
Ruangan besar itu terang oleh cahaya. Dinding kaca yang memenuhi satu sisi tembok itu berhasil menjadi satu-satunya sumber penerangan bagi ruangan bercat putih yang berada di lantai dua puluh delapan gedung apartemen tersebut. Duduk seorang wanita, menyilangkan kaki dengan tubuh ia topangkan pada sandaran sofa di belakang jendela kaca raksasa itu. Kedua tangan ia lipat di depan dada. Bola mata biru dengan bulu mata lentik itu memandang dengan tatapan resah dan dahi berkerut dalam yang seirama dengan hatinya yang tengah dilanda gundah. Menatap dengan pandangan nanar, padahal di luar sana, langit tampak membiru dengan cerahnya, menyuguhkan panorama khas kota itu dengan segala kesibukannya.
Karina. Perempuan tinggi semampai itu kini sedang dilanda dilema yang luar biasa mengobrak-abrik hatinya. Berada dalam dua pilihan yang sama sekali tak diinginkannya, tetapi harus ia pilih. Wanita itu mengetuk-ngetukkan kepalan tangan pada dahinya berulang-ulang dengan mata terkatup, seakan gerakan tersebut mampu memecah beban berat yang kini tengah disangga oleh kepala mungilnya.
Alfa. Lelaki yang kini mendadak muncul kembali dalam kehidupannya. Perseteruannya bertahun-tahun lalu dengan lelaki itu masih melekat erat di otaknya. Peristiwa di mana dirinya tengah menjadi seorang model amatir yang sedang meniti karir. Ketiadaan seseorang yang dekat dengan dirinya itu ternyata berpengaruh besar dalam segala hal yang berhubungan dengan pengambilan keputusan. Karina dahulu sempat tertarik dan ingin mendekati Alfa untuk keperluan kelancaran bisnisnya. Ia sempat tergoda untuk memberikan suap pada lelaki itu untuk memuluskan rencana pemilihan pemotretannya. Wanita itu tidak menyangka, Alfa sang Fotografer ternyata adalah putra dari salah satu pemilik property modelling yang waktu itu tengah membawa namanya. Alfa yang mengetahui tabiat buruk Karina langsung menolaknya mentah-mentah untuk menjadi fashion model yang tengah lelaki itu garap.
Sudah gagal sebelum mulai bisa melakukan pendekatan terhadap lelaki itu, ia pun harus menanggung malu dengan kemarahan yang meletup-letup karna Alfa telah membuka secara terang-terangan niatnya untuk bisa lulus dari seleksi super model itu dengan cara yang tidak baik. Semua orang membuangnya, sampai suatu ketika, Helmia datang bak malaikat yang mengangkatnya dari kesusahan.
Dari situlah ia mulai menjalani kembali dunia model dari bawah dan bertemu dengan Azhar, laki-laki yang kini telah menjadi mantan suaminya. Bangkit dari lubang satu dan melangkah lalu terjatuh kembali dalam lubang yang yang lebih besar di depannya. Dunia seakan mempermainkannya, ketika perlahan-lahan kebahagiaan yang seolah menantangnya untuk diraih itu tengah membuka pintunya, Azhar meninggalkannya, menyisakan luka menganga yang tak bisa sembuh setelah mengambil kebahagiaan singkat Karina yang tengah menikmati waktu menjadi seorang istri.
"Oh, Azhar ...." Karina menengadahkan kepala dengan terpejam. Memori tentang canda tawa lelaki itu yang sedang bercengkerama dengan wanita lain, entah mengapa tak mau enyah dari kepalanya. Membuatnya semakin tersika oleh rasa perih yang terus membaru tiap kali ingatan itu datang ke depan matanya.
Karina mendesah. Kelopak matanya mendadak basah dan penuh oleh buliran bening yang semakin membanjir dan akhirnya meleleh begitu saja melewati pipi. Ia teringat akan Helmia yang mengancamnya. Antara menikahi Alfa atau meninggalkan karirnya. Menikah? Menikahi Alfa?
Saat ini saja, ia masih belum menerima dirinya dicampakkan begitu saja dan dengan seenak hidungnya, Helmia memintanya untuk menikahi Alfa yang telah menikah? Gila! Ini sungguh gila!
