The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 74 - Romantika



Matahari telah sampai di ujung hari. Meninggalkan napak tilasnya yang masih tersisa di ujung langit. Tiara masih duduk di undakan teras belakang vila dengan memeluk kakinya yang terbungkus celana tiga perempat. Menatap dengan senyum yang masih berat, kucingnya yang sedang dalam posisi tidur di atas rerumputan dengan ekor panjangnya yang bergerak-gerak. Wanita itu telah memberinya makan, dan sekarang, dalam keadaan perutnya yang kenyang itu, kucingnya telah siap untuk mengistirahatkan tubuh.


Alfa yang baru pulang dari bekerja itu mendudukkan diri di samping istrinya dan memandangi kucing yang menjadi pusat perhatian Tiara itu dengan heran. Lelaki itu yang sama sekali tak mengenal hewan berbulu, benar-benar tak tahu bagaimana cara merawat dan berinteraksi dengan kucing tersebut. Oleh karenanya, ia menyerahkan sepenuhnya pembersihan dan pemberian makan hewan kesayangan istrinya itu kepada pelayan, yang kini, diambil alih oleh Tiara sepenuhnya. Sepanjang hari, istrinya itu merawat kucingnya seorang diri dan Popo lah yang masa ini menjadi teman setia Tiara, mengekor ke mana saja perempuan itu pergi, bahkan terkadang tertidur bersama dalam satu sofa. Benarlah, perempuan itu terlihat lebih tenang dan sikap temperamennya sudah berkurang.


“Apakah kucing bisa diikat dan diajak bepergian?” Alfa bertanya dengan penuh waspada, menjaga agar ucapannya bisa diterima. Lelaki itu memandang lekat istrinya lalu kembali mendaratkan tatapannya pada Popo.


Tiara tak membalas tatapan suaminya dan hanya memandang lesu ke arah kucing dengan mata safir tersebut. “Tidak bisa,” jawabnya singkat.


“Kalau begitu, kita tinggalkan Popo sebentar dan kita makan malam di luar, bagaimana? Apa kau keberatan?” tanya lelaki itu dengan tanpa menyentuhkan tangan pada tubuh Tiara. Menahan sekuat tenaga keinginannya itu karena sepertinya, wanita itu masih belum nyaman berada dalam rengkuhannya.


Perempuan itu tak menjawab, masih dengan raut mukanya yang tanpa ekspresi dan memandang lurus ke depan. Rambutnya yang tergerai begitu saja dan bergerak kian kemari terkena angin hingga tersampir di pipinya membuat Tiara begitu jelita. Alfa bahkan menikmati pemandangan itu dengan tanpa berkedip. Istrinya itu seolah berganti menjadi sosok yang baru saja dikenalnya. Lelaki itu seolah harus mengulang dari awal pendekatan mereka seperti di awal pertemuan mereka dahulu. Memecahkan kekakuan hati Tiara yang kini tentu saja harus ia buka perlahan demi perlahan.


Tiara mengubah posisi duduk. Menyilangkan kakinya hingga ia nampak lebih santai. “Ke mana?” Tanyanya.


“Ada banyak tempat yang belum kau kunjungi bukan selama di sini? Aku akan menunjukkan satu demi satu padamu. Percayalah, aku tak akan mengecewakan,” rayunya kemudian menjulurkan tangan.


Wanita itu melihat sejenak ke arah tangan suaminya yang kini berada di samping lengannya. Memintanya untuk menyambut. Tiara mengembuskan napas dan meletakkan tangan kanannya di atas telapak tangan Alfa. Dengan senyum puas, lelaki itu menggenggam erat jemari mungil wanitanya dan bersama-sama berdiri dari teras rumah. Berjalan beriringan memasuki vila.


Pelayan yang melihat tuannya itu telah tiba di dalam rumah dan menutup pintu, segera menggiring kembali si kucing ke rumah teralis besinya. Memastikan kucing itu aman dari debu yang bertebaran di musim kemarau sore itu.


Alfa terharu bahagia, ia melangkah dengan penuh keyakinan dalam hati, mensyukuri keadaan istrinya yang semakin baik. Tiara perlahan mau kembali dekat dengannya setelah sekian lama. Oh, lelaki itu bahkan hampir mati rasa karena mereka berdua kini seperti dua orang asing yang tinggal dalam satu atap dan sedang berusaha mengenal satu sama lain. Wanita itu tak pernah menyalahkan siapapun atas musibah yang menimpanya, hanya ratapan dan sikapnya yang dingin itu yang membuat Alfa harus tabah untuk menjaga jarak.


******


"Tunggu." Alfa men-stop langkah Tiara yang telah hampir mencapai pintu kamar. Lelaki itu berhenti tepat di depan istrinya, memperhatikan dengan saksama wajah dan rambut cokelat wanita itu yang rapi karena baru saja disisir. "Kemarilah sebentar," ajaknya dengan menggandeng tangan Tiara, mengajaknya kembali ke dalam ruang tidur. "Duduklah di sini," perintah lelaki itu sembari menekan pundak istrinya agar wanita itu mau terduduk di kursi bundar di depan meja toalet.


Alfa lantas mengambil sisir dan pita berwarna senada dengan gaun berwarna bottle green yang Tiara kenakan. Wanita itu memandang refleksi dirinya di cermin dengan tanpa ekspresi dan tidak memprotes suaminya yang kini tengah dengan cekatannya menyisir lalu mengucir rambutnya dengan gaya ponytail yang terikat longgar. Entah mendapat ide dari mana, tetapi, seperti penata rambut profesional, Alfa tersenyum puas karena tangannya ternyata mampu menata rambut Tiara yang panjang bergelombang itu menjadi begitu menawan.


