
“Bagaimana kabarmu?” Dokter Jeni menyapa sembari menunggu Tiara yang tengah mulai berbaring dan mempersiapkan diri untuk melakukan pemeriksaan USG.
“Aku merasa baik dan sehat,” jawabnya dengan tersenyum.
“Bagus.” Dokter itu lalu mulai berkonsentrasi pada layar monitor di depannya dan mengamati dengan teliti tampilan yang hanya bisa terbaca olehnya dengan tangan kanan yang menggerakkan transducer.
Alfa yang duduk di samping ranjang tempat Tiara berbaring itu menggenggam jemari istrinya erat. Begitupun wanita itu yang juga turut menautkan genggamannya. Saling menguatkan dalam diam. Menunggu hasil pemeriksaan yang sedang diamati oleh dokter di depan mereka dengan rasa bahagia dan cemas yang beradu saling tarik-menarik dalam hati.
“Belum ada perubahan juga.” Wanita berjas putih itu membuka suara yang langsung membuat detak jantung pasangan suami istri itu terpompa cepat. “Tiara, bayimu dalam posisi sungsang, seperti yang kucemaskan pada pertemuan sebelumnya,” ucapnya dengan melipat bibir dan masih terus memperhatikan layar dengan wajah berkerut. “Sepertinya kau harus bersiap-siap untuk prosedur bedah cesar.”
Kedua pasang mata yang terkejut itu saling melempar pandang. Menatap masing-masing dengan keterkejutan yang sama. Degup jantung Alfa semakin berdetak kencang, begitupun dengan Tiara yang menunjukkan kegundahannya itu dengan pucuk jemarinya yang semakin mendingin.
“Posisi kepala janin masih berada di atas. Kau bisa lihat ini?” Jeni menjentikkan jemarinya pada keyboard untuk melakukan serangkaian ketikan perintah, dan kini, dapat dilihat dengan jelas bahwa bayi mereka masih berada dalam keadaan seperti ketika mereka melihatnya dua bulan yang lalu. “Pada keadaan normal, seharusnya pada usia kehamilan ini, posisi kepala bayi sudah siap berada di bawah, berputar secara otomatis untuk mempersiapkan kelahirannya,” jelasnya.
“Apa sebab bayiku bisa berada dalam keadaan sungsang seperti itu? Apakah itu berbahaya untuk istriku dan untuknya?” Alfa mengerutkan kening dengan mimik wajah gundah yang tak bisa ia tutupi. Lelaki itu sesekali melihat ke arah Tiara yang sama sekali tak mengalihkan pandangan dari sketsa hitam di layar monitor yang terkadang menunjukkan gerakan-gerakan abstrak itu. Menatapnya dengan sendu.
“Bayimu terlilit tali pusat, sehingga ia kesulitan untuk membalikkan tubuhnya tepat waktu,” ujarnya. “Keadaan bayi yang mengalungi tali pusat itu sudah biasa terjadi dan tidak semua berakibat pada posisi sungsang, tetapi, memang ada pula yang bisa mengakibatkan hal seperti ini,” imbuhnya.
“Lalu, bagaimana dengan prosedur cervical cerclage-nya jika Tiara harus menjalani bedah cesar?” Lelaki itu terlihat frustrasi dalam berkata-kata. Menyandarkan punggung pada sandaran kursi yang didudukinya.
“Kita akan melakukan pelepasan benang jahit sebelum melakukan prosedur bedah,” jawabnya. “Tiara, apa kau seringkali mengalami sesak pada perut dan pernapasanmu?” Dokter itu berganti memandang Tiara.
Perempuan itu yang sedari tadi terdiam, akhirnya menatap sang dokter dan menjawab. “Iya. Perut bagian atas … terasa penuh,” ringisnya. “Apakah itu karena posisi kepala yang masih berada di atas?” Tanpa sadar, Tiara menyentuhkan tangan pada perutnya, seolah memastikan kembali apa yang tengah dirasainya.
“Bisa dikatakan demikian,” ucapnya. “Hasil tes hemoglobin akan keluar sebentar lagi. Kuharap kau tak bosan dengan menu makanan yang kusaranakan padamu ya.” Sang dokter menepukkan tangan pada lengan Tiara dengan pandangan penuh simpati dan menganggukkan kepala kepada asisten yang bersiap menunggu di kursi sofa seberang ruang pemeriksaan itu.
