
Alfa menggandeng tangan Tiara dengan riangnya memasuki pintu Rumah Sakit tempat mereka akan melakukan pemeriksaan. Antrian tidak sepenuh sebelumnya ketika mereka datang. Ada beberapa saja orang yang menunggu di ruang tunggu. Kesemuanya adalah ibu-ibu hamil dengan perut yang telah membesar, duduk bergandengan tangan dengan pasangan mereka masing-masing. Alfa dan Tiara tidak mendaftar di loket antrian seperti yang lain, Alfa langsung menghubungi Dokter Jeni seperti hari kemarin ketika mereka datang pertama kali.
Jantung Tiara berdebar-debar melirik satu demi satu dari mereka, kemudian mengambil tempat duduk di tengah-tengah. Dibayangkannya dalam beberapa bulan nanti, perutnya juga turut membesar seperti yang ia lihat. Suasana hening yang mencekam pun turut membuatnya gugup. Tak ada suara di ruang tunggu itua, hanya terdengar suara klik mouse dari perawat jaga yang tengah bekerja di sudut ruang.
Diusap-usapnya kedua tangan kemudian ditiupnya dengan mulut untuk mengusir gelisah. Alfa yang menangkap keresahan istrinya itu pun memandangnya dengan senyum.
“Kenapa Tiara?” Ucapnya sambil meraih tangan kiri Tiara ke dalam pangkuannya.
“Eh, aku hanya sedikit gugup.” Tiara menggigit kecil kuku ibu jari tangan kanannya.
Alfa menggenggam erat tangan kiri istrinya hingga Tiara menoleh.
Pengeras suara yang menggema memanggil nomor antrian mengalihkan perhatian. Dua orang lagi yang akan diperiksa, kemudian giliran mereka. Alfa mencium tangan kiri Tiara hingga sekali lagi Tiara menatapnya.
“Aku serasa ingin memelukmu sekarang, kau tahu? Aku sungguh terlalu bahagia. Tak sabar ingin segera melihat Alfa junior di dalam sana.”
Tiara mendesah bahagia dengan muka memerah.
“Hm ... kau sudah berkali-kali memelukku tadi sebelum kita berangkat. Kau seperti hendak mengantarku ke stasiun atau bandara dan mengucap salam perpisahan karena aku akan pergi.” Tiara berkata tanpa memerhatikan.
Alfa tertawa lirih.
“Mana mungkin aku seperti itu. Aku tak akan melapas kepergianmu dengan pelukan kebahagiaan macam itu karena aku tak akan pernah mengijinkanmu pergi jauh-jauh. Dan … mulai besok, kau akan kuantar saat pergi bekerja dan kujemput saat waktunya pulang. Tak boleh mengendarai sepeda motor sendiri. Tak baik untuk kandunganmu. Beberapa wanita mengalami keguguran bahkan ada beberapa yang lain mengalami sulit hamil karena terlalu sering mengendarai sepeda motor sendiri. Goncangan yang terlalu keras sungguh buruk.” Alfa menatap dengan tajam dan Tiara mengerjap-erjapkan mata, memperhatikan lelaki itu yang bicara panjang tiada jeda.
Suaminya ini seolah selalu tahu dan sulit ditebak tentang apa yang dipikirkannya. Ia malah merinding mendengar kata-kata Alfa tentang keguguran dan sulit hamil?
“Kau hendak menakut-nakutiku?” Tiara mengelus lehernya.
“Selama kau menurut, kau tak perlu takut. Tentu aku akan mengusahakan yang terbaik untuk istri dan anakku.”
“Nyonya Tiara, silakan masuk. Dokter Jeni menunggu di dalam.” Salah seorang perawat keluar dari ruang periksa dan membukakan pintu.
Dengan masih menggandeng tangan Tiara, Alfa memimpin jalan untuk masuk terlebih dahulu.
“Terima kasih.” Alfa menyapa sekilas dan tersenyum kepada perawat yag masih berdiri di samping pintu yang hanya ditanggapi dengan anggukan tipis olehnya.
“Gheo ...." Dokter Jeni berdiri dari kursinya menyambut.
“Janganlah lagi kau panggil namaku dengan nama kecilku itu. Aku sudah akan menjadi ayah sekarang.” Alfa berkata dengan bangganya sambil menghela Tiara untuk duduk di sebelahnya dengan kursi tepisah.
“Alfa …." Tiara menunduk malu.
“Oh ... benarkah?” Dokter itu menatap satu persatu Alfa dan Tiara secara bergantian.
“Ya. Tiara sudah melakukan tes sederhana dengan tespact dan hasilnya positif.”
“Ah, syukurlah. Akhirnya kalian berhasil. Selamat ya. Mari kita periksa.”
