
Waktu menunjuk hampir pukul empat sore ketika Tiara masih berada di tepi kolam renang dengan kedua kakinya yang terjuntai masuk ke dalam air. Perempuan itu sedang terduduk dengan Popo yang mendusel manja di punggungnya. Air kolam yang sedari tadi terpapar sinar matahari itu masih terasa hangat, membuat wanita itu nyaman dan enggan untuk beranjak. Pohon tabebuya yang rimbun dan terletak tak jauh dari lokasi kolam memayungi tubuhnya dengan sempurna, sehingga sorot mentari yang masih nampak sinarnya itu sama sekali tak membuatnya merasa panas.
Beberapa pelayan yang berseliweran menawarkan minuman, makanan dan cemilan ia tolak. Tiara berkata bahwa ia hanya ingin bersantai sejenak, menikmati waktu sore. Merendam kaki di air hangat yang membuat kakinya rileks. Sesekali tampak ia mencipratkan air melalui tangannya, hingga riak air membuat gaun bagian bawah yang ia kenakan hampir seluruhnya basah.
Alfa turun dari mobilnya dengan riang. Hari ini pekerjaannya selesai lebih cepat sehingga ia bisa kembali ke rumah lebih awal. Namun, ia begitu terkejut ketika salah seorang pelayan mendatanginya dengan ekspresi cemas manakala ia hampir mencapai pintu utama.
“Maaf Pak, Ibu Tiara belum mau makan dari tadi siang. Beliau sedang berada di kolam renang dan tidak berselera atas apapun yang kami tawarkan untuk sekedar menyantap kudapan,” adunya.
Lelaki itu mengerutkan muka, turut merasai pula kecemasan yang diperlihatkan oleh pelayannya itu. Dengan langkah lebar, Alfa segera berjalan menuju tempat istrinya berada. Dan, bayangan akan wanita itu yang sedang merajuk dan kacau pun sirna sudah, ternyata, Tiara sedang tertawa-tawa bersama kucing kesayangannya. Kali ini laki-laki itu sama sekali tak bisa melarang istrinya untuk menjauhi hewan berbulu itu, sebab, hanya Popo lah yang mampu menjadi teman dan hiburan untuk Tiara di kala ia sedang pergi.
Alfa mengembuskan napas lega dan tersenyum, perlahan ia menjangkahkan kaki mendekat. Tiara yang mengetahui suaminya telah kembali itu tersenyum dan turut memeluk lengan suaminya yang saat ini tengah berjongkok dan mendekapnya dari belakang. Menciuminya dengan penuh rasa sayang.
“Kau sedang apa?” Alfa bertanya sambil melihat wajah istrinya itu dari samping.
“Menunggumu pulang. Aku lapar dan semua makanan yang tersaji itu rasanya tidak enak jika aku tidak memakannya bersamamu,” ujarnya dengan membalas tatapan mata suaminya.
Lelaki itu mengangkat alis, terkejut dengan ucapan Tiara. Hatinya tersentuh ketika ia mengetahui istrinya kembali pada kemanjaannya saat ia hamil seperti ini. “Bagaimana jika perutmu sakit jika harus terus menunda untuk makan? Lagipula saat ini ada anak kita yang juga harus turut makan denganmu bukan?” Alfa meraba perut istrinya yang kini terasa semakin berisi di usia kehamilannya yang menginjak dua puluh empat minggu.
Tiara menunduk. Melihat ke arah perut dan tangan Alfa yang sedang mengusap-usapkan tangannya, lalu meletakkan tangannya pula pada punggung tangan suaminya. “Dia yang meminta untuk bisa makan denganmu, kurasa dia tidak akan keberatan untuk sebentar saja menunda makan siang,” kilahnya.
“Oh ya?” Alfa menciumi pipi Tiara sekilas. “Kau bisa menghubungiku kapanpun dan aku akan segera pulang jika itu yang kau inginkan. Berjanjilah padaku, jangan buat dirimu tersiksa rasa lapar hanya karena menungguku pulang,” titahnya. Tiara menganggukkan kepala dengan pasti, lalu tersenyum. “Kalau begitu, ayo kita makan,” ajak laki-laki itu sembari membantu istrinya mengangkat kaki dari kolam dan berdiri.
