikit saja asa dalam hatinya agar wanita itu tak lagi larut dalam kubangan kesedihan yang diciptakannya sendiri.


******


Alfa mengerutkan kening seakan telah dibangunkan secara tidak nyaman. Otaknya memberikan sinyal kesakitan yang terkirim ke seluruh tubuh hingga ia merasakan nyeri pada seluruh anggota geraknya terutama pada kaki kanan dan dadanya. Ia telah mampu mendengar sepenuhnya dengan baik. Dan telinganya langsung disuguhi oleh percakapan lirih yang sempat masuk ke dalam angan-angannya untuk dicerna apa maksudnya. Matanya terbuka, akan tetapi ia seperti tengah linglung karena tak jua mengerti apa yang sedang dihadapinya.


Tiara. Ia sangat merindukan wanita itu. Apakah ia sudah sampai pada ujung perjalanan panjangnya dan berada di rumah? Perlahan namun pasti, ia terkejut ketika bola matanya menangkap pemandangan asing yang melingkupinya. Ruangan ini bukanlah ruangan di manapun yang biasanya ia tinggali. Matanya memicing ketika sapuan matanya mengitari seluruh ruangan dan mendapati sesosok tubuh yang tergeletak di sofa dengan kain berwarna abu-abu yang menyelimutinya. Tiba-tiba pandangan terhadap wanita itu berubah kabur dan matanya mengalihkan fokus pada selang infus yang lebih dekat dengan matanya, yang memanjang hingga ke atas.


Oh, ia sontak teringat pada peristiwa naas yang menimpanya beberapa waktu lalu. Tak terbayang bagaimana ia bisa lolos dari maut ketika ia merasa tubuhnya terhimpit oleh mobilnya yang ringsek. Belum lima persen perjalanan pulang itu ia tempuh ketika suasana mengerikan itu mendadak menghampirinya dengan tanpa belas kasih.


Dan sekarang, ia berada di tempat ini. Ingin sekali ia meneriaki perempuannya dan menghambur ke sana. Namun, rasa nyeri di tenggorokannya membuat ia masih membisu.


Suara gerakan yang dekat dengan ranjangnya memberinya insting untuk menoleh dengan cepat. Helmia ternyata duduk di kursi pada arah yang berlawanan dengan arah pandangnnya saat ini.


“Alfa? Kau sudah sadar?” Helmia memekik terkejut dengan melonggarkan kedua tangannya yang bersila di depan dada ketika kepala lelaki itu mengarah padanya. Dengan cepat ia menyodorkan segelas air dengan sedotan putih yang membengkok sehingga memudahkan Alfa untuk minum. “Dokter akan kemari sebentar lagi,” ucapnya singkat setelah menekan tombol untuk memanggil para petugas medis.


“Tiara tertidur?” Tanyanya dengan perlahan. Sekilas, Helmia pun melirik ke tempat di mana Tiara tergeletak di sana, lalu beralih menatap Alfa kembali.


“Pikirkan dirimu terlebih dahulu. Dia baik-baik saja.” Sudah ada emosi yang muncul ketika pertama kali Alfa menanyakan tentang istrinya.


Alfa mengerutkan kening. Memahami bahasa tubuh yang Helmia pertontonkan di depan matanya ketika membicarakan Tiara, lalu beralih menatap wanitanya kembali.


Pintu ruangan yang terbuka diikuti dengan kedatangan Dokter yang susul menyusul dengan perawat mengalihkan perhatiannya. Dengan cekatan, dokter itu mengecek kondisi vital Alfa dengan menggunakan sfigmomanometer, memeriksa keadaan mata lalu melihat ulang infus yang terpasang di sana.


“Dokter .…” Alfa menatap lurus membuat sang dokter yang tengah memeriksa itu menghentikan aktivitasnya. “Bisakah kau memeriksa istriku? Apakah dia baik-baik saja?” Sebelah tangannya menunjuk ringan ke arah Tiara. Dokter dan perawat pun turut mengekorkan pandangan ke arah yang sama.


“Baiklah.” Dokter itu pun menatap Helmia sekilas, mengangguk, seolah meminta izin.


Tak berapa lama, kedua tenaga medis itupun mendekati Tiara. Memeriksanya secara keseluruhan.


“Hei. Apakah dia pingsan? Mengapa tensi darahnya begitu rendah? Wajahnya pucat sekali. Apa tidak sebaiknya Ia dirawat di tempat tidur yang nyaman? Aku akan memberinya penanganan dan juga obat.” Pertanyaan bertubi-tubi dari sang dokter membuat Alfa menggeram. Dadanya yang terasa nyeri itu bertambah sakit dan sesak.


“Tolong tempatkan ia di sisi ranjangku Dokter. Berikan ia perawatan terbaik.” Alfa memerintah sang dokter dengan nada ketus. Pandangannya beralih pada Helmia yang masih terdiam di sana.


“Mama … apa mama hendak membunuhnya dengan membiarkannya seperti itu?” Alfa berkata dengan penuh penekanan. Tak dapat menahan lagi gemuruh amarah yang memuncak di dada.