Tiara tersenyum. “Tentu saja aku tidak bosan. Aku menjadi penyuka makanan ekstrim semenjak hamil. Makanan yang diresepkan olehmu tak pernah absen kukonsumsi setiap hari,” tukasnya sambil tersenyum dan merapikan kembali gaunnya yang tersingkap lalu duduk kembali.
Pintu yang terbuka tanpa suara menjadi jeda percakapan ketiganya. Seorang perawat yang memasuki ruang dengan membawa selembar kertas itu menjadi perhatian utama. Setelah wanita berbaju biru muda itu meletakkan kertas tersebut di atas meja Jeni, ia segera berpamitan dengan anggukan tanpa kata, merasa tak perlu berbasa-basi atas tugas yang biasa dilakukannya itu.
Dokter itu lantas membuka lembaran kertas yang terlipat itu dan membacanya sekilas. “Baik. Hemoglobinmu dalam keadaan cukup normal,” ucapnya tak melepaskan tatapan matanya dari kertas putih itu. “Pertahankan ya, semoga kau selalu sehat,” pungkasnya dengan senyum hangat yang tersungging di sana.
“Terima kasih.” Alfa lalu berdiri dan menghela Tiara yang tengah duduk di pinggiran ranjang, bersiap untuk pulang.
******
“Selesai ….” Lelaki itu tersenyum dan memiringkan tubuh menghadap perut Tiara. Memeluk punggung istrinya dan mencium dengan intensitas begitu lama dengan mata terpejam. Meluapkan segala kasih sayangnya yang tak mampu ia ucapkan bagaimana besarnya dengan kata-kata. “Kau mendengar cerita ayah Nak?” Alfa mencium sekali lagi dan membuka mata. “Ayah berjanji, akan sering bercerita kepadamu ketika kau lahir dan tumbuh besar nanti,” ucapnya.
Tiara membelai kepala suaminya. Mengusap-usap lembut rambut suaminya dengan senyum penuh haru. Ia bahagia. Wanita itu merasakan luberan kegembiraan yang lelaki itu curahkan pada anaknya. Sungguh hatinya berbunga-bunga dengan tak menghiraukan lagi seperti apa keadaan mereka saat ini, pun dengan segala ancaman dan kesakitan yang akan menderanya kelak ketika ia akan tiba pada waktunya untuk melahirkan. Yang pasti saat ini, Tiara ingin seperti ini terus saja, bersama laki-laki super yang Tuhan kirimkan untuk menjadi suaminya. Meski ia tahu, pagi di esok hari akan mengantarnya pada saat di mana ia harus berpisah sementara dengan Alfa, membiarkan lelaki itu menjalankan rencana terakhirnya untuk membebebaskan Helmia dari belenggu hatinya yang telah mengeras.
Alfa bangkit dari posisi tidurnya, membenarkan posisi bantal dan meletakkan kepala di sana. Berbaring mensejajari istrinya yang masih berada dalam posisi duduk itu. “Kemarilah.” Lelaki itu membentangkan sebelah tangannya, mempersilakan istrinya untuk berbaring berbantalkan tangannya. Dengan perlahan, wanita itu bergerak mendekat dan menyamankan diri dengan menjauhkan sedikit perutnya yang kini yang kini telah berisi. Tiara meletakkan wajah tepat pada leher Alfa, menciumnya dengan panas.
Lelaki itu yang mendapat suntikan gairah dengan sikap istrinya yang demikian, memejamkan matanya sejenak. Merasai gelenyar yang mulai merambat pada tubuh dan bagian sensitifnya. Posisi tidurnya yang masih berbaring terlentang itu memberikan akses sepenuhnya pada Tiara untuk menciumi ceruk lehernya.
Wanita itu mengerutkan kening mendapati Alfa yang tak merespon apapun. Hanya menikmati sentuhannya dengan jantung yang mulai berdebaran dan mata terpejam. “Kau kenapa? Apakah sudah tak menginginkan aku lagi?” Lirihnya dengan nada kesal dan ekspresi memberengut. Pada hari-hari setelah pelaksanaan prosedur cervical itu, memang dokter tak mengizinkan mereka untuk meraup kenikmatan sebagai pasangan suami istri hingga luka jahitan itu pulih, tetapi, baru kali ini lelaki itu mampu menahan hingga sekian lama setelah kesembuhannya untuk tak menyentuhnya.