Alfa tersenyum dengan penuh rasa senang. Tidak ada rasa canggung lagi yang ditunjukkan wanita itu sekarang. Ia lebih terbuka dan mau menerima keadaan dirinya dengan bahagia. Proses terapi yang dilakukannya beberapa bulan ini sungguh membuahkan hasil. Istrinya perlahan demi perlahan telah kembali pulih. Ketakutan-ketakutan yang memasung jiwa dan alam pikirannya kini enyah sudah. Berganti dengan penerimaan atas kehadiran calon anaknya yang masa ini sedang makin bertumbuh.
Keduanya berjalan beriringan sambil saling bergandengan tangan. Mesra. Mengabaikan para pelayan yang melihat mereka dengan penuh rasa iri.
******
Adegan makan bersama sore tadi yang dipaksakan oleh Tiara benar-benar hanya terisi oleh aktivitas makan tanpa diselingi percakapan. Wanita itu memakan makanannya dengan lahap hingga kenyang benar, sebab semua makanan yang terhidang di atas meja hampir seluruhnya tandas.
Lelaki itu tak henti-henti memandangi istrinya, tersenyum sendiri mengingat kelucuan Tiara yang tak sungkan-sungkan lagi menunjukkan keinginannya, memenuhi mulutnya hingga menggembung penuh berisi makanan.
Kini, Alfa tengah menunggui istrinya yang sedang mematut diri di depan cermin. Betapa saat ini wanita itu nampak lebih bugar dengan beberapa bagian tubuhnya yang semakin berisi seiring perutnya yang bertambah besar. Tiara mengenakan gaun brokat tanpa lengan berwarna peach dengan bentuk rok melebar dan sedikit lebih panjang di bagian belakang. Penampilannya saat ini semakin menambah aura kecantikannya dengan perut yang sedikit membuncit. Rambut cokelatnya ia kepang longgar menjuntai di sisi kanan lengkap dengan hiasan kepala. Make up tipis dengan lip cream warna senada gaun yang dikenakannya itu tuntas membuat Tiara nampak sempurna.
Kini, wanita itu tengah mengenakan anting, aksesoris terakhir yang ia sematkan sebelum perempuan itu akhirnya menatap Alfa dari cermin dan tersenyum. Mereka akan pergi ke pesta pernikahan Karina. Memenuhi permintaan wanita itu agar Tiara turut datang membawakan doa untuknya. Alfa mengulurkan tangannya begitu istrinya berdiri dari kursi toalet. Menyambut wanitanya yang sudah siap pergi dengannya malam itu. Kali ini, lelaki itu tidak mengendarai sendiri mobilnya, ia meminta supir untuk mengantar.
Alfa merangkul pinggang Tiara begitu menginjakkan kaki ke karpet merah yang menjadi penyambut para tamu. Berjalan bersisian mengundang perhatian banyak pasang mata yang ada sekitarnya. Menatap kagum dan saling berbisik kepada dua sejoli yang tengah berjalan dengan penuh kemesraan tersebut.
“Kau lihat? Orang-orang bahkan sekarang menjadi bingung, manakah yang sebenarnya pengantin di sini?” goda Alfa dengan membisikkan kata-katanya.” Kau lebih dari sempurna malam ini dan jauh lebih cantik dari pengantin perempuannya,” pujinya dengan melambaikan tangan ketika matanya bersirobok dengan mata Karina. Perempuan yang kini tengah mengenakan gaun putih dengan hiasan mahkota di kepala itu ternyata turut mengindahkan perpindahan arah pandang rekan-rekan di sampingnya ketika Alfa dan Tiara berjalan mendekat.
Tiara menyikut lengan suaminya dengan wajah bersemu merah, merasa malu karena ucapan Alfa yang seolah memujinya langsung di depan khalayak, padahal hanya telinganya sendiri yang mendengar. Wanita itu segera tersenyum ketika sudah berjarak sejangkauan saja dengan Karina dan suaminya.
