The Sweetest Harsh

The Sweetest Harsh
Episode 73 - Secercah Harapan



Tiara terduduk lesu di tepi ranjang kamarnya. Menatap malas ke arah jendela dengan pandangan kosong. Kedua matanya masih terasa perih karena entah sudah berapa kali ia menangis dan berhenti, mengabaikan perputaran hari, di mana sekarang ini, matahari telah naik lebih dari sepenggalah, tetapi, gorden jendela masih terbentang di tempatnya. Menutup akses cahaya untuk masuk ke dalam ruangan, hingga keadaan kamar itu masih temaram.


Sudah satu minggu lebih wanita itu mengurung diri, menolak untuk keluar dari kamar semenjak keluar dari rumah sakit dua minggu lalu. Belum ada siapapun yang bisa membujuknya, termasuk Alfa. Kedatangan Helmia yang menjenguk dengan perdamaian pun tak menjanjikan banyak hal, sebab Tiara hanya mengunci mulut dan sesekali nampak geram dengan kedatangan orang-orang yang tak diinginkannya. Begitu juga dengan Berta, Tiara tak bercakap apa-apa dan hanya menangis sesenggukan, serta menyandarkan kepala di bahu ibunya. Ucapan-ucapan penghiburan dari mamanya itu pun seakan tak ada artinya lagi.


Dokter berkata bahwa Tiara mengalami depresi. Perempuan itu menderita trauma hebat, sebab di kehamilannya yang ketiga ini, Tiara sudah terlampau bahagia dan merasa terhempas begitu saja dengan kematian calon anaknya. Remuk. Hatinya remuk redam. Pengharapannya seperti sudah habis, menguap begitu saja, karena dengan bedah cesar tempo lalu, Tiara harus menunda lebih lama kehamilan selanjutnya.


Berhari-hari, bisa terhitung berapa suap makanan yang berhasil masuk ke dalam perutnya, itu saja, Alfa harus membujuk sampai putus asa hingga istrinya itu mau memenuhi asupan gizi untuk tubuhnya. Paras cantik perempuan itu kini semakin memucat dengan kantung mata yang bergelambir di bawah kelopak matanya. Sehari-hari, Tiara hanya diam dan kadangkala berbicara dengan mengamuk, mengambil apapun yang bisa digapai oleh kedua tangannya dan melempar secara acak. Dengan sabar, Alfa selalu merapikan sendiri kamarnya yang berantakan karena luapan kekesalan perempuan itu, serta merawat dan menemani istrinya dengan telaten.


Alfa menengok ke arah istrinya sebentar, lalu sekali lagi membasuh mukanya dengan air pada wastafel di kamarnya. Berharap rasa dinginnya mampu sedikit memadamkan kobaran kecemasan yang membara dalam diri. Jangan ditanya seperti apa keadaan lelaki itu saat ini, Ia sungguh nampak berantakan dengan kumis dan jenggot yang mulai tumbuh di tempatnya karena Alfa sama sekali tak memperhatikan keadaan tubuhnya. Ia terpukul. Sama terpukulnya dengan Tiara, bahkan dua kali lipat lebih buruk ketimbang wanita itu. Sebab ia harus terus menguatkan dirinya sendiri dan harus terus meyakinkan wanitanya. Lelaki itu harus menarik Tiara dari kubangan kehancurannya dengan dirinya yang bahkan tidak punya tenaga untuk membangkitkan semangat diri.


Suara pintu terbuka yang berderit membuat tubuh Tiara menegang. Wanita itu mengambil bantal yang berada di belakangnya, lalu melempar sekuat tenaga ke arah pintu.


"Pergi!" Perempuan itu berteriak keras.


Alfa yang terkejut dengan suara jeritan itu langsung berlari mendekat dan melihat siapa yang hendak berkunjung ke kamarnya sepagi ini. Dan ternyata, bukan siapa-siapa, hanya Popo, kucing ragdoll milik Tiara yang mengeong dan menginjak begitu saja bantal yang terlempar ke depan pintu. Tak mengacuhkan pengusiran yang nyata-nyata dilayangkan oleh tuannya.


Tiara yang turut terkejut dengan suara hewan kesayangannya itu lalu menoleh dan memandang si kucing yang kini tengah berjalan ke arahnya. Mendusel manja pada kaki wanita itu yang terjuntai ke lantai. Mengeong dan mengendus-endus meja nakas, berputar-putar di sekitar kaki Tiara yang jenjang lalu berjalan kembali ke arah pintu. Duduk membelakangi sembari mengusap-ngusap matanya dengan kaki depannya. Mengeong-ngeong dengan keras lalu keluar.


Tiara yang merasa terhibur oleh tingkah hewan berbulu itu lantas berdiri. Memandangi kucingnya yang berlalu pergi dari kamarnya dan perlahan menjangkahkan kedua sukunya mengikuti Popo.


Alfa yang melihat pemandangan ajaib di depannya itu menggelengkan kepala perlahan dengan kedua tangan berkacak pinggang. Astaga. Dirinya kalah dengan seekor kucing? Bagaimana bisa Popo dengan bahasanya itu mampu membuat Tiara mau melangkah keluar kamar dengan sekali ajakan? Apakah ia harus turut menyukai hewan berbulu itu demi Tiara?