Perawat mendekati Tiara dan menyuruhnya untuk berbaring di ranjang yang tersedia. Membantunya untuk berbaring dan menyelimuti hingga sebatas pinggang. Menarik baju hingga memperlihatkan perutnya yang masih rata. Ia kemudian mengoleskan gel lembut ke perut bagian bawah yang terasa dingin di kulit sebelum Dokter Jeni meletakkan alat USG dan mulai menampakkan gambar-gambar hitam di layar monitor.
“Kalian lihat? Ini adalah rahim dan bulatan kecil di sini adalah kantung janin.” Wanita itu mengamati pasangan suami istri itu sekilas, sebelum melanjutkan. “Usia kehamilan Tiara sudah memasuki enam minggu. Bayi kalian diperkirakan akan lahir pada tanggal 1 januari tahun depan," ujarnya dengan senyum ramah.
Alfa memperhatikan dengan seksama dan mengeluarkan celetuknya. “Apa Ia laki-laki atau perempuan?”
Jeni tertawa. “Belum terlihat. Kita masih belum bisa melihat. Masih terlalu kecil, tubuhnya saja belum terbentuk. Di usia kandungan yang sekarang, janin barulah berbentuk seperti embrio. Jenis kelamin akan terlihat setelah usia kehamilan 16 minggu, itu pun tergantung posisi janin, karena terkadang ada janin yang menghadap ke belakang sehingga sulit diketahui jenis kelaminnya.”
“Tiara, apa kau memiliki keluhan?” Wanita berkacamata itu kemudian mengalihkan perhatian pada Tiara yang sedari tadi terdiam.
“Eh ... tidak ada.” Tiara menggelengkan kepala lalu bertanya. “Apa mual dan muntah akan selalu terjadi pada wanita hamil muda?”
“Tidak pasti. Tapi jika nanti kau mengalaminya, aku akan memberikan obat untuk meredakan mual. Kau juga bisa mengonsumsi susu khusus untuk menekan rasa mual. Aku akan memberikan vitamin dan suplemen setiap kalian datang kemari dalam satu bulan. Jangan lupa untuk tetap memakan makanan yang bergizi, mengingat kondisimu ...."
“Iya Dokter.” Tiara menjawab dengan cepat karena sepertinya Dokter Jeni menggantungkan kalimatnya. Membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh kepadanya.
“Aku sudah menderita penyakit itu sejak aku sekolah menengah," tukasnya. Alfa lalu menatap lurus ke arahnya dan memandang dengan sayu.
“Benarkah? Kenapa kau tak mengatakan itu padaku?”
Tiara hanya diam dan mengerutkan keningnya memberi isyarat agar Alfa tak memperpanjang pertanyaannya. Alfa hanya mendecak dan mengembuskan napas panjang. Ia mungkin akan menjawab nanti setelah mereka keluar dari ruangan ini.
“Baiklah. Kondisinya bagus. Pertahankan ya." Dokter Jeni menengahi percakapan canggung kedua pasiennya itu. “Selesai," ucapnya kemudian.
Perawat yang hendak membersihkan perut Tiara kemudian berhenti dan menunggu kembali hingga pembicaraan mereka selesai.
Dokter itu tertawa sekilas, mengerti dengan maksud pertanyaannya. "Tentu saja tidak apa-apa, tapi dengan intensitas yang tidak terlalu sering. Kehamilan di trimester pertama masih terlalu rawan. Kau harus ingat itu." Dokter Jeni menjabarkan.
Pertanyaan itu sungguh membuat Tiara menahan malu dengan wajah yang sudah merah seperti tomat.
"Sudah? Ada lagi yang kalian tanyakan?"
Keduanya terdiam.
"Baik, jika tidak ada pertanyaan, kembalilah dalam satu bulan," pungkasnya.
******
Alfa terdiam ketika mereka memasuki mobil. Tiara tahu, ia harus menjelaskan apa yang ia perlu jelaskan tadi.
“Maaf Alfa, aku menganggap itu bukan sesuatu yang penting menyangkut keadaanku jadi aku merasa tak perlu menjelaskan kepadamu sejak dulu.”
Suaminya itu memandang ke depan. “Bukan sesuatu yang penting? Kau hampir membuatku khawatir setengah mati karena vonis mengerikan itu dan sekarang kau menganggap itu tidak penting?” Alfa tersenyum dengan wajah penuh ironi.
“Kau sudah tahu sekarang dan aku sedang mengandung. Apa kau masih belum percaya kalau aku baik-baik saja?”
Sekali lagi Alfa mendesah. “Tiara kau menyebalkan sekali.” Tanpa menatap sedikit saja ke arah istrinya, Alfa memutar kemudi menuju gerbang keluar Rumah Sakit.