Lelaki dengan kostum kasual itu lalu kembali ke meja toalet dan membuka rak make up dengan menimbang-nimbang, mencari dengan teliti benda pink yang sering dipakai oleh istrinya itu sebelum ia mengalami masa sulit ini.


Ketika menyetujui ajakan Alfa tadi, Tiara hanya mengganti pakaian dan merapikan rambut, tak berminat sama sekali untuk sekedar memoleskan bedak tipis ke wajahnya. Kini, lelaki itu dengan susah payah membongkar rak dan entah sedang berusaha untuk menemukan apa. Wanita itu tersenyum masam tatkala Alfa memegang benda kecil yang mungkin saja seumur hidup baru sekali itu ia pegang. Setelah meyakinkan diri bahwa apa yang ditemukannya itu adalah sesuatu yang benar, Alfa, menoleh ke arah istrinya dan tersenyum.


Tanpa menerima persetujuan, Alfa yang duduk di meja toalet membelakangi mirat itu memoleskan begitu saja pemulas bibir itu ke bibir istrinya yang tampak mengering dan tersenyum miring. "Tidak mencolok, hanya membuat penampilanmu lebih segar," ujar lelaki itu sembari memperhatikan dengan intens, inci demi inci wajah istrinya yang kini tengah melihat hasil riasan suaminya itu melalui cermin.


Dalam pindaian mata cokelatnya yang begitu memuja, bola mata Alfa mendarat dengan kecepatan degup jantungnya yang meningkat, manakala pupilnya terfokus pada bibir Tiara yang ternyata begitu basah dan berkilauan karena polesan pelembab bibir yang ia torehkan. Tanpa sadar, lelaki itu menyentuhkan jemarinya pada bibir bawah Tiara yang membuatnya makin menelan ludah.


Alfa lantas memejamkan matanya dengan frustrasi, menahan gelora jiwanya yang kini bercampur dengan hasratnya untuk ******* dengan ganas bibir Tiara yang nampak menggoda itu.


Lelaki itu mendeham keras. Membuat wanitanya secara kilat menoleh ke arah Alfa yang sekarang ini telah berdiri. "Ayo kita berangkat," ajaknya sembari menilik jam tangan hitam di pergelangan tangannya. Waktu masih begitu sore dan mereka mempunyai banyak waktu untuk menghabiskan sisa petang hingga menjelang tengah malam nanti.


Tiara mengangguk kemudian bangkit dari duduknya. Mengalungkan tas kecilnya ke pundak dan bergegas mengikuti Alfa yang terlebih dahulu melangkah memimpin jalan.


Alangkah beratnya lelaki berparas tampan itu membendung keinginannya untuk menjamah wanitanya saat itu juga, sehingga ia dengan terpaksa membatasi kontak fisik dengan Tiara agar hasratnya itu tak semakin menjadi-jadi.


Suara pintu mobil yang tertutup itu mengawali perjalanan panjang mereka. Alfa membuka sunroof mobilnya, hingga kini, nampaklah panorama langit yang begitu elok. Ribuan bintang bekedip mesra di tempatnya, semakin terang dengan cahaya bulan sabit yang memancar terang.


Tiara memandang tanpa henti dengan menengadahkan kepala. Gerak tubuhnya yang seperti ini, menatap pemandangan malam dengan perasaannya yang damai ini, selalu saja mengingatkan pada ucapannya sendiri pada Alfa tentang harapan. Tentang bagaimana saat suaminya itu memeluknya dari belakang dan menerbangkan sepucuk asanya yang ia langitkan. Oh, masih bolehkah dirinya yang telah putus harapan itu memiliki cita-cita lagi? Akankah Tuhan mengabulkan setitik asanya yang telah lama ia nanti?


Perempuan itu memejamkan mata. Merasakan kecamuk rasa yang begitu ruwet mengikat hati. Guncangan pikiran yang memeningkan kepala itu membuatnya lambat-lambat menggapai lengan suaminya yang tengah mengemudi. Menemukan dengan nyata bahwa sekarang ini ia masih hidup dan benar-benar berada di samping lelaki itu. Ia tidak sendiri.


Tiara lantas membuka mata, seolah baru saja terbangun dari alam mimpi yang begitu gelap. Alfa meremas jemari istrinya yang memegang erat lengan kirinya. Menatap wanita itu dengan cemas. "Ada apa Tiara? Kau tak enak badan?" Resahnya.


Tiara menghela napas dan menggeleng. "Aku tak apa-apa," jawabnya.


"Mari turun," Alfa melepas seatbelt dan membuka pintu, bersamaan dengan Tiara yang melakukan hal sama.


Perempuan itu terperangah. Menyaksikan pemandangan di depannya di mana mereka waktu ini sedang berada di depan resto mewah dengan panorama lautan bintang yang membentang di bawahnya. Alfa menghela tangan Tiara dan memasuki pintu resto itu dengan menganggukkan kepala kepada pelayan yang dengan sopannya menyambut kedatangan mereka.


Hati Tiara bertambah haru seketika langkah mereka menuju pada meja dengan dua lilin menyala sebagai penerangnya. Suasana romantis itu masih diimbuhi dengan gemerlap cahaya ribuan lampu bak bintang yang nampak begitu terang karena Alfa memilih meja di tepi dinding kaca.


Tiara tak tahu lagi apakah ia harus tersenyum atau meratap menghadapi romantika hidup yang sedang disuguhkan kepadanya itu.