******


"Tiara mengalami PTSD, Post Traumatic Stress Disorder, gangguan kejiwaan yang menimpa seseorang karena peristiwa yang begitu mengguncang atau tidak menyenangkan. Dalam hal ini, tentu saja karena istrimu baru saja kehilangan bayinya," ucap Jeni dengan resah.


Alfa mengerutkan muka. Tidak menyangka bahwa mereka berdua akan sampai pada titik ini. Di mana keadaan benar-benar mengujinya, menguras seluruh pikiran dan meremas hatinya sampai pada puncak ketegaran yang seolah menantangnya dengan angkuh, masih sanggup bersabar?


"Bagaimana keadaan Tiara saat ini? Apakah ada perkembangan?"


"Tiara mengurung diri dan tak mau berinteraksi dengan siapapun. Denganku saja, dia tak berbicara banyak, sedikit saja ada hal yang mengganggunya, Tiara marah dan mengamuk." Alfa mendesah dan mengembuskan napas panjang. "Apa yang harus kulakukan?" Lelaki itu mengusap rambutnya dengan frustrasi.


"Apa maksudmu?" Alfa yang tengah duduk menyandarkan kepala itu menoleh cepat dengan kening berkerut.


"Jika sudah sampai pada perilaku yang benar-benar menunjukkan bahwa ia telah berputus asa, maka tahap terakhir yang harus dilewati adalah kepasrahan. Jika kau bisa mendekati istrimu pada waktu yang tepat, maka, sikap pasrah itu bisa menjadi langkah penyembuhan. Mungkin tidak mudah, tetapi, kaulah yang paling tahu bagaimana membujuk Tiara," paparnya.


"Sepertinya, bukan aku yang bisa mengambil hati istriku." Alfa mendecak.


"Lalu?" Jeni memandang dengan tatapan aneh.


"Kau tahu? Tiara mau keluar kamar pertama kali berkat Popo. Kucing ajaib yang bahkan suaranya itu tak kumengerti maksudnya, tetapi mampu menghipnotis istriku. Apakah hewan kesayangan juga memiliki chemistry dengan pemiliknya hingga bisa berkomunikasi tanpa kata?" Lelaki itu menyilangkan tangan ke depan dada.


"Kucing? Tiara menyukai kucing?" Sekali lagi Jeni berkata dengan suaranya yang meninggi karena terkesiap oleh kata-kata Alfa yang penuh kejutan.


"Iya. Kenapa kau terkejut begitu?" Alfa mendecak dan mengembuskan napasnya dengan kasar.


"Kucing adalah hewan yang bisa memberi ketenangan termasuk menyembuhkan depresi. Dengkurannya yang khas itu mampu memberikan rasa rileks saat kita menyentuhkan tangan padanya. Bagus. Kau bisa terus memanfaatkan kedekatan mereka. Mungkin kau bisa menambah metode lain dengan mengajak Tiara ke tempat yang belum pernah kalian kunjungi, atau juga mengajaknya beraktivitas dengan suasana baru yang sekiranya bisa membuatnya penasaran dan mencoba. Yah, sekali lagi, aku hanya bisa memberikan saran, kau ... cobalah untuk berinisiatif, karena walau bagaimanapun, kau lah yang lebih tahu dan mempunyai kedekatan lebih pada Tiara," jelas dokter itu panjang lebar.


Alfa mengangguk. Pembicaraan ini cukup memberinya kelegaan, sebab, meski lelaki cenderung diam dan lebih memilih untuk menyimpan segala bentuk emosinya, tetapi, pria juga membutuhkan tempat untuk berbagi keluh kesah. Membuang penat dan berdiskusi untuk mendapatkan gagasan baru.


Mungkin ia dan Tiara perlu meluangkan waktu sejenak untuk sekedar memulai kembali. Menjadikan hidup mereka berbeda, menjalani segala hal dengan cara yang lain, dengan tidak mengungkit-ungkit persoalan keturunan tentu saja. Karena hal itulah yang kini menjadi pusat trauma wanitanya.


Alfa menganjur napas dalam-dalam dan mengembuskannya melalui mulut. Bersiap untuk memulai semua hal dengan langkah baru. Untuk Tiara, apa yang tak akan dilakukannya?


"Baiklah. Aku akan berusaha semaksimal mungkin," ucapnya pada sang dokter sembari bangkit dari tempat duduknya.


"Ya. Aku mendukungmu. Bicaralah padaku jika membutuhkan sesuatu. Aku akan turut mencarikan psikiater terbaik jika saja dibutuhkan," tukasnya.


Lelaki itu tersenyum getir, mengangguk tipis dan berkata dengan lirih. "Ya."


"Jangan menyerah," hiburnya lagi ketika Alfa telah sampai di ambang pintu dan menoleh demi mendengar ucapan pelipuran dari Jeni, lalu kembali membalikkan badan dan melangkah lagi dengan menutup pintu.