Karina tak bisa membayangkan jika dirinya harus bertingkah seperti wanita yang telah merebut suaminya itu. Ia memang marah dan menyimpan dendam yang tak bisa ia lampiaskan, tetapi, tidak dengan cara seperti ini pula ia menghempaskan rasa kesalnya. Bagaimana dengan wanita polos yang menjadi istri Alfa itu? Haruskah ia mengalami kesakitan yang sama dengannya?
Wanita itu terduduk di karpet lantai. Memeluk dirinya yang tengah terkepung oleh kesendirian dan aneka hal yang menjejal di benaknya. Tidak. Ia tidak akan mencicipi sedikit saja perbuatan itu. Tidak selamanya.
Perlahan, Karina menengokkan kepala ke samping dan menemukan pantulan dirinya di sebuah cermin besar di ujung dinding. Alis cantiknya terangkat sebelah. Menemukan ide menarik yang tiba-tiba saja melayang di otaknya. Meminta untuk disetujui.
Seringaian muncul di bibir wanita itu. Ia harus melakukan sesuatu. Dengan semangat, wanita itu bangkit dari duduknya, menyambar kunci mobil dari meja sofa dan melangkah cepat menuju pintu apartemen.
******
"Semua sudah siap?" Alfa langsung bertanya pada detik pertama panggilan teleponnya terangkat.
"Sudah. Semua persiapan telah selesai. Lukisan dan foto-foto yang kau pilih telah dipajang. Kau hanya tinggal mengecek." Suara di seberang telepon berkata dengan cepat dan tegas. Menjalankan perintah dengan rapi sesuai dengan instruksi yang diberikan.
"Bagaimana dengan tamu undangan? Apakah undangan sudah sampai di tempat tujuan?" Alfa bertanya lagi. Menyandarkan punggung pada dinding dengan satu tangan tersaku pada celana.
"Sudah. Hari kemarin aku sudah menyelesaikannya." Jawabnya ringan. "Kau sedang bepergian?"
"Iya. Aku sedang berada di studio. Aku akan pergi ke tempat pameran sepulangku dari sini," ujarnya. "Baiklah. Kau bisa pulang jika semuanya sudah beres," pungkasnya hampir saja mengakhiri panggilan.
"Alfa?"
Lelaki itu mengangkat alis. Terkejut mendengar panggilan mendadakk itu. Namun tak urung, ia menanggapi. "Ya Leon. Ada apa?"
"Apakah Davian menghubungimu? Mengapa ia menghilang begitu saja tanpa kabar?" Leon bertanya dengan kerutan dalam pada dahinya. Mengungkap rasa penasaran yang kian memuncak ketika ia sama sekali tak bisa menghubungi lelaki itu.
Ada sedikit senyum yang muncul dari bibir Alfa sebelum ia berucap. "Davian sudah pergi dari negara ini. Tentu saja karena ia menyesal. Lupakanlah. Masih banyak orang lain yang mau kupercaya untuk membantuku." Alfa mengangkat bahu.
"Ya. Dan itu adalah pilihannya sendiri. Aku tak memaksanya. Biarkan ia tenggelam dalam penyesalannya karena telah mengkhianati sahabat sebaik diriku. Kau tahu Leon? Tak ada rasa yang paling menyesakkan di hati manusia itu kecuali penyesalan dan perbuatan yang membuat orang lain kecewa. Karena biasanya setelah kecewa, sudah tidak ada lagi kesempatan kedua," tukasnya.
Terdengar suara kekehan di seberang telepon. "Ya. Kau benar. Memanglah seperti itu. Baiklah, sampai jumpa di lain kesempatan. Hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu."
"Hm." Pungkasnya kemudian menutup sambungan telepon.
Alfa lantas menyakukan ponselnya dan bergegas mendekat kembali ke arah istri dan teman-temannya yang sedang sibuk dengan aktivitas pemotretan. Tiara ikut serta kali ini. Wanita itu benar-benar merengek manja kepadanya agar diperbolehkan untuk menemani aktivitasnya di studio. Mencari penghiburan untuk mengusir rasa tak nyaman pada perutnya yang kian hari kian menunjukkan perubahan.