“Kita mau kemana?” Tiara menoleh ke kanan dan kiri karena Alfa mengemudikan mobilnya berlawanan arah dengan jalan menuju mereka pulang.
“Membeli baju," tukasnya singkat.
Tiara jengkel bukan main dengan rasa penasaran yang sungguh menyiksa, mengorek-orek hatinya dan ia malas bertanya dengan Alfa yang sedang merajuk.
Alfa tak akan membelikannya baju hamil sekarang bukan?
Ya. Ia langsung saja berpikir mengenai baju hamil setelah ia melihat hasil testpact beberapa waktu lalu. Tapi, kondisi perutnya juga tak akan membesar secepat itu. Ia masih bisa mengenakan baju-bajunya yang lama sebelum nantinya ia membutuhkan baju yang lebih longgar saat perutnya membuncit.
******
Alfa memarkirkan mobilnya di tengah-tengah mobil lain yang juga memenuhi lahan parkir. Sepertinya ada banyak pengunjung yang juga menghabiskan waktu sore di tempat ini. Ia menggandeng tangan istrinya dan mendahului berjalan. Melewati area pertokoan yang ramai dengan pengunjung. Lalu, sampailah mereka di sebuah toko dengan begitu banyak boneka manekin pria yang memamerkan pakaian jas resmi di sana. Tiara semakin bingung lalu menyeret tangan Alfa untuk menghentikan langkahnya.
Alfa menoleh sebentar. “Kau akan tahu nanti.” Tersenyum senang karena berhasil membuat Tiara penasaran. Alfa sudah tak lagi merajuk? Ah, kemarahan lelaki itu mudah sekali sembuh.
Mereka lalu sampai di pintu masuk dan disambut oleh dua orang petugas yang berjaga di sana sembari membukakan pintu dengan menganggukkan badan. Alfa lalu menghela Tiara berjalan mengelilingi aneka model jas dengan warna dan motif yang beraneka ragam.
“Menurutmu, aku cocok mengenakan warna apa?” Alfa mengajaknya ke deretan jas yang tergantung rapi di rak.
“Hijau?” Jawab Tiara ringan.
Alfa menghentikan langkahnya, menatap Tiara dengan gemas. “Ah kau, aku jadi merasa menjadi seperti Pangeran Kodok yang selalu mengenakan kostum berwarna hijau.”
Tiara tertawa. “Kau bertanya, jadi aku menjawab. Dan aku menjawab sesuai dengan hati Nurani," kekehnya. “Untuk apa sebenarnya kau membeli jas? Apa ada acara resmi yang harus kau hadiri sehingga harus mengenakan pakaian formal?” Tiara menghadang di depan Alfa yang sedang berjalan. Berharap ia mau menjawab kali ini.
“Aku akan datang mewakili Papa dalam acara pertemuan CEO esok hari.”
Wajah Tiara berkerut dalam.
Tunggu dulu. Apa yang barusan dikatakannya? Ia akan datang sebagai wakil? Lalu apa Alfa akan memutuskan untuk bekerja di perusahaan ayahnya?
Alfa memerhatikan istrinya yang tengah merenung. Ia lalu menepuk bahu wanitanya dengan ringan tetapi Tiara malah dengan juteknya berujar,
“Seenaknya saja kau bisa datang ke sana. Kau bahkan tak menjabat apa-apa di perusahaan itu," tukasnya membalikkan badan lalu melihat-lihat kembali jas yang tergantung di sana. Alfa tersenyum dengan sebelah bibir saja yang melebar mendengar ucapan istrinya. “Sepertinya ini bagus.” Tiara mengambil satu potong lalu memasangnya di depan badan Alfa.
Alfa tersenyum melihat tingkah istrinya. Sungguh jika wanita judes ini bukan istrinya, ia tampak memuakkan. Tetapi Tiara lain. Dia sangat menarik. “Aku bukan tipe anak manja yang selalu mengandalkan orang tua Tiara, aku hanya sedang membahagiakannya karena hatiku sedang sangat senang. Tidak ada yang salah bukan? Lagipula tak ada niatan dariku untuk datang meminta jabatan.” Nada sombong kentara. Tiara hanya mengangkat sebelah alis tanda menyetujui dengan enggan.
“Baik. Ini bagus untukku?” Alfa mengambil jas dari tangan Tiara dan menuju fitting room.
Tak lama kemudian, lelaki itu berjalan menuju kasir dan melakukan pembayaran.
“Oke. Mari kita pulang.” Alfa menggamit tangan Tiara dengan mesra lalu berjalan bersisian dengan orang-orang yang lekas ramai di jalur pejalan kaki menjelang malam.
“Alfa!” Tiara dan Alfa menghentikan langkah. Lelaki itu lalu menolehkan kepala ke berbagai sisi sambil berjinjit mencari sosok yang memanggilnya.