Alfa membuka mata dan menoleh ke samping, lalu memposisikan tidurnya menghadap sang istri dan merengkuh tubuh mungil itu dalam dekapan. “Kau ini bicara apa?” ucapnya sambil mengusap perlahan kepala Tiara. “Aku sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahan hasratku dan kau bertanya apakah aku sudah tak lagi menginginkanmu?” tangan kanan lelaki itu menuntun tangan kiri istrinya untuk menyentuh sesuatu yang tengah nyeri di bawah sana.
Lelaki itu menyeringai. “Kau bisa merasakannya?”
Tiara menduselkan lagi wajahnya ke dada suaminya dengan raut muka malu yang sudah memerah sepenuhnya. “Kenapa kau menahan?” bisiknya.
Alfa mendongakkan wajah wanita itu hingga pandangan mereka bertemu. “Aku takut menyakitimu.” Lelaki itu mencium bibir istrinya sekilas. “Masih terbayang di kepalaku bagaimana proses pengikatan rahim itu dilakukan, meskipun aku tak berani melihat apapun pada dokter yang tengah melakukan sesuatu padamu, tetapi, aku sungguh takut jika perlakuanku akan membuatmu tak nyaman nantinya.”
Perempuan itu mengernyitkan dahi. Hatinya tersentuh dengan perhatian suaminya yang sama sekali tak ia sangka itu. Alfa mengkhawatirkannya lebih dari yang ia tahu. Dan itu membuatnya terenyuh dan bahagia.
“Aku masih tidak mengerti mengapa Tuhan menciptakan alur yang sedemikian indah. Namun, rumit.” Alfa menatap tanpa berkedip ke kedalaman mata Tiara. “Seorang wanita harus melewati masa pembuahan dan mengandung dengan bahagia, walau ada masa-masa morning sickness yang menyiksa seperti halnya yang kau alami di beberapa waktu lalu, tetapi kau bahagia bukan?” Tanyanya dengan mengusap pipi Tiara lembut. “Namun, mengapa Tuhan harus memberikan ujian dengan proses kelahiran dengan nyawa sebagai taruhan? Hal itu sama dengan memberikan kegembiraan tiada banding dengan kesakitan luar biasa dalam satu waktu bukan?” Lelaki itu mengerutkan dahi dengan ekspresi tak terbaca.
“Karena memang seperti itulah kodratnya. Para lelaki tak usah khawatir karena kami para wanita sangat mengharapkan hal itu terjadi. Rasa sakit itu memang tidak bisa dibandingkan dengan kesakitan apapun, tetapi, percayalah, kami sangat menantikannya,” ujarnya turut menyentuhkan tangan pada pipi suaminya. “Satu-satunya rasa sakit yang aku puja kedatangannya adalah sakit ketika aku bisa melahirkan bayiku dengan selamat, tak peduli bagaimana prosesnya.” Tiara mengalihkan polat matanya, tak ingin cairan bening dari matanya itu meleleh. Mengingat kembali perkataan Dokter Jeni tentang dirinya yang harus melahirkan dengan cara bedah cesar.
Alfa mencium bibir Tiara lagi, membuat wanita itu menatapnya kembali. “Aku sangat menghargai jerih payahmu sebagai calon ibu. Sekecil apapun, termasuk rasa lelahmu yang bertambah. Aku tak peduli bagaimana proses kelahiran anak kita nanti, yang pasti, kau dan anak kita selamat dan sehat,” ujarnya.
Tiara menganggukkan kepala dengan senyum haru.
“Jadi … kau menginginkannya?” goda Alfa dengan sikap tak sabar, mengingatkan mereka pada topik awal pembicaraan. Lelaki itu menciumi bibir istrinya dengan penuh hasrat. Menyelipkan lidah di antara bibir Tiara yang terbuka, memperdalam pertautan keduanya.
Dengan setengah terengah, wanita itu melepaskan bibirnya dengan paksa, hanya untuk menjawab pertanyaan retorik yang sebenarnya tak perlu ia jawab lagi dengan ucapan. “Ya … aku mau,” jawabnya tanpa malu-malu lagi. Memandangi wajah Alfa dan kedua mata suaminya itu yang telah penuh dengan dahaga akan sebuah kepuasan.
Tiara kembali memagut bibir merah Alfa, melanjutkan detik demi detik menyenangkan yang akan berakhir dengan pelepasan mereka yang tak tertahankan.