Baru saja Alfa akan merangkulkan lengannya pada Tiara, seorang wanita bermata sipit memanggil namanya dari arah belakang.
"Gheo!" Serunya.
Dengan segera, lelaki itu menoleh diikuti Tiara yang menengok pula.
"Senang sekali bertemu denganmu dan bisa mendapat kesempatan untuk menerima kontrak pemotretan denganmu. Kuharap aku bisa bekerja dengan baik dan memuaskan seleramu," celotehnya. Wanita muda dengan rambut hitam sebahu dan gaun berwarna hitam yang tampak melekat pas di tubuhnya itu tersenyum lebar. Ia lah salah satu model fashion photography yang kini namanya melejit berkat Tiara Fashion yang mensupport penuh karir modellingnya.
Sejenak, wanita itu menatap Tiara. Memandang dengan ekspresi menilai dalam beberapa detik tatapannya sebelum kemudian menimbang-nimbang untuk berbicara. "Anda fotografer juga?" Gadis model itu tampak mengira-ngira dalam tatapannya. Menghilangkan senyum yang sedari tadi tersungging ketika berbicara dengan Alfa.
"Dia-" Alfa hendak berkata-kata, tetapi istrinya itu buru-buru menyela.
"Saya asisten Gheo." Tiara berucap dengan senyum lebar dan lirikan mata puas kepada suaminya itu yang kini menolehkan kepalanya dengan cepat, menatap istrinya yang kini tengah saling bersitatap dengan wanita itu.
Alfa yang tak menduga istrinya akan menjawab demikian pun memicingkan mata. Rangkulan lengannya yang sempat tertunda beberapa saat itu pun langsung mendarat dengan erat di pundak Tiara. Membuat wanita itu terkesiap.
"Ia asistenku, istriku dan segala-galanya bagiku. Dialah Tiara Nichole. Putri dari pemilik Tiara Fashion yang kini tengah membawa namamu sebagai model pakaiannya." Alfa berucap bangga dengan nada pongah. "Bisakah kau sedikit saja menjaga sikap dan tak memberi penilaian kepada seseorang berdasarkan penampilan? Kau tahu? Istriku ini tak pernah berpakaian mewah sepertimu, tetapi hatinya sungguh berkilauan dengan hal-hal baik." Cecarnya hingga tanpa terasa wanita bermata sipit itu ternganga. "Ingat baik-baik. Jangan sampai kau menyesal karena aku membatalkan kontrak," ancamnya kemudian berlalu dari hadapan model cantik itu dengan rangkulan yang semakin erat pada pundak Tiara. Meninggalkan wanita itu yang masih terdiam di tempatnya. Berkubang pada segala hal yang tak pernah ia sangka.
"Kau ... kau tak perlu berbicara seperti itu." Tiara berkata dengan terbata. Jantungnya berdegup kencang ketika baru saja mendengarkan perkataan tegas dari suaminya yang pasti telah membuat wanita tadi kehabisan kata-kata.
"Kenapa? Aku hanya tak suka ada orang yang merendahkanmu seperti itu," jawab Alfa sembari mengusap lengan Tiara perlahan. Menunjukkan perlindungan dan kasih sayangnya yang tak main-main.
Ponsel yang ia sakukan pada kantung celana berbunyi. Lelaki itu lalu mengendurkan rangkulannya dan menjawab cepat panggilan yang ditujukan kepadanya.
"Alfa?" Suara serak di sebelah teleponnya itu terasa tidak asing di telinganya. Alfa sempat menilik sebentar ke layar ponselnya, lalu mengerutkan kening manakala ia tahu bahwa ternyata tidak ada nama kontak yang tertera pada ponselnya. Kembali ia memfokuskan pada suara itu yang membuatnya mendadak teringat pada pertemuannya dengan seorang wanita di rooftop bar beberapa waktu lalu.
Karina?
"Ya." Alfa menjawab dengan ekspresi keras.
"Aku ingin bertemu. Bisakah kau meluangkan waktu?" jawabnya.