“Hai Tiara, aku menunggu dengan tidak tenang. Kupikir kau tak akan datang,” ucapnya dengan senyum penuh bahagia sambil cipika-cipiki dengan Tiara.
“Aku datang. Sesuai janjiku.” Tiara memegang kedua lengan Karina dengan tangannya. “Selamat atas pernikahanmu ya, aku turut bahagia.”
“Terima kasih. Ah, kuharap kau dan bayimu sehat sampai ia terlahir,” harapnya sembari mengelus sejenak perut Tiara. Karina mengerutkan muka dengan mengulas senyum, tidak bisa menahan diri untuk tak meraih istri Alfa itu dalam pelukan. Ia terharu luar biasa, dapat melihat wanita itu kembali sehat dan sekarang tengah mengandung. Betapa ia berharap ia bisa mendapati pernikahan utuh seperti Alfa dan Tiara dengan suaminya saat ini, menjalani hidup dengan bersahaja dan membesarkan anak-anak dengan bahagia.
“Ya Karina, terima kasih.”
“Selamat menikmati sajian dariku yang sederhana ini, Gheo, terima kasih sudah mengizinkan Tiara untuk turut datang, aku harus menemui tamu-tamuku dulu,” pamitnya lalu kembali dengan senyum manisnya ketika bertemu dengan pasangan-pasangan yang mendatangi dan menyalaminya. Alfa hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Tiara mencengkeram lengan Alfa dengan erat. Wajahnya yang terpoles riasan tipis itu tak bisa menutupi keadaan raut mukanya yang kini telah memucat hingga membuat Alfa panik. “Tiara kau kenapa? Apa ada yang sakit?” serunya dengan mengusap perut istrinya.
“Bisakah kita pergi ke kamar kecil sebentar?” pintanya.
“Ya, ya … tentu saja,” jawabnya dengan terbata, lalu menggandeng tangan dan berjalan dengan sedikit cepat, menembus orang-orang yang berdiri dengan acak.
Begitu tiba di depan wastafel, mata Alfa membelalak dengan penuh keterkejutan dan kecemasan ketika melihat Tiara akhirnya muntah sejadi-jadinya. Tubuhnya lemas dengan sesekali menumpukan tangan pada pinggiran meja keramik. Lelaki itu mengusap punggung istrinya perlahan, membantu dengan tak tahu harus seperti apa agar rasa tak nyaman itu berkurang.
“Sudah? Apa kau baik-baik saja?” Alfa mengerutkan kening dalam. Luar biasa khawatir atas keadaan Tiara yang mendadak mengalami mual dan muntah. Padahal, sebelum-sebelumnya, di usia kehamilan muda, wanita itu malahan tak pernah mengalami morning sickness seperti saat ini.
“Aku mual sekali membaui aneka bebungaan yang ada di lokasi pesta. Kepalaku sakit,” keluhnya.
“Astaga … maafkan aku Tiara, seharusnya memang aku tak pernah membawamu pergi kemana pun,” resahnya. “Kita pulang saja,” perintahnya lalu melepas jas yang dipakainya dan diselimutkannya ke tubuh istrinya. Keduanya melangkah perlahan, menjauhi kerumunan manusia yang tengah berasyik masyuk dengan pasangan dan rekan-rekannya, menikmati pesta dengan gembira.
Tiga langkah lagi kaki mereka membawa posisi tubuh mendekati mobil. Sopir yang telah bersiaga pun mulai membukakan pintu begitu melihat tuannya berjalan mendekat. Namun, Tiara yang sedari tadi memasrahkan tubuh pada rangkulan suaminya itu ambruk. Beruntung, dengan sigap Alfa menyangga tubuhnya, hingga kini, Tiara telah berada dalam gendongan lelaki itu. Alfa dengan segera memasukkannya ke dalam kabin, menidurkannya dengan kepala berbantalkan kakinya, memerintah dengan tergesa kepada sang sopir untuk segera meninggalkan tempat dan menempelkan ponselnya di telinga.
“